Minggu, Oktober 25, 2020

Genderuwo, Perjalanan Sang Rupawan Menjadi Momok

Sedekat Unicorn, Selekat Unikop

Populasi masyarakat virtual kian tak terbendung dengan perkembangan digitalisasi segala lini. Fenomena di masyarakat saat ini dikenal dengan istilah populer “internet of all things”, dimana...

Belajar Merdeka Belajar, Melampaui Kompetensi Fiktif

Mendengar pemaparan Dr. Shintia Refina bahwa pada tahun 2015 hanya 300 ribu guru dari 1.6 juta guru yang lulus Uji Kompetensi Guru seyogyanya sudah...

Keramahan Negara Kepada Penghayat Kepercayaan

Sebelum ditetapkan dengan nama “Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa”, istilah “kepercayaan” atau “kebatinan” tampaknya lebih populer di tengah masyarakat. Dalam sejarah legalitas konstitusionalnya,...

Siapkah Indonesia Menghadapi Pasar Bebas APEC?

Asia-Pasific Economic Coorperation atau di singkat APEC merupakan bentuk kerjasama ekonomi antara negara-negara kawasan Asia Pasifik yang berjumlah 21 negara. APEC pertama kali berdiri...
Johannes Nugroho
Penulis lepas dalam bidang politik, sejarah dan budaya.

Beberapa waktu yang lalu, Presiden Joko Widodo menyindir lawan politiknya yang beliau tuduh sering menyebarkan perasaan takut dalam berkampanye dengan istilah “politik genderuwo”.

Terlepas dari pro kontra istilah yang digunakan kepala negara yang lebih dikenal dengan sebutan Jokowi tersebut, ada catatan kecil antropologis-mitologis yang menarik mengenai sosok genderuwo itu sendiri. Sosok ini ada di folklore atau mitos rakyat di budaya Jawa dan Sunda dan dikenal sebagai salah satu mahluk halus yang cenderung jahat dan usil sifatnya, meski tidak semuanya.

Berkelamin laki-laki dengan tubuh tinggi besar dan berbulu lebat bak kera, genderuwo menjadi sosok menakutkan dalam alam bawah sadar orang-orang Indonesia yang tumbuh di kultur Jawa dan Sunda.

Namun jika ditilik dari berbagai sudut, genderuwo ini kemungkinan besar adalah korban hoaks yang telah terjadi beratus-ratus tahun lamanya.

Secara umum sudah diakui bahwa kata genderuwo berasal dari bahasa Jawa kuno (Kawi) gandharwa yang diambil dari kata Sansekerta gandharva. Dalam mitologi Hindu dan Budha, gandharva adalah sosok setengah dewa rupawan berjenis kelamin laki-laki yang berperan sebagai pemusik, penari maupun pembawa berita bagi para dewata. Sosok perempuan pasangan gandharva adalah hapsara atau apsara.

Penggambaran ini secara pasti berlaku di pulau Jawa sebelum kedatangan agama Islam, karena sosok gandharwa dan apsara yang seringkali berpasangan, maupun sendirian, ditemukan di berbagai relief yang terpahat di candi-candi kita, misalnya di Candi Mendut, Prambanan dan Borobudur.

Gandharwa dan apsara pada saat itu kemungkinan besar dipercayai sebagai mahluk halus setara dengan bidadara dan bidadari dan dalam perannya sebagai pembawa pesan dewata sering melakukan kontak dengan manusia. Kedekatan para gandharwa dan apsara dengan dunia manusia ini menarik karena sosok genderuwo sendiri dipercayai bisa melakukan kontak dengan manusia dan sering menampakkan diri.

Sering hadirnya sosok setengah dewa seperti bidadari dalam dunia manusia adalah salah satu motif cerita yang kerapkali muncul dalam cerita rakyat Nusantara, seperti legenda Jaka Tarub yang terkenal itu. Hal ini menguatkan tesis bahwa rakyat Nusantara di jaman lampau mempercayai kontak dengan mahluk supranatural semacam bidadari atau apsara dan gandharwa.

Pertanyaannya bagaiman sosok gandharwa yang rupawan itu menjadi menakutkan seperti yang sudah terbentuk dewasa ini? Hal ini bisa dijelaskan dengan istilah antropologis yaitu demonisasi, sebuah proses pencitraan yang mengubah sesuatu menjadi sosok negatif yang menakutkan. Hal ini kerap terjadi pada sosok-sosok yang terdapat dalam agama atau sistem kepercayaan yang tergantikan oleh yang baru.

Dalam ilmu mitologi komparatif, misalnya, hal ini terjadi pada sosok dewa alam Yunani dan Romawi Pan yang berbentuk manusia setengah kambing. Setelah masuknya agama Kristen di benua Eropa, sosok Pan yang populer di daerah pedesaan mengalami proses demonisasi menjadi sosok setan di budaya Eropa yang seringkali muncul di karya fiksi Barat saat ini, yaitu mahluk setengah manusia setengah kambing atau manusia bertanduk berekor.

Di mitologi pulau Jawa sendiri, hal ini terjadi juga pada sosok Kanjeng Ratu Kidul.  Antropolog Belanda Roy E. Joordan, setelah meneliti sosok Ratu Kidul, berpendapat bahwa sosok tersebut sudah lama ada di tanah Jawa, bahkan ada sebelum masuknya Hindu ke Nusantara. Pada jaman Hindu-Budha, menurut Roy, sosok Ratu Kidul sering diidentikkan dengan dewi Tara Hijau.

Tapi, setelah masuknya Islam ke tanah Jawa, sosok ini menjelma menjadi semacam ratu bangsa jin seperti yang digambarkan pada Babad Tanah Jawi. Semenjak itu, sifat angker melekat pada Ratu Kidul, padahal sebagai Tara hijau, sosok ini dahulunya dianggap sebagai sosok penyelamat dari marabahaya.

Proses yang sama terjadi pada sosok Kuntilanak, yang berasal dari folklore Melayu. Sosok ini dikenal oleh bangsa-bangsa  serumpun kita baik di Malaysia maupun Filipina dengan berbagai variasi nama seperti Matianak dan Pontianak.

Dalam sebuah dokumenter  disutradarai V. Williams yang ditayangkan National Geographic pada tahun 2002, sosok Kuntilanak dijelaskan berasal dari sosok-sosok magis yang dikenal oleh suku-suku dalam Melayu seperti suku Semelai yang masih tinggal di hutan.

Dalam kepercayaan suku Semelai, Pontianak adalah mahluk halus bersifat penyembuh yang dipanggil dukun Semelai (Puyang) untuk membantu dalam pencarian arwah yang hilang di hutan. Sosok Pontianak, yang juga merupakan asal usul nama kota Pontianak, bergeser dari mahluk halus bersifat baik menjadi momok yang mengerikan seiring dengan masuknya agama-agama baru ( Islam di Malaysia dan Indonesia dan Kristen Katolik di Filipina).

Proses demonisasi yang dialami sosok Ratu Kidul dan Kuntilanak sangat mungkin telah terjadi pula pada genderuwo.

Karena itu, genderuwo sebagai sebuah metafora lebih cocok untuk diaplikasikan pada fenomena hoaks daripada politik menakuti (fear mongering), karena dengan semua disinformasi dan propaganda, sosok rupawan gandharwa bisa akhirnya menjelma menjadi menyeramkan dan jahil.

Dalam pidatonya di World Economic Forum on ASEAN, September lalu, di Hanoi, Vietnam, Jokowi menyebut sosok-sosok Avengers dari Marvel Comics sebagai sebuah analogi. Avengers adalah sekelompok dewa dan sosok setengah dewa yang menjadi pahlawan pembela kemanusiaan.

Dalam hal ini, gandharwa dahulu pun adalah sosok-sosok yang tidak jauh berbeda dengan Avengers: mahluk-mahluk yang bisa diminta tolongi untuk bermediasi dengan kekuatan alam dan para dewata. Sayang sekali jika para Avengers Nusantara ini, akibat hoaks yang berkepanjangan, tetap menajadi momok nasional akibat ketidaktahuan kita akan khasanah budaya sendiri.

Johannes Nugroho
Penulis lepas dalam bidang politik, sejarah dan budaya.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Sastra, Dildo dan Evolusi Manusia

Paling tidak, berdasarkan catatan tertulis, kita tau bahwa sastra, sejak 4000 tahun lalu telah ada dalam sejarah umat manusia. Hari ini, catatan yang ditulis...

Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia

Di dalam buku Huntington yang 600-an halaman yang berjudul Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia mengatakan bahwasanya masa depan politik dunia akan...

Di Bawah Erdogan Turki Lebih Tidak Demokratis dari Indonesia

Turki di bawah kepemimpinan Erdogan sering dibanding-bandingkan dengan Indonesia di bawah Jokowi. Perbandingan dan penghadap-penghadapan antara Erdogan dan Jokowi yang sering dilakukan oleh kelompok...

Refleksi Bulan Bahasa: Apa Kabar Perpres 63/2019?

Oktober adalah bulan yang sangat bersejarah dalam kehidupan bangsa Indonesia. Pada bulan inilah, 92 tahun silam terjadi peristiwa Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak lahirnya...

Berlindung di Balik Topeng Kaca, Public Figure juga Manusia

Ketika Candil lewat Grup Band Seurieus, salah satu Band Rock Kenamaan tahun 2000-an awal ini menyuarakan pendapatnya lewat lagu Rocker juga Manusia, saya seratus...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Memperkuat Peran Politik Masyarakat

Salah satu kegagalan konsolidasi demokrasi elektoral adalah tidak terwujudnya pemilih yang cerdas dalam membuat keputusan di hari pemilihan. Menghasilkan pemilih cerdas dalam pemilu tentu...

10 Profesi Keren di Sektor Pertanian

Saudara saya tinggal di sebuah desa lereng Gunung Sindoro. Dari hasil pertanian, dia sukses menyekolahkan salah satu anaknya hingga lulus paska-sarjana (S2) dalam bidang...

Refleksi Bulan Bahasa: Apa Kabar Perpres 63/2019?

Oktober adalah bulan yang sangat bersejarah dalam kehidupan bangsa Indonesia. Pada bulan inilah, 92 tahun silam terjadi peristiwa Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak lahirnya...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.