Jumat, Januari 15, 2021

Giring “Nidji” dan Pembajakan Identitas Pemuda

Moral Subjektif dan Alotnya Pembahasan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual

Banyak kasus kekerasan seksual yang mencuat di media massa akhir-akhir ini, dari mulai Yuyun, Agni, sampai Baiq Nuril. Komnas Perempuan sendiri telah mencatat pada...

Perda Berbasis Agama: Titipan dan Melanggar HAM

Seseorang yang hidup di Indonesia harus siap menjadi beda dan menerima perbedaan sebagai suatu anugerah. Perjuangan memerdekakan bangsa ini dari penjajahan tentunya bisa berhasil...

Kehidupan yang Genit cum Semholai

Dangdut sempat dan masih lekat dengan lema seputar biduan seksi, goyangan seronok, musik kampungan, minuman keras, dan lema-lema picisan lain. Kendatipun begitu, dangdut kian...

Sejarawan dan Media

Sumber sejarah bagi sejarawan adalah bagian sangat vital untuk merekonstruksi masalalu. Dengan sumber sejarah, sejarawan memperoleh data. Data tersebut setelah diolah membentuk fakta-fakta sejarah...
Atih Ardiansyah
Direktur Eksekutif Rafe'i Ali Institute (RAI), dosen FISIP UNMA Banten

Anies Baswedan (AB) pernah mengeluarkan sebuah kalimat bijak. Kalimat yang cukup ampuh memainkan psikologi anak muda, sehingga di antara mereka ada yang mengimani keampuhan kalimat tersebut, meski sekadar untuk meluluhkan hati calon mertua. Kalimat itu berbunyi: “Anak muda itu memang minim pengalaman, karena itu ia tak menawarkan masa lalu. Anak muda menawarkan masa depan.

Sebagai anak muda sekaligus musisi yang tentu kerap mengintimi kata-kata, kalimat di atas barangkali telah menyelinap ke dalam lorong imajinasi Giring “Nidji”. Atau setidaknya, dia diam-diam mengizinkan quote tersebut menjadi pupuk atas motivasinya sehingga mau banting stir menjadi politisi.

Keputusan Giring untuk terjun ke dunia politik, bagi saya, tidak terlalu mengejutkan. Giring adalah bagian dari fenomena artis berpolitik, yang telah terjadi pada tahun 2009. Itu ketika Soetrisno Bachir (SB) yang berlatarbelakang pengusaha, menjadi ketua umum Partai Amanat Nasional (PAN) periode 2005-2010. Pada saat SB menjadi ketua umum PAN, dia membuat kebijakan merekrut artis dengan tujuan yang sebenarnya sangat pragmatis: sebagai vote getter bagi partai. Langkah pragmatis SB itu lalu melahirkan dua akibat: pertama, artis yang berpolitik dipandang tak kompeten alias bermodal popularitas doang, dan yang kedua PAN diplesetkan sebagi Partai Artis Nasional. PAN kala itu seolah-olah menjadi pucuk gunung es dari ketakmampuan partai politik melakukan kaderisasi.

Beruntungnya Giring, dia tidak masuk ke gerbong partai yang sudah mapan. PSI (Parta Solidaritas Indonesia) yang telah berhasil mengambil hatinya adalah parpol yang sejauh ini telah berhasil mencitrakan diri sebagai parpol anak muda. Sehingga citra artis yang disandang Giring menjadi sedikit terimbangi dengan kemudaannya. Status PSI sebagai partai baru pun akan membuat Giring tidak akan ongkang-ongkang kaki sangeunahna, tetapi dia akan dipaksa untuk “berkeringat”.

Tentu saja Giring tidak boleh lupa akan kenangan yang mengendap di dalam kepala khalayak. Publik tidak amnesia dan telah menyimpan memori itu dengan sebaik-baiknya. Bahwa anak-anak muda, kala terjun ke kancah politik, cenderung men(d)ua. Energi yang tampak saat berjuang di luar sistem, menjadi larut tanpa diaduk. Anak-anak muda itu, meminjam istilah Abdul Hamdi (2010), alih-alih menjadi ikan di lautan asin mereka malah menjadi ikan asin.

Sejarah telah dengan lirih berbisik, bagaimana mahasiswa yang dulu gegap-gempita meruntuhkan rezim Soekarno, menjadi loyo dan senyap di era Soeharto. Yang melengserkan Soeharto pun anak-anak muda. Dan kini lihatlah anak-anak muda yang dahulu “menduduki Senayan” itu. Mereka berjas dan dasi, tampil necis. Lalu prestasi mereka? Lagi-lagi kata Abdul Hamid (2010), mereka menua ketika berada di pusaran politik, tak “sebelia” saat mereka berada di luar sistem atau saat pertama kali memasuki dunia politik.

Saya sih berharap, Giring dan sederet (calon) politisi lainnya sungguh-sungguh membangun basis sosial lewat perbuatan-perbuatan yang konkret. Jangan mentang-mentang muda dan mudah mengakses media, malah terjebak melakukan pencitraan melalui iklan yang tentu saja berbiaya mahal. Menjadi politisi sesungguhnya tak cukup ditopang popularitas. Kapabilitas dan integritas adalah dua hal yang tidak boleh diabaikan.

Pada paragraf terakhir ini, saya ingin mengutip kata-kata Abdul Hamid (2010) seutuhnya, bahwa perubahan besar yang terjadi di Republik ini, harus diakui, memang erat melekat pada diri pemuda. Tetapi kurang bijak rasanya bila faktor sejarah itu, secara paksa, dijadikan legitimasi untuk mendapatkan kepemimpinan politik. Jangan sampai ada pembajakan identitas pemuda oleh segelintir orang yang ingin menjadi politisi. Jangan sampai pemuda dan kepemimpinan pemuda hanya menjadi jargon belaka. Karena tidak serta merta, kala pemuda memimpin segala persoalan akan selesai.

Tapi, selamat berjuang Bro Giring!

Atih Ardiansyah
Direktur Eksekutif Rafe'i Ali Institute (RAI), dosen FISIP UNMA Banten
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menilik Proses Pembentukan Hukum Adat

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dikaruniai Tuhan Yang Maha Kuasa kekayaan yang begitu melimpah di segala bidang. Segala jenis tumbuhan maupun binatang...

Milenial Menjawab Tantangan Wajah Baru Jatim

Tahun berganti arah berubah harapan baru muncul. Awal tahun masehi ke-2021 terlihat penuh tantangan berkelanjutan bagi Jawa Timur setelah setahun penuh berhadapan dengan Covid-19...

Menghidupkan Kembali Pak AR Fachruddin

Buku Pak AR dan jejak-jejak bijaknya merupakan buku biografi yang ditulis oleh Haidar Musyafa. Buku ini dicetak pertama kali pada bulan April 2020 dengan...

Menata Kinerja Buzzer yang Produktif

  Buzzer selalu hadir membingkai perdebatan carut-marut di ruang media sosial atau paltform digital lainnya. Seperti di twitter, facebook, instagram, dan media lainnya. Buzzer memiliki...

Lika-Liku Ganja Medis di Indonesia

Setiap manusia berhak sehat dan setiap yang tidak sehat berhak dapat pengobatan. Alam semesta telah menyediakan segala jenis obat untuk banyaknya penyakit di dunia...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bagaimana Menjadi Muslim Moderat

Pada tahun 2017 saya pernah mengikuti Halaqah Ulama ASEAN yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Kampanye yang digaungkan Kemenag masih seputar moderasi beragama. Dalam sebuah diskusi...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

PKI, Jokowi, dan Tertusuknya Syekh Jaber

Syekh Ali Jaber ditusuk AA, Ahad malam (13/9/2000) di Lampung. Siapa AA? Narasi di medsos pun gonjang-ganjing. Konon, AA adalah kader PKI. Partai yang berusaha...

Our World After The Pandemic: The Threat of Violent Ekstremism and Terrorism, The Political Context

Pandemic C-19: Disruptions Personal and public health with rapid spread of the pandemic globally, more than 90 millions infected and almost two million death...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.