Selasa, Maret 2, 2021

Generasi Muda Berhak Atas Kebenaran Sejarah

Pilgub Sumatera Utara Memanas, Djarot Muncul Dalam Gelanggang

Genderang Pemilihan Gubernur Sumatera Utara 2018 telah ditabuh, membuat situasi kian dinamis dan suhu politik meningkat di tingkat grassroot. Bahkan beberapa pengamat meyakini bahwa...

Pengaruh Fatwa MUI dalam Melegitimasi Kekerasan terhadap Jamaah

Majelis Ulama Indonesia (MUI) adalah lembaga masyarakat non-pemerintah yang menghimpun Ulama, Zuama, dan Cendekiawan Muslim Indonesia. Majelis ini berdiri pada tanggal 7 Rajab 1395...

Bagaimana Nasib Piala Dunia 2022 Pasca-Krisis Qatar?

Ketegangan politik regional menerpa kawasan Teluk. Qatar beberapa waktu lalu secara sepihak diputuskan hubungan diplomatiknya oleh Arab Saudi, Mesir, Bahrain, Uni Emirat Arab, Libya,...

Balada Masyarakat Pemuja Gelar

Masih teringat kisah Dwi Hartanto (DH), seorang akademisi yang mengaku sebagai ahli dirgantara dari Indonesia. Tahun lalu, kasus DH mungkin menjadi salah satu berita...
Sasa Ramadhanty
State Jakarta Uni’16. Author at Geotimes.id. Chinese Language Tutor/Teacher. Freelance MC/Presenter. Fashion Model. 📩 Reach me at sasaramadhanty@gmail.com

Tepat bulan September, kira-kira 52 tahun silam. Awal sebuah kejayaan bagi beberapa oknum, sekaligus merupakan awal sebuah peristiwa pahit yang kini dikemas sebagai sejarah yang seolah sudah jelas akhirnya. Peristiwa September 1965, peristiwa pembantaian sadis terhadap kurang lebih 78 ribu jiwa.

September 1965 kerap dihubung-hubungkan dengan partai komunis Indonesia atau PKI sebagai dalangnya. Nama PKI begitu terdengar menyeramkan bagi masyarakat. PKI disebut-sebut sebagai pemberontak, penghianat, dan harus dihapus dari tanah air tercinta. Ideologi komunis ditentang habis-habisan, disebut-sebut sebagai ideologi yang haram.

Pada umumnya, guru mata pelajaran sejarah mulai dari sekolah menengah pertama hingga sekolah menengah atas tiap tahunnya memutarkan film dokumenter G30S/PKI. Tampak pada film dokumenter tersebut, beberapa orang anggota PKI dengan sadisnya menyiksa beberapa orang Jenderal dan melakukan pembabibutaan alih-alih untuk pemberontakan demi jatuhnya pemerintahan Soekarno. Apakah sejarah yang turun-temurun tersuap oleh anak bangsa adalah benar begitu adanya?

Kala itu, presiden kedua republik Indonesia Soeharto berhasil menjadi seorang pahlawan yang telah membubarkan PKI dan membuat masyarakat merasa sejahtera. 32 tahun menjabat, Soeharto memimpin tanah air dengan penuh ‘ketenangan’ di setiap penjuru.

Ketenangan yang amat bermakna, ‘tidak ada’ kritikan, ‘tidak ada’ berita-berita buruk. Beragam kejadian misterius kerap terjadi dan sampai saat ini belum jelas bagaimana nasibnya. Lebih baik diam, daripada berpendapat sebab dengan mengangkat aspirasi saja dapat menimbulkan hal yang mengancam keselamatan diri sendiri.

Beragam penculikan aktivis atau pengkritik pemerintah seperti suatu hal yang sengaja tak diacuhkan dan hilang kabarnya begitu saja. Soeharto menjadi presiden menggantikan jatuhnya rezim Soekarno. Soekarno disebut-sebut memberikan tahta kepemimpinannya atas pemerintahan Indonesia kepada Soeharto demi keteduhan politik.

Menurut Cornell Paper, yang merupakan salah satu sumber paling akurat mengenai pemahaman G-30-S/PKI, PKI memiliki hubungan baik dengan Uni Soviet, musuh terbesar Amerika Serikat yang kala itu sedang dalam perang dunia II.

Mereka berpendapat bahwa PKI mendapat banyak keuntungan dari sistem politik Presiden Soekarno yang ke kirian. Jadi, strategi terbaik mereka adalah mempertahankan Soekarno, ketimbang merusaknya. Mereka juga berkesimpulan bahwa G-30-S/PKI adalah masalah internal antara PKI dengan TNI Angkatan Darat.

Menurut mereka, ada beberapa kolonel pembangkang. Mereka memberontak terhadap para jenderal Angkatan Darat yang penuh kemewahan dan harta berlimpah di Jakarta. Namun, pada saat-saat terakhir, ada pihak yang memancing agar PKI terseret.  Sangat berlawanan dengan apa yang tertulis pada sejarah, bukan?

Kebenaran yang melibatkan Amerika Serikat, Soeharto, dan PKI ibarat sebuah harta paling berharga yang tersimpan amat rapih pada tempat paling rahasia hingga tiada satupun orang awam yang dapat mengetahuinya. Sebetulnya, apakah selama ini kita tertipu oleh bangsa sendiri? Namun, pertanyaan yang paling penting ialah, apakah sebenarnya kita peduli bahwa kita sedang tertipu?

Peristiwa 1965 memberikan dampak luar biasa pada keadaan Indonesia sampai hari ini. September 1965 tidak bisa menjadi sejarah yang terlupakan. Pramoedya Ananta Toer pernah berpendapat dalam perbincangannya bersama Andre Vltchek & Rossie Indira yang tertulis pada buku “Saya Terbakar Amarah Sendirian!” bahwa nasib bangsa Indonesia saat ini hanya bisa diubah oleh tangan generasi muda. Memang, generasi muda seharusnya memiliki peran penting terhadap keutuhan bangsa tanah airnya. Namun, bagaimana kabar generasi muda hari ini?

Buku adalah jendela jelajah dunia tanpa harus pergi keliling dunia. Maka, membaca tentunya adalah hal yang amat bermanfaat. UNESCO pada beberapa tahun silam membuat riset yang menghasilkan bahwa minat baca pada Negara Indonesia menempati posisi ke-60 dari 61 negara. Begitu rendahnya minat kita terhadap membaca, padahal membaca adalah hal mutlak demi kecerdasan suatu bangsa.

Semakin hari, perkembangan teknologi semakin pesat. Sosial media bukanlah hal yang awam bagi masyarakat terutama generasi muda millennial. Kemudahan berbagi status maupun foto dan video pada sosial media seakan membuat privasi seseorang menjadi tiada batasannya.

Sosial media membuat candu para penggunanya, sehari saja tidak membuka akun sosial media, rasanya sangat hampa. Gawai-gawai yang semakin lama semakin canggih, mulai dari harga paling terjangkau sampai seharga sepeda motor. Trend-trend kekinian yang merajalela, mempengaruhi gaya anak muda millennial dari gaya berpakaian, berbicara, hingga kesopanan.

G-30-S/PKI adalah hal yang sangat rumit, dan mungkin terdengar tidak menarik untuk generasi muda millennial Indonesia. Padahal, sesungguhnya bangsa yang besar ialah bangsa yang belajar dari sejarah bangsanya sendiri.

Beragam buku-buku kiri telah beredar keberadaannya, bahkan kita bisa mendapatkannya secara during melalui gawai kita. Namun, jika dilihat dari tingkat minat membaca anak bangsa, berapa jumlah dari generasi muda millennial yang tertarik akan mencari kebenaran sejarah dari membaca? Berapa jumlah dari kita yang cemas akan nasib bangsa sendiri sehingga merasa wajib untuk membaca?

Generasi muda adalah harapan bangsa, kekuatan terbesar suatu bangsa. Sudah semestinya kita memperkokoh jati diri bangsa, terutama pada generasi muda. Generasi muda berhak atas kebenaran sejarah.

Generasi muda bukanlah musuh pemerintah yang harus dipaksa menelan kebohongan sejarah sebab masa depan bangsa ada di tangan generasi muda. Dengan membiasakan kegiatan membaca, itu sudah menjadi awalan bagus demi terciptanya bangsa yang berpikiran luas dan terbuka. Meskipun teknologi terus berkembang pesat, namun generasi muda harus bisa menjadikannya sebagai manfaat, bukan senjata boomerang yang dapat menerka tuannya sendiri.

Sasa Ramadhanty
State Jakarta Uni’16. Author at Geotimes.id. Chinese Language Tutor/Teacher. Freelance MC/Presenter. Fashion Model. 📩 Reach me at sasaramadhanty@gmail.com
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Gangguan Jiwa Skizofrenia

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan social sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri. Dapat mengatasi tekanan,...

Mencermati Inflasi Menjelang Ramadhan

Beberapa pekan lagi, Bulan Ramadhan akan tiba. Bulan yang ditunggu-tunggu sebagian umat muslim ini adalah bulan yang istimewa karena masyarakat muslim berusaha berlomba-lomba dalam...

Kasus Khashoggi Makin Mendunia

Hari ini, 1 Maret 2021, Biden mau umumkan resmi di Washington keterlibatan MBS dalam pembunuhan Kashoggi. Menarik. KAS pasti meradang. Ini konflik pertama, yg sulit...

Jujur Itu Hebat, Artidjo Personifikasi dari Semua Itu

Satu demi satu orang tumbang dibekap covid, penyakit lain atau karena usia. Pagi ini saya kembali dikejutkan oleh berpulangnya Artidjo Alkostar, kawan lama yang...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

ARTIKEL TERPOPULER

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.