OUR NETWORK

Gaya Gebrakan Menteri BUMN

Program bersih-bersih BUMN
Foto: inter.it

Menggebrak itulah kata yang tepat disematkan kepada Menteri BUMN yang baru, Erick Thohir. Sejumlah sikap tegas dan keras diterapkan dengan mengganti deretan petinggi BUMN dari kursi BTN sampai yang terbaru level jajaran direksi Garuda.

Isu yang beredar perombakan besar-besaran akan dilakukan guna meningkatkan rasio efisiensi pemasukan laba dari BUMN dan porsi integritas yang lebih besar yaitu menciptakan lingkungan yang bebas korupsi dan porgram deradikalisasi sampai eselonisasi. Dengan gebrakan yang dilakukan Erick Thohir ini menjadi peringatan bagi sebagian petinggi BUMN yang dirasa memiliki keterkaitan soal anggaran apalagi pemasukan di BUMN selama ini menjadi yang tertinggi kedua setelah pendapatan pajak di Indonesia.

Meskipun begitu, kebijakan di era Erick Thohir menuai berbagai kontroversi seperti pengangkatan Komisaris Pertamina yang baru, Basuki Tjahaja Permana atau dikenal Ahok hingga permberhentian Dirut Garuda, Ari Askhara terkait penyelundupan motor Harley Davidson dan sepeda Brompton.

Namun, penempatan dan pergantian ini bukan sembarang mengambil kebijakan, akan tetapi keputusan Erick Thohir didasari oleh sikap transparan yang dimiliki Ahok. Selain itu, mencuatnya kasus penyelundupan motor dan sepeda didasari penelusuran kasus yang mendalam di lingkungan Kementerian Keuangan dengan berkoordinasi dengan Kementerian BUMN.

Program bersih-bersih BUMN bertujuan bukan hanya filosofi politik semata, lebih dari itu mendukung visi dan misi Presiden terkait reformasi birokrasi. Kebijakan ini akan banyak memakan waktu sehingga proses demi proses harus berjalan sesuai arahan Presiden.

Banyak pihak kini sedikit melakukan perbandingan dimana di era Rini Soemarno, kebijakan mantan Menteri BUMN itu dirasa tidak memiliki efek yang besar bagi kinerja BUMN secara maksimal.

Namun, di era Erick Thohir perombakan besar terjadi dengan masif. Dimulai langkah 100 hari, pergantian kinerja dirut dan komisaris, pembentukan task force untuk kereta cepat Jakarta-Bandung, pengintegrasian transportasi, dan pemangkasan eselon. Lain lagi dengan kebijakan Rini Soemarno dulu yang menempatkan orang-orang kepercayaannya diposisi penting apalagi wacana besar super holding BUMN di era Jokowi jilid satu. Semua seakan berbeda dengan konsep baru Erick Thohir yang lebih mengedepankan asas profesionalitas dan transparansi serta akuntabilitas.

Hal itu menjadi cerminan baru wajah BUMN untuk perbaikan apalagi dalam kondisi yang kurang stabil di beberapa perusahaan pelat merah tersebut. Bisa diambil contoh laba perusahaan PT Garuda Indonesia yang mencatatkan laba bersih hanya US$ 175 juta atau setara Rp 2,45 triliun pada semester-1 2019.

Teranyar adalah PT Pos Indonesia mencatat laba bersih sebesar Rp 127 miliar atau turun dari posisi 2017 sebesar Rp 355 miliar. Posisi kas ini merupakan yang terendah sejak tahun 2012. Adapun isu yang paling hangat adalah nasib Krakatau Steel yang banyak didera persoalan kerugian selama 7 tahun berturut-turut, utang naik, PHK masal, hingga mundurnya jajaran komisaris.

Proses perampingan karyawan juga dilakukan dengan jumlah mencapai 2.400 orang dimana terbagi 800 orang memasuki masa pensiun dan pengalihan 600 orang ke anak perusahaan Krakatau Steel. Berdasarkan laporang keuangan Krakatau Steel juga tercatat utang sebesar US$ 2,49 miliar, naik 10,45 % dibandingkan 2017 sebesar US$ 2,26 miliar.

Penghapusan Cucu Usaha BUMN

Bermula dari temuan Erick Thohir pada PT Pertamina yang memiliki 142 cucu perusahaan menjadi tugas besar oleh komisaris baru Pertamina, Ahok. Menyoal cucu perusahaan juga terfokus kepada Ari Askhara, selaku Dirut Garuda sebelumnya yang menjadi komisaris di beberapa perusahaan.

Sebagai informasi, Ari Askhara pernah menduduki posisi komisaris di beberapa anak dan cucu perusahaan Garuda. Posisi yang dijabat oleh Ari Askhara di anak perusahaan terdiri dari dua anak perusahaan Garuda yaitu PT GMF AeroAsia dan PT Citilink Indonesia. Sementara itu di beberapa cucu yaitu PT Aerofood Indonesia, PT Garuda Energi Logistik & Komersil, PT Garuda Indonesia Air Charter, dan PT Garuda Tauberes Indonesia.

Nama terakhir cukup menggelitik jagat publik karena namanya yang cukup mendapat sorotan. Berdasarkan penuturan Direktur Teknologi Garuda Tauberes Indonesia, Gisneo Pratala menyebutkan PT Garuda Tauberes adalah perusahaan rintisan fasilitator logistik atau pihak penghubung bagi perusahaan lain untuk tujuan pengiriman barang di hari yang sama atau sameday service.

PT Garuda Tauberes tercatat memiliki laba yang tidak besar. Berdasarkan laporan keuangan per 30 September 2019 hanya mencatatkan laba sebesar 1,87 miliar. Hal ini memicu perdebatan kinerja PT Garuda Tauberes tidak semaksimal perusahaan anak dari PT Garuda Indonesia lainnya.

Langkah Tegas

Beberapa kebijakan yang diambil oleh Erick Thohir menunjukkan kapasitas seorang leader di era reformasi. Cerdas saja tidaklah cukup, tetapi tegas itulah yang menggambarkan kebijakan era BUMN yang dinahkodai oleh Erick Thohir.

Mengedepankan segala bentuk transparansi untuk kemajuan negara tidak mudah. Perlu adanya persistensi dan konsistensi membangun sebuah kultur baru yang telah meninggalkan warisan kultur kuno.

Oleh sebab itu,  langkah pembenahan harus maksimal tanpa adanya tebang pilih ditengah carut-marut reformasi birokrasi di BUMN. Kedepan, diharapkan gebrakan ini bukan hanya pemantik saja untuk menunjukkan kinerja awal Erick Thohir sebagai pimpinan tertinggi di BUMN, namun harus mengemuka di level bawahan hingga direksi di setiap BUMN. Jangan sampai ini hanya sebuah gimmick, tetapi sebuah gebrakan yang sebenarnya.

Alumni Fakultas Hukum Universitas Trisakti | Pengamat Hukum Tata Negara

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…