Senin, April 12, 2021

Format Baru Kepemimpinan di Era Disrupsi

Warisan Harto dan Problem Demokratisasi Kekuasaan

“Piye, enakan jamanku tho?”, adalah tulisan-tulisan yang cukup viral dipajang di belakang mobil-mobil truk panturanan. Diiringi dengan gambar Pak Harto yang sedang tersenyum dan...

Kesaktian Pancasila dan Politik Memori

Peristiwa berdarah G30S/PKI atau Gestok (Gerakan Satu Oktober) adalah misteri kelam yang membawa implikasi sangat luas bagi sejarah nasional Indonesia. Sebuah peristiwa yang bukan...

Sudahkah Kita Terliterasi?

Kita masuk di era banjir informasi. Kemajuan teknologi Informasi yang begitu pesat membuat orang mendapat informasi melimpah ruah. Informasi yang cepat, mudah dan murah...

Desa dan Negeri Dongeng

Mengulik kembali cerita-cerita dongeng masa kecil yang sering didengar, membawa kita pada fantasi seolah kita hidup di dalam cerita tersebut. Sebagian cerita yang menjadikan...
MK Ridwan
Alumnus Sekolah Kebudayaan dan Kemanusiaan Ahmad Syafii Maarif, Awardee MAARIF Fellowship (MAF) MAARIF Institute for Culture and Humanity, Alumnus Qur'anic Studies IAIN Salatiga

Baru-baru ini bangsa Indonesia diisukan dengan adanya penambahan masa jabatan kepemimpinan presiden hingga tiga periode, ataupun ada yang mengusulkan pemilihan presiden dilakukan secara demokratis tak langsung, melalui pemilihan oleh MPR.

Persoalan kepemimpinan memang selalu memberikan kesan yang menarik dan penuh dengan perdebatan. Mulai dari konteks polemik kepemimpinan Muslim dan non-Muslim, persoalan suku dan etnis, mantan narapidana dan koruptor, hingga tarik ulur kepentingan periodesasi kepemimpinan.

Sederhananya, kajian tentang kepemimpinan ternyata lebih pragmatis yakni hampir selalu muncul dalam situasi-situasi tertentu di mana mendapatkan momentum politiknya.

Misalnya, kajian dan diskusi tentang justifikasi ataupun pelarangan kepemimpinan non-Muslim untuk konteks Indonesia seketika membeludak ketika isu tentang Ahok menjadi salah satu kandidat kuat di pemilihan Gubernur Jakarta tahun 2017.

Ataupun ketika isu tentang kepemimpinan perempuan menjadi hangat diperbincangkan ketika Megawati tampil sebagai Presiden RI ke-5. Pro kontra menyelimuti dengan berbagai dalil dan argumentasinya.

Berbagai kesimpulan pun hadir seolah-olah berusaha memberikan solusi dan hendak menerangi jalan perpolitikan di Indonesia. Namun sayangnya, model kajian semacam ini tidak lebih dari sekadar pseudo affirmation, yang hanya mencari momentum bagi subjektivitas dan jalan penetrasi kepentingan oligarki.

Dari Leader ke Leadership

Jika kita mengkaji literatur-literatur tentang kepemimpinan, kita akan dihadapkan pada segudang penjelasan tentang bagaimana seorang menjadi pemimpin ideal, sikap dan gaya yang sesuai dengan situasi, dan syarat-syarat pemimpin yang berintegritas.

Dialektika pemikiran tentang kepemimpinan memang dinamis dan menjadi hangat diperbincangkan. Berbagai wacana dan paradigma mengenai sosok pemimpin yang ideal seolah-olah semakin terlihat. Akan tetapi diskursus tersebut sayangnya belum dibarengi dengan tindakan nyata. Hasilnya, bangsa ini masih tetap saja mengalami krisis kepemimpinan.

Betapa tidak mengecewakan, pemimpin-pemimpin yang telah ada, yang dirasa cukup mumpuni untuk memimpin, ternyata di tengah jalan telah banyak mengkhianati masyarakat karena berbagai kasus yang dialaminya mulai dari korupsi, jual beli jabatan, pemborosan anggaran, hingga tindak asusila.

Faktanya kegagalan para pemimpin dalam mengemban amanah, menjadi permasalahan baru dalam diskursus kepemimpinan. Sehingga yang terpenting sebetulnya bukan lagi pada soal siapa, melainkan pada apa dan bagaimana bentuk kepemimpinan baru itu. Dengan kata lain, yang harus kita perhatikan bersama bukan lagi sekadar tokoh atau pemimpin (leader) tapi kepemimpinan (leadership).

Generasi Muda

Lebih lanjut perlu didiskusikan juga tentang bagaimana negeri ini memiliki masa depan kepemimpinan yang lebih baik. Memformulasi format kepemimpinan yang ideal harus diimbangin dengan menghadirkan sosok-sosok pemimpin yang berkualitas intelektual dan moral.

Sayangnya, bangsa Indonesia tidak mungkin lagi menaruh harapan pada generasi tua. Selain susah untuk mengikuti perkembangan, kaum tua juga cenderung kurang responsif dan gesit dalam merespon perubahan.

Kaum muda lah yang memiliki potensi lebih untuk mendapat tempaan (godogan) menjadi seorang pemimpin yang ideal. Generasi muda harus mendapatkan perlakuan baik dan sambutan hangat. Karena tanpa peran seorang pemuda tentu bangsa ini akan lapuk dimakan zaman.

Pemuda harus benar-benar diarahkan dengan matang dalam menjalankan perannya. Agar nantinya diperoleh para pemimpin-pemimpin baru yang lebih baik untuk memimpin bangsa ini.

Generasi Mahasiswa

Kaum muda, khususnya mahasiswa, sebagai calon intelektual, menempati posisi strategis di setiap petala sosial kemasyarakatan. Keistimewaan yang disandang karena mereka memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan di jenjang perguruan tinggi. Suatu level pendidikan yang mengajarkan kedewasaan berpikir dan kemampuan meneropong masa depan.

Sebagai pemimpin masa depan, mahasiswa dituntut keampuhan paripurna, sebagai intelektual yang tidak hanya bertumpu pada aspek formal penguasaan materi keilmuan, tetapi didukung skill kepemimpinan dan keterampilan dalam upaya mengembangkan ide dan mengaktualisasikan gagasan dalam konteks peningkatan dan kemajuan taraf hidup masyarakat.

Karena apa, di masa depan, persoalan bangsa Indonesia sepenuhnya sudah sangat berbeda, dan untuk menghadapinya dibutuhkan tipe kepemimpinan yang juga berbeda. Cepat atau lambat, masyarakat kita akan semakin kritis dan mulai mengerti hak-haknya.

Mereka tidak ingin hanya menjadi obyek yang terus-menerus diatur oleh pemimpin mereka. Masyarakat ingin dibujuk, dirayu, dan dikeloni. Kalau tidak, potensi destruktif akan mereka kembangkan. Akibat yang paling gawat, jika hal semacam itu terus terjadi, adalah perpecahan nasional dan rontoknya pilar-pilar kesatuan.

Kepemimpinan Transformasional

Jika dikaitkan dengan konteks yang ada, maka dalam kepemimpinan saat ini sangat diperlukan kemampuan pemimpin yang mampu menyesuaikan dengan perubahan. Kepemimpinan yang efektif adalah kepemimpinan yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi dari orang-orang yang dipimpinnya serta konteks-konteks yang mengitarinya seperti teknologi, budaya, pluralitas, ekonomi dan sosial-politik.

Salah satu bentuk kepemimpinan yang diyakini dapat mengimbangi pola pikir dan refleksi paradigma baru dalam arus globalisasi dirumuskan sebagai kepemimpinan transformasional. Model Kepemimpinan ini digambarkan sebagai gaya kepemimpinan yang dapat membangkitkan atau memotivasi masyarakat, sehingga dapat berkembang dan mencapai kinerja pada tingkat yang tinggi, melebihi dari apa yang mereka perkirakan sebelumnya.

Gaya kepemimpinan tranformasional dianggap efektif dalam situasi dan budaya globalisasi terutama di era disrupsi seperti sekarang ini. Kepemimpinan ini didasarkan pada kekayaan konseptual, yang dipadu dengan gagasan praksis melalui karisma, konsideran individual dan stimulasi intelektual. Model ini diyakini akan mampu melahirkan pemikiran-pemikiran untuk jangkauan ke depan, menjaga nilai dan prinsip demokrasi dan membangun pemerintahan transparansi.

Kepemimpinan adalah Panggilan Sejarah

Oleh karena itu, menghadapi tantangan yang semakin kompleks dan semakin besar dewasa ini dan di masa depan, maka merupakan panggilan sejarah bagi generasi masa kini untuk meletakkan dasar yang kuat bagi sistem kepemimpinan nasional di masa mendatang.

Tentu saja ikhtiar ini masih lebih baik daripada membiarkan adanya model kepemimpinan sepanjang masa (long life leadership) yang berpotensi melahirkan otoritarianisme. Artinya membiarkan seseorang atau sekelompok orang mengorganisir negara dengan sikap represif, mengkebiri nilai-nilai demokrasi dan kemanusiaan adalah mutlak sesuatu yang harus ditentang dan dilawan.

Pada akhirnya, persoalan kepemimpinan adalah tugas bersama dan tidak bisa dimonopoli oleh sekelompok orang maupun golongan, agama dan suku tertentu. Proses diskusi kepemimpinan harus bisa dilepaskan dari sekat-sekat pembatas primordial.

MK Ridwan
Alumnus Sekolah Kebudayaan dan Kemanusiaan Ahmad Syafii Maarif, Awardee MAARIF Fellowship (MAF) MAARIF Institute for Culture and Humanity, Alumnus Qur'anic Studies IAIN Salatiga
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.