Banner Uhamka
Kamis, Oktober 1, 2020
Banner Uhamka

Format Baru Kepemimpinan di Era Disrupsi

Bradley Lowery dan pelajaran bagi para pecundang

Seniman kesohor di tanah Inggris bernama Banksy sempat berkata begini. “Percaya pada takdir hanya untuk pecundang. Itu adalah cara bagi pecundang untuk mencari alasan...

Anak, Pendidikan, dan Kebinekaan

Sidik Nugroho*) Beberapa waktu lalu kita memperingati Hari Anak Nasional (HAN). Peringatan yang sudah berlangsung sejak 1984 ini adalah momen untuk menengok kembali, sampai sejauh...

Gagalnya Pancasila Membendung Politik Identitas di Aceh

Sebagai Negara dengan garis yang setengah-setengah, Indonesia memiliki sebuah pedoman yang telah disepakati oleh para founding father yaitu Pancasila. Sebagai pedoman kehidupan berbangsa dan...

Larangan Duduk Ngangkang Di Aceh

Manusia di ciptakan oleh Allah SWT sama derajatnya seperti laki-laki dan perempuan, tidak ada yang membeda-bedakan mereka. Kita tahu bahwa Aceh dianugerahkan secara khusus...
MK Ridwan
Alumni Sekolah Kebudayaan dan Kemanusiaan Ahmad Syafii Maarif, Awardee MAARIF Fellowship (MAF) MAARIF Institute for Culture and Humanity, Alumni Qur'anic Studies IAIN Salatiga

Baru-baru ini bangsa Indonesia diisukan dengan adanya penambahan masa jabatan kepemimpinan presiden hingga tiga periode, ataupun ada yang mengusulkan pemilihan presiden dilakukan secara demokratis tak langsung, melalui pemilihan oleh MPR.

Persoalan kepemimpinan memang selalu memberikan kesan yang menarik dan penuh dengan perdebatan. Mulai dari konteks polemik kepemimpinan Muslim dan non-Muslim, persoalan suku dan etnis, mantan narapidana dan koruptor, hingga tarik ulur kepentingan periodesasi kepemimpinan.

Sederhananya, kajian tentang kepemimpinan ternyata lebih pragmatis yakni hampir selalu muncul dalam situasi-situasi tertentu di mana mendapatkan momentum politiknya.

Misalnya, kajian dan diskusi tentang justifikasi ataupun pelarangan kepemimpinan non-Muslim untuk konteks Indonesia seketika membeludak ketika isu tentang Ahok menjadi salah satu kandidat kuat di pemilihan Gubernur Jakarta tahun 2017.

Ataupun ketika isu tentang kepemimpinan perempuan menjadi hangat diperbincangkan ketika Megawati tampil sebagai Presiden RI ke-5. Pro kontra menyelimuti dengan berbagai dalil dan argumentasinya.

Berbagai kesimpulan pun hadir seolah-olah berusaha memberikan solusi dan hendak menerangi jalan perpolitikan di Indonesia. Namun sayangnya, model kajian semacam ini tidak lebih dari sekadar pseudo affirmation, yang hanya mencari momentum bagi subjektivitas dan jalan penetrasi kepentingan oligarki.

Dari Leader ke Leadership

Jika kita mengkaji literatur-literatur tentang kepemimpinan, kita akan dihadapkan pada segudang penjelasan tentang bagaimana seorang menjadi pemimpin ideal, sikap dan gaya yang sesuai dengan situasi, dan syarat-syarat pemimpin yang berintegritas.

Dialektika pemikiran tentang kepemimpinan memang dinamis dan menjadi hangat diperbincangkan. Berbagai wacana dan paradigma mengenai sosok pemimpin yang ideal seolah-olah semakin terlihat. Akan tetapi diskursus tersebut sayangnya belum dibarengi dengan tindakan nyata. Hasilnya, bangsa ini masih tetap saja mengalami krisis kepemimpinan.

Betapa tidak mengecewakan, pemimpin-pemimpin yang telah ada, yang dirasa cukup mumpuni untuk memimpin, ternyata di tengah jalan telah banyak mengkhianati masyarakat karena berbagai kasus yang dialaminya mulai dari korupsi, jual beli jabatan, pemborosan anggaran, hingga tindak asusila.

Faktanya kegagalan para pemimpin dalam mengemban amanah, menjadi permasalahan baru dalam diskursus kepemimpinan. Sehingga yang terpenting sebetulnya bukan lagi pada soal siapa, melainkan pada apa dan bagaimana bentuk kepemimpinan baru itu. Dengan kata lain, yang harus kita perhatikan bersama bukan lagi sekadar tokoh atau pemimpin (leader) tapi kepemimpinan (leadership).

Generasi Muda

Lebih lanjut perlu didiskusikan juga tentang bagaimana negeri ini memiliki masa depan kepemimpinan yang lebih baik. Memformulasi format kepemimpinan yang ideal harus diimbangin dengan menghadirkan sosok-sosok pemimpin yang berkualitas intelektual dan moral.

Sayangnya, bangsa Indonesia tidak mungkin lagi menaruh harapan pada generasi tua. Selain susah untuk mengikuti perkembangan, kaum tua juga cenderung kurang responsif dan gesit dalam merespon perubahan.

Kaum muda lah yang memiliki potensi lebih untuk mendapat tempaan (godogan) menjadi seorang pemimpin yang ideal. Generasi muda harus mendapatkan perlakuan baik dan sambutan hangat. Karena tanpa peran seorang pemuda tentu bangsa ini akan lapuk dimakan zaman.

Pemuda harus benar-benar diarahkan dengan matang dalam menjalankan perannya. Agar nantinya diperoleh para pemimpin-pemimpin baru yang lebih baik untuk memimpin bangsa ini.

Generasi Mahasiswa

Kaum muda, khususnya mahasiswa, sebagai calon intelektual, menempati posisi strategis di setiap petala sosial kemasyarakatan. Keistimewaan yang disandang karena mereka memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan di jenjang perguruan tinggi. Suatu level pendidikan yang mengajarkan kedewasaan berpikir dan kemampuan meneropong masa depan.

Sebagai pemimpin masa depan, mahasiswa dituntut keampuhan paripurna, sebagai intelektual yang tidak hanya bertumpu pada aspek formal penguasaan materi keilmuan, tetapi didukung skill kepemimpinan dan keterampilan dalam upaya mengembangkan ide dan mengaktualisasikan gagasan dalam konteks peningkatan dan kemajuan taraf hidup masyarakat.

Karena apa, di masa depan, persoalan bangsa Indonesia sepenuhnya sudah sangat berbeda, dan untuk menghadapinya dibutuhkan tipe kepemimpinan yang juga berbeda. Cepat atau lambat, masyarakat kita akan semakin kritis dan mulai mengerti hak-haknya.

Mereka tidak ingin hanya menjadi obyek yang terus-menerus diatur oleh pemimpin mereka. Masyarakat ingin dibujuk, dirayu, dan dikeloni. Kalau tidak, potensi destruktif akan mereka kembangkan. Akibat yang paling gawat, jika hal semacam itu terus terjadi, adalah perpecahan nasional dan rontoknya pilar-pilar kesatuan.

Kepemimpinan Transformasional

Jika dikaitkan dengan konteks yang ada, maka dalam kepemimpinan saat ini sangat diperlukan kemampuan pemimpin yang mampu menyesuaikan dengan perubahan. Kepemimpinan yang efektif adalah kepemimpinan yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi dari orang-orang yang dipimpinnya serta konteks-konteks yang mengitarinya seperti teknologi, budaya, pluralitas, ekonomi dan sosial-politik.

Salah satu bentuk kepemimpinan yang diyakini dapat mengimbangi pola pikir dan refleksi paradigma baru dalam arus globalisasi dirumuskan sebagai kepemimpinan transformasional. Model Kepemimpinan ini digambarkan sebagai gaya kepemimpinan yang dapat membangkitkan atau memotivasi masyarakat, sehingga dapat berkembang dan mencapai kinerja pada tingkat yang tinggi, melebihi dari apa yang mereka perkirakan sebelumnya.

Gaya kepemimpinan tranformasional dianggap efektif dalam situasi dan budaya globalisasi terutama di era disrupsi seperti sekarang ini. Kepemimpinan ini didasarkan pada kekayaan konseptual, yang dipadu dengan gagasan praksis melalui karisma, konsideran individual dan stimulasi intelektual. Model ini diyakini akan mampu melahirkan pemikiran-pemikiran untuk jangkauan ke depan, menjaga nilai dan prinsip demokrasi dan membangun pemerintahan transparansi.

Kepemimpinan adalah Panggilan Sejarah

Oleh karena itu, menghadapi tantangan yang semakin kompleks dan semakin besar dewasa ini dan di masa depan, maka merupakan panggilan sejarah bagi generasi masa kini untuk meletakkan dasar yang kuat bagi sistem kepemimpinan nasional di masa mendatang.

Tentu saja ikhtiar ini masih lebih baik daripada membiarkan adanya model kepemimpinan sepanjang masa (long life leadership) yang berpotensi melahirkan otoritarianisme. Artinya membiarkan seseorang atau sekelompok orang mengorganisir negara dengan sikap represif, mengkebiri nilai-nilai demokrasi dan kemanusiaan adalah mutlak sesuatu yang harus ditentang dan dilawan.

Pada akhirnya, persoalan kepemimpinan adalah tugas bersama dan tidak bisa dimonopoli oleh sekelompok orang maupun golongan, agama dan suku tertentu. Proses diskusi kepemimpinan harus bisa dilepaskan dari sekat-sekat pembatas primordial.

MK Ridwan
Alumni Sekolah Kebudayaan dan Kemanusiaan Ahmad Syafii Maarif, Awardee MAARIF Fellowship (MAF) MAARIF Institute for Culture and Humanity, Alumni Qur'anic Studies IAIN Salatiga
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pancasila dan Demokrasi Kita Hari Ini

Perjalanan demokrasi di Indonesia tidak selamanya sejalan dengan ideologi negara kita, Pancasila. Legitimasi Pancasila secara tegas tercermin dalam Undang-Undang Dasar 1945, dan difungsikan sebagai...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Dua Perwira di Bawah Pohon Pisang (Kenangan Kekejaman PKI di Yogya)

Yogya menangis. Langit di atas Kentungan muram. Nyanyian burung kutilang di sepanjang selokan Mataram terdengar sedih. What's wrong? Ono opo kui? Rakyat Ngayogyakarta risau, karena sudah...

Pilkada dan Pergulatan Idealisme

Invasi Covid-19 memang tak henti-hentinya memborbardir aspek kehidupan manusia secara komprehensif. Belum usai kegamangan pemerintah terkait preferensi mitigasi utama yang harus didahulukan antara keselamatan...

Menimbang Demokrasi di Tengah Pandemi

Dibukanya pendaftaran peserta pilkada dari tanggal 4 – 6 September lalu diwarnai oleh pelbagai pelanggaran yang dilakukan oleh bakal calon peserta pilkada. Pelanggaran yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Lebih Baik Dituduh PKI daripada PKS

Ini sebenarnya pilihan yang konyol. Tetapi, ketika harus memilih antara dituduh sebagai (kader, pendukung/simpatisan) Partai Komunis Indonesia (PKI) atau Partai Keadilan Sejahtera (PKS), maka...

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Narasi – Narasi Seputar G-30S 1965

Hingga hari ini, masih banyak masyarakat awam yang percaya bahwa dalang utama dibalik peristiwa G30S adalah PKI. Kepercayaan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kampanye...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.