Selasa, Januari 19, 2021

Gagal Paham Hidup Sehat Hanya dengan Diet dan Nge-Gym

Budayakan Kembali Membaca

Membaca adalah jendela dunia, begitulah kata bijaknya. Jendela dibuat agar menjadi pintu masuknya udara dan cahaya matahari ke dalam rumah. Dari jendela, kita bisa...

Gua Plato dan Belenggu Jargon Sektarian “Mayoritas”

Kala siang itu, saya menghadiri sesi kuliah yang saya tempuh di sebuah perguruan tinggi cukup ternama di Jawa Tengah. Menariknya, sesi kuliah yang saya...

Debat Ketiga, Panggung ‘Dramaturgi’ Kiai Ma’ruf Amin

Debat Kandidat yang ketiga adalah panggung pertunjukan yang menentukan penilaian, siapakah yang terbaik membangun cerita itu. Tentunya, mereka yang mampu menyajikan penampilan dari perjalanan...

Salah Kaprah Memperjuangkan Identitas Agama

Di banyak tempat, agama cukup sensitif untuk dibahas. Tidak hanya antar agama, bahkan perbedaan pandangan di dalam agama itu sendiri. Banyak di antaranya mencoba...
Lexi Hikmah
Peminat Kajian Sosial dan Agama

Akhir-akhir ini kita melihat berapa tokoh publik yang meninggal mendadak. Kebanyakan berusia di bawah lima puluh tahun. Usia yang dibilang masih cukup produktif. Yang lebih mencengangkan lagi adalah ada di antara mereka yang merupakan pegiat hidup sehat. Baik dengan makanan dan cara makan sehat maupun pegiat olah raga teratur seperti lari, gym, fitness dll.

Asumsi penyebab kematian para tokoh ini yang paling sering adalah karena serangan jantung. Atau penyakit lain seperti diabetes, hipertensi, kanker, kolesterol dll. Penyakit degeneratif ini konon ditimbulkan oleh gaya hidup manusia modern yang makan berbagai macam makanan apa saja. Jika jenis Homo Sapien dulu banyak meninggal karena penyakit menular, perang dan kelaparan, maka manusia modern mati karena kebanyakan makan seperti kata Harari.

Yang menjadi pertanyan kemudian adalah mengapa orang yang sudah menerapkan gaya hidup sehat masih juga terancam sakit bahkan diintai oleh kematian yang tiba-tiba? Bukankah olah raga merupakan tindakan preventif dari sakit? Selain itu, bukankah para tokoh tadi makan makanan yang gizinya tentunya tidak perlu dipertanyakan lagi dibandingkan kelas sosial menengah ke bawah?

Adalah Agus Ali Fauzi, dokter yang sering menangani penyakit-penyakit kronis, mengatakan bahwa sumber penyakit adalah pikiran. Bukan makanan maupun gaya hidup. Menurutnya pikiran yang baik akan menghasilkan hal yang positif. Sebaliknya, pikiran negatif akan mempengaruhi sel-sel dalam tubuh yang akhirnya menyebabkan timbulnya penyakit.

Pernyataan dokter Agus kok aneh ya? Mana ada sih pikiran bisa berdampak ke fisik. Bukankah daya imajinasi yang dihasilkan pikiran berbentuk abstrak? Jika dia abstrak mengapa bisa mengejawantah dalam realitas tubuh yang fisik?

Begini ya, sebenarnya yang saya pahami bahwa penyakit yang timbul dan terasa oleh tubuh itu disebabkan oleh faktor yang disebut dengan inflamasi. Dalam istilah KBBI (ilmu kedokteran) inflamasi adalah reaksi tubuh terhadap mikroorganisme dan benda asing yang ditandai oleh panas, bengkak, nyeri, dan gangguan fungsi organ tubuh.

Secara sederhana saya memahami inflamasi adalah sebuah proses gesekan yang terjadi antara beberapa unsur di dalam tubuh. Gesekan ini akhirnya menimbulkan efek yang bermacam-macam tergantung reaksi tubuh yang menerimanya. Tapi hampir kebanyakan reaksinya adalah menunjukkan unsur panas. Dan sudah jamak diketahui bahwa unsur panas ditimbulkan oleh unsur api. Loh kok bisa?

Jika kita coba telaah lagi, dalam ilmu kimia, api bukanlah materi yang berdiri sendiri seperti air, atau udara. Loh kenapa sampe ke ilmu kimia urusan tubuh manusia? Sebentar sik, tak jelasken. Menurut Dr. Fahrudin Faiz, pengampu Ngaji Filsafat, dalam penelitiannya membuktikan bahwa orang yang jatuh cinta pun memiliki reaksi kimia. Tanda deg-degan, rasa serrrr, keringat dingin ketika bertemu gebetan misalnya, merupakan reaksi kimia yang terjadi di dalam tubuh. Keringat dingin ketika pegangan tangan pun ini reaksi kimia tubuh saat jatuh cinta. Sampai sini jelas, ya?

Kembali ke soal api tadi bahwa api adalah efek dari reaksi kimia antara beberapa materi. Jika api timbul dikarenakan reaksi cepat dari gesekan (inflamasi) yang terjadi antara bahan bakar, panas dan oksigen, maka inflamasi yang terjadi dalam tubuh manusia adalah gesekan antara pikiran dan kenyataan. Sehingga menurut saya tidak aneh apabila reaksi yang ditimbulkan tubuh adalah unsur panas (api) seperti radang, bengkak dll.

Dalam kedokteran modern yang didominasi oleh paradigma positivistik, pikiran dimaknai sebagai sesuatu yang abstrak. Karena abstrak maka tidak bisa dibuktikan secara empiris (indrawi). Pikiran dan jiwa tidak diakui keberadaannya. Sehingga penyelesaian penyakit yang timbul dari pikiran pun bersifat simptomatik. Alias apa yang timbul maka itu yang diobati. Manusia hanya dilihat unsur fisiknya saja tanpa melihat pikiran dan jiwa yang berada dibalik tubuh.

Misalnya apabila seseorang sakit kepala, ya dikasih obat pusing. Pengobatan ini tidak menyelesaikan masalah secara menyeluruh karena hanya efek pusingnya saja yang diselesaikan. Pernah kan melihat teman yang sering pusing dan ketika kambuh langsung minum obat pusing? Dan itu dilakukan berkali-kali? Hampir tidak pernah saya mendengar dokter bertanya ketika pusing misalnya, kenapa Anda bisa pusing? Padahal dibalik pusing inilah akar permasalahan utamanya.

Yang menarik lagi, dokter Agus tadi bercerita bahwa pernah ada pasiennya yang menderita kanker stadium akhir. Kemudian dokter Agus mengajak pasien itu untuk menerima keadaanya (pasrah) dengan berpikir positif dan mengajaknya merapalkan doa-doa. Efeknya, kanker yang ganas tadi tidur. Sel-selnya berhenti menjalar mencengkram tubuh. Dalam kondisi seperti ini proses inflamasi dalam tubuh tidak terjadi. Sehingga kanker yang harusnya timbul dari gesekan tidak bereaksi sama sekali.

Sebenarnya tradisi beberapa agama dan budaya sudah mengajarkan bagaimana mengendalikan pikiran dan jiwa ini tadi. Misalnya dalam agama Budha ada yang dikenal dengan gerak tubuh dan pikiran melalui yoga. Meskipun awalnya kegiatan ini adalah bagian dari keagamaan tapi gerakan dan meditasi yang dilakukan oleh yogi (pelaku yoga) adalah untuk menyelaraskan pikiran dan tubuh. Sehingga tercipta keseimbangan pikiran (mind), tubuh (body) dan jiwa (soul).

Sedangkan dalam tradisi Islam ada yang namanya ilmu tasawuf. Meskipun ilmu ini merupakan pengejawantahan dari konsep akhlak tapi dalam praktiknya ilmu ini membedah konsep jiwa manusia. Prinsipnya adalah pikiran dan tubuh dikendalikan oleh hati (qalb) sebagaimana hadis Nabi SAW. Jika hati seseorang baik (positif) diisi dengan sifat-sifat baik seperti sabar, tawakal, rida dll maka efeknya seluruh seluruh tubuhnya menjadi baik (baca: sehat jiwa dan raga). Sebaliknya jika hatinya buruk dan menyimpan penyakit dengki, iri, pamer dll maka buruk pula jiwa dan raga orang tadi.

Dalam praktiknya ilmu tasawuf ditunjang oleh ilmu tarekat. Di ilmu tarekat lebih diperinci penyakit-penyakit jiwa yang menimbulkan efek negatif dan bagaimana membersihkannya. Meskipun tujuan dari kedua ilmu ini adalah mengenal Tuhan (makrifatullah) tapi efek lainnya adalah menetralisir penyakit-penyakit jiwa yang memiliki potensi berdampak secara fisik. Di sini, manusia diakui sebagai kesatuan jiwa dan raga yang saling terkait antara satu dengan lainnya.

Jadi, melihat manusia hanya sebatas fisiknya saja tidak ubahnya melihat kumpulan daging, lemak, dan darah yang tersusun rapi dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tidak utuh. Sudah saatnya gaya hidup sehat tidak berhenti pada persoalan fisik semata. Healthy life style perlu diiringi dengan pengendalian pikiran dan jiwa agar yang sehat tidak hanya fisik tapi sehat secara holistik. Wallahu a’lam.

Lexi Hikmah
Peminat Kajian Sosial dan Agama
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Dilema Vaksinasi dalam Menghadapi Masa Transisi

Pandemi covid-19 telah membawa perubahan kebiasaan yang fundamental dalam kehidupan bermasyarakat. Selama masa pandemi, kebiasaan-kebiasaan di luar normal dilakukan dalam berbagai sektor, mulai dari...

Wacana sebagai Represifitas Tersembunyi

Dewasa ini, lumrah dipahami bahwa represifitas diartikan sebagai tindakan kekerasan yang berorientasi pada tindakan fisik. Represifitas juga acap kali dikaitkan sebagai konflik antara aparatus...

China-Indonesia, Lahir dari Rahim Bulutangkis

Olahraga bukan sekedar cara untuk menjaga kesehatan, juga bukan sebagai hobi yang dinikmati dan sebuah kewajiban rutinitas untuk mencegah berbagai penyakit. Lebih dari itu,...

Penguatan Kebijakan Pelaksanaan Akreditasi RS di Masa Covid-19

Kasus Pandemik Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) kian meningkat dan telah memengaruhi berbagai aspek kesehatan termasuk memengaruhi upaya dalam meningkatkan kualitas layanan fasilitas kesehatan....

Memaknai Syair Lagu Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada

Lagu yang diciptakan oleh musisi terkenal di Indonesia yaitu Ahmad Dhani, melahirkan Sebuah mahakarya lagu yang begitu indah dan memiliki makna yang dalam. Lagu...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

penerapan etika bisnis dalam CSR dan lingkungan hidup

Di dalam perkembangan zaman yang semakin maju dan kompetitif menuntut para pembisnis untuk meningkatkatkan daya saingnya. Namun kebanyakan dari mereka masih belum mengerti bagaimana...

Perbedaan; Pendidikan Karakter, Moral dan Akhlak

Kita lihat bila Secara filosofis, terminologi pendidikan karakter, pendidikan moral, pendidikan etika, dan pendidikan akhlak memiliki perbedaan. Terminologi pendidikan moral (moral education) lebih cenderung...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.