OUR NETWORK

Gunakanlah Angkutan Umum, Pak Gubernur!

Kemacetan merupakan problem jalanan yang memang harus segera ditemukan obatnya. Tak jarang berbagai usulan dikemukakan, salah satunya ialah pelebaran jalan yang dianggap sebagai solusi jangka pendek. Lantas bagaimana dengan solusi jangka panjang? Apa memang semua tanah yang ada harus diratakan dan dibangun jalan? Jelas semua pertanyaan tersebut merujuk pada jawaban tidak.

Mengapa? Karena, solusi-solusi tersebut jelas tidak membuat jumlah kendaraan berkurang dijalanan melainkan bertambah banyak. Ibarat gula, banyak semut yang mengerubunginya, untuk menguraikan semut-semut diberi gula ditempat yang berbeda. Hasilnya, tak lantas jumlah semut berkurang melainkan malah bertambah banyak.

DKI Jakarta merupakan provinsi yang unik, paling kecil wilayahnya se-Indonesia dengan luas daratan 661,52 km persegi. Namun, cukup tinggi untuk jumlah penduduk dan tingkat kepadatan penduduknya, yakni tahun 2016 populasi di DKI 10.199.700 orang dan ada 15.367 orang per kilometer persegi. Sedangkan, Surabaya merupakan sebuah kota dengan luas wilayah 350,5 km dengan jumlah penduduk tiga juta empat ratus lima puluh ribu lebih. Sedangkan, kepadatan penduduknya yang tercatat pada tahun 2010 masih delapan ribu lebih.

Bagaimana dengan luas jalanannya? Mari kita ambil contoh di DKI saja. Data dari DPU DKI Jakarta, jalan tol disana luasnya mencapai 3.040.746 meter persegi dengan panjang 123.481 km. Kemudian untuk jalan arteri primer memiliki luas hingga 2.478.595 meter persegi dengan panjang 123.653 (Poskotanews.com, 11/10/14). Data tersebut mungkin sudah berubah sekarang dengan jumlah yang meningkat secara signifikan untuk mengakomodasi jumlah kendaraan yang tiap tahun selalu bertambah. Berdasar data dari BPS DKI Jakarta tahun 2015, di provinsi ini ada hampir empat belas juta unit kendaraan bermotor dan hampir tiga setengah juta unit mobil (kumparan.com, 13/1).

Artinya, kita selalu melihat fenomena kemacetan setiap hari di Jakarta, lha wong jalanan sudah tidak mencukupi. Bayangkan, setiap orang di Jakarta memiliki kendaraan baik berupa mobil maupun motor dan mereka berangkat secara bersamaan menggunakan jalan yang sama. Jelas akan bertumpuk, ibarat gelas yang ketika dituangkan air lantas sudah tidak cukup menampung, meluber. Hal ini, persis seperti kendaraan bermotor yang ketika macet menggunakan jalan pintas, trotoar pun akan dianggap jalan. Kita tidak bisa menyalahkan mereka, karena secara situasi memberikan keadaan yang demikian.

Sekarang, angkutan umum seperti angkot, bus metro itu sudah jelek, bau, knalpotnya mengeluarkan asap, secara tidak ada jadwal resmi keberangkatan dari tiap-tiap angkutan umum. Lebih-lebih, sopir angkutan juga dibebani target untuk mencapai setoran, ngetem yang lama merupakan buktinya. Secara pengelolaan modern, busway yang ada DKI Jakarta merupakan contoh yang bagus. Hambatannya, jalanan bus way yang kosong melompong merupakan oase ditengah kemacetan ibu Kota sehingga kendaraan bermotor maupun mobil tergoda untuk berkendara disana. Hal in,i karena kita sudah terbiasa dengan keadaan demikian, capaian target dan harus cepat sampai membuat jadwal-jadwal yang dibuat tidak lagi berguna di jalanan. Dengan kata lain masalahnya sudah kompleks.

Pembatasan kendaraan bermotor oleh Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat juga akan mengalami ganjalan. Mudah saja, mengatakan pembatasan bermotor tanpa melihat kenyataan lain. Disini, penulis ingin mengembangkan permasalahan yang ada agar dapat mengambil solusi terbaik. Contohnya, orang tua yang mengatar anaknya sekolah, ada berapa banyak kendaraan pribadi yang setiap hari mengatar mereka? Ada berapa banyak siswa-siswi yang menggunakan kendaraan pribadi, dengan alasan yang jauh dari rumah? Mereka dan sudah tentu orang tua berpikiran tidak ingin mengeluarkan dana lebih untuk transport yang setiap hari, apalagi waktu tempuh yang lebih singkat jika menggunakan kendaraan pribadi. Ongkos angkot yang walaupun lima ribu rupiah dirasa berat, ditambah menggunakan kendaraan pribadi dirasa lebih fleksibel juga, jika kemana-mana.

Sekolah di DKI Jakarta ada banyak, namun dengan kualitas standar yang berbeda-beda. Semua menginginkan masuk ke sekolah favorit dan unggulan, nah disini bagaimana jika pemikiran itu dirubah. Bagaimana jika semua kualitas sekolah, terutama tempat (ruang) distandarkan? Dengan begini tidak ada sekolah yang besar maupun kecil karena semua sama. Dengan demikian, siswa-siswi tidak perlu sekolah yang jauh-jauh karena yang dekat pun sama saja. Mereka tidak perlu menggunakan sepeda motor karena dengan jalan kaki atau sepeda sudah dapat dijangkau.

Bagaimana dengan mereka yang bekerja kantoran? Tentu, pihak departemen perhubungan membuatkan jadwal angkutan umum terkait keberangkatan, berhenti di terminal sementara sampai dengan terminal akhir. Masalah rapat kantor yang biasanya ke restoran maupun hotel untuk sementara dapat menggunakan jasa layanan video call, Dahlan Iskan juga mempunyai ide seperti itu. Masalah kenyamanan dapat didiskusikan dengan para pengusaha untuk menaikkan kualitas angkutan mereka. Mungkin, mereka dapat menambahkan AC dan alunan musik klasik. Langkah utama, untuk gubernur Djarot adalah memetakan tempat-tempat penting yang selalu dan hampir pasti didatangi oleh penduduk. Dengan demikian, akan tahu bagaimana akses menuju kesana dengan menggunakan angkutan umum.

Mereka yang setiap hari pasti datang ke tempat yang dituju, alangkah bijak menggunakan angkutan umum. Ditegaskan, setiap Gubernur di Indonesia harus pernah merasakan kondisi naik angkutan umum yang sesak saat berkunjung ke daerah-daerah dengan menggunakan angkutan umum. Hal ini agar pak Gubernur tahu bagaimana rasanya, tidak lantas memberikan kebijakan yang seolah-olah buru-buru apalagi karena tidak pernah merasakannya. Permasalahan ini kompleks, pak. Oleh sebab itu mari kita uraikan satu-satu.

Masih belajar menjadi komentator Sosial-Sejarah juga Agama

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

REKOMENDASI

KARTUN HARI INI

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…