OUR NETWORK

Feodalisme dalam Perjodohan

Feodalisme menjadi sebab mengapa perjodohan seringkali terjadi dalam masyarakat Indonesia.

Pernikahan terindah pada dasarnya terjadi jika kita menikahi orang yang kita cintai. Tak ada satu pun orang yang ingin menikah dengan orang dia tidak cintai. Tapi terkadang dalam urusan menikah pun, intervensi dari pihak luar menjadi salah satu sebab seseorang itu menikah. Perjodohan adalah salah satu alasan mengapa dalam urusan privat semacam pernikahan, pihak luar seringkali ikut campur untuk itu.

Perjodohan adalah satu tradisi dalam masyarakat Indonesia. Perjodohan biasanya berkaitan dengan tahta dan harta. Feodalisme menjadi sebab mengapa perjodohan seringkali terjadi dalam masyarakat Indonesia. Feodalisme adalah sistem sosial yang mengagung-agungkan jabatan atau pangkat dan bukan mengagung-agungkan prestasi kerja

Kisah-kisah novel terkenal sudah cukup banyak menulis tentang perjodohan yang selalu berkaitan erat dengan sistem feodalisme. Salah satu yang cukup terkenal adalah Novel Gadis Pantai karya Pramoedia Ananta Tour, atau yang sangat terkenal adalah kisah Siti Nurbaya dan Datuk Maringgih.

Tapi cerita perjodohan bukan hanya hidup dalam dunia fiksi, dalam banyak kisah nyata, perjodohan seringkali melahirkan kisah unik, entah itu membahagiakan atau bahkan menyedihkah. Para pendiri bangsa termasuk manusia yang tak dapat lepas dari masalah perjodohan. Setidaknya ada 2 tokoh besar yang merasakan pahir getirnya perjodohan, mereka adalah Tan Malaka dan Raden Ajeng Kartini.

Tokoh pertama yaitu Tan Malaka adalah salah satu tokoh besar yang menjadi korban “cinta” dari tradisi perjodohan. Bukan sebagai tokoh yang dijodohkan, tapi menjadi korban tradisi itu. Kegagalan mendapatkan Syarifah Nawawi, gadis teman sekelas saat belajar adalah karena adanya perjodohan Syarifah Nawawi dengan Bupati Cianjur RAA Wiranatakusumah yang telah beristri dua.

Tradisi feodal yang masih kuat pada zaman itu, mungkin menjadi salah penyebab Syarifah Nawawi tidak dapat menolak perjodohan itu. Mungkin juga karena itu, Tan Malaka sangat membenci budaya feodalisme yang ada di masyarakat Sumatera.

Kisah lain dari korban perjodohan adalah kisah Raden Ajeng Kartini. Jika sebelumnya Tan Malaka menjadi korban perjodohan, karena gadis yang dicintainya dijodohkan dengan pejabat pada saat itu. Maka dalam kasus RA Kartini, beliau sendiri yang dijodohkan dengan Bupati Rembang bernama Adipati Djojoadiningrat. Sama seperti Syarifah Nawawi, RA Kartini jugam menjadi istri muda dari sang Bupati.

Kisah perjodohan yang melibatkan 2 tokoh besar tadi terjadi pada medio awal abad 20-an. Kala budaya feodal masih sangat kuat. Pertanyaan untuk kondisi sekarang, apakah budaya feodalmasih ada ? Lalu apakah budaya perjodohan masih hidup?

Jika ada pertanyaan apakah budaya feodal sudah mati? Jawaban untuk pertanyaan tadi adalah masih hidup. Budaya feodal masih hidup, salah satunya dalam dunia politik Indonesia. Hal ini dapat dilihat dalam organisasi partai politik. Pada 10 partai politik yang menguasai DPR, sosok “Raja” dan “Ratu” masih hidup.

Budaya feodal yang masih hidup ini, pada akhirnya melahirkan budaya perjodohan. Siapa yang dapat menyangkal pernikahan “EBY” putra salah ketua partai dengan “SRAR” putri mantan ketua Partai Islam adalah salah satu bukti masih kuatnya budaya feodal mempengaruhi pada masalah privat seperti pernikahan.

Akhir kata, perjodohan adalah anak kandung dari budaya feodal. Jika masih ada perjodohan, maka itu tanda masih ada budaya feodal dalam masyarakat. Jika terjadi pada kita, bagaimana menyikapinya?

Pembelajar Hukum Lingkungan Hidup, Hak Asasi Manusia dan Tata Kelola Negara

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…