Rabu, Januari 27, 2021

Gagal Paham Papua dan Kepentingannya (Bagian 2)

Tatanan Dunia Baru Menuju Neoproteksionisme

Oleh Muhammad Dudi Hari Saputra, MA.Tenaga Ahli Kementerian Perindustrian Republik Indonesia dan Direktur Eksekutif Moderate Institute.A. Ide Global Village dan TantangannyaSekitar 50 tahun yang...

Perkembangan Sharing Economy dan Tantangan Pertumbuhan Indonesia

Indonesia merupakan salah satu negara berkembang dengan kepadatan penduduk peringkat empat di dunia setelah Amerika Serikat dengan jumlah penduduk sebanyak  261 juta jiwa. Potensi...

Keyakinan yang Goyah

Tulisan ini mohon dibaca dengan keyakinan tinggi dan kemantapan jiwa. Mengapa? Karena dengan adanya sedikit keraguan, maka akan timbul bara api yang memunculkan tindak...

Disribusi Kekuasaan dan Moralitas Elite

Menjadi seorang politikus rasanya sungguh menggiurkan. Profesi ini telah merebut hati banyak orang. Mulai dari orang-orang biasa saja, para investor, sampai akademisi pun tak...
Althien Pesurnay
Pengarang dan tukang survei buku

Selain itu jika diperhatikan ada persoalan proses integrasi yang lambat dan cenderung stagnan. Tanggung jawab integrasi sosial-politik dan budaya tidak bisa dituntut sebagai hanya tugas masyarakat Papua.

Harus ada kerja sama yang terbuka dan saling memahami terkhusus oleh negara melalui pemerintah pusat dan daerah. Tugas negara untuk mampu memahami Papua sebagai bagian dari bangsa Indonesia melalui dialog yang jujur berdasarkan kepentingan masyarakat. Integrasi sosial-budaya ini merupakan salah satu pokok persoalan yang tidak sulit ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

Pandangan mayoritas masyarakat Indonesia menganggap ekspresi sosial dan budaya masyarakat orang Papua sebagai sesuatu terbelakang. Pandangan ini muncul dalam bentuk cemooh, ejekan, dan penghinaan yang berkembang menjadi stereotype tentang orang Papua.

Bahkan cara pandang itulah yang jadi pemicu masalah hari ini. Asumsi umum masyarakat bahwa orang Papua masih terbelakang dan belum memahami arti menjadi masyarakat maju adalah keliru, secara antropologis fatal.

Ada semacam hegemoni arti kemajuan di sini. Berkemajuan diartikan “maju” seperti Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Padahal kemajuan mesti dimengerti kontekstual sesuai lokusnya. Inilah salah satu kesalahpahaman masyarakat Indonesia pada umumnya.

Pembangunan di era krisis lingkungan global ini justru disebabkan oleh cara pandang yang keliru tentang kemajuan dan pembangunan. Kota-kota besar yang berbasis industri, bisnis justru mengeksploitasi sumber daya alam tanpa memikirkan keseimbangan lingkungan.

Pembangunan yang ditentukan oleh elit jakarta adalah pembangunan dengan paradigma industrial-kapitalistik. Padahal aspek lingkungan dan pembangunan yang ramah lingkungan seharusnya bisa digali dari dalam kearifan lokal masyarakat Papua, dari kebudayaan dan tradisi lokal.

Perjuangan keadilan lingkungan dan masyarakat adat dalam isu-isu sosial kontemporer haruslah didasarkan basis moral yang bisa dipertanggungjawabkan. Moralitas yang peduli dan adil akan kepentingan kelangsungan hidup manusia dan alam Papua.

Pokok terakhir yaitu dimensi kebudayaan. Jika kebudayaan diartikan sebagai sesuatu yang bersifat paradigmatik dan fungsionil maka ia haruslah merupakan proses pengkaryaan yang terus berlangsung direncanakan oleh subjek budaya. Masyarakat papua dalam kondisi ini adalah subjek dari kebudayaan itu sendiri.

Kepentingan, aspirasi dan idealisasi kehidupan harus ditentukan oleh orang papua sendiri. Apa yang mesti dilakukan oleh pemerintah dan negara adalah mendukung strategi kebudayaan yang otentik dari masyarakat Papua. Arti kemajuan dan pembangunan untuk itu harus diserahkan pada masyarakat papua.

Temuan dari LIPI (2009) tentang akar masalah papua selaras dengan berbagai hasil riset para peneliti dari luar dan dalam negeri. Solusi mengatasi akar masalah yang dikemukakan dalam sejumlah hasil penelitian tersebut tidak lain dengan cara menyelesaikan masalah tersebut!

Apapun kebijakan pembangunan nasional dan lokal Papua haruslah mendahulukan masyarakat Papua. Segala macam ekses dan dampak dari “pembangunan” yang membawa diskriminasi dan peminggiran orang papua harus ditiadakan. Pembangunan infrastruktur harus berbasis pada keperluan orang papua. Perlu diadakan survei tentang infrastruktur apa yang betul-betul dibutuhkan bagi orang papua.

Sejarah, status politik, dan proses integrasipolitik mestinya dilakukan dengan menjunjung nilai-nilai kemanusiaan, harkatdan martabat orang papua bukan melalui pendekatan “keamanan nasional/militeristik”yang sering kebablasan justru melahirkan kekerasan politik dan pelanggaran HAM.Pendekatan kultural dan dialog seperti yang pernah dilakukan Gus Dur patutditeladani dan disesuaikan dengan konteks hari ini.

Apa yang terpenting dialogyang setara antara pemerintah (elit jakarta) dengan wakil Papua. Dialog harus bersifat komunikatif bebas distorsi, bebas manipulasi kepentingan terselubungelit ataupun korporat. Hanya dengan itu rumitnya permasalahan papua mungkin mendapat kejelasan dan solusinya.

Dari uraian dan analisis sederhana di atas dapat disimpulkan bahwa perihal penyelesaian masalah menyangkut menyangkut penalaran (reasoning), perspektif, dan paradigma. Alur pikir yang dipakai selama ini dalam mengurusi papua belum mewakili orang Papua sebagai subjek utama yang berkepentingan.

Terlebih lagi orang papua sebagai subjek emansipasi. Sudut pandang masyarakat Papua mesti mendasari metode-metode penyelesaian masalah dan perumusan kebijakan. Karena kemana lagi kita harus mencari kebenaran? Di mana sumber emansipasi berasal, jika bukan dari mereka yang terepresi dan termarjinalkan. Saya menutup tulisan ini dengan menanyakan kembali, siapakah yang sedang menderita dan termarjinalkan dalam persoalan Papua?

Terkait:

Gagal Paham Papua dan Kepentingannya (Bagian 1)

Althien Pesurnay
Pengarang dan tukang survei buku
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Roman Abramovich, Alexei Navalny, dan Premier League

Industri olahraga, khususnya sepakbola, telah mengalami perkembangan pesat. Mulai dari segi teknis maupun non-teknis. Mulai dari aktor dalam lapangan hingga pemain-pemain di belakang layar....

Perempuan dan Politik

Politik selalu identik dengan dunia laki-laki, dengan dunia kotor, tidak pantas untuk perempuan masuk kedalam ranah tersebut. Politik selalu identik dengan sesuatu yang aneh...

Karakteristik Milenial di Era Disrupsi

Dewasa ini, pemakaian istilah Disrupsi masih terdengar asing oleh kaum muda atau generasi milenial sekarang. Lalu apa sebenarnya yang dimaksud dengan disrupsi?. Jika kita...

Hak Cipta dan Perlindungan Kekayaan Intelektual

Hak atas Kekayaan Intelektual (HAKI) merupakan terjemahan dari Intellectual Property Right (IPR), sebagaimana diatur dalam undang-undang No. 7 Tahun 1994 tentang pengesahan Agreement Establishing...

Pengalaman Mantan Pasien Wisma Atlet

Ibu Mawar ingin memberi cerita pengalamannya yang dialami ia dan keluarga dalam menghadapi karena mengidap Covid 19 yang sempat dirawat di Wisma Atlet serta...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.