Banner Uhamka
Jumat, September 18, 2020
Banner Uhamka

Film The Gift Hanung dan Hadiah yang Kepalang Tanggung

Kita Terlalu Mabuk Politik

Kita sudah muak merasakan perdebatan nir-substansi di ruang publik kita yang semakin sesak dengan narasi dan pembicaraan dari permasalahan politik. Kita semakin kesini dihadapkan...

Gempa Lombok : Panggung Politik Digital

Bencana Gempa Bumi yang melumpuhkan Pulau Lombok dibuat oleh politisi sebagai bedak dan gincu. Sejak gempa mengguncang yang tertanggal 05 Agustus 2018 yang berkekuatan...

Jacinda Ardern: Tokoh Kosmopolitan dan Figur Pemimpin Milenial

Setelah tragedi Christchurch yang menjadi hari terkelam di Selandia Baru, Jacinda Ardern tampil menjadi sosok pemimpin yang fenomenal di dunia. Tentang dirinya, seorang politisi...

Shadow Teacher: Pahlawan yang Masih dalam Bayangan

Beberapa manusia lahir didunia dengan kemampuan yang khusus. Mereka kerap disebut dengan Children with Special Needs (CSN) atau di Indonesia lebih umum disebut Anak...
Rizka Nur Laily Muallifa
Pembaca tak tabah. Dalam masa riang pasca menerbitkan buku puisi bersama beberapa kawan. Buku itu Menghidupi Kematian. Pamrih di @bacaanbiasa

Pemilihan judul film dengan lema bahasa asing sudah lebih dulu menunjukkan mula kegagalan. Film komersil Indonesia gemar berjudul asing dan membiarkan dirinya tertuduh sekadar memanjakan selera publik.

Pokoknya semata-mata perkara urusan pasar. Film dengan judul bahasa asing bermaksud nampak keren guna punya legitimasi menyihir minat lebih banyak penonton. Segenap tim produksi film perlu agak tak memikirkan kesesuaian antara pilihan bahasa pada judul dengan narasi cerita yang hendak disampaikan oleh film.

Pengalihbahasaan judul film dengan bahasa asing barangkali cukup berterima apabila film berdaulat turut dalam festival-festival film internasional. Misalnya The Seen and Unseen (Kamila Andini: 2017), Marlina The  Murderer in Four Acts (Mouly Surya: 2017), dan sebagainya.

The Gift (2018) tak lain ialah film besutan sutradara produktif Hanung Bramatyo. Judul film berbahasa inggris sudah menjadi mula kegagalan. Judul gagal mengantar penonton kepada apa yang hendak disampaikan oleh film.

The Gift banjir komentar positif kala calon penonton mengusap naik-turun layar gawainya di menu media sosial instagram @thegiftmovieid. Calon penonton nekad berbekal uang saku jatah makan selama sisa ramadan di indekos guna mengimani ibadah menonton film. Calon penonton kadung membawa segenap harapan bakal tak kecewa di gedung dingin bioskop.

Sudah duduk di kursi empuk gedung bioskop, calon penonton mengingat komentar Zaskia Adya Mecca, aktris sekaligus istri sang sutradara. The Gift baginya ialah film Hanung yang paling jujur setelah sekian lama berkubang pada narasi-narasi film macam Ayat-ayat Cinta (2008) dan beragam film tentang tokoh.

Zaskia tak sepenuhnya keliru. Melalui The Gift, Hanung berhasil menyodori mata penonton dengan gambar sinematografi yang apik. Percobaan-percobaan pengambilan gambar nampak di sepanjang film, meski kemudian ini agak terganggu dengan pilihan tempat yang kepalang indah seperti Kaliurang dan Parangtritis di Yogyakarta dan juga Italia.

Pembingkaian tempat-tempat indah memang bermata dua. Secara teknis mampu menghasilkan gambar yang sinematik, dus sangat berpotensi menenggelamkan narasi dalam film. Hasilnya, penonton sekadar terpukau oleh hal ihwal teknik sinematik film. Bukan esensi film.

Narasi yang Tak Rampung

Berkisah soal asmara segitiga antara Harun, Tiana, dan Arie, film lebih banyak klise dan hampir jatuh pada narasi romantisme ala sinetron teve. Harun yang diperankan aktor serba bisa Reza Rahardian ialah seorang tunanetra dan penyandang disabilitas yang tempramental dan tertutup.

Ayushita Nugraha, aktris yang baru pertamakali beradu akting sebagai pemeran utama dengan Reza dalam film ini berperan sebagai Tiana. Seorang novelis bermasalalu kelam sebab ragam pertengkaran antara ayah dan ibunya semasa ia kecil. Romansa bermula saat Tiana memutuskan tinggal di indekos milik Harun dalam proyek penyelesaian penulisan novel terbarunya. Harun berangsur jadi seorang yang terbuka dan ceria. Ia lantas jatuh cinta pada Tiana, begitupun sebaliknya.

Sosok Arie yang diperankan Dion Wiyoko muncul di pertengahan film dengan membawa ambisinya melamar Tiana yang masih sendirian tepat di angka umur yang ke tigapuluh. Kemunculan Arie dengan narasi demikian agak mengejutkan sebab sebelumnya penonton tak mendapati perkenalan sosok Ari dengan agak berarti.

Perkenalan sosok Ari yang berpengaruh besar dalam film kalah bising dengan narasi munculnya teman-teman imajiner Tiana, yang justru tak perlu-perlu amat. Penggambaran Bona, teman imajiner Tiana yang tak berubah fisik semenjak ia kecil sampai dewasa menjadi penggalan narasi yang sungguh janggal.

Munculnya Christine Hakim yang jamak dikenal sebagai aktris bertalenta juga tak berhasil menyelamatkan narasi yang diusung The Gift. Adalah sangat disayangkan, kehadiran Reza Rahardian, Ayushita Nugraha, dan Dion Wiyoko yang tak perlu diperdebatkan lagi aktingnya dalam dunia perfilman sekadar sebagai aktor-aktris kepalang tanggung dalam film berdurasi 116 menit tersebut. Apalagi menjadi Harun dalam film The Gift disebut-sebut sebagai debut terakhir Reza dalam layar putih perfilman sepanjang tahun 2018.

Tak Lekas Kecewa

Harapan yang keterlaluan terhadap sebuah karya film sejatinya menjadi masalah penonton. Penonton akan gagal menangkap dengan baik letupan-letupan yang mungkin muncul sepanjang film sebab telanjur berselimut harapannya sendiri.

Maka, tugas para sineas ialah membungkam kemungkinan kekecewaan penonton dengan menggali sedalam mungkin karya filmnya. Saya kira ini terus menjadi konsen lebih banyak sineas yang lurus di jalur film non-komersil. Rumah-rumah produksi film getol menaungi para sineas menggarap film-film dengan narasi matang yang berambisi menyehatkan iklim perfilman di Indonesia. Kita boleh menyebut di antaranya Bosan Berisik Lab, Fourcolours Films, Buttonijo, dan lain sebagainya.

Penonton film The Gift juga tak selaiknya terlalu kecewa sebab gagal menyandingkan ekspektasi dengan pengalaman nyata menonton film tersebut. Sebagai penonton, kita masih bisa berharap banyak pada sutradara sekaliber Hanung Bramantyo.

Termasuk yang sedang ramai diperbincangkan di jagad maya ialah film yang sedang digarap Hanung dari narasi besar – novelis telanjur beken sepanjang masa– Pramoedya Ananta Toer: Bumi Manusia. Penonton kembali menyemat harap bahwa film Bumi Manusia tak mencederai para pemabuk film macam dirinya yang kebetulan telah rampung membaca novel Bumi Manusia di masa-masa penuh gairah. Semoga penonton tak perlu kecewa (lagi). Tsah!

Rizka Nur Laily Muallifa
Pembaca tak tabah. Dalam masa riang pasca menerbitkan buku puisi bersama beberapa kawan. Buku itu Menghidupi Kematian. Pamrih di @bacaanbiasa
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kita Lengah Karena Syariatisasi Ternyata Masih Berjalan

Kebijakan Bupati Gowa yang akan memecat ASN (Aparatus Sipil Negara) yang bekerja di lingkungannya yang buta aksara al-Qur’an membuat kita sadar jika syariatisasi di...

Sepak Bola, Cara Gus Dur Menyederhanakan Politik

Tahun 1998 adalah masa pertama penulis mulai gemar menonton sepak bola. Kala itu, bersamaan dengan momentum Piala Dunia (World Cup) di Prancis. Ketika opening...

Pers Masa Pergerakan: Sinar Djawa dan Sinar Hindia

Surat kabar Bumiputera pertama adalah Soenda Berita yang didirikan oleh R.M Tirtoadisuryo tahun 1903. Namun, surat kabar ini tak bertahan lama. Pada 1905-1906, Soenda...

Hukum Adat, Kewajiban atau Hak?

Mengenai definisi hukum adat dan proporsi hak dan kewajiban dalam hukum adat, Daud Ali dalam Buku Hukum Islam: Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum...

Tulisan Muhidin M Dahlan Soal Minang itu Tidak Lucu Sama Sekali

Sejak kanak-kanak sampai menjelang dewasa, saya sangat dekat dengan nenek. Sementara ibu dan bapak yang bekerja sebagi pegawai negeri sudah berangkat kerja setiap pagi....

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.