Banner Uhamka
Rabu, September 30, 2020
Banner Uhamka

Generasi Simbolik dan Politik

“Kematian” Agama di Hadapan Bencana

Air mata kita seolah belum mengering karena duka bencana alam gempa bumi yang di alami NTB (Nusa Tenggara Barat) 8 September 2018 silam, kini...

Nasib Pendidikan Keagamaan (Islam) Kita

Jika dihitung berapa lembaga pendidikan Islam di Indonesia, tentu jumlahnya sangat banyak. Misalnya saja mengambil salah satu bentuk pendidikan Islam madrasah, menurut data Emis (Education...

Bahasa Daerahku Dilupakan, Budayaku Ditinggalkan

Sangat mengherankan, ketika akhir-akhir ini ada segelintir kelompok atau individu yang gemar sekali membenturkan pendidikan, budaya, dan agama. Tradisi sekaten, larung laut, wayang, tari-tarian...

Pembakaran Transpuan, Hak Minoritas yang Termarjinalkan

Isu tentang minoritas seakan tak pernah usang, berbanding terbalik dengan penegakkan hukumnya yang nampak lusuh dan rapuh. Meskipun animo masyarakat pada isu ini bisa dibilang...
Fitrah
Mahasiswa Program Studi Ekonomi Syariah, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Malang.

Para ahli filsafat moral sosiologi abad ke 18, adalah Charles horton (1864-1929), William I.Thomas (1863-1947), George Herbert Mead (1863-1931), mereka mempunyai teori mengenai interaksionisme simbolis, yang mencatat bahwa individu mengevalusai perilaku mereka sendiri dengan membandingkannya dengan orang lain.

Manusia mengunakan simbol untuk mengembangkan pandangan mereka mengenai dunia dan untuk saling berkomunikasi. Tanpa simbol, kehidupan sosial kita tidak akan lebih canggih daripada kehidupan sosial hewan.

Tanpa simbol, kita tidak akan mempunyai ibu, bapak, guru, dosen, profesor, dan lain-lain. Dengan simbol umat manusia mendefinisikan, berkomunikasi, dan menempatkan diri dalam hidup bermasyarakat dan bernegara.

Selanjutnya, interaksioanisme simbolis akan berperilaku atau bertindak bagaimana kita mendefinisiskan diri kita dan orang lain. mereka mengkaji interaksi tatap muka, mereka melihat bagaimana orang menangani hubungan di anatara mereka dan bagaimana mereka memberi makna pada hidup mereka dan tempat mereka didalamnya.

Para penganut interaksionisme simbolis menunjukan bahwa diri adalah self, karena diri terdiri dari ide-ide, jiwa dan raga, diri juga adalah suatu simbol yang berubah ubah, dikala kita berinteraksi dengan orang lain, kita secara terus menerus menyesuaikan pandangan kita atas dasar bagaimana kita menempatkan diri.

Karena itu, simbol digunakan manusia untuk mengekang sifat hewaninya, misalnya melalui simbol budaya, norma sosial, hukum maupun moralitas, yang membedakan manusia dengan hewan adalah karena manusia menggunakan simbol-simbol untuk memenuhi kebutuhan, berinteraksi, dan mengatur pola perilakunya.

Belakangan ini, masyarakat Indonesia istilah generasi milenial begitu hangat di perbincangkan baik di kalangan politisi, akdemisi di kedai-kedai, ruang seminar dan lokarya universitas. tidak bisa dipungkiri bahwa generasi milenial adalah kelompok dan pemilih mayoritas pada pilkada, pemilu yang akan datang dan para politisi merebut atau menyentuh hati generasi milenial.

Ini wajar saja. Sebab faktanya, menurut Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC), pemilih berusia 17-38 tahun mencapai 55% pada 2019 nanti.

Menurut survei CSIS, sebanyak 81,7% milenial memiliki Facebook 70,3% memiliki WhatsApp, 54,7% memiliki Instagram, Twitter sudah mulai ditinggalkan milenial, hanya 23,7% yang masih sering mengaksesnya.

Hingga hari ini, mulai dari politikus, akademisi, dan peneliti yang beranggapan bahwa generasi milenial adalah generasi yang malas, narsis, dan cuek pada bidang politik. Mungkin tidak salah dengan pernyataan tersebut. Tetapi penulis mencoba mencermati perkembangan dan fenomena yang dihadapi generasi milenial di lingkungan kampus, masyarakat dan medsos.

Hemat penulis, generasi milenial cuek, pesimis, dan apatis di bidang politik adalah karena kurangnya pemahaman mengenai definisi, konsep dan subtansi pengertian politik. Mereka hanya mengenal politik, hanya sebatas pada acara kampanye, pilkada, pileg, pilbub, pemilu, memasang baner atau baliho, dll. Selepas acara tersebut mereka kembali hidup berleha-leha, berfoya-foya,bersenang-senang seperti sediakala.

Selain itu, mereka mengenal sebatas bahasa simbolik dan emosional, seperti: memilih pemimpin atas dasar suka tidak suka, ganteng dan jelek, dan cenderung mengkritik personal pemimpin bukan mengkritik visi misi, janji-janji dan programnya.

Selanjutnya, mereka tidak mampu menilai dan mengkritisi visi misi, program para calon pemimpin atau pemimpin yang sudah mendapatkan jabatan/kekuasan di pemerintahan. Mereka hanya berkutat pada acara serenomial simbolik, belum mampu mengetahui konsep, subtansi mengenai arti politik.

Berbeda dengan kalangan aktivitis, akademisi politik, dan politisi yang sudah berbicara mengenai subtansi dari arti politik itu sendiri. Seperti: arti retorika, komunikasi politik, negosiasi, sistem pemerinatahan dan kenegaraan, dll.

Dengan demikian, generasi milenial atau generasi penerus negara indonesia yang akan datang tidak terjebak atau terkecoh dengan simbol-simbol semu yang dapat memanupulasi. melainkan perlu terus-menerus meningkatkan wawasan ilmu pengetahuan, berfikir kritis, selalu bertanya (skeptis) agar mampu memahami hakikat dan subtansi setiap persoalan di masyarakat.

Dan menjalin toleransi (menghargai perbadaan pendapat, agama, budaya, dan daerah), persatuan dan persaudaraan lintas generasi agar mampu menjadi warga masyarakat yang baik, damai, dan harmonis sehingga mampu mewujudkan dan melanjutkan cita-cita luhur para pendiri dan pahlawan negara kesatuan republik indonesia.

Fitrah
Mahasiswa Program Studi Ekonomi Syariah, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Malang.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pengkhianatan Cinta

''Pernahkah Anda melihat orang yang berbuat jahat terhadap orang yang amat dicintainya?'' seseorang bertanya pada Abu Dzar al-Ghiffari, sahabat Rasulullah SAW. ''Pernah, bahkan sering,''...

Minang, Tan Malaka dan Dialektikanya

Minang kembali diperbincangkan di panggung politik nasional. Kali ini bukan karena tokoh dan pemikirannya, melainkan karena ucapan “Semoga Sumatera Barat mendukung Pancasila.” Tulisan ini tidak...

Optimasi Peran Wakil Rakyat di Tengah Pandemi

Mengutip pendapat Cicero dalam Phoebe E. Arde-Acquah (2015), terdapat sebuah adagium hukum yang menyatakan bahwa keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi. Secara konstitusional, adagium hukum...

Miskonsepsi Seks dengan Persetujuan

Pada 13 September 2020 lalu, terunggah sebuah kiriman di Instagram yang berjudul “Kupas Tuntas Pakta Integritas UI dan Pendidikan Sex dengan Persetujuan” yang di...

Jika Cantik Hanya Mengikuti Standar Industri

Belakangan ini perbincangan mengenai bagaimana diri kita maupun bagaimana industri mendefinisikan standart kecantikan kembali ramai diperdebatkan. Mulai dari gerakan perempuan dukung perempuan yang dianggap...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.