Sabtu, Januari 16, 2021

Goyang Boyband vs Tempe Seukuran Kartu ATM

Hak Cipta Intelektual: Masalah Globalisasi? (Bagian 1)

Ayo sejenak melupakan sesaknya perdebatan mengenai pemilihan presiden 2019. Mari membahas sesuatu yang lebih simpel daripada politik yang mulai memanas, yaitu mengenai "Hak Cipta...

Sejarah Matinya Demokrasi di Berbagai Negara

Dalam konteks modern, demokrasi dianggap sebagai sebuah sistem politik terbaik. Mengutip buku Demokrasi Politik dalam Paradoks yang ditulis oleh Budiarto Danujaya yang diterbitkan oleh Gramedia...

Pendidikan Masa Covid-19: Digital Natives dan Digital Immigrants

Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) sebagai suatu pandemi bukan hanya berdampak pada aspek kesehatan saja, melainkan juga berdampak kepada berbagai aspek kehidupan masyarakat di Indonesia. Dunia...

Ikhtiar Membangun Indonesia ala HMI

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang didirikan pada tanggal 14 Rabi’ul Awwal 1366 H/05 Februari 1947 M silam, sudah menginjak usia ke-71. HMI sudah tidak...
Damianus Edo
Generasi Milenial, aktif menulis literasi media

Di tengah nilai tukar rupiah dan dolar yang semakin tinggi, membuat bangsa ini banyak yang pesakitan. Bahkan, ada yang mengatakan mengarah ke krisis tahun 1998 dan ada pula yang mengatakan itu politisasi rupiah. Meskipun saat ini rupiah pimpin penguatan nilai tukar di Asia.

Mengutip Bloomberg, Rupiah menguat 1,22 persen terhadap USD ke posisi Rp 14.794 pada pukul 14.49 WIB, penutupan Senin 5 Oktober 2018 pada posisi Rp 14.976 per USD.

Dalam kebisingan saat itu, Jokowi melakukan lawatan ke Korea Selatan. Ini merupakan kunjungan balasan Presiden Korea Selatan, Moon Jae-In di Indonesia 2017 silam.

Lawatan Presiden Jokowi, disambut hangat oleh Pemerintah Korea Selatan. Bukan saja soal parade di Istana Changdeok di Seoul yang merupakan Istana tua berusia 600 tahun, warisan UNISCO. Atau kesepakatan-kesepakatan kerja sama Indonesia dan Korea Selatan dalam hal investasi.

Ini soal pertemuaan Presiden Jokowi dengan Boyband, Super Junior alias Suju asal Korea itu. Di mana Boyband asal Korea ini pernah beramaikan Asean Games kemarin. Presiden Jokowi dan Ibu Negara, Iriana berpose dengan 7 anggota Super Junior, saat lawatan ke Korea Selatan. Dan dihadiahi album Super Junior, lengkap dengan tanda tangan mereka.

Saya berusaha untuk tidak masuk ke kesepakatan bilateral Indonesia-Korea Selatan. Saya menyakini para ekonom maupun aktivis dan politisi bisa berdebat soal relevansi antara pelemaham rupiah dan lawatan Presiden Jokowi ke Korea Selatan itu. Itu domain mereka, silakan.

Menggenitkan bagi saya, atau mungkin anak muda pencinta serial drama Korea di tanah air. Saya iseng dengan mengupload itu di grup WhatsApp, di mana dalam grup adalah teman-teman seangkatan saya masih muda. Teman perempuan memang yang paling banyak mengomentari foto Presiden Jokowi dan Boyband Super Junior. Salah satunya, mereka mengatan, “Oh my Good, vokalisnya saya sangat ngefans”. Ada juga yang mengatakan “ganteng banget, aku suka potongan rambut dan style mereka”. Dan kebanyakan yang mengomentari adalah kaum hawa milenial.

Ini persis atraksi Jojo, saat buka baju di perhelatan Asean Games kemarin. Sebagian emak-emak pun terkagum-kagum dengan postur tubuh Jojo. Atau romantika film Dilan yang sempat viral berapa bulan yang lalu. Yang pasti, ini bukan tempe seukuran kartu ATM yang dilontarkan Sandiaga Uno.

Tetapi mana yang mendekati persoalan ekonomi, terutama untuk memperkuat kembali rupiah? Apakah tempe seperti ukuran kartu ATM atau goyang Boyband ala Jokowi. Tergantung sudut pandang apa kita melihatnya. Untuk itu, saya berusaha menganologikan begini loh;

Sandiaga Uno membandingkan Tempe adalah seukuran kartu ATM memang terkesan analogi metafor. Tapi substansi pernyataan Sandiaga Uno, soal sembako yang katanya naik kalau rupiah terus melemah. Mungkin lho, ya. Apalagi pakde Jokowi sudah mengunjungi pasar di Anyar, Tangerang – Banten, dengan memperhatikan “harga stabil tempe seharga Rp 5.000 bisa dibagi 15 potong”, ujar Jokowi (4/11/18).

Saya juga berusaha untuk memahami lawatan, Presiden Jokowi ke Korea Selatan di tengah rupiah yang kian melemah, akan membawa dampak positif. Bahwasannya hasil kesepakatan bilateral kedua negara, di mana Indonesia menargetkan nilai perdagangan mencapai USD30 miliar pada tahun 2022 mendatang.

Dan ini positif, apabila investor Korea Selatan ingin berinvestasi ke Indonesia akan berdampak pada nilai tukar rupiah menuju penguatan. Tetapi sedikit mengusik saya, goyang Boyband ala Jokowi, apa relevansinya untuk penguatan rupiah? Ini soal pasar Ayu Ting Ting atau Via Vallen sampai dengan Syahrini dan penyanyi dangdut tanah air.

Berdasarkan riset Tirto, pada periode 17 Februari – 8 Maret 2017, yang diukuti oleh 529 responden, dan mayoritas responden adalah anak muda usia 21 hingga 26 tahun sebesar 56,14 persen., dan 88, 09 persen ada di Pulau Jawa dan Ibu Kota jakarta. Dalam riset Tirto mengatakan bahwa, 49,72 persen orang suka serial Korea sebagai favorit.

Dalam riset tersebut, responden tak tanggung-tanggung mengatakan bahwa, kesukaan mereka akan serial Korea adalah penampilan fisik dan kemampuan pemain serial Korea menjadi alasan utama mereka, selain alur cerita dan jumblah episodenya. Dan persentasenya cukup tinggi dengan alasan ini, sebesar 31,56 persen.

Berita ini tentu, membuat Via Vallen, Ayu Ting-Ting dan Syahrini terpukul. Pasar dangdut yang menjadi kebanggaan Indonesia, mungkin saja akan digelinding Boyband ala Korea. Anak muda yang cenderung menikmati serial Korea akan kecanduan dan melupakan bagaimana Via Vallen menggetarkan panggung Asean Games.

Mengurangi budaya nyawer ala dangdutan di desa-desa. Saran saya, Presiden Jokowi saat kampanye nanti, Via Vallen, Ayu Ting Ting dan Syahrini haruslah diajak untuk mengurangi rasa sakit hati atau mungkin kegalauan.

Dengan kata lain, Via Vallen cs mau mengatakan dangdutan tidak kalah asyiknya dengan Boyband asal Korea itu.

Daftar Pustaka:

https://tirto.id/anak-muda-lebih-suka-serial-korea-ketimbang-sinetron-coSM

Bloomberg

Damianus Edo
Generasi Milenial, aktif menulis literasi media
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

Fisika dan Kemajuan Teknologi Bidang Transportasi

Era globalisasi telah mengubah kehidupan manusia di muka bumi ini akibat dari Revolusi Industri 4.0 yang ditandai dengan penemuan internet pada akhir–akhir Revolusi Industri...

Menilik Proses Pembentukan Hukum Adat

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dikaruniai Tuhan Yang Maha Kuasa kekayaan yang begitu melimpah di segala bidang. Segala jenis tumbuhan maupun binatang...

Milenial Menjawab Tantangan Wajah Baru Jatim

Tahun berganti arah berubah harapan baru muncul. Awal tahun masehi ke-2021 terlihat penuh tantangan berkelanjutan bagi Jawa Timur setelah setahun penuh berhadapan dengan Covid-19...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bagaimana Menjadi Muslim Moderat

Pada tahun 2017 saya pernah mengikuti Halaqah Ulama ASEAN yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Kampanye yang digaungkan Kemenag masih seputar moderasi beragama. Dalam sebuah diskusi...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda”

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda” Oleh Ali Romdhoni   “…’Dari Sabang sampai Merauke’, empat perkataan ini bukanlah sekedar satu...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.