OUR NETWORK

Fiksi dan Argumentasi Politis Gerung

Fiksi itu tidak terikat dengan ruang dan waktu karena pengarang tidak memperhatikan aspek realitas dan sejarahnya yang berarti bebas, sedangkan teks kitab suci terikat oleh ruang dan waktu serta tidak bebas karena ada panduan-panduan yang harus dilalui yang merupakan kalam ilahi yang sama sekali tidak bisa diperumpamakan dengan karya manusia.

Indonesia kembali geger dengan pernyataan Rocky Gerung. Dalam sebuah acara talkshow yang diselenggarakan oleh salah satu stasiun televisi swasta (10/4/2018) malam hari. Rocky Gerung menyatakan bahwa kitab suci itu adalah fikisi dengan mengacu kepada fungsi fiksi yang mengaktifkan imajinasi. Tentu ini merupakan pernyataan kontroversi yang akan menyinggung keyakinan fundamental umat beragama, karena kalimat kitab suci adalah kalimat yang universal dan tidak bermakna tunggal.

Dalam hitungan jam, sontak masyarakat pun ramai berbondong-bondong dalam merespon statmen Rocky. Namun, ada hal yang berbeda dalam kasus Rocky ini, kelompok yang biasanya melaporkan perkara yang diduga menista agama (Kelompok Bela Islam) dalam kasus ini memilih diam dan santai tidak seperti biasanya beringas dan tanpa ampun.

Rocky yang menyebut bahwa kitab suci adalah fiksi dalam perspektif logikanya sebenarnya sedang memainkan nalar logika filsafat ala materialisme dan permainan kata-kata saja, karena merujuk kepada pengertian fiksi menurut KBBI adalah cerita rekaan (roman, novel, dsb), rekaan; khayalan; tidak berdasarkan kenyataan, pernyataan yang hanya berdasarkan khayalan atau fikiran. Beberapa ahli menerjamahan kata fiksi, sebagai berikut:

  • Krismarsanti; Fiksi adalah karang yang berisi kisah atau cerita yang dibuat berdasarkan khayalan dan imajinasi pengarang.
  • Thani Ahmad; Fiksi adalah cerita naratif yang timbul dari imajinasi pengarang dan tidak memperdulikan fakta sejarah.
  • Semi; Fiksi adalah narasi literler dan berupa cerita rekaan pengarang tanpa memperdulikan realitasnya.

Dari beberapa pengertian di atas bisa disimpulkan bahwa fiksi adalah karya yang diciptakan oleh pengarang (manusia) tanpa memperhatikan realitas. Yang kita yakini bahwa kitab suci tidak dikarang oleh manusia, melainkan oleh tuhan yang menciptakan segala macam realitas dan terbebas dari sifat-sifat kefanaan makhluk.

Dalam kasus ini Rocky hanya memahami spektrum terminologi fiksi untuk disematkan terhadap kitab suci dari sudut pandang yang sempit. Bagi penulis bahwa fiksi merupakan satu hal yang tidak memiliki entitas dan hanya ruang hampa perandaian semata, sedangkan kitab suci (khususnya Al-Qur’an karena penulis seorang muslim) tidak demikian adanya.

Dengan argumentasi bahwa kitab suci adalah fiksi, Rocky sudah mereduksi pemahaman umat beragama tentang kitab suci secara universal. Padahal dalam teks-teks kitab suci (khususnya Al-Qur’an) hampir seluruhnya adalah realitas kehidupan manusia.

Hanya pada beberapa teks saja dalam Al-Qur’an yang memang kita temukan beberapa ayat yang tidak bisa dijangkau dengan nalar seperti eskatologi, mungkin hal ini yang dimaksud Rocky sebagai hal yang fiksi kalau mengacu kepada pengertian fiksi menurut pengertian Rocky.

Tetapi ini juga bisa dibantah andai kita melihat pengertian kata fiksi dalam seperti yang sudah penulis kutip. Argumentasi Rocky yang menganggap kitab suci sebagai sebuah fiksi terkhusus dalam persoalan eskatologi hanya berbasis perjalanan pribadi, tanpa memperhatikan keterangan dan perjalanan yang pernah dirasakan oleh orang lain.

Karena pada dasarnya eskatologi yang dijelaskan dalam kitab suci tetap menjadi sebuah realitas yang pasti akan terjadi dalam keyakinan umat beragama dan itu memiliki entitas yang jelas sebagaimana contoh yang digambarkan dalam Al-Qur’an tentang surga, neraka, jin dan bagaimana perhitungan hari akhir.

Begitupun penulis meyakini bahwa dalam agama lain juga sama. Selain itu, dalam beberapa kasus kita kerapkali menemukan manusia yang mati suri dan kembali hidup untuk menceritakan perjalanannya selama mati surinya dialam yang eskaton.

Selain itu, kitab suci terikat dengan sebuah keyakinan seseorang beragama, kecuali mereka yang menisbatkan diri sebagai seorang yang tidak beragama (Atheis) atau bahkan tak bertuhan (Anti Theis). Manusia yang beriman telah menjadikan kitab suci sebagai sebuah keniscayaan dan sebuah realitas bukan fiksi.

Fiksi itu tidak terikat dengan ruang dan waktu karena pengarang tidak memperhatikan aspek realitas dan sejarahnya yang berarti bebas, sedangkan teks kitab suci terikat oleh ruang dan waktu serta tidak bebas karena ada panduan-panduan yang harus dilalui yang merupakan kalam ilahi yang sama sekali tidak bisa diperumpamakan dengan karya manusia. Sehingga andai Rocky menyamakan kitab suci dengan karya sastra lain, ini merupakan pemikiran yang destruktif terhadap keyakinan umat beragama karena mempersamakan karya tuhan dengan karya manusia.

Kemudian fiktif, mengacu dalam pengertian KBBI bahwa fiktif adalah bersifat fiksi. Fiktif merupakan hasil daripada buah fikir fiksi. dalam struktur bahsa fiksi adalah nomina dan fiktif adalah adjektif. Dengan menyebut bahwa fiksi berbeda dari fiktif dalam konotasinya, Rocky sudah terjebak dalam struktur bahasa sekarep dewek.

Fiktif itu bisa bersifat baik atau buruk tergantung karya yang disuguhkannya yang berupa fiksi. Jadi semua karya fiksi sudah pasti fiktif sifatnya dan andaikan Rocky mengasumsikan bahwa fiktif adalah hal yang buruk, maka dia juga telah membantah logikanya mengenai terminology fiksi.

Mungkin ini tidak akan menjadi persoalan saat hal tersebut merupakan keyakinan Rocky secara pribadi dan tidak disampaikan secara terbuka dalam forum yang ditonton oleh ribuan pasang mata. Setidaknya ada tiga hal yang ini menjadi persoalan dalam argumentasi Rocky.

Pertama, sebagai seorang yang beragama dia telah meniadakan the power of god yang saya percaya itu diyakini oleh semua umat beragama saat dia menganggap kitab suci sebagai sebuah fiksi. Secara subtansi dia telah menyamakan karya manusia dan tuhan. Kedua argumentasi ini disampaikan dalam forum terbuka yang ditonton oleh ribuan bahkan jutaan orang.

Kemudian sebagai tokoh akademisi dia juga tidak memperhatikan kondisi keberagaman Indonesia yang hari demi hari kian memprihatinkan karena masalah-masalah yang sama persis dengan argumentasi yang dia sampaikan. Ketiga, bahwa pembicaraan Rocky mengenai kitab suci fiksi adalah bumbu argumentasi dia yang sarat akan nilai politis.

Karena dalam forum tersebut adalah forum politis yang mempertemukan kubu presiden Jokowi dan Pak Prabowo. Pertanyaannya adalah dimanakah posisi Rocky berpihak? Tanpa penulis jawab para pembaca sudah tahu siapa Rocky Gerung dan kemana arah afiliasi politiknya.

Secara disadarai atau tidak dalam argumentasinya yang menyeret kitab suci, Rocky tengah memperjuangkan salah satu identitas politik dalam forum ini. Jelas dengan dia menyebut bahwa Presiden Jokowi mengalami gangguan psikis saat berpidato dan membantah argumentasi Pak Prabowo yang menyebutkan bahwa Indonesia akan bubar tahun 2030 yang bersumber dari salah satu Novel Fiksi yang berjudul Ghost Fleet: A Novel of the Next World War ditulis oleh PW Singer and August Cole.

Selain itu, kita tahu kemana arah Rocky saat dia berapi-api dalam menyampaikan argumentasinya tentang fiksinya kitab suci dan saat menyebut Presiden Jokowi mengalami gangguan psikis dibarengi dengan tawa sang Fadli Zon. Tabik!

*Penulis adalah Kader Muda NU

Jai Guru Deva Kader Muda NU

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…