Minggu, Februari 28, 2021

Filsafat Melawan Niat Jahat

Jokowi Merangkul Dangdut

Pada 17 April 2019, masyarakat Indonesia akan menentukan pilihannya untuk presiden dan wakil presiden lima tahun mendatang. Di tengah kontestasi yang ‘keruh’ dari politik...

Nadiem Harus Mencetak Nadiem Desa

Nadiem Makarim menjadi perbincangan hangat akhir-akhir ini, tepatnya setelah penunjukan mantan bos ‘Decacorn Gojek’ itu sebagai menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang baru. Dengan segala...

Mungkinkah Mempercepat Proses Izin Usaha Perikanan?

Dalam pertemuan dengan nelayan dalam rangka penyerahan Surat Ijin Usaha Perikanan (SIUP) dan Surat Ijin Penangkapan Ikan (SIPI) yang berlangsung di Istana Negara (30/1),...

Generasi Baru PPIT Cabang Nanchang

Sama seperti organisasi-organisasi pengkaderan lainnya, PPIT Nanchang pun setiap tahunnya melakukan regenerasi, dimana regenerasi ini merupakan kebutuhan internal organisasi yang wajib dilakukan. Layaknya sebuah hukum...
Abi Rekso Panggalih
Abi Rekso Panggalih
Sekjen DPN Pergerakan-Indonesia.

Siang itu, suasana lain terjadi dalam sebuah restoran yang sederhana. Untuk pertama kalinya, diskusi filsafat dihadiri oleh banyak tokoh. Tidak berhenti disitu, komunitas filsafat, jurnalis muda, mahasiswa dan kaum profesional juga punya andil memadati ruang diskusi.

Acara ini digagas oleh Yustinus Prastowo, yang rela mengkorbankan diri demi terselenggaranya tutur filsafat dan silaturahim akal sehat. Sejauh ingatan saya, bukan saja narasumber yang menjadi rujukan filsafat. Tanpa terduga, banyak tokoh pemikir lain yang juga rela menjadi peserta.

Para narasumber, ada Prof. Mochtar Pabotinggi, Mas Goenawan Mohamad, Akhmad Sahal, Dan Donny Gahral. Tapi sayang, Romo Setyo batal hadir karena harus memimpin Misa Requiem di Kudus. Juga tidak luput, Prof. Komaruddin Hidayat, Prof. Toeti Heraty serta Romo Mudji Sutrisno.

Yustinus Prastowo, selaku Ahlul-Bait membuka dengan satu optimisme baru. Bahwa, filsafat tidak boleh dibusukan untuk digunakan sebagai alat “pertukangan politik”. Yang paling menarik, dirinya secara tegas, menolak agenda mempidanakan Rocky Gerung. Itu adalah sikap.

Saya harus menuliskan kembali acara siang tadi, karena begitu tumpah-ruah tuduhan keji bahwa diskusi itu bertujuan dalam mengadili Rocky Gerung diruang publik.

Prastowo cukup berbesar hati membela Rocky dengan menolak proses pemidanaan. Jadi tidak ada satu delikpun, yang pantas disimpulkan bahwa forum itu mengadili Rocky Gerung.

Bukankah tidak pantas, meletakan syair kedunguan Rocky sebagai kajian epistemik?
Bukankah tidak pantas merujuk tidakan Rocky sebagai preferensi kajian etik?
Bahkan, meletakan Rocky sebagai seorang filsuf pun sama sekali tidak pantas.
Ketidak pantasan itulah, yang menguatkan Rocky untuk mangkir hadir.

Forum itu, seakan menemukan satu oase baru. Oase akan kerinduan banyak orang dengan pembicaraan yang punya standar berfikir. Satu upaya melihat lebih jernih, tanpa menimbang dikotomis politik.

Ada segelintir orang, yang melecehkan marwah filsafat untuk pertukangan politik. Tidak sampai disitu, bahkan tradisi filsafat yang ketat diabaikan. Filsafat diperlalukan longgar, bahkan cenderung kedodoran. Ditengah kedodoran itu, ada orang yang bangga memperlihatkan kemaluannya yang penuh koreng dan kudis. Dengan gegap gempita, dia bercerita ditengah kebusukannya itu dia tetap hidup. Dia berpidato, ditengah masyarakat yang tercemar wabah herpes simpleks.

Filsafat sebagaimana sifatnya, diyakini Sokrates sebagai sebuah induk pengetahuan. Filsafat bukan lembaga pikiran, yang dibelokan untuk siasat menipu publik. Filsafat sesuatu yang lahir atas tindakan akal budi. Bukan sebatas akal-akalan. Dalam pemahaman yang paling universal kerap dimaknai dengan “mencintai kebajikan”. Ada dua epistemik dalam satu definisi, mencintai dan kebajijikan.

Dalam keseharian kita, cinta adalah penuh dengan kehati-hatian bersama segenap pengorbanan. Untuk mencapai paripurna, cinta akan menemukan satu dimensi kebenaran atas dua sisi atau lebih. Dan lantas ada kebulatan tekad bersama. Itu artinya, cinta bukanlah sesuatu yang tunggal.

Sedangkan kebajikan, adalah pengetahuan atau hikmah yang berguna untuk banyak orang. Kebajikan tidak akan bertahan lama, tanpa disertai kemurahan hati yang terbentuk secara kompleks dalam periode waktu. Artinya, seseorang tidak lantas begitu saja menjadi bijak karena alasan kedermaan. Kebijakan ditempuh dengan kelapangan hati, tanpa menjadi pasrah-menyerah pada keadaan.

Jika saja, kita kembali melakulan upaya khusuk dalam pemurnian itu. Maka, lidah dan ludah kita tidak akan mudah serta instan melontarkan fatwa palsu; “ini adalah filsafat”.

Orang-orang jahat itu, bekerja diatas otoritas yang sesat. Menebar jala kebohongan, agar semakin banyak awam tersangkut dalam keranda kebodohan. Kalimat-kalimat itu terdengar dahsyat, dalam nyatanya dekat pada segala yang sesat.

Kejahatan, selalu melawan takdir akal sehat. Ketika orang-orang jahat, membajak filsafat. Disitulah cinta dan kebijaksanaan kembali diuji. Para cendikia dan kita, harus lagi-lagi bekerja. Bekerja dalam tuntutan yang luhur. Bekerja untuk kebenaran.

Segala maklumat akal sehat harus berkumandang. Bukan saja menggelegar diatas podium-podium universitas. Tidak saja melebar di meja-meja kafe dan resto. Juga harus, mengetuk pintu-pintu di desa.

Karena niat jahat, sudah bergerak bersama si fakir akal. Bukankah menjadi tanggung jawab kita, menafkahi para fakir akal itu, dengan Kebenaran!

Akal Sehat Tak Boleh Rehat”

Cikini, 13 February 2019

Abi Rekso Panggalih
Abi Rekso Panggalih
Sekjen DPN Pergerakan-Indonesia.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Generasi Muda di Antara Agama dan Budaya

Oleh: Bernadien Pramudita Tantya K, SMA Santa Ursula Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Indonesia adalah negara yang kaya akan bahasa, budaya,...

Antara Kecerdasan Buatan, Politik, dan Teknokrasi

Di masa lalu, politik dan teologi memiliki keterkaitan erat. Para pemimpin politik sering mengklaim bahwa politik juga merupakan bentuk lain dari ketaatan kepada Tuhan;...

Perempuan dalam Isi Kepala Mo Yan

Tubuh perempuan adalah pemanis bagi dunia fiksi. Kadang diperlakukan bermoral, kadang sebaliknya, tanpa moral. Naluri bebas dari perempuan yang manusiawi, memendam dengki dan membunuh...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Berpegangan Tangan dengan Leluhur

Oleh: Arlita Dea Indrianty, SMAN 36 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Bicara tentang Indonesia tidak akan membawa seseorang pada titik...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Perempuan dalam Isi Kepala Mo Yan

Tubuh perempuan adalah pemanis bagi dunia fiksi. Kadang diperlakukan bermoral, kadang sebaliknya, tanpa moral. Naluri bebas dari perempuan yang manusiawi, memendam dengki dan membunuh...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.