Banner Uhamka
Rabu, September 30, 2020
Banner Uhamka

Guardiola, Sosok Tetangga Tak Jantan yang Berisik

Pak Jokowi, Lockdown atau Tidak?

Belakangan kata lockdown menjadi kata yang seringkali mampir di beranda media sosial kita. Entah kata itu mewujud dalam nada pro atau kontra, lockdown menjadi...

Hak Anak untuk Bebas dari Kekerasan

Akhir-akhir ini marak diberitakan kasus kekerasan terhadap anak. Seorang guru SMK di Purwokerto, menampar anak didiknya. Lalu anak jadi korban intimidasi massa yang mengenakan...

Universitas Dikelola Organisasi Perempuan

Hari Kartini diperingati setiap tanggal 21 April. Raden Ajeng Kartini lahir 21 April 1879. Pada masa itu banyak anak-anak seumuran RA. Kartini yang tidak...

AHY dan Masa Depan Demokrat

Kisah partai politik tidak akan pernah habis untuk dibahas, salah satunya adalah Partai Demokrat (PD). PD dibawah kepemimpinan Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) menguatkan wacana...
Hascaryo Pramudibyanto
Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi pada FHISIP Universitas Terbuka

Namanya Josep Guardiola Sala. Biasa disapa Guardiola atau Pep Guardiola. Dunia mengakui kemampuannya sebagai manajer sepakbola. Tim mana pun yang ia tangani, bisa dipastikan menghadirkan trofi membanggakan.

Beberapa tahun belakangan ini, Pep-biasa ia disapa-menangani Manchester City, salah satu tim sepak bola di tanah Inggris yang dulu tak pernah dilirik publik. Sebelum Pep, ada tangan dingin lain yang sudah mulai memoles tim ini. Dan berkat Pep pula, The Citizen menjelma jadi sebuah tim tangguh.

Meskipun hadir sebagai tim yang selalu ditakuti lawan, namun pernyataan Pep di media tentang kondisi tim dan Inggris secara keseluruhan, menjadikan publik gerah dan jengah. Dulu, ketika Sir Alex Ferguson menangani tim tetangga Manchester City, yaitu Manchester United, sudah menyebut kubu City sebagai tetangga yang berisik.

City dianggap sebagai tim yang banyak komen, suka menimpali dan ikut campur urusan dapur tim lain, utamanya Manchester United. Ternyata julukan sebagai tetangga berisik, masih berlaku dan layak disematkan hingga sekarang. Siapa lagi kalau bukan karena Pep – biangnya komentar miring.

Hingga pekan ke 25 ini, tim asuhan Pep sudah ketinggalan jauh dari Liverpool yang masih kuat di papas atas klasemen Liga Inggris. Satu bentuk nyata runtuhnya City yang sempat jadi juara di dua tahun terakhir. Agaknya Pep tak mampu menahan malu. Ia yang dikenal sebagai pelatih dengan raihan piala cukup banyak, punya gengsi berlebih hingga harus mencari kata-kata psy war untuk mengamankan reputasinya.

Tahun lalu pun, Pep tak mampu meraih Liga Champions yang diinginkan oleh semua tim daratan Eropa. Tahun ini, ia menargetkan si Kuping Besar – piala Liga Champions – untuk dibawa ke markasnya. Cara yang dilakukan pun aneka ragam.

Ada komentarnya tentang prestasi Liverpool yang sudah kian jauh dari jangkauannya. Pep mengatakan ‘lupakan saja Liverpool’, dapat diartikan sebagai kegalauannya mengejar keperkasaan Liverpool hingga menjadikan dia tergopoh-gopoh. Sejatinya ia sudah tak sanggup lagi mengejar Liverpool, namun yang keluar justru pernyataan semu untuk menutup rasa malunya.

Ragam lisan klise, dan berbau pengecut, layak disandangkan pada pernyataan Pep. Belum lagi komentarnya belakangan ini yang menyatakan bahwa dominasi Liverpool dalam perburuan titel juara Liga Inggris, tidak baik untuk perkembangan sepak bola Inggris.

Hal ini tentu bertentangan dengan kondisidi dua tahun terakhir yang menempatkan City sebagai juara. Kala itu, Pep tidak berkomentar apapun tentang dominasi timnya di Liga Inggris. Ia seolah nyaman di posisi itu. Begitu ada tim lain yang mampu menembusnya, Pep panik. Pep mencari cara agar publik masih mengakui bahwa dirinyalah yang perkasa meskipun tak mampu meraih piala apapun. Padahal, Jurgen Klopp – sang pelatih Liverpool diam saja ketika saat itu City ada di puncak klasemen. Itulah bukti kepanikan Pep yang sudah ketahuan kelemahannya.

Apapun yang diucapkan oleh pelatih, akan ditiru pemainnya. Banyak sekali pernyataan yang terlontar dari para pemain City yang tak jauh dari kemunafikan dan tidak mengakui kekalahannya dari kuatnya Liverpool. Berat sekali rasanya untuk mengakui keunggulan Liverpool. Congkaknya para pemain City, tentu tak jauh dari doktrin yang ditanamkan oleh pelatihnya yang enggan menganggap lawan di sepak bola sebagai sahabat dengan prestasi lebih baik.

Belum lagi cara-cara menyebalkan yang diinstruksikan oleh Pep kepada pemainnya untuk sesegera mungkin mengganjal lawan ketika bola sudah direbut oleh tim lawan dan sudah masuk di setengah lapangan. Tackle, dorongan, maupun gangguan yang tak penting lain harus dilakukan agar gawangnya tetap perawan. Hampir dipastikan pada tiap kondisi ini, semua pemain City melakukan tindakan yang tidak sportif semacam ini demi reputasi pelatihnya. Sebuah gengsi yang tak terbeli pada diri Pep.

Ada juga cara-cara diving pemainnya sejak Pep melatih di Barcelona, Munich, dan kini City demi mendapatkan hadiah penalti yang seharusnya bukan menjadi hak timnya Pep. Hingga saat ini, tim yang ia tinggalkan mendapatkan warisan cara-cara konyol semacam itu dan entah akan bertahan hingga kapan waktunya. Itulah warisan tetangga berisik yang jauh dari sportivitas dan kejantanan dalam mengakui tim lain yang lebih tangguh.

Hascaryo Pramudibyanto
Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi pada FHISIP Universitas Terbuka
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pengkhianatan Cinta

''Pernahkah Anda melihat orang yang berbuat jahat terhadap orang yang amat dicintainya?'' seseorang bertanya pada Abu Dzar al-Ghiffari, sahabat Rasulullah SAW. ''Pernah, bahkan sering,''...

Minang, Tan Malaka dan Dialektikanya

Minang kembali diperbincangkan di panggung politik nasional. Kali ini bukan karena tokoh dan pemikirannya, melainkan karena ucapan “Semoga Sumatera Barat mendukung Pancasila.” Tulisan ini tidak...

Optimasi Peran Wakil Rakyat di Tengah Pandemi

Mengutip pendapat Cicero dalam Phoebe E. Arde-Acquah (2015), terdapat sebuah adagium hukum yang menyatakan bahwa keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi. Secara konstitusional, adagium hukum...

Miskonsepsi Seks dengan Persetujuan

Pada 13 September 2020 lalu, terunggah sebuah kiriman di Instagram yang berjudul “Kupas Tuntas Pakta Integritas UI dan Pendidikan Sex dengan Persetujuan” yang di...

Jika Cantik Hanya Mengikuti Standar Industri

Belakangan ini perbincangan mengenai bagaimana diri kita maupun bagaimana industri mendefinisikan standart kecantikan kembali ramai diperdebatkan. Mulai dari gerakan perempuan dukung perempuan yang dianggap...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.