Minggu, Januari 24, 2021

Flash Sale Hantu Konsumtif

Menakar Kekuatan Oposisi Pasca Pemilu 2019

Putusan final Mahkamah Konstitusi (MK) pada 27 Juni lalu, menjadi pertanda runtuhnya sengketa pemilu 2019 yang, sempat melahirkan berbagai drama yang mengguncang dunia. Putusan...

Neoinstitusionalisme, Mahar Politik, Korupsi Kepala Daerah

Memang tidak sepenuhnya bisa disalahkan pernyataan yang menuduh pemberlakuan sebuah sistem menjadi biang keladi maraknya kejahatan politik belakangan ini. Terutama statement tersebut sering mencuat...

Apakah Kelebihan dalam Asuransi Itu Riba?

Ada yang berkata, asuransi itu riba. Di mana letak ribanya? Pada kelebihan dari manfaat yang diterima dibanding premi yang dibayar. Misalnya ada orang baru bayar...

Mengenang Kepergian Maestro Jurnalistik Indonesia

Kabar duka menghampiri dunia jurnalistik Indonesia. Jakob Oetama, Pendiri Harian Kompas yang juga tokoh besar dunia jurnalistik Indonesia wafat pada hari ini, 9 September...
Farah Nabila
Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Al Azhar

Gempuran promo akhir tahun melalui media daring mendistraksi seseorang untuk membeli produk dengan iming-iming Flash Sale. Potongan harga yang diberikan pun tidak biasa, promo yang ditawarkan dengan harga yang fantastis.

Waktu yang dibuat terbatas mengharuskan seseorang untuk segera membeli barang-barang tersebut sebelum menyesal dikemudian hari. Namun, apakah flash sale membuat kita untung atau menuntut kita menjadi konsumtif?

Akhir tahun merupakan momentum yang paling ditunggu oleh masyarakat. Salah satunya pesta diskon akhir tahun yakni Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) yang diadakan tanggal 12 Desember  setiap tahunnya. Harbolnas menawarkan potongan harga yang besar dengan promo yang bertajuk Flash Sale.

Flash Sale merupakan promo besar-besaran dengan kurun waktu yang singkat. Promo yang ditawarkan pun tidak tanggung-tanggung dimulai dari 10 persen hingga 90 persen. Hasil riset Nielsen Indonesia menyebut nilai transaksi Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) 2019 mencapai 9 Triliun.

Transaksi Harbolnas 2019 ini berada di atas target Asosiasi E-Commerce Indonesia sebesar 8 triliun dan terjadi peningkatan dibanding tahun lalu Rp 6,8 triliun. Hal ini menandakan bahwa masyarakat telah memberikan kepercayaan nya untuk memilih belanja di e-commerce.

Flash sale tidak hanya menawarkan potongan harga produk, voucher bebas ongkos kirim juga diberikan oleh e-commerce untuk menarik para pembeli. Faktor ini membuat seseorang lebih memilih berbelanja dalam telepon genggam dengan berbagai kemudahan yang ditawarkan dibanding harus berpergian keluar rumah untuk berbelanja.

Budaya Konsumtif

Perilaku konsumtif merupakan tindakan seseorang membeli suatu barang tanpa adanya pertimbangan yang masuk akal di mana seorang tersebut dalam membeli suatu barang tidak didasarkan pada faktor kebutuhan (Sumartono, 2002).

Dalam promo Flash Sale seseorang kerap kali membeli sesuatu diluar kebutuhannya. Menurut Lina dan Rosyid (1997) salah satu aspek perilaku konsumtif adalah pembelian yang impulsive. Pembelian yang impulsive merupakan salah satu faktor seseorang menjadi konsumtif terhadap promo Flash Sale yang ditawarkan.

Menurut Rook dalam Kharis (2011), impulsive buying adalah pembelian yang terjadi ketika konsumen mengalami desakan tiba-tiba, yang biasanya sangat kuat dan menetap untuk membeli sesuatu dengan segera.

Loudondan Bitta (1984) menyatakan bahwa remaja adalah kelompok yang berorientasi konsumtif, karena kelompok ini suka mencoba hal-hal yang dianggap baru. Ciri-ciri perilaku konsumtif remaja dapat dilihat dari ciri-ciri pembeli remaja adalah: Remaja amat mudah terpengaruh oleh rayuan penjual, mudah terbujuk iklan, terutama pada kerapian kertas bungkus (apalagi jika dihiasi  dengan warna-warna yang menarik). Tidak berpikir hemat, kurang realistis, romantis, dan mudah terbujuk (impulsif) (Astasari & Sahrah, 2006).

Selain itu perempuan dinilai lebih konsumtif karena lebih menggunakan rasa emosional dan menyukai hal-hal yang berkaitan dengan keindahan. Hadipranta (dalam Nashofi, 1991) mengamati bahwa wanita mempunyai kecenderungan lebih besar untuk berperitaku konsumnt dibanding pria.

Hal ini didukung dengan data riset Nielsen Indonesia 2019 yang menunjukan produk fashion, baju olahraga dan kosmetik masih merajai Harbolnas 2019. Selain itu dalam Harbolnas 2019 pembeli dapat menggunakan metode pay later yang membuat kemudahan saat pembayaran. Fitur ini semakin membuat para pembeli untuk membeli banyak produk selagi diskon Flash Sale berlangsung.

Media dan Konsumerisme

Pengaruh media tidak lepas dengan  budaya konsumerisme. Gempuran iklan yang ditawarkan melalu media daring dengan metode menargetkan konsumen. Poster iklan Flash Sale yang disajikan dengan desain yang unik agar menarik bagi para konsumen remaja. Remaja yang dinilai sebagai kelompok yang berorientasi konsumtif menjadi target penjual dalam media daring.

Jika seorang remaja sedang menyukai produk tertentu maka produk tersebut akan selalu hadir di semua platform yang ia miliki. Hal ini dapat dilihat saat Harbolnas berlangsung produk yang sedang dicari akan selalu muncul dengan keterangan bahwa produk tersebut sedang diskon dan diskon tersebut akan habis dalam waktu dekat. Iklan daring hari ini menggambarkan adanya perbedaan yang mendasar dari televisi dan media cetak lainnya (Moore & Rideout, 2007; Montgomery, 2012).

Menurut penelitian Commonsense Media 2019, beberapa alasan iklan daring mengubah permainan dalam periklanan. Pertama, lebih interaktif. Kedua, lebih “immersive” yang berarti bahwa anak atau remaja berada dalam “lingkungan” yang sepenuhnya bermerek untuk sebuah jangka waktu yang panjang, dan garis antara iklan dan konten lainnya kabur.

Ketiga, periklanan online pada dasarnya berbeda karena itu dapat dibangun berdasarkan data tentang anak atau remaja itu memungkinkan untuk ditargetkan kepada mereka berdasarkan minat mereka, lokasi, dan karakteristik demografis.

Banyak perusahaan telah menciptakan merek situs web yang menyertakan konten yang dirancang untuk menarik anak-anak atau remaja (CommonSense Media, 2014). Salah satu website situs kosmetik yaitu Sociolla.com yang membuat tema khusus yaitu “Beauty Galaxy Magic Sale” pada Harbolnas 2019.

Desain pada situs dibuat dengan menarik dengan tampilan ungu dan pink yang identik dengan warna kegemaran wanita. Hal ini semakin membuat para remaja putri membeli produk tersebut karena tampilan layar website yang dinilai “lucu” dan menarik.  Banyaknya informasi dan iklan yang ditampilkan oleh media tidak dapat dipungkiri.

Media akan selalu memberikan arus informasi yang tidak dapat kita hindari. Sangat penting bagi kita untuk bisa menyaring informasi yang diberikan oleh media. Selain itu kita juga perlu untuk memilah produk yang sesuai kebutuhan bukan untuk kepuasan semata. Sifat impulsif merupakan sifat yang harus dihindari dalam derasnya iklan produk di era digital ini. Kita perlu bijaksana dalam menggunakan pendapatan agar tidak terjerumus dalam pemborosan.

Farah Nabila
Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Al Azhar
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

The Social Dilemma: Logika Eksploitatif Media Sosial

Seorang teman baru bebas dari dunia gelap. Mengkonsumsi narkoba menjadi gaya hidupnya. Padalah kehidupannya tak terlalu suram bagi ukuran kelas menengah. Tapi kehidupannya itu...

Upaya Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan

Kasus KDRT khususnya terhadap perempuan masih banyak terdengar di wilayah Indonesia. Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (6/03/20) juga meluncurkan catatan tahunan (CATAHU) yang...

Capitol, Trump, dan Biden

Menjelang pelantikan Joe Biden sebagai Presiden AS, 20 Januari ini (Rabu malam waktu Indonesia), Washington kembali tegang. Penyerbuan gedung Capitol, Washington -- simbol demokrasi...

Pelantikan Joe Biden dan Pembangkangan Trump

Pelajaran Demokrasi untuk Dunia yang Terus Berubah Washington tegang menjelang pelantikan Presiden Joe Biden dan Kemala Harris, 20 Januari 2021. Kondisi ini terbentuk akibat pembangkangan...

Proyeksi OPEC, Konsumsi Migas Dunia akan Meningkat

Senin (18/1) penulis berkesempatan untuk memberikan kuliah umum secara daring dengan adik-adik di Politeknik Akamigas Cepu, Jawa Tengah. Maraknya pemberitaan mengenai kendaraan listrik dan...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

The Social Dilemma: Logika Eksploitatif Media Sosial

Seorang teman baru bebas dari dunia gelap. Mengkonsumsi narkoba menjadi gaya hidupnya. Padalah kehidupannya tak terlalu suram bagi ukuran kelas menengah. Tapi kehidupannya itu...

Menilik Pencekalan Panglima Gatot

Insiden diplomatik antara Amerika Serikat dan Indonesia terjadi hari Sabtu lalu, (21/10/2017) di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Kejadiannya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dicekal untuk...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.