Rabu, Oktober 28, 2020

Gerakan Tajdid Muhammadiyah dalam Membangun Civil Society

Offline to Online Society pada Masyarakat Urban

Foto di atas sepintas terlihat sebagai sesuatu yang lucu dan mengundang gelak tawa. Namun jika dicermati lebih mendalam, mungkin cara seperti demikian ada...

Mencari Presiden “Abu-abu” Indonesia

Tahun 2019 yang sering disebut tahun politik. Pemilihan umum semakin dekat. Rabu 17 April 2019 pelaksanaan pemilu, apakah anda sudah terdaftar sebagai pemilih? Setiap...

Pemikiran Filsuf Islam dan Aplikasi Kini

Ibnu Thufail tergolong filosof dalam masa skolastik Islam. Pemikiran kefilsafatannya cukup luas termasuk metafisika. Dalam pencapaian ma’rifatullah Ibnu Thufail menempatkan sejajar antara akal dan syari’at. Pemikiran...

Gunung Kendeng dan Merawat Perlawanan

Siang menjelang sore, ditengah hiruk pikuk Hari Raya Idul Fitri yang belum usai dengan segala kegembiraan aktivitas konsumtif yang menjadi tren dan laku sosial....
Nur Alim MA
Aktivis IMM PC IMM Malang Raya Alumni UMM, Fakuktas Psikologi 2016 Magister Psikologi Sains UMM Kontributor PWMU.CO

Pergulatan Muhammadiyah dengan globalisasi bukanlah sesuatu yang bisa dihidari. Sebagai organisasi modern  yang telah berusia 106 tahun pada tanggal 18 November 2018 lalu, Muhammadiyah diakui telah memiliki peran penting dalam membangun civil society (Sutikno, 2015).

Dampak globalisasi yang menjerat manusia ke dalam aktivitas yang cenderung pragmatis dan tidak mengindahkan nilai kemanusiaan, serta situasi politik yang cenderung berorientasi pada kekuasaan dan mengabaikan pembangunan manusia secara utuh.

Muhammadiyah yang lahir dengan berbagai latar belakang sosial-empiris seperti pendidikan, ekonomi, dan politik hadir untuk menumbuhkan sebuah gagasan gerakan pembaharuan (tajdid) agar peradaban manusia tetap maju dan mampu bergulat dengan perkembangan zaman.

Semangat inilah yang diwariskan oleh KH. Ahmad Dahlan kepada generasi penerus Muhammadiyah demi terwujudnya masyarakat utama sebagaimana yang telah dicita-citakan oleh Muhammadiyah sejak awal berdiri.

Tujuan gerakan tajdid Muhammadiyah jika dilihat pada praksisnya memiliki dua orientasi, yaitu puritan dan reformasi. Puritan atau puitanisme ialah gerakan yang memiliki tujuan untuk mengembalikan pemahaman Islam yang sesuai dengan apa yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad atau yang biasa diistilahkan dengan ber-Islam sesuai dengan tuntunan al-quran dan As-sunnah.

Sedangkan reformasi adalah gerakan yang bertujuan untuk membenahi tatanan sosial-masyarakat yang selama ini banyak ditindas oleh kelompok imprealisme dan kolonialisme. Bentuk praksisnya dengan memperbaiki pola pikir masyarakat agar menjadi masyarakat yang maju dan peka terhadap realitas melalui gerakan yang diwadahi dengan pendidikan, kesehatan, dan sosial-masyarakat.

Kiprah gerakan Muhammadiyah yang didorong oleh spirit tajdid bisa dilihat dan difahami melalu berbagai perspektif, seperti historis, teologis, ekonomi dan budaya. Perspektif historis menggambarkan gerakan Muhammadiyah sebagai gerakan pembaharuan Islam yang berdialektika dengan gerakan pembaharuan Islam di Barat Tengah.

Gagasan pembaharuan Islam yang dibawa oleh KH. Ahmad Dahlan terinpirasi oleh pemikiran aktivis Islam seperti Rasyid Ridha, Jamaluddin Al-Afghani, dan Muhammad Abduh. Perspektif ini sekaligus mempertegas bahwa Muhammadiyah dengan gerakan yang digagasnya tidak terlepas dari unsur teologis yang dapat disaksikan melalui pergulatan Kiai Dahlan dengan masalah TBC (takhayyul, bid’ah, dan kurafat).

Disamping itu, perspektif politik juga menggambarkan bagaimana kiprah gerakan Muhammadiyah sebagai sebuah organisasi yang berpengaruh dalam dinamika politik ummat Islam.

Di akhir abad 20, kiprah politik Muhammadiyah bisa tergambar dari aktivitas politik Muhammadiyah yang berorientasi pada gerakan politik untuk memupuk semangat nasionalisme, toleransi, dan persatuan.

Meskipun Muhammadiyah secara organisasi tidak bergelut langsung di dunia politik praktis, namun sumbangsih Muhammadiyah dalam membangun aktivitas politik di Indonesia begitu signifikan bagi pembangunan bangsa dan negara.

Hal ini juga disampaikan oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 2015-2020, Haedar Nashir, yang mengatakan bahwa aktivitas politik Muhammadiyah bukanlah untuk menduduki jabatan pemerintahan, melainkan internalisasi nilai-nilai kebangsaan agar semangat nasionalisme terawat dengan baik di dalam diri masyarakat Indonesia.

Begitu juga dengan kiprah Muhammadiyah dalam membangun prekonomian ummat Islam di Indonesia, bergerak dengan spirit al-maun yang ditopang oleh nilai kebudayaan, gotong-royong, menjadikan Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi Islam yang memiliki kepedulian terhadap kondisi perekonomian yang saat ini masih bisa dikatakan lemah karena kuatnya pengaruh kapitalisme.

Gerakan ekonomi Muhammadiyah yang bernuansa filantorpis tentu tidak bisa kita abaikan, dengan didirikannya lembaga amil zakat (LAZISMU) yang dikelola oleh kader-kader Muhammadiyah telah memberikan sumbangsih yang sangat luar biasa bagi perekonomian ummat hingga saat ini, meskipun masih ada hal yang perlu dibenahi di dalam diri LAZISMU.

Apa yang dilakukan oleh Muhammadiyah hingga hari ini mencerminkan bahwa semangat tajdid yang dimiliki oleh aktivis Muhammadiyah masih terjaga dengan baik. Betapapun banyak kelompok yang mengkritik, namun upaya pembaharuan di wilayah pemikiran dan gerakan sosial masih menjadi agenda utama Muhammadiyah.

Apalagi dengan kuatnya pengaruh globalisasi bagi bangsa Indonesia, khususnya pada aspek perilaku masyarakat yang semakin individualistic dan keringnya moralitas anak-anak bangsa, membuat Muhammadiyah dipaksa bekerja keras agar ummat Islam tidak terjerumus pada aktivitas atau perilaku-perilaku yang tidak mengindahkan harkat dan martabat manusia seperti yang banyak kita saksikan saat ini.

Nur Alim MA
Aktivis IMM PC IMM Malang Raya Alumni UMM, Fakuktas Psikologi 2016 Magister Psikologi Sains UMM Kontributor PWMU.CO
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

KDRT Saat Pandemi

Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) atau yang lebih dikenal dengan nama COVID-19 adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini...

Politik dan Monopoli Media Sosial

Saat ini, kita hidup di era cyberspace (dunia maya). Era yang pertama kali diperkenalkan oleh William Gibson dalam buku Neuromancer itu, dimaknai sebagai suatu...

Candu Media Sosial, Kajian Filosofis dan Psikologis

Bermain ria di “alam medsos” terkadang meng-asyikkan. Tapi akhirnya menganggap dunia nyata jadi tak menarik untuk bersosialisasi dan mengemban hidup secara hakiki. Untuk melihat...

Membendung Hegemoni China di Asia Tenggara

Lima hari sudah Menteri Luar Negeri (Menlu) China Wang Yi berkunjung ke empat negara di Asia Tenggara (15-18 Oktober 2020). Dalam kunjungan ke Kamboja,...

Reformasi Kewenangan Legislasi DPD

Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebagai anak kandung reformasi telah berusia 16 tahun. Lembaga negara buah amandemen ketiga UUD 1945 mengalami banyak goncangan. Isu pembubaran...

ARTIKEL TERPOPULER

Pemuda Pancasila Selalu Ada Karena Banyak yang Memeliharanya

Mengapa organisasi ini masih boleh terus memakai nama Pancasila? Inikah tingkah laku yang dicerminkan oleh nama yang diusungnya itu? Itulah pertanyaan saya ketika membaca...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Tamansiswa, Ki Hadjar Dewantara, dan Sistem Pendidikan Kolonial

Setiap 2 Mei kita dihadapkan pada kesibukan rutin memperingati Hari Pendidikan Nasional. 2 Mei itu merupakan tanggal kelahiran tokoh pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara,...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Mengenal Dua Tokoh Ateisme: Feuerbach dan Marx

Ludwid Feuerbach (1804-1872) dan Karl Marx (1818-1883) menjadi dua tokoh besar ateisme dalam sejarah peradaban manusia. Keduanya digolongkan filsuf materialistis karena bagi mereka pemikiran...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.