Kamis, Maret 4, 2021

Film Kim Ji Young, Born 1982 dan Kultur Patriarki

Merajut Persatuan Pasca Dualisme Demokrasi

Menjelang akhir masa perhitungan suara pemilu 2019, masyarakat Indonesia sebenarnya sedang tidak dalam kondisi terbaiknya. Khusus untuk saat ini suhu politik Indonesia bagaikan air...

Penanggulangan Bencana Lintas Wilayah Administrasi, Mungkinkah?

Bencana alam yang disebabkan oleh faktor cuaca, iklim dan geologis  seperti hujan,   kekeringan, atau  gempa bumi  kerap tidak bisa dicegah. Tindakan terbaik yang...

Robert Morey dan Orientalisme yang Melapuk

Orientalisme adalah satu diskursus ketimuran, yang bercokol pada kajian-kajian Barat dalam menginterpretasikan khazanah Timur—khususnya Islam. Pada kajian ini Islam dipandangan dalam objektifikasi Barat, namun...

Denny Siregar Benar, Jokowi Bukan Soeharto

Denny Siregar kesal. Saat ini ada yang terang-terangan menyatakan Jokowi sama saja dengan Soeharto. Mengingat ketidaksanggupannya dalam membedakan antara sipil dan militer dalam konsepsi...
Emi Widayah
Mahasiswi Fakultas Ekonomi, Pemimpin Redaksi Lembaga Pers Mahasiswa Menteng

Kim Ji Young, Born 1982, film asal Korea Selatan besutan sutradara Kim Do Young yang dirilis pada tanggal 20 November 2019 itu sempat menuai pro dan kontra terutama pada tempat asalnya, Korea Selatan.

Bahkan sempat ada seruan memboikot film tersebut karena tema yang menyinggung tentang feminisme yang diusung dalam film Kim Ji Young, Born 1982 masih dianggap sebagai sesuatu yang tabu oleh masyarakat Korea Selatan.

Kim Ji Young, Born 1982 sendiri bercerita tentang kisah seorang perempuan bernama Kim Ji Young yang hidup dalam kultur patriarki sejak ia kecil, disubordinasi oleh Ayahnya sendiri hanya karena dia terlahir sebagai seorang perempuan.

Ia mendapatkan pelecehan pada masa remajanya, dan hidup dalam tekanan ketika telah berumah tangga karena mertuanya adalah penganut nilai tradisional patriarki yang mempercayai bahwa peran perempuan dalam kehidupan berumah tangga adalah mengabdi, melayani, dan memasrahkan segenap jiwa raganya untuk keluarga dan suaminya. Dengan nilai seperti itu, tidak akan ada cukup kebebasan bagi perempuan dalam menentukan pilihannya karena mitos pengabdian yang disupremasi.

Kisah Kim Ji Young sebenarnya adalah representasi sempurna dari kisah-kisah perempuan di Indonesia, dimana perempuan Indonesia masih sering terjerat dalam situasi yang membuat dirinya kehilangan haknya sebagai manusia seutuhnya ketika telah berumah tangga.

Kultur masyarakat Indonesia yang masih mempercayai keharusan pengabdian seorang istri kepada suami dan keluarga, juga dengan adanya dogma bahwa perempuan yang baik ketika telah berumah tangga adalah perempuan yang mau mendedikasikan seluruh waktunya untuk mengurus keperluan rumah tangga.

Atau dengan kata lain, perempuan yang baik adalah perempuan yang mau melepas kariernya dan berfokus pada urusan rumah tangga, membuat perempuan akhirnya terkunci dalam jeruji isolasi dogma yang kebenarannya masih bisa dibantahkan (apabila memiliki kesadaran yang cukup untuk melakukannya).

Dogma semacam itu membuat perempuan secara langsung dan tidak langsung kehilangan kedaulatannya, hak-hak perempuan sebagai manusia merdeka seolah dilucuti oleh keharusan peran yang dibentuk oleh konstruksi sosial yang patriarkal, dan ironisnya lagi, kehilangan kedaulatan ini justru dilegitimasi oleh doktrinasi yang memaksa perempuan tunduk pada keharusan dan bayang-bayang pengabdian, tunduk pada status-quo yang sudah langgeng sejak ribuan tahun kebelakang.

Dalam film Kim Ji Young Born 1982, Kim Ji Young sebagai tokoh utama merasakan berbagai dilema dan konflik batin mengenai perannya sebagai ibu rumah tangga, dimana di satu sisi dia masih ingin melanjutkan pekerjaan dan kariernya, namun di sisi lain dia terjebak dalam kerangka dogma tentang prioritas utama seorang perempuan setelah menikah adalah mengurus suami, anak, dan rumah tangga.

Dilema seperti yang dialami oleh Kim Ji Young, tentu juga banyak dirasakan oleh perempuan-perempuan di Indonesia. Banyak perempuan-perempuan yang pada akhirnya memilih untuk melepas kariernya ketika tengah berada di puncak kegemilangan demi mengabdikan diri sebagai ibu rumah tangga sekalipun nalurinya seringkali memberontak.

Naluri pemberontakan itu timbul bukan tanpa sebab karena sejatinya, manusia selalu memiliki tendensi untuk terus mengaktualisasikan dirinya, hal itu sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Abraham Maslow dimana aktualisasi diri menempati urutan pertama dalam konsepsi hierarki kebutuhan dasar manusia.

Keinginan perempuan untuk terus mengaktualisasikan dirinya lewat jalan karir dan pekerjaan pada akhirnya seringkali dikompromikan dan dikesampingkan karena keinginan tersebut merupakan antitesa dari nilai-nilai bentukan sistem Patriarki, dan nilai-nilai bentukan Patriarki itu masih menjadi nilai yang diwajarkan bahkan dikultuskan hingga era modern seperti dewasa ini.

Mengatasi Patriarki

Kultur Patriarki yang terkadang masih mendominasi  kehidupan rumah tangga beberapa masyarakat Indonesia atau bahkan dunia, sebenarnya bisa diatasi apabila masing-masing individu yang terikat dalam legalitas pernikahan memiliki kesadaran tentang pentingnya penghargaan atas hak masing-masing individu sebagai manusia yang merdeka.

Kesadaran tentang pentingnya penghargaan atas hak-hak individu dan kemampuan untuk melepaskan paradigma dari status dan peran yang harus diemban atas dasar gender, dapat memunculkan kehidupan rumah tangga yang lebih demokratis dan jauh dari praktik diskriminatif.

Kesadaran-kesadaran itu dapat diwujudkan dengan adanya pembagian tugas yang setara dalam rumah tangga, misalnya tugas mengurus anak dan urusan rumah tidak hanya dibebankan kepada perempuan, kemudian kesadaran lain bahwa pilihan terbaik bukanlah pilihan yang dibentuk oleh konstruksi sosial yang patriarkal melainkan pilihan yang lahir atas dasar kesadaran dan keinginan yang jauh dari intervensi yang dapat memarjinalkan kedaulatan, juga dapat menjadi alternatif lain dalam upaya penghargaan atas hak masing-masing individu.

Dari film Kim Ji Young Born 1982, selain dapat melihat representasi dari kultur patriarki yang sarat pemarjinalan, juga dapat dipetik pelajaran bahwasanya patriarki yang sudah langgeng sedari dulu bukanlah nilai yang baik untuk diaplikasikan, bukanlah nilai yang pantas untuk dilanggengkan karena subordinasi, penindasan dan segala kejahatan atas dasar gender seharusnya menjadi musuh bersama seluruh umat manusia yang menjujung tinggi prinsip-prinsip pembebasan, kesetaraan dan kemerdekaan.

Emi Widayah
Mahasiswi Fakultas Ekonomi, Pemimpin Redaksi Lembaga Pers Mahasiswa Menteng
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Tanah dan Transmigrasi

Peliknya urusan pertanahan dipadukan dengan samarnya transmigrasi di Indonesia menjadikan perpaduan masalah yang sulit diurai. Pasalnya permasalahan terkait tanah bukan sekedar konflik kepemilikan dan...

Idealisme Mati Sejak Mahasiswa, Apa Jadinya Bangsa?

Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! Tampaknya sudah sangat sering mahasiswa mendengar slogan perjuangan tersebut. Apalagi mahasiswa dengan cap "organisatoris" dan "aktivis". Organisatoris dan aktivis adalah...

Demitologisasi SO 1 Maret

Menarik bahwa ada kesaksian dari Prof. George Kahin tentang SO 1 Maret 1949. Menurutnya, SO 1 Maret bukanlah serangan balasan pertama dan terbesar dari...

Polwan Yuni Purwanti yang Terjebak Mafia Narkoba

Publik terkejut. Jagad maya pun ribut. Ini gegara Kapolsek Astana Anyar, Kota Bandung, Kompol Yuni Purwanti Kusuma Dewi terciduk tim reserse antinarkoba Polda Jabar....

Stop Provokasi, Pelegalan Miras? Mbahmu!

Lampiran Perpres yang memuat izin investasi miras di daerah tertentu, baru saja dicabut oleh Presiden. Ini disebabkan karena banyak pihak merasa keberatan. Daripada ribut...

ARTIKEL TERPOPULER

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.