Jumat, Oktober 30, 2020

Generasi Peduli Lingkungan Hidup

Elektabilitas Partai dan Figur Kader

Kalau kita dengarkan mereka yang ngobrol di warung kopi, kepercayaan masyarakat kepada partai sebenarnya sangat kecil. Mungkin kasarnya, masyarakat sudah tidak percaya terhadap Partai...

Dawuk, Obrolan Mahfud dengan Freud

Telah lama saya mendengar novel Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu dan ingin membacanya. Namun kemalasan untuk memesan (online) menghambatnya, sampai akhhirnya saya mendapatkannya...

Perjalanan Keliling Jawa Raffles Sang Penemu Candi Borobudur?

Ceritanya bermula di akhir abad ke-18 ketika negeri Belanda diduduki oleh pasukan Prancis pimpinan kaisar Napoleon. Berita pendudukan ini dengan cepat juga menyebar ke...

‘Melawan Kemusyrikan di Purwakarta’

Semenjak di Pimpin oleh Dedi Mulyadi Purwakarta memang menjadi primadona di kancah nasional maupun Internasional.Selain karena sederet prestasi yang di gapai dengan berbagai kebijakan,...
FITRI DEWANTY
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pembangunan Nasional 'Veteran' Yogyakarta

Peduli lingkungan hidup menjadi topik yang hangat dikampanyekan akhir-akhir ini. Namun tetap saja, tak mudah membuat banyak orang sadar untuk peduli lingkungan hidup saat ini. Lingkungan hidup berupa lahan hijau misalnya.

Di Kabupaten Sleman tepatnya di area seperti Selokan Mataram, Maguwoharjo, Babarsari, dan Seturan, yang dahulunya merupakan lahan hijau mulai beralih fungsi menjadi lahan bangunan ataupun menjadi peluang bisnis properti.

Banyaknya lahan hijau seperti lahan persawahan ataupun perkebunan yang beralih fungsi, kelestarian tanaman hijau pun semakin berkurang. Akibatnya, pengetahuan generasi saat ini dan mendatang terhadap tanaman hijau juga perlahan menjadi nihil.

Mereka semakin tak mengetahui jenis-jenis tumbuhan dan bagaimana cara menanamnya. Maka dari itu, sangat penting menghidupkan kembali lahan hijau, mengubah kembali pola pikir masing-masing individu untuk lebih sadar terhadap lingkungan dan mengetahui pengaruhnya terhadap generasi mendatang.

Mengembalikan kelestarian hidup dapat dilakukan dari semua aspek. Mulai dari keluarga yang memberi pengetahuan terkait lingkungan kepada anaknya, pemerintah yang membuat kebijakan perluasan ruang terbuka hijau, maupun perusahaan wisata untuk membuat program edukasi lingkungan hidup.

Jika membahas pada poin terakhir, yaitu perusahaan wisata dengan program edukasi lingkungan hidup memang telah banyak ditemukan. Namun, masih banyak dari mereka yang kurang mengedepankan hal tersebut sebagai program utama walaupun peluang memberikan manfaatnya lebih besar.

Di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jogja Bay menjadi salah satu wisata yang memiliki peluang membuat program edukasi lingkungan hidup, namun saat ini masih kurang ditempatkan sebagai prioritas utama. Mereka lebih menempatkan wisata wahana air sebagai produk utama. Padahal, Jogja Bay memiliki lahan hijau seluas 2,7 hektar.

Program edukasi lingkungan hidup di Jogja Bay memang sudah dibuat, dengan nama program “Gemi Garden Tour”. Gemi Garden Tour merupakan program yang edukasi lingkungan dimana kegiatannya berisikan pengetahuan terhadap jenis-jenis tanaman, merawat lingkungan, serta bagaimana cara menanam tanaman. Program tersebut menyasar pada kalangan orangtua yang ingin memberikan edukasi lingkungan kepada anak-anaknya, serta pada lembaga pendidikan yang menambahkan kurikulum lingkungan hidup di kegiatan belajarnya.

Jenis-jenis tanaman yang diperkenalkan juga merupakan tanaman lokal seperti, sawo kecik, bodhi, beringin, kepel, asam jawa, pohon kelapa, dadap merah, keben, jambu tradasana, palm, dan trembesi. Banyak orang yang tidak tahu atau mulai melupakan tanaman tersebut sekalipun ia berasal dari dalam negeri. Jangankan bentuk pohon dan buahnya, namanya saja banyak generasi saat ini yang tidak tahu.

Program tersebut sebenarnya bisa dijadikan langkah awal untuk memanfaatkan lahan hijau tidak hanya sebagai penghijauan tapi juga pengetahuan terhadap lingkungan untuk generasi mendatang. Sayangnya, program tersebut kurang banyak diketahui oleh publik.

Padahal, jika telah memiliki program edukasi lingkungan hidup, perusahaan hanya perlu memasarkannya lebih gencar dan membangun kerjasama dengan seluruh aspek agar program tersebut dapat berjalan efektif dan menginspirasi banyak orang. Salah satu aspek tersebut adalah pemerintah dan komunitas lingkungan. Dinas Lingkungan Hidup bisa melakukan sosialisasi pentingnya menjaga kelestarian tumbuhan hijau dengan membuat kegiatan program edukasi yang sama, atau menggunakan program “Gimi Garden Tour” tersebut.

Tak hanya melalui pemerintah dan tempat wisata, mencetak generasi peduli lingkungan hidup juga bisa dilakukan oleh keluarga di rumah. Orangtua bisa menanam tumbuhan-tumbuhan lokal di rumah, memberitahu nama-nama tanaman, dan mengajarkan cara menanam kepada anak. Kegiatan tersebut bisa orangtua lakukan di waktu senggang atau pada akhir minggu (week end).

Jika seluruh aspek bisa menerapkan cara-cara yang dilakukan untuk mencetak generasi peduli lingkungan hidup sejak dini, kesadaran terhadap lingkungan akan mudah diterapkan. Program edukasi lingkungan yang dibuat hanya perlu dikemas dengan cara yang menyenangkan, inovatif, dan kreatif agar pembelajaran mudah ditangkap. Dengan memberikan edukasi lingkungan hidup, kita telah menyelamatkan generasi pada ketidaktahuan terhadap alam sekitarnya di masa mendatang. Let’s Save Our Generations!.

FITRI DEWANTY
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pembangunan Nasional 'Veteran' Yogyakarta
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pemuda dalam Pergerakan Nasional Pandemi Covid-19

Peringatan hari Sumpah Pemuda mempunyai makna yang khusus d imasa Covid 19 saat ini. Tak bisa dipungkiri bahwa negara Indonesia adalah salah satu negara...

Pilu-Kasih di Medan Aksi

Malam itu menjadi momen yang tak terlupakan. Saya kira, saya hanya akan menghabiskan malam dengan makan atau nongkrong di kafe favorit bersama sang kekasih....

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Kelamnya Dunia Politik di Thailand

Apa yang kalian bayangkan tentang negara Thaiand? Ya, negara gajah putih tersebut sangat dikenal dengan keindahannya. Apalagi keindahan pantai yang berada di Krabi dan...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Pemuda, Agama Sipil, dan Masa Depan Indonesia

Sejarah sangat berguna untuk mengetahui dan memahami masa lampau, dalam rangka menatap masa depan, ungkap Ibnu Khaldun (1332-1406 M). Semestinya tidak hanya dibaca sebagai...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.