Banner Uhamka
Selasa, September 29, 2020
Banner Uhamka

Geliat Media Massa di Tahun Politik

Wayang, Cermin Keluhuran dan Kehebataan Seni Nusantara

Ada yang mengatakan kalau kesenian wayang itu kesenian Jadul, tertinggal, gak kekinian. Siapa bilang? Justru, wayang itu merupakan kesenian yang bersinergi disetiap jamannya.Bagi saya,...

Suksesnya Soft Diplomacy Jepang Lewat Anime

Saat ini banyak remaja dan anak-anak yang suka menonton anime. Anime itu sendiri adalah animasi khas Jepang, yang biasanya dicirikan melalui gambar-gambar berwarna -warni...

#10YearChallenge Sempat Dituding, Lalu Dibantah Oleh Facebook

Beberapa waktu lalu tantangan dari Facebook yang bertajuk "Bagaimana efek penuaan pada Anda?" Dimana pengguna mengunggah perbandingan foto 10 tahun yang lalu dan mereka...

Motif Dagang Senjata Korea Utara

Uji coba nuklir keenam yang dilakukan Korea Utara telah meningkatkan kekhawatiran dan ketegangan akan kemungkinan pecahnya perang di Semenanjung Korea. Globaltimes mengestimasi, untuk menembakkan...
Selma Kirana Haryadi
A passionate writer with a big interest in politics, gender, cultural and media studies. Currently studying journalism at Padjadjaran University.

Media massa merupakan salah satu saluran pembentuk masyarakat yang demokratis. Demokrasi itu sendiri dapat diwujudkan melalui media massa. Fungsi utamanya sebagai penyalur sekaligus pencari informasi, menjadikan media massa sebagai saluran paling efektif dalam pembentukan persepsi masyarakat mengenai dunia politik. Hal itulah yang membuat media massa secara langusng memengaruhi perilaku politik masyarakat di dunia. Termasuk dalam keputusan masyarakat dalam memilih pemimpin yang dinilainya paling ideal.

Memasuki tahun politik, beragam polemik muncul ke permukaan. Tak terhindarkan, beragam sudut pemberitaan muncul setiap saat di media massa. Dimulai dari fenomena politainment, hingga berita-berita lempang yang tak jarang, membosankan.

Begitu pula halnya dengan kemunculan berita-berita yang diboncengi oleh kepentingan suatu atau beberapa golongan. Nilai kebenarannya? Antara satu media dengan media lainnya, bisa berbeda-beda. Tergantung pada titik yang dapat mempertemukan kepentingan pihak-pihak yang akan terpengaruh oleh berita tersebut.

Bukan kenetralan jurnalisme dan media massa yang kini patut dipertanyakan. Pertanyakanlah kebenaran, yang menjadi nilai mutlak dalam jurnalisme dan karya-karyanya. Jurnalisme yang berpihak bukanlah hal yang patut disalahkan. Namun jurnalisme yang tak beritikad baiklah yang patut disalahkan. Bagaimana kebermanfaatan dari karya-karya jurnalistik, khususnya memasuki tahun politik kini, semakin berkurang. Batasan tegas atntara meja redaksi dan meja perusahaan yang seharusnya ada,  kian hari kian dikikis. Penyalahgunaan kekuasaan dan kepemilikan yang dilakukan oleh para pemilik media adalah pendorongnya.

Hal-hal terkait pemberitaan, termasuk framing, sudut berita, dan lain-lain adalah keputusan redaksional dari media massa. Memang, ekonomi politik media, termasuk kepemilikan media merupakan hal yang turut memengaruhi pemberitaan. Tapi kemudian, muncullah pertanyaan. Seberapa jauh ekonomi, politik, dan kepemilikan media dapat memengaruhi pemberitaan?  Sehatkah berita-berita yang ada di media massa di tahun politik ini?

Kepemilikan media memengaruhi jalannya pemberitaan di suatu media. Namun, di tahun politik ini, pengaruh ekonomi, politik, dan kepemilikan media, sudah menjelma menjadi bentuk campur tangan. Sebaran kepemilikan media semakin bias. Hampir seluruh media massa di Indonesia dimiliki oleh para pengusaha, yang kemudian turut menjadi politisi dan menjadi bagian dari partai politik.

Hal tersebut seirng dimanfaatkan oleh para pemilik media untuk kepentingan-kepentingan golongannya yang menguntungkan mereka di aspek politik.  Seiring waktu, batasan tegas yang seharusnya terbangun antara kebijakan redaksional media massa dan kepentingan bisnis dan pemilik, semakin pudar.

Sejak awal kelahirannya, pers di Indonesia bersifat partisan dan kedaerahan. Masing-masing organisasi pers memiliki kepentingan dan tidak mendeklarasikan dirinya netral, tak berpihak. Namun, di atas kepentingan-kepentingan tersebut, terdapat kepentingan ideologi bangsa Indonesia. Dengan kata lain, walau tak berada dalam posisi netral, media tetap berkepentingan mewujudkan cita-cita bangsa.

Di tahun politik ini, kepentingan tersebut nampaknya sudah tak lagi menjad bahan pertimbangan. Media-media semakin menunjukkan keberpihakannya, baik secara politis maupun bisnis. Media-media yang kebanyakan dimiliki oleh pengusaha, yang kemudian dikendalikan hingga ke dalam kebijakan redaksionalnya, kemudian menghasilkan produk-produk jurnalistik yang hanya menguntungkan pihaknya tanpa mempertimbangkan kepentingan publik.

Berita politik yang dihasilkan sebuah media cenderung meninggikan nama politisi atau calon pemimpin yang didukung oleh pihak partai atau perusahaan yang menaungi perusahaan media massa tersebut. Sementara di sisi lain, ada kecenderungan pemberitaan menjatuhkan politisi atau calon pemimpin oposisi. Ditambah lagi kemitraan antar pemilik media dan partai politik yang tak hanya menguntungkan di bidang ekonomi, tapi juga dalam perolehan kekuasaan. Antar kubu akan semakin gencar mencari kelemahan lawan dan menjadikannya senjata untuk saling menjatuhkan.

Apabila berkaca pada sembilan prinsip jurnalisme, pers seharusnya mengutamakan kepentingan publik karena loyalitas utamanya ialah pada warga/masyarakat. Tak seluruh hal yang menguntungkan suatu pihak berarti mengandung nilai kebenaran yang juga bermanfaat bagi publik. Boleh jadi terdapat hal-hal yang ditutupi untuk memperoleh citra yang lebih baik.

Di keseharian, masyarakat Indonesia mengkonsumsi informasi dari media massa. Apabila media-media massa di Indonesia terus menyajikan berita dan informasi politik yang tak diboncengi kepentingan suatu golongan saja, maka dampak terhadap pengetahuan dan behavioral masyarakat akan sangat besar.

Akan banyak masyarakat, khususnya yang tak memiliki kemampuan untuk memaknai informasi secara komperhensif, yang terdidik dalam ilmu yang salah. Misalnya, sosok pemimpin yang menurutnya ideal karena digambaran media sebagai sosok yang berjiwa kepemimpinan dan memiliki banyak nilai kebaikan, ternyata memiliki deretan catatan hitam yang tak diketahui karena tak pernah diungkap oleh media. Dampak lain adalah munculnya kebingungan masyarakat.

Hal tersebut disebabkan oleh antar media massa menyajikan kabar yang berbeda-beda. Satu media massa mengatakan bahwa tokoh A melakukan kesalahan, media lain mengatakan bahwa itu bukanlah sebuah perilaku yang salah. Satu media mengatakan bahwa tokoh B melakukan pelanggaran dalam kampanye, media lainnya mengatakan bahwa pihak KPU keliru dalam meletakkan tuduhan.

Media massa memiliki fungsi sosialisasi dan sebagai sarana pendidikan politik. Media massa memiliki fungsi meningkatkan kualitas rujukan masyarakat dalam menerima dan mempertahankan sistem nilai atau sistem politik yang tengah berlangsung. Untuk meningkatkan kualitas rujukan masyarakat, media massa perlu menyajikan konten-konten yang berkualitas.

Dalam hal tersebut berarti akurat, berimbang, dan tak diboncengi oleh kepentingan golongan. Hal terpenting yang perlu dilakukan dan dibenahi dalam perusahaan media massa ialah memperjelas batasan antara ruang redaksi dan kepentingan perusahaan, seperti bisnis, politik, dan lainnya. Jangan sampai esensi sesungguhnya dari media massa dikikis perlahan-lahan oleh media massa itu sendiri.

Selma Kirana Haryadi
A passionate writer with a big interest in politics, gender, cultural and media studies. Currently studying journalism at Padjadjaran University.
Berita sebelumnyaYa, Kita Ini Pelupa
Berita berikutnyaOrde Baru, Prabowo dan Minang
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pengkhianatan Cinta

''Pernahkah Anda melihat orang yang berbuat jahat terhadap orang yang amat dicintainya?'' seseorang bertanya pada Abu Dzar al-Ghiffari, sahabat Rasulullah SAW. ''Pernah, bahkan sering,''...

Minang, Tan Malaka dan Dialektikanya

Minang kembali diperbincangkan di panggung politik nasional. Kali ini bukan karena tokoh dan pemikirannya, melainkan karena ucapan “Semoga Sumatera Barat mendukung Pancasila.” Tulisan ini tidak...

Optimasi Peran Wakil Rakyat di Tengah Pandemi

Mengutip pendapat Cicero dalam Phoebe E. Arde-Acquah (2015), terdapat sebuah adagium hukum yang menyatakan bahwa keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi. Secara konstitusional, adagium hukum...

Miskonsepsi Seks dengan Persetujuan

Pada 13 September 2020 lalu, terunggah sebuah kiriman di Instagram yang berjudul “Kupas Tuntas Pakta Integritas UI dan Pendidikan Sex dengan Persetujuan” yang di...

Jika Cantik Hanya Mengikuti Standar Industri

Belakangan ini perbincangan mengenai bagaimana diri kita maupun bagaimana industri mendefinisikan standart kecantikan kembali ramai diperdebatkan. Mulai dari gerakan perempuan dukung perempuan yang dianggap...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.