OUR NETWORK

Guncangan Ekonomi Iran Menghadapi Wabah Corona

Sejak 24 Januari, tidak ada lagi kargo minyak mentah Iran yang melintas ke Cina, dilansir dari The Wall Street Journal. Imbasnya, diperkirakan oleh PBB, ekonomi Iran akan terkontraksi 2,7 persen sepanjang 2020 akibat wabah ini. Kendati demikian, di tengah kondisi ekonomi dalam negerinya yang belum kunjung stabil. Iran tetap mampu secara mandiri menangani wabah virus Corona.

Belum selesai perekonomian Iran berjibaku dengan beban sanksi embargo Amerika Serikat (AS). Kini, Iran harus menghadapi wabah virus Corona yang tentunya berdampak negatif terhadap stabilitas perekonomian Iran.

Padahal, selama 18 bulan terakhir, sejak pemberlakuan kembali sanksi embargo AS, perekonomian Iran tengah berusaha bangkit dari resesi. Tetapi, wabah virus Corona telah mengubahnya, beberapa komoditi ekspor Iran akhirnya terpaksa harus mandek akibatnya.

Terungkap pertama kali pada 19 Februari 2020, virus Corona telah menginfeksi seorang warga di kota Qom. Sebuah kota yang jaraknya hanya sekitar 145 kilometer dari ibukota Iran, Tehran. Masuknya virus ini diduga datang langsung dari Cina.

Hal ini karena warga Iran tersebut tengah menjalin hubungan intensif dengan Cina terkait kerja sama dagang, akibat isolasi sanksi embargo AS atas Iran. Kemudian, sepekan setelah itu dikabarkan 26 orang tewas akibat virus Corona.

Korban terinfeksi virus Corona kemudian menyebar sangat cepat. Bahkan, virus ini telah menjangkit beberapa pejabat negara Iran. Iraj Harirchi, misalnya, Wakil Menteri Kesehatan Iran itu terinfeksi virus Corona selang sehari memberikan konferensi pers terkait wabah virus Corona di Iran, pada 24 Februari 2020.

Bahkan, seminggu setelah itu, dilaporkan Anggota Dewan Penasehat Pemimpin Tertinggi Iran, Mirmohammadi, meninggal pada usia 71 tahun setelah terinfeksi virus Corona. Setelahnya, tercatat terdapat 20 pejabat Iran yang terjangkit virus Corona. Dan, salah satunya adalah ‘Suster Mary’ Masoumeh Ebtekar, Wakil Presiden Iran.

Berada dalam situasi seperti itu, Iran pun melarang ekspor produk medisnya. Dilansir dari tehrantimes.com, demi memenuhi kebutuhan dalam negerinya, Iran terpaksa menyetop ekspor beberapa produknya akibat wabah virus Corona.

Bea Cukai Iran sendiri telah merilis sembilan kategori barang yang dilarang untuk diekspor sesuai arahan Kementerian Kesehatan Iran. Termasuk di dalamnya peralatan medis, diantaranya masker wajah dan sarung tangan medis. Lalu, termasuk juga barang-barang seperti pemutih, deterjen, alkohol, pompa, keran semprotan, disinfektan, dan semua produk sanitasi lainnya.

Beberapa produk tekstil dan selulosa serta tisu dan pembalut juga turut serta ke dalam barang-barang yang dilarang untuk diekspor. Tentunya, pelarangan ekspor ini berdampak pada perekonomian Iran, yang artinya pendapatan dari sektor ekspor menurun nilainya.

Di sisi lain, beberapa negara tetangga Iran seperti Irak, Kuwait, Bahrain, Oman, Lebanon, Uni Emirat Arab, dan Afganistan juga telah menutup perbatasan dan melarang penerbangan dari Iran akibat wabah virus Corona. Akibatnya, jumlah wisatawan asing yang menuju Iran pun berkurang. Belum lagi, arus ekspor –impor Iran juga menjadi terhambat.

Minyak mentah, sebagai salah satu komoditi andalan ekspor Iran juga turut terpukul. Cina, mitra dagang utama Iran, kini juga tengah terpuruk akibat wabah virus Corona. Sebelumnya, sepanjang 2019, menurut Badan Energi Internasional, Cina membeli 300 ribu barel minyak per hari dari Iran.

Namun, sejak 24 Januari, tidak ada lagi kargo minyak mentah Iran yang melintas ke Cina, dilansir dari The Wall Street Journal. Imbasnya, diperkirakan oleh PBB, ekonomi Iran akan terkontraksi 2,7 persen sepanjang 2020 akibat wabah ini.

Kendati demikian, di tengah kondisi ekonomi dalam negerinya yang belum kunjung stabil. Iran tetap mampu secara mandiri menangani wabah virus Corona. Dilansir dari ipiiran.org, Presiden Iran, Hassan Rouhani telah menggelontorkan dana sebanyak 2 triliun riyal untuk ‘perang melawan Corona’.

Kemudian, dalam hitungan hari saja, Iran telah membangun pabrik dengan kemampuan produksi 35.000 gel dan 100.000 larutan disinfektan setiap kerja. Selain itu, setiap harinya diproduksi 300.000 masker yang dibagikan secara gratis ke masyarakat. Bahkan, pemerintah Iran juga mampu mengontrol harga masker di pasaran tidak melonjak drastis. Dan, Cina turut membantu Iran dalam menangani wabah virus Corona disana dengan mendatangkan tim medis.

Menurut catatan Kementerian Kesehatan Iran yang disampaikan oleh juru bicaranya, Kianush Jahanpur, jumlah korban yang meninggal akibat infeksi virus Corona sebanyak 354 jiwa, hingga 11 Maret 2020.

Hal itu membuat Iran menjadi negara terbanyak yang menelan korban tewas akibat virus Corona di Asia Barat. Namun, dari 8.000 orang yang positif terinfeksi virus Corona, ada sebanyak 2.700 yang kemudian sembuh dan dipulangkan dari rumah sakit.

Penulis isu-isu internasional

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…