Sabtu, Januari 16, 2021

Fidel Castro dan Internasionalisme-Sosialis Kuba

Apa Itu Gastro Diplomasi?

Kuliner, dalam dunia pariwisata mungkin bukan lagi menjadi suatu yang asing. Bahkan, kuliner telah menjadi media diplomasi untuk  memikat para wisatawan lokal ataupun asing...

Dibalik Riuh Final Liga Champion, Pemecah Belah Bangsa?

Sisa-sisa dari superioritas final liga champion nampak tidak bisa disapu bersih begitu saja dari ingatan kolektif kita. Bukan menyoal girasnya perilaku Sergio Ramos terhadap...

Menjaga Marwah Penyelenggara Pemilu

Belum lama ini, kasus operasi tangkap tangan (OTT) oleh Satgas Anti Politik Uang Mabes Polri bersama jajaran Polda Jawa Barat dan Polres Garut terhadap...

Infomalisasi Tenaga Kerja di Era Digital

Perkembangan ekonomi digital saat ini mengalami kemajuan yang pesat. Hampir seluruh sektor bisnis dituntut untuk mengikuti tren digital yang saat ini berkembang, diantaranya melalui...
M. Fatah Mustaqim
Sehari-hari menulis dan bekerja mengurusi peternakan. Pernah belajar di FISIPOL UGM, juga pernah bergiat sebagai sukarelawan partikelir di WALHI Yogyakarta dan di komunitas kepenulisan Omah Aksara Yogyakarta.

Revolusi Kuba mampu bertahan lama dan tetap relevan karena salah satunya bertumpu pada kekuatan moral dan solidaritas kemanusiaan. Fidel Castro (1926-2016) pernah berujar bahwa Kuba tidak pernah menjatuhkan bom kepada negara lain (tentu ia menunjuk hidung Amerika) melainkan mengirim ribuan dokter dan tenaga medis ke berbagai penjuru dunia menjalankan misi kemanusiaan.

Fidel menggalang solidaritas internasional sebagai bentuk soft-politics melalui misi kemanusiaan internasional. Negara Kuba yang kecil menjadi begitu dihormati karena menginspirasi negara-negara di dunia dengan misi kemanusiaannya melalui penggalangan solidaritas medis dan dukungan terhadap revolusi sosialis dan perlawanan negara-negara dunia ketiga yang tertindas imperialisme.

Kuba mempelopori bantuan kemanusiaan terutama kepada negara-negara dunia ketiga. Mengirim puluhan ribu relawan medis ke penjuru dunia termasuk Indonesia saat gempa bumi melanda Bantul pada 2006. Fidel pernah mengungkapkan bahwa potensi manusia jauh lebih penting daripada modal finansial.

Oleh karena itu Fidel memperkuat Revolusi Kuba dengan membangun akses layanan kesehatan dan pendidikan seluas-luasnya. Kuba adalah salah satu negara dengan jumlah prosentase lulusan dokter terbanyak di dunia. WHO menyebut Kuba sebagai negara dengan proporsi pelayanan dokter terbaik perkapita di dunia.

Kuba juga merupakan salah satu negara dengan angka kematian ibu dan bayi yang sangat rendah. Kesehatan dan pendidikan menjadi prioritas utama Kuba sesuai dengan keyakinan Fidel untuk membangun kualitas manusia. Layanan kesehatan dan pendidikan gratis di Kuba tetap dilaksanakan meskipun negara itu seringkali mengalami kesulitan ekonomi akibat embargo Amerika.

Meskipun kehidupan ekonomi rakyat Kuba sangat sederhana (bahkan seringkali mendekati kekurangan) namun menurut CNN Travel, rakyat Kuba termasuk ke dalam kategori bahagia. Menurut CNN, Kuba menempati urutan ke-12 sebagai negara paling bahagia di dunia. Pada 2012 kantor berita itu merilis bahwa jalanan di kota-kota besar Kuba penuh dengan kehidupan. Disana mudah sekali menemukan orang menari, memainkan musik, dan menjual makanan enak dengan bebas di ruang-ruang publik.

Fidel Castro, Kontroversi dan Legasi

Pada masa awal revolusi Kuba, di tengah kecamuk perang dingin, tidaklah mungkin bagi pemimpin Kuba, Fidel Castro, mempertahankan eksistensi revolusi tanpa bersiasat secara politis.  Ia tidak punya pilihan selain bergabung pada salah satu negara kuat: Uni Soviet. Di tengah persoalan itu, Fidel bertindak menurut rasionalitas politiknya. Tentu ia banyak menerima cemoohan. Terlebih lagi ia terpaksa menyingkirkan sahabat karibnya sendiri, Che Guevara, dari pemerintahan atas perintah Moscow.

Sebagai simbol revolusi Kuba sekaligus politisi, Fidel dihadapkan pada persoalan pelik. Sebagai sekutu politik, Fidel mengizinkan Soviet menempatkan misil dan rudalnya di Kuba.  Tentu ini menjadi ancaman serius bagi Amerika mengingat jarak antara Kuba dan Amerika kurang dari 200 km.

Fidel telah menempatkan Kuba sebagai medan utama perang dingin antara dua negara raksasa. Bahkan nyaris memicu pecahnya perang nuklir yang mengancam perdamaian dunia. Kebijakan politik luar negeri Fidel itu dianggap kontradiktif dengan langkahnya mendukung gerakan NonBlok. Banyak yang mengatakan tindakan Fidel itu inkonsisten dan mengkhianati cita-cita Revolusi Kuba. Namun tindakan Fidel itu mudah dipahami mengingat ia adalah seorang politisi yang dipaksa mengambil siasat pragmatis demi mempertahankan eksistensi Revolusi Kuba itu sendiri. Mengingat saat itu usia Revolusi Kuba masih sangat muda.

Fidel pernah berujar Kecam, kutuk saya. Itu tidaklah penting karena sejarah akan membebaskan saya.” Pada akhirnya memang sejarah membuktikan bahwa Fidel adalah seorang revolusioner yang tetap konsisten hingga akhir hidupnya. Terlepas dari berbagai kekurangan dan kelebihannya sebagai seorang politisi yang telah mengambil keputusan di masa-masa sulit.

Namun Fidel diakui oleh kawan maupun lawannya sebagai pemimpin yang penuh perhitungan. Legasi yang telah ia tinggalkan sangatlah besar artinya untuk perdamaian dunia.  Ia telah menginspirasi revolusi sosialis ke penjuru dunia.

Kuba telah menginspirasi Revolusi Sandinista di Nikaragua, mendukung penuh revolusi kaum sosialis di bawah Salvador Allende di Chile, mendukung perjuangan rakyat Vietnam melawan agresi Amerika, mengirim bantuan untuk membantu perjuangan Nelson Mandela di Afrika Selatan serta mendukung penuh perjuangan rakyat Palestina melawan aneksasi Israel.

Fidel juga telah mengirim bantuan kemanusiaan tanpa sorot kamera, tanpa memandang identitas agama dan budaya. Hidupnya telah menyejarah, menyatu dalam sejarah rakyat, negara dan bangsanya.

Di akhir hidupnya, Fidel tidak menginginkan pengkultusan dirinya. Fidel bahkan tidak pernah menyebut dirinya sebagai presiden atau pemimpin revolusi meskipun dirinya selama puluhan tahun telah memimpin rakyat Kuba. Baginya yang berkuasa atas revolusi adalah rakyat Kuba. Rasanya memang tidak berlebihan ketika media barat yang selalu menuduhnya seorang diktator kejam itu mengakui bahwa Kuba adalah Fidel dan Fidel adalah Kuba.

M. Fatah Mustaqim
Sehari-hari menulis dan bekerja mengurusi peternakan. Pernah belajar di FISIPOL UGM, juga pernah bergiat sebagai sukarelawan partikelir di WALHI Yogyakarta dan di komunitas kepenulisan Omah Aksara Yogyakarta.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Fisika dan Kemajuan Teknologi Bidang Transportasi

Era globalisasi telah mengubah kehidupan manusia di muka bumi ini akibat dari Revolusi Industri 4.0 yang ditandai dengan penemuan internet pada akhir–akhir Revolusi Industri...

Menilik Proses Pembentukan Hukum Adat

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dikaruniai Tuhan Yang Maha Kuasa kekayaan yang begitu melimpah di segala bidang. Segala jenis tumbuhan maupun binatang...

Milenial Menjawab Tantangan Wajah Baru Jatim

Tahun berganti arah berubah harapan baru muncul. Awal tahun masehi ke-2021 terlihat penuh tantangan berkelanjutan bagi Jawa Timur setelah setahun penuh berhadapan dengan Covid-19...

Menghidupkan Kembali Pak AR Fachruddin

Buku Pak AR dan jejak-jejak bijaknya merupakan buku biografi yang ditulis oleh Haidar Musyafa. Buku ini dicetak pertama kali pada bulan April 2020 dengan...

Menata Kinerja Buzzer yang Produktif

  Buzzer selalu hadir membingkai perdebatan carut-marut di ruang media sosial atau paltform digital lainnya. Seperti di twitter, facebook, instagram, dan media lainnya. Buzzer memiliki...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bagaimana Menjadi Muslim Moderat

Pada tahun 2017 saya pernah mengikuti Halaqah Ulama ASEAN yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Kampanye yang digaungkan Kemenag masih seputar moderasi beragama. Dalam sebuah diskusi...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda”

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda” Oleh Ali Romdhoni   “…’Dari Sabang sampai Merauke’, empat perkataan ini bukanlah sekedar satu...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.