Banner Uhamka
Jumat, September 25, 2020
Banner Uhamka

Filosofi Paham Negara Integralistik Soepomo dan New Normal

Masa Depan Aceh dan Kenduri Kebangsaan

Membicarakan Aceh tak pernah selesai. Tiga pekan yang lalu di grup WA beredar foto spanduk bertuliskan "Selamat dan Sukses kepada Pemerintah Aceh atas Prestasi...

Persoalan PJJ Tahun Ajaran Baru 2020/2021

Tahun ajaran baru 2020/2021 telah dimulai, sekolah umumnya masih tutup dan masih menerapkan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh). Untuk siswa-siswi kelas 7 dan kelas 10...

Sejarah Paskibraka dan Nasionalisme Kita

Pasukan khusus yang bertugas di bulan Agustus berlatih untuk menunaikan tugas mulia, yaitu untuk mengibarkan bendera pusaka merah putih. Baik level Kabupaten/Kota, Provinsi, maupun...

Nilai Sosial Puasa Ramadhan

Manusia dalam mengembangkan dan mengkristalisasikan sifat-sifat Tuhan dalam menjalani kehidupan nyata, sebab manusia menghadapi dinding penghalang, cobaan, dan rintangan yang menghalangi seseorang dalam mencapai...
Thyo Pamungkas
Penulis lepas di berbagai media dan sedagn magang di Geotimes

Pandemi virus corona secara global telah menciptakan berbagai krisis, terutama krisis ekonomi. Di Indonesia, menanggapi krisis ekonomi tersebut pemerintah membuat kebijakan tataran normal baru (New Normal) sebagai solusi. Kebijakan tersebut disambut dengan antusias oleh masyarakat.

Namun, kebijakan itu perlu dilaksanakan dengan kontrol pada tataran praksisnya karena tidak bisa dimungkiri ada anggota masyarakat yang salah menilai sehingga menyambut kebijakan New Normal dengan mengabaikan protokoler yang ada.

Pada kesempatan ini, penulis hendak memberikan beberapa analisis yang sekiranya penting dalam menilai situasi saat ini terkait pandemi virus corona. Slavoj Zizek, seorang filosof kelahiran Slovenia, membahas pandemi corona dengan amat menarik. Zizek sudah lama menegaskan bahwa satu-satunya hal yang jelas dari pandemi corona ialah kerusakan ekonomi yang amat buruk.

Salah satu hal yang hemat penulis menarik dari pandangan Zizek ialah reaksi dari negara-negara dalam menghadapi pandemi corona. Reaksi tersebut mencakup hubungan negara dan masyarakat.

Zizek mengutarakan perbedaan reaksi dari negara Amerika yang libertarian dengan China yang bisa dikatakan anti-liberalisme dalam artian tertentu. Pemulihan situasi dari krisis yang disebabkan covid-19 lebih susah di negara seperti Amerika daripada di China.

Bisa dikatakan untuk saat ini, China adalah negara yang cukup mampu menangani krisis dari pandemi corona dengan cepat. Tanpa mereduksi maksud pandangan Zizek, hemat penulis ada kaitan “Paham Negara” dengan progresivitas penanganan krisis dari pandemi corona.

Dalam konteks Indonesia, kebijakan New Normal menjadi pilihan bagi pemerintah sebagai solusi untuk mengatasi krisis ekonomi akibat pandemi corona. Pertanyaanya, bagaimana suatu “Paham Negara” bekerja di tengah situasi yang dilanda pandemi corona sekarang ini?

Menjawabi pertanyaan itu, perlu ditegaskan salah satu Volkgeist dari bangsa Indonesia yang pernah dikemukakan oleh Soepomo yaitu Paham Negara Integralistik. Pikiran Soepomo secara historis kurang populer dibandingkan dengan para Founfing Fathers lainnya seperti Soekarno dan Hatta.

Namun, dari Paham Negara Integralistik Soepomo itu Magnis-Suseno menjadikannya dalil yang kuat untuk mengafirmasi semangat kebangsaan (Volkgeist) Indonesia, yaitu nasionalisme yang mengakar pada sikap batin kekeluargaan, gotong-royong, keharmonisan, kebersamaan, dan keutuhan sebagai warga negara.

Namun, gagasan negara integralistik Soepomo cukup mendapat banyak kritikan karena pernah direduksi oleh pemerintah Orde Baru sebagai dalil untuk menjadikan Soeharto sebagai sosok “Bapak” yang otoriter.

Hal itu menjadi nyata dari suara dan jargon-jargon Reformasi yang berhasil meruntuhkan negara kekeluargaan yang otoriter pada Orde Baru. Namun, penulis tetap senada dengan pandangan Magnis-Suseno tentang pentingnya gagasan negara integralistik Soepomo dalam melegitimasi nasionalisme dan semangat Pancasila.

Soepomo merupakan orang pertama yang menemukan orisinalitas karakter bangsa Indonesia. Ia membendung paham-paham impor yang sangat berpengaruh seperti liberalisme dan komunisme. Orisinalitas kebangsaan yang digagaskan Soepomo amat penting karena lahir dari keaslian adat dan budaya bangsa Indonesia.

Gagasan itu ia namakan Paham Negara Integralistik.  Perlu ditegaskan bahwa gagasan integralistik Soepomo tidak sama dengan paham negara integralistik dari Hegel, Spinoza, dan Adam Muller.

Walaupun tidak bisa dimungkiri bahwa latarbelakang pemikiran Soepomo sangat dipengaruhi oleh Hegel, substansi tentang karakter dasar kebangsaan Indonesia tetap otonom karena lahir dari pergelutan refleksi intelektual tentang roh dasar bangsa Indonesia. Lalu pertanyaan yang muncul ialah bagaimana gagasan negara intgeralistik Soepomo itu berpengaruh pada situasi yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini?

Di satu sisi, pemerintah Indonesia telah sangat bekerja keras dalam menghadapi pandemi corona. Berbagai cara telah diusahakan mulai dari PSBB sampai New Normal. Di sisi lain, masyarakat dapat dikatakan tidak dapat berbuat apa-apa tanpa otoritas negara. Menganalisis situasi yang demikian, legitimasi kekuasaan negara menjadi jelas.

Situasi di mana pemerintah berusaha di satu sisi dan rakyat memberikan kedaulatan kepada negara di sisi lain melegitimasi seluruh gagasan tentang Negara. Dalam hal ini, negara dengan kedaulatan rakyat berhak secara penuh untuk membuat kebijakan dalam mengatasi krisis yang disebabkan oleh pandemi corona.

Namun, hal yang memprihatinkan ialah tetap ada anggota masyarakat yang pesimis dengan kebijakan negara dan dengan berbagai alasan lalai untuk melaksanakan protokoler yang ditetapkan negara. Hemat penulis Paham Negara Integralistik Soepomo dapat menjadi angin segar dalam situasi saat ini.

Bagi Soepomo karakter dasar bangsa Indonesia ialah kehidupan negara layaknya kehidupan sebuah keluarga. Selain itu, negara diandaikan sebagai organisme yang hidup, di mana setiap organ mendukung kehidupan organisme tersebut. Dalam konteks Indonesia, setiap warga negara Indonesia adalah organisme-organisme yang menyatu dan membentuk organisme tunggal, yaitu negara.

Tujuan dari setiap warga negara secara teleologis tidak ditemukan dalam dirinya sendiri melainkan ditemukan dalam tujuan negara. Dengan ini, Soepomo mau menegaskan karakter bangsa Indonesia yang tidak individualistik seperti negara-negara liberal dan juga tidak sepenuhnya komunal layaknya negara-negara komunis.

Kembali kepada pandangan Zizek tentang reaksi negara dalam menghadapi krisis akibat pandemi corona, Indonesia sebagai sebuah bangsa hanya akan sukses jika bernafaskan pada gagasan negara integralistik Soepomo.

Dalam situasi saat ini, negara dengan wewenang yang dimilikinya sudah selayaknya menjadi harapan dari segenap warga negara dalam menghadapi krisis akibat pandemi corona. Sangat perlu ditekankan bahwa untuk saat ini liberalisme sebagai kritik harus dikesampingkan, tetapi bukan sama sekali dilupakan.

Yang paling penting sekarang ialah kepentingan integral. Kepentingan bersama sebagai sebuah bangsa yang bersama-sama, atau dalam istilah para pendiri bangsa secara “gotong-royong”, menyukseskan kebijakan yang telah ditetapkan negara.

Dalam Paham Negara Integralistik Soepomo, setiap warga negara dalam keseluruhan kehidupannya tetap menomorsatukan kepentingan negara daripada kepentingan pribadi, dengan cara patuh dengan segala protokoler yang ditetapkan negara dalam situasi sekarang.

Tentunya dengan sikap tersebut bukan tidak mungkin terbuka kemungkinan untuk menyalahgunakan otoritas di pihak pemerintah, namun hemat penulis dalam situasi sekarang kepentingan bersama sebagai sebuah bangsa perlu di rekonsientisasi.

Thyo Pamungkas
Penulis lepas di berbagai media dan sedagn magang di Geotimes
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Erick Ingin Kerja, Mereka Malah Menganggu!

Akhir-akhir ini, ada gerombolan oknum-oknum yang ingin memaksakan kehendak untuk mengisi kursi-kursi komisaris. Ketika keinginan itu tak tercapai, mereka secara sistematis dan masif melakukan...

Menjarah Mahkota Kemuliaan MK

Revisi Undang-Undang Mahkamah Konstitusi yang disahkan pada 1 September lalu menjadi hadiah sekaligus menjadi dilema bagi kesembilan hakim konstitusi di usianya yang ketujuh belas...

Memahami Kembali Pandemi Covid-19

Wabah Covid-19 yang disebabkan virus corona jenis baru telah memasuki bulan ke-6 sejak ditetapkan sebagai pandemi oleh organisasi kesehatan dunia (WHO). Per tulisan ini...

Pandemi Dapat Membunuh Populis, Tidak Populisme

Demokrasi atau otoriter? Masa awal pandemi diwarnai dengan perdebatan mengenai tipe rezim mana yang paling efektif dalam menghadapi wabah Covid-19. Namun memasuki kuartal ketiga...

Potret Seorang Feodal Tua sebagai Seniman Serba Bisa

Pada zaman dahulu kala, ketika revolusi tidak ada lagi, Goenawan Mohamad pernah mengibaratkan dirinya, dengan heroisme penyair muda, sebagai Malin Kundang. Tapi kini, Malin...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.