OUR NETWORK

G20 dalam Pusaran Pandemi Global

Roland Rajah dalam “What The G20 needs to deliver” yang dipublis di The Lowy Institute. Ketika bencana pandemic ini semakin meluas, negara-negara di seluruh dunia tidak hanya menghadapi gejolak eksternal yang mengancam. Tetapi mereka juga akan menghadapi gejolak internal yang besar

Virus Corona telah dinyatakan sebagai Pandemi Dunia oleh World Health Organization (WHO). Semakin parah lagi, beberapa minggu lalu pernyataan-pernyataan oleh pemerintah yang menyatakan bahwa virus corona tidak akan menyebar dalam negara beriklim tropis terbukti salah. Perkiraan itu dipatahkan dengan masuk dan semakin meluasnya penyebaran Virus Corona tersebut diberbagai wilayah Indonesia.

Covid-19 adalah krisis global yang sesungguhnya, begitu menurut Roland Rajah dalam “What The G20 needs to deliver” yang dipublis di The Lowy Institute. Ketika bencana pandemic ini semakin meluas, negara-negara di seluruh dunia tidak hanya menghadapi gejolak eksternal yang mengancam.

Tetapi mereka juga akan menghadapi gejolak internal yang besar seperti krisis kesehatan nasional, pembatasan penggunaan fasilitas publik dan beberapa sektor ekonomi yang harus bekerja dalam rumah (work from home), yang tentunya momen ini memiliki multiplier effect yang  akan dirasakan oleh masyarakat ke depannya.

Belum lagi, tantangan negara dalam menjaga stabilitas ekonomi dan penerimaan negara untuk memberikan pelayanan dan solusi maksimal dengan biaya yang tinggi atas pandemi Corona terjadi saat ini.

Menurut Rajah yang paling dikhawatirkan atas resiko Covid-19 adalah terjadinya bencana kesehatan dan ekonomi yang akan dirasakan oleh negara-negara berkembang. Menurutnya “the obvious next stage of the Covid-19 crisis risks being a health and economic disaster in the emerging and developing world. Weak health systems, low state capacity, poverty, slums, inadequate safety nets, and little ability to fund their own policy responses mean the human and economic costs threaten to be far more devastating than what we have seen to date”.

Poinnya adalah resiko ketidakmampuan negara berkembang dalam menangani pandemi Corona. Kekhawatiran ini diafirmasi oleh Ascobat Gani (ekonom kesehatan publik Indonesia) yang mengatakan “kami telah kehilangan kendali, virus itu telah menyebar di mana-mana”.

Data terbaru sejumlah 790 yang terpapar virus corona, ini menandakan kegagapan pemerintah dalam menanganinya. Beberapa negara menutup akses sementara untuk turis mancanegara berkunjung dinegaranya, berbeda dengan pemerintahan di Indonesia, malah mempersilahkannya dengan senang hati (ya pantas saja semakin meluas).

Selain itu, kurangnya infrastruktur kesehatan di Indonesia seperti apa yang disampaikan Tom Allard dan Stanley Widianto dalam artikel nya yang dipublis di Reuter “Indonesia’s health system compares poorly with those in other countries hit hard by the virus”, begitupun WHO (2017) yang memaparkan data 12 tempat tidur di Indonesia digunakan per 10.000 orang.

Bagaimana tidak, negara berpendudukan lebih dari 260juta orang ini hanya memiliki 321.544 tempat tidur rumah sakit (Kementerian Kesehatan). Padahal Indonesia yang secara data termasuk dalam 20 negara dengan perekonomian terbesar di dunia atau G20.

Dalam tulisan Roland Rajah, memandang pentingnya kehadiran gerakan bersama dari negara-negara G20 dalam menangani Pandemi Global ini, “whatever it takes”, begitu pungkasnya.

Saat ini dunia perlu melakukan apapun untuk mengatasi hal ini. Menurut pembacaan Roland, ada dua hal penting yang harus dilakukan oleh negara-negara G20. Pertama adalah memberikan respon skala besar terhadap krisis kesehatan yang terjadi dengan berkomitmen tinggi dan bergerak cepat untuk mengembangkan, mendanai, dan meluncurkan agenda mengentaskan krisis kesehatan global untuk negara-negara berkembang. WHO dapat memimpin dalam mengoordinasikan respon yang disepakati dan memobilisasi dana.

Masih dalam bidang kesehatan, negara-negara G20 juga harus merespon beberapa tindakan pembatasan ekspor pada pasokan medis kritis yang baru-baru ini diberlakukan oleh banyak negara, termasuk anggota G20. Ini tentu akan menghantam negara-negara yang lebih kecil dan lebih miskin dengan kapasitas yang lebih rendah pada industri domestik bidang kesehatan.

Penting memang membuka kran ekspor bagi negara-negara yang memiliki industry domestic bidang kesehatan yang besar, negara-negara dengan kemajuan teknologi dan industry kesehatan memegang peran penting dalam menangani wabah dunia ini. Menurut saya pun, globalisasi tidak hanya sebatas dalam perdagangan, namun juga pada aspek kemanusiaan dalam mengeluarkan bantuan apapun untuk negara-negara yang mengalami kesulitan disebabkan pandemic corona ini.

Hal penting kedua adalah bidang ekonomi. Banyak mata uang yang telah jatuh dan beberapa negara mengalami krisis pasar sebab surutnya aktivitas ekonomi. Bagi negara seperti Indonesia yang masih bertumpu pada konsumsi domestic dan sektor informal, tentu hal ini akan cukup berdampak. Apalagi harga minyak dunia juga turun sekitar 50% dari dua pekan lalu yang sebelumnya harga WTI curde oil sekitar US$60 barel per dolar menjadi US$24,60 per barel hari ini .

Menurut Roland, Dalam menjaga stabilitas perekonomian, negara perlu menjaga stabilitas keuangan dan melakukan ekspansi fiscal. Salah satu yang penting menurut roland adalah dukungan likuiditas dan neraca pembayaran dari International Monetery Fund (IMF). IMF sendiri adalah salah satu lembaga otonom yang bertugas memberikan bantuan keuangan sementara bagi negara-negara yang mengalami kesulitan dalam neraca pembayarannya.

Tentu bagi ekonom-ekonom yang anti-utang (dikit-dikit utang) tidak akan bersepakat dalam hal diatas.  Memang telah terjadi penurunan aktivitas ekonomi sehingga akan berdampak pada pendapatan, bukan berarti hutang adalah jawabannya.

Namun, pemerintah sepertinya tidak ingin ambil pusing, terbukti beberapa hari lalu world bank telah menyutujui pinjaman yang diajukan oleh pemerintah Indonesia sebesar Rp. 4,95T (berdasarkan kurs Rp16.500 per dolar AS). Ini negara yang memang tidak ada anggaran untuk direalokasikan atau memang pemerintahnya yang hobi berhutang.

Hutang seharusnya menjadi alternative terakhir setelah mengoptimalkan realokasi anggaran dan akumulasi Saldo Anggaran Lebih (SAL), pengoptimalan kebijakan fiscal pun harus direncanakan dengan matang dan cepat dalam upaya pengadaan untuk alat Rapid Test, pelaksanaan tes masal corona, APD dan kebutuhan medis mendesak lainnya.

Tidak hanya itu, perlu juga disiapkan kebijakan untuk mengantisipasi PHK, subsidi bunga dan pinjaman serta menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pangan. Negara harus bisa menyelesaikan masalah-masalah internal yang sedang dan akan terjadi, Negara harus siap dalam kondisi ini (jangan gagap).

Terakhir, poin penting dari pandangan Roland Rajah adalah pentingnya peran negara-negara G20 untuk melakukan apapun yang bisa dilakukan daripada tidak melakukan apapun yang akan mempunyai resiko bencana lebih besar. Bersama-sama mengatasi Pandemi COVID-19.

Kader Himpunan Mahasiswa Islam

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…