Kamis, Maret 4, 2021

Foto Diblur, Penurunan Opacity, Praktik Patriarki

A Tobacco-Free Indonesia: Is it Possible?

Widely circulated and well accepted facts about smoking in Indonesia is worrying if not pathetic: Indonesia is the second-biggest cigarette market in Asia after...

Resep Beragama Di Era Hoax 

Modernitas dan Teknologi Teknologi, sebagai dampak bawaan dari modernitas, bak sebuah pisau yang memiliki dua sisi bertolak belakang. Satu sisi bisa sebagai alat yang sangat...

Di Balik Pasang Surut Nilai Tukar Rupiah

Setelah sempat mencapai titik terlemah terhadap dolar yaitu Rp. 15. 253/USD selama 5 tahun terakhir pada 11 Oktober 2018 kemarin, rupiah kemudian kembali perkasa...

Hari Ibu dan Tantangan Disinformasi

  Di Hari Ibu yang jatuh tanggal 22 Desember kemarin, ada tantangan dan keprihatinan. Masih banyak kaum ibu yang menyebarkan hoaks atau disinformasi. Terkadang, karena...
Emi Widayah
Mahasiswi Fakultas Ekonomi, Pemimpin Redaksi Lembaga Pers Mahasiswa Menteng

Belum lama ini, media sosial dihebohkan dengan adanya postingan yang menampilkan katalog kepengurusan organisasi BEM Fakultas Teknik di Universitas Negeri Jakarta.

Yang membuat heboh dan bahkan memantik sentimen netizen setelah  postingan itu ramai beredar adalah karena foto perempuan yang terpampang dalam katalog struktur kepengurusan tersebut diblur sementara foto laki-laki terpampang dengan sangat jelas, hal itu mengindikasikan adanya ketidaksetaraan dan praktik patriarki dalam tubuh BEM FT UNJ.

Umumnya, di berbagai organisasi intra kampus terkhusus organisasi sejenis BEM, Informasi mengenai struktur kepengurusan biasanya disajikan secara gamblang tanpa adanya sensor. Karena informasi dalam struktur kepengurusan tersebut harus dapat diakses dan diketahui secara jelas oleh semua mahasiswa. Mengingat BEM seringkali diinterpretasikan sebagai representasi dan pemangku kebijakan bagi mahasiswa.

Meskipun BEM FT UNJ telah memberikan klarifikasi resmi bahwa foto perempuan dalam katalog struktur kepengurusan mereka tidaklah diblur melainkan diturunkan opacity-nya dan hal itu terjadi atas dasar konsensus antar anggota perempuan.

Namun, tetap saja kesepakatan itu justru menimbulkan tanda tanya besar, benarkah konsensus itu lahir atas dorongan pribadi masing-masing pihak terkait tanpa adanya intervensi dari pihak lain ataupun tekanan baik secara kultural maupun fungsional?

Apalagi dalam narasi klarifikasi yang dipaparkan oleh BEM FT UNJ mereka tidak menyinggung tentang ekualitas, mereka hanya menekankan bahwa mereka menjunjung tinggi nilai-nilai perbedaan baik itu gender, agama, ras dan antar golongan.

Menjunjung tinggi nilai-nilai perbedaan saja tidaklah cukup untuk menangkis spekulasi praktik patriarki yang ada di dalam tubuh organisasi mereka, karena menjunjung tinggi perbedaan ataupun bertoleransi saja tidak cukup mengakomodasi nilai-nilai kesetaraan apalagi yang berbasis gender.

Menurunkan opacity foto perempuan terlepas dari kesepakatan yang telah dibuat, justru terlihat seperti upaya merestriksi eksistensi perempuan di muka publik, apalagi dengan fakta yang timpang bahwa foto yang diblur hanya foto perempuan sedangkan foto laki-laki masih tetap terang benderang.

Organisasi di ranah universitas seharusnya menjadi wadah pergerakan dan pembelajaran yang menjunjung tinggi adanya kesetaraan, bukan malah sebaliknya, membiarkan adanya subordinasi, organisasi juga harusnya mengedepankan prinsip solidaritas yang artinya, jika foto perempuan sepakat untuk diturunkan opacity-nya, maka foto laki-laki juga harus diperlakukan demikian agar tidak terlihat timpang.

Ketimpangan semacam itu justru menimbulkan kesan inferioritas pada anggota perempuan dalam tubuh BEM FT UNJ karena inferioritas lahir dari adanya ketimpangan dan segala macam ketidaksetaraan lainnya, dan inferioritas yang terus terpelihara hanya akan memberi wadah tumbuh suburnya praktik patriarki.

Seperti yang pernah dituliskan Evelyn Reed dalam buku Mitos Inferioritas Perempuan bahwa inferioritas perempuan adalah produk dari sistem sosial yang diproduksi dan dipupuk dengan berbagai ketimpangan, diskriminasi, dan degradasi lainnya. Inferioritas apalagi dalam ranah organisasi di perguruan tinggi seharusnya menjadi sesuatu hal yang ditakfiri bukan malah diamini apalagi diadopsi.

Perguruan tinggi yang menurut Soe Hok Gie adalah tempat paling suci, tempat dimana arus pemikiran bergejolak, benteng pertahanan terakhir dari sebuah peradaban dan kemerdekaan intelektual sebuah bangsa, seharusnya menjadi tempat paling ramah untuk nilai-nilai ekualitas, karena intelektualitas dan segala cita-cita luhur yang diinginkan tiap-tiap universitas mustahil tumbuh apalagi berkembang diatas ketimpangan, di atas bayang-bayang inferioritas-superioritas berbasis gender, di atas payung patriarki.

Emi Widayah
Mahasiswi Fakultas Ekonomi, Pemimpin Redaksi Lembaga Pers Mahasiswa Menteng
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Idealisme Mati Sejak Mahasiswa, Apa Jadinya Bangsa?

Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! Tampaknya sudah sangat sering mahasiswa mendengar slogan perjuangan tersebut. Apalagi mahasiswa dengan cap "organisatoris" dan "aktivis". Organisatoris dan aktivis adalah...

Demitologisasi SO 1 Maret

Menarik bahwa ada kesaksian dari Prof. George Kahin tentang SO 1 Maret 1949. Menurutnya, SO 1 Maret bukanlah serangan balasan pertama dan terbesar dari...

Polwan Yuni Purwanti yang Terjebak Mafia Narkoba

Publik terkejut. Jagad maya pun ribut. Ini gegara Kapolsek Astana Anyar, Kota Bandung, Kompol Yuni Purwanti Kusuma Dewi terciduk tim reserse antinarkoba Polda Jabar....

Stop Provokasi, Pelegalan Miras? Mbahmu!

Lampiran Perpres yang memuat izin investasi miras di daerah tertentu, baru saja dicabut oleh Presiden. Ini disebabkan karena banyak pihak merasa keberatan. Daripada ribut...

Beragama di Era Google, Mencermati Kontradiksi dan Ironi

Review Buku Denny JA, 11 Fakta Era Google: Bergesernya Pemahaman Agama, dari Kebenaran Mutlak Menuju Kekayaan Kultural Milik Bersama, 2021 Fenomena, gejala, dan ekspresi...

ARTIKEL TERPOPULER

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.