OUR NETWORK

Framing Ma’ruf Amien dalam Kontestasi Politik

Tantangan nasional Indonesia dalam kurun waktu 5 tahun mendatang yakni tahun 2019-2024 yang cenderung pada bidang ekonomi banyak menjadi sudut pandang masyarakat untuk melihat profil KH. Ma’ruf Amien.

Sejak ditetapkan sebagai Cawapres yang berpasangan dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi), profil dan latar belakang Ma’ruf Amien banyak mendapatkan sorotan publik. Masyarakatpun seolah berlomba-lomba untuk mencari rekam jejak Rois Am PB NU yang sekaligus Ketua Umum MUI tersebut.

Masyarakat selama ini cukup mengenal KH. Ma’ruf Amien dalam kapasitasnya sebagai tokoh agama, khususnya saat Ma’ruf Amien menjabat sebagai Ketua Komisi Fatwa MUI dalam kurun waktu 2001-2007. Padahal dalam jabatan-jabatan lain kiprah Ma’ruf Amien juga cukup banyak. Mulai dari anggota DPR, anggota MPR, Dewan Pertimbangan Presiden termasuk menjadi akademisi dan dosen di beberapa lembaga pendidikan tinggi.

Meskipun demikian, tantangan nasional Indonesia dalam kurun waktu 5 tahun mendatang yakni tahun 2019-2024 yang cenderung pada bidang ekonomi banyak menjadi sudut pandang masyarakat untuk melihat profil Ma’ruf Amien. Akibatnya banyak kalangan yang mempertanyakan pilihan Presiden Jokowi untuk menempatkan Ma’ruf Amien sebagai pasangan Cawapresnya.

Padahal jelas, bahwa gelar Profesor yang disandang Ma’ruf Amien dari Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Magribi-Malang adalah dalam bidang Ilmu Ekonomi Syariah. Artinya dalam sudut pandang yang demikian, kapasitas beliau dalam bidang ekonomi sebenarnya tidak perlu untuk dipertanyakan.

Persoalan menjadi berbeda pada saat jumlah pemilih milenial termasuk pemilih pemuda (di bawah usia 40 tahun) jumlahnya cukup signifikan. Berdasarkan Data Penduduk Potensial Pemilih Pemilu (DP4) yang diserahkan Kemendagri kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU),  terdapat 196,5 juta orang yang dipastikan memiliki hak memilih dalam Pemilu 2019. Meski demikian, masih ada data ganda dan perekaman kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP) yang harus dituntaskan agar tidak ada hak pilih yang hilang. Angkat tersebut terdiri dari  pemilih laki-laki 98.657.761 orang dan perempuan 97.887.875 orang.

Dari angka tersebut kemungkinan ada tambahan sekitar 7 juta pemilih pemula, yang pada tanggal 17 April 2019 nanti akan memasuki usia 17 tahun. Selain itu diperkirakan sekitar 40% adalah pemilih yang notabene adalah pemuda (dibawah 40 tahun). Angka-angka ini sekaligus menunjukkan bahwa pemilih pemula dan pemuda menjadi salah satu faktor sukses pemenangan Pilpres 2019 mendatang.

Kontekstualisasi inilah yang nampaknya menjadi perhatian masyarakat sehingga terus mempertanyakan kemampuan dan kompetensi Ma’ruf Amien dalam bidang ekonomi, meskipun masyarakat juga tahu bahwa gelar profesor yang disandangnya adalah dalam bidang ekonomi syariah.

Kejatuhan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, menurunnya daya beli masyarakat serta inflasi yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir, ancaman perang dagang AS dan lain sebagainya, semakin menguatkan animo masyarakat untuk mempertanyakan kompetensi Ma’ruf Amien khususnya dalam bidang ekonomi.

Hal yang sama sebenarnya juga dapat kita lihat dalam partai-partai koalisi pengusung pasangan Jokowi-Ma’ruf Amien. Beragam komentar dan pendapat jajaran elit partai koalisi pengusung Jokowi-Ma’ruf Amien yang membantah sekaligus menjawab keresahan masyarakat mengenai kemampuan Ma’ruf Amien khususnya dalam bidang ekonomi. Termasuk Presiden Jokowi yang dalam beberapa kesempatan menyampaikan tentang profil kompetensi Ma’ruf Amien di bidang ekonomi syariah.

Fakta yang demikian menjelaskan bahwa elit Parpol koalisi pengusung pasangan Jokowi-Ma’ruf Amien sebenarnya sedang melakukan sebuah framing media dengan sasaran pemilih milenial, yang di antaranya adalah pemilih pemula dan pemilih pemuda. Pilihan untuk melakukan framing dengan mengunakan media, termasuk media sosial. Karena pemilih milenial cukup dominan mengunakan media sosial sebagai salah satu pertimbangan untuk mengambil keputusan politik dalam pemilu.

Framing ini tentunya menjadi salah satu strategi untuk “menjual” Ma’ruf Amien bagi pemilih milenial yang sekaligus mengambarkan sebuah start sosialisasi dan pengenalan yang terlambat. Hal ini juga bisa dilihat dari hasil berbagai survey mengenai elektabilitas Ma’ruf Amin. Sebagaimana dikutip dari Detik.com, dalam survey nama-nama Cawapres, hanya LSI Denny JA yang menempatkan Ma’ruf Amin dengan elektabilitas yang cukup tinggi yakni 21%. Survey Alvara dengan elektabilitas 1%, Roda Tiga Konsultan (RTK) 0,4%,

Oleh sebab itu menjadi wajar jika Tim Pemenangan pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin nantinya akan sangat disibukkan dengan strategi untuk mendorong elektabilitas Ma’ruf Amin, di mana salah satunya melalui framing sebagaimana yang disebutkan tersebut di atas.  Namun hal ini dipastikan terlambat. Pasalnya, pasangan Prabowo-Sandiaga Uno juga akan terus bekerja dan melakukan sosialisasi melalui penyampaian visi dan misi.

Meskipun disadari bahwa masalah ekonomi bukan hanya sebatas angka-angka pendapatan, APBN, kemiskinan, inflasi, nilai tukar dan lain sebagainya. Masalah ekonomi sebenarnya fundamental dalam membangun dan menentukan arah masa depan bangsa dalam rangka mendorong dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, termasuk positioning bangsa dan negara dalam konteks ekonomi global dan dinamika geo-ekonomi yang dipastikan akan semakin kompleks.

Dr Eko Setiobudi, SE, ME Dosen di STIE Tribuana Bekasi

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…