Jumat, Februari 26, 2021

Gudeg Tanpa Nangka: Filosofi Sayyid Qutb dan Heroisme Ahok

Pemimpin Digital

Beberapa provinsi Indonesia baru-baru ini mendapat penghargaan keterbukaan informasi publik, di antaranya DKI Jakarta dengan nilai 93,19, Jawa Barat 90,32, Jawa Tengah 96,95, dan...

Melambatnya Pertumbuhan Ekonomi di Tahun Politik

Kuartal III/2018 pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami penurunan sebesar 0,1% jika dibandingkan dengan kuartal II/2018. Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia...

Menerka Keemasan Pemuda Abad XX dengan Pemuda Milenial

Letupan sumpah pemuda 90 tahun silam dari para pemuda sepanjang Sabang sampai Merauke mengkiaskan spirit persatuan yang amat kekar. Menyembul organisasi kepemudaan semacam Tri...

Membayangkan Berinteraksi dengan Para TKA di Masa Depan

Kendala bahasa yang dialami para buruh kasar di Morowali ketika berinteraksi dengan tenaga kerja asing yang didatangkan dari Tiongkok seolah menjelma jadi paranoia sekaligus...

Indonesia sedang mengalami reduksi ilmu dan studi agama. Itu yang diungkapkan oleh Abdul ‘Dubbun’ Hakim, pembicara di kelas yang saya ikuti. Waktu itu tokoh yang dibahas adalah Sayyid Qutb, ideolog Jamaah Ikhwanul Muslimin, yang juga menginspirasi ideologi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Sayyid Qutb memang membenci pemerintah, tapi itu karena dia dikhianati kawannya yang menjadi presiden, karena Mesir menjadi terlalu sekuler, juga karena traumanya hidup di Amerika Serikat. Konteks ini sering dihilangkan, lalu dijadikan dasar gerakan radikal.

Sedihnya, pemahaman tentang sejarah seperti ini hanya menjadi milik kalangan tertentu. Berarti ada kesalahan parah pada sistem pendidikan kita, yang membuat anak muda kehilangan kemampuan berpikir kritis, hanya membaca judul, terlalu mudah mengidolakan, tidak suka membaca, dan malas kepo soal keilmuan.

Apa jadinya kalau yang malas dipelajari adalah ilmu agama, padahal orang Indonesia begitu mengagungkan kehidupan beragama? Apa jadinya kalau yang malas dipelajari adalah ilmu hukum dan politik, padahal yang setiap hari diteriakkan di Facebook, bahkan di jalan adalah soal hukum dan politik? Ini seperti mau masak gudeg tapi tidak mau tahu seluk beluk nangka muda.

Lalu di tengah akses pendidikan yang terbatas dan kemalasan berpikir, beberapa tokoh menawarkan solusi. Ilmu gratis, singkat, mudah dipahami, tanpa buku, dan pastinya, seru! Sesat sedikit tidak apa, yang penting rame. Daripada harus baca buku dan kuliah, sudah bayar, disuruh mikir pula.

Celakanya lagi, sebagian kalangan yang seharusnya terdidik malah kehilangan integritas. Ada saja hakim yang bisa dibeli atau disuruh-suruh. Contohnya, pasal penistaan agama yang sangat lentur dan tidak jelas batasannya. Semua orang bisa menjadi korban, tergantung siapa yang bisa mempengaruhi hakim. Hari ini mungkin Ahok dan Buni Yani, besok bisa Rizieq, lusa Jokowi, minggu depan Anies. Ini seperti pasal suka-suka. Lama-lama tulisan seperti ini juga bisa kena.

Kesimpulannya, ada dua hal yang membuat Indonesia layak bersedih. Hukum yang mati suri dan pendidikan yang salah arah. Bukankah untuk bisa jatuh cinta atau membenci, kita harus terdidik (mengenalnya) dulu? Untuk bisa mengidolakan atau membenci Sayyid Qutb, Wiji Thukul, Socrates, Pramoedya Ananta Toer, Gus Dur, Sukarno, ya harus berkenalan dulu dengan gagasannya. Cara terbaik tentu dengan membaca bukunya. Kalaupun lewat artikel daring di Internet, pastikan bukan berasal dari situs abal-abal dan bacalah sampai tuntas.

Kebetulan, semua tokoh yang saya sebutkan tadi pernah dipenjara atau disingkirkan, namun pemikirannya bertahan sampai puluhan tahun. Jangan-jangan Ahok, meski tidak menelurkan gagasan tertentu, juga menjadi tonggak kebangkitan silent majority? Ah, sejak dulu jeruji besi memang aneh. Mengekang, tapi menciptakan simpati dan heroisme.

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

Buntara Kalis

Oleh: Queen Vega Latiefah, SMAN 76 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Seperti cahaya rembulan di malam hari, seperti itu bayangan orang orang...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

Asesmen dan Metode Wawancara dalam Psikologi Klinis

Seperti yang kita tahu, bahwa psikologi merupakan sesuatu yang sangat identik dengan kehidupan manusia, karena psikologi berpengaruh terhadap kehidupan seseorang. Psikologi yang kurang baik...

Kajian Anak Muda Perspektif Indonesia

Sejak awal, perkembangan kajian anak muda dalam perspektif Indonesia telah menjadi agenda penting dan strategis. Sebagai bidang penelitian yang relatif baru, tidak dapat dipungkiri...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Menilik Pencekalan Panglima Gatot

Insiden diplomatik antara Amerika Serikat dan Indonesia terjadi hari Sabtu lalu, (21/10/2017) di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Kejadiannya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dicekal untuk...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.