Minggu, Januari 17, 2021

Gajah Mada: Si Dewa Mabuk?

Merah Kuning Hijau di Langit yang Biru

Drama hukum yang bernuansa politis terjadi di negara Indonesia. Apakah ini drama yang sengaja diskenario atau memang peristiwa tersebut merupakan bola liar yang tanpa...

Realisasi Janji Anies Baswedan?

Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta, setidaknya terhitung sejak 12 Oktober 2018 telah meluncurkan sebuah sistem subsidi perumahan yang bernama “samawa”. Samawa tersebut lebih kurang...

Hijrah dari Politik Hoaks Menuju Politik Kebangsaan

Istilah kata hijrah minggu-minggu ini sangat viral khusus di media sosia (medsos). Hal ini berangkat dari ajakan Presiden kita untuk mengajak kita semua  khusus...

Konsisten Netral, Muhammadiyah Menciptakan Politik Perdamaian

Para Nabi dan Rasul diutus oleh Allah secara historis membawa paham monoteisme (Tauhid) sebagai ajaran ketuhanan lalu pembebasan sebagai ajaran sosial untuk melepaskan penindasan-penindasan...
Avatar
AJ Susmana
Penulis

Dari namanya saja Gajah Mada bisa diartikan sebagai seorang yang jagoan minum-minuman keras. Mada dalam  bahasa Jawa Kuno berarti mabuk.  Gajah Mada karena itu berarti Gajah Mabuk.

Barangkali ia memang seorang “Dewa Mabuk” pada jamannya; terlebih Gajah Mada dikenal sebagai pemuja Raja Kertanagara yang terkenal dengan gagasan menyatukan Nusantara sekaligus juga dikenal sebagai Raja Mabuk yang menyatakan bahwa mabuknya raja dan rakyat itu berbeda.

Tentu saja kalau Gajah Mada akrab dengan dunia minuman keras tidaklah mengherankan sebab pada masa itu minum-minuman keras adalah hal yang wajar dan tidak ada larangan yang bersifat mengganggu dan menghalang-halangi.

Minuman keras berjenis arak dan tuak sendiri sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Nusantara bahkan jauh sebelum era Singasari dan Majapahit. Dari berita Tiongkok,  kita mengerti bahwa di masa Kerajaan Kalingga atau Holing pada abad ke-7 “… Minuman kerasnya terbuat dari air yang disadap dari tandan bunga kelapa (tuak). (Sartono Kartodirdjo, dkk, Sejarah Nasional Indonesia II,  Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, 1976;73).

Begitu pula Marco Polo yang tiba di Aceh kini, pada tahun 1291M, bersaksi bagaimana orang-orang di Kerajaan Samudra memproduksi minuman sejenis anggur yang rasanya lebih enak dan menyehatkan daripada Wine di Eropa atau yang pernah dia temui. (lihat juga: Marco Polo, Petualangan Marco Polo, Stomata, Surabaya, 2016;84; Anthony Reid, Penyusun, Sumatera Tempo Doeloe, dari Marco Polo sampai Tan Malaka, Komunitas Bambu, Depok, 2014;10)

Bagaimana sebuah pesta dilimpahi dengan berbagai jenis minuman keras dan penuh gelak tawa itu juga digambarkan dalam Kakawin Nagarakretagama karya penyair Prapanca di tahun 1365 Masehi; setahun sesudah Gajah Mada yang agung itu wafat.

segala macam minuman  enak tidak putus putus disajikan/mulai dari tuak pohon kelapa, tuak siwalan, arak enau, kilang, brem/dan tampo yang paling unggulah yang akan disajikan ke depan/…..

Periuk dan guci, tak terhitung banyaknya, disebarluaskan/begitu banyaknya minuman tuak itu, beraneka jenisnya…makanan dan minuman, terus-mengalir seperti membentuk aliran air yang deras/segala jenis diminum terus, banyak yang muntah karena kebanyakan dan menjadi mabuk

Sudah menjadi kebiasaan Sang Raja memberikan kesenangan pesta/bagi orang yang ketagihan, mereka mendatangi tempat minuman yang enak-enak/tidak menunggu perintah mereka yang bertugas membawakan minuman/orang yang sombong lagi mabuk berat, ditertawakan

Ramai para penyanyi membawakan kidung itu dengan bergantian/mengungkapkan kebaikan Sang Raja../makin puaslah para peminum, minum sesuka hati/lama-kelamaan menyerah, berakhir dengan gelak tawa (Prapanca, Kakawin Nagarakertagama, Narasi, Yogyakarta, 2015; 290-292)

Begitulah gambaran pesta yang meriah di Majapahit. Gajah Mada tentu juga turut ambil bagian dalam pesta-pesta sebelumnya sesudah Nusantara berhasil disatukan; setidaknya wilayah yang disatukan sudah sesuai dengan sebagaimana yang pernah dicapai oleh Raja Kertangara. Tetapi tampaknya Gajah Mada adalah orang yang tidak begitu larut dalam pesta-pesta yang memabukkan terlebih sebagai orang yang menyandang Sumpah Palapa itu. atau barangkali bisa digambarkan begini:

pada masa mudanya Gajah Mada adalah seorang pemabuk berat sekelas Dewa Mabuklah  (bukan kelas kaleng-kaleng kata teman saya dari Papua) hingga di hari pelantikannya sebagai Patih Amangkubhumi Majapahit pada tahun 1336 M.

Barangkali semalaman Gajah Mada merenung-renung untuk mengambil tekad yang serius dalam menyatukan Nusantara; tetapi bagaimana Ratu Tribhuwana itu yang telah begitu mengesankan bagi Gajah Mada ketika dengan berani memadamkan pemberontakan Sadeng lima tahun yang lalu,  bisa percaya kalau Gajah Mada yang hendak dilantiknya sebagai Patih Amangkubhumi ini  pun begitu serius, bersemangat dan berani untuk melaksanakan tugas negara tersebut?

Tindakannya mengucapkan Sumpah Palapa yang telah dipikirkan  semalaman suntuk, barangkali juga dengan perjamuan terakhir itu mengejutkan banyak petinggi Majapahit. Sebab, dalam Sumpah Palapa itu terkandung niat untuk berhenti mabuk alias minum-minuman keras sebelum menyatukan kembali Nusantara Kertanagara.

Bernard H. M. Vlekke, penulis buku Nusantara, (terbitan edisi Indonesia oleh Gramedia, Jakarta) mengartikan bahwa Gajah Mada “…tidak akan menikmati palapa (mungkin berarti bahwa dia tidak akan ambil bagian dalam ritus-ritus Tantris yang diperkenalkan di masa Kertanagara) sampai semua wilayah raja terakhir Singasari berhasil dipulihkan ke kemuliaannya seperti semula.”

Mereka yang terkejut itu   dan melecehkan Sumpah Palapanya dieksekusi Gajah Mada. “…Sementara Jabung Tarewes, Lembu Peteng, Ra Kembar dan Warak menertawakannya. Maka keluarlah Gajah Mada ke halaman istana. Ra Kembar yang terlalu congkak ditantang dan terjadilah perkelahian. Dalam perkelahian itu Kembar berhasil dibunuhnya. Giliran Warak juga dikalahkan dan dihabisi, Jabung Tarewes dan lembu peteng dikalahkan juga…(Agus Aris Munandar, Gajah Mada, Biografi Politik, Komunitas Bambu, Jakarta, 2010; 33)

Apakah Gajah Mada lantas begitu setia untuk tidak menyentuh minuman keras  agar tidak terlena dalam kemabukan setelah melantangkan Sumpah Palapa? Tampaknya iya. Gajah Mada terus  bekerja keras menyatukan Nusantara di bawah panji Majapahit dan pekerjaannya itu pun tampak berhasil sebagaimana dicatat Prapanca dalam Nagarakretagama.

Walau begitu Gajah Mada juga bukanlah orang yang sempurna. Hikayat Hang Tuah mencatat bagaimana Hang Tuah lolos dari usaha pembunuhan dalam pesta di Majapahit karena “patih Gajah Mada dan segala penggawa itu habis mabuk.” (Lihat juga: Anthony Reid, Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid 1: Tanah di Bawah Angin, Pustaka Obor, Jakarta, 2014;45)

Avatar
AJ Susmana
Penulis
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

Fisika dan Kemajuan Teknologi Bidang Transportasi

Era globalisasi telah mengubah kehidupan manusia di muka bumi ini akibat dari Revolusi Industri 4.0 yang ditandai dengan penemuan internet pada akhir–akhir Revolusi Industri...

Menilik Proses Pembentukan Hukum Adat

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dikaruniai Tuhan Yang Maha Kuasa kekayaan yang begitu melimpah di segala bidang. Segala jenis tumbuhan maupun binatang...

Milenial Menjawab Tantangan Wajah Baru Jatim

Tahun berganti arah berubah harapan baru muncul. Awal tahun masehi ke-2021 terlihat penuh tantangan berkelanjutan bagi Jawa Timur setelah setahun penuh berhadapan dengan Covid-19...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bagaimana Menjadi Muslim Moderat

Pada tahun 2017 saya pernah mengikuti Halaqah Ulama ASEAN yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Kampanye yang digaungkan Kemenag masih seputar moderasi beragama. Dalam sebuah diskusi...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda”

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda” Oleh Ali Romdhoni   “…’Dari Sabang sampai Merauke’, empat perkataan ini bukanlah sekedar satu...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.