Minggu, Januari 24, 2021

Feodalisme dalam Perjodohan

Harga Telur Bikin Masyarakat Babak Belur

Warta harga telur yang terus meroket kini menjadi isu hangat di negeri ini. Ada satu adagium Arab, meski adagium tersebut tak ada kaitan langsung...

Inilah Jenis-Jenis Voters, Kamu yang Mana?

Memilih bukanlah suatu pekerjaan mudah. Pilihan pasangan calon satu mewakili kebebasan memilih, pasangan kedua malah mendukung kuminis, pasangan ketiga sangat agamais (demi Tuhan). Fenomena...

Kapan Umat Agama Mayoritas Kita Selo Seperti di Selandia Baru?

Empat hari pascapenembakan di dua masjid di Kota Christchurch yang menewaskan 49 orang Jumat (15/3/2019) lalu, Pemerintah Selandia Baru menggelar sidang parlemen membahas langkah...

Ketika Selera Tidak Sesuai Salary

Derasnya arus globalisasi membuka celah terhadap digitalisasi. Fenomena ‘serba digital’ diyakini telah melahirkan generasi gadget, sebutan bagi generasi millennials. Generasi milenial atau generasi Y merupakan...
Totoh Wildan
Pembelajar Hukum Lingkungan Hidup, Hak Asasi Manusia dan Tata Kelola Negara

Pernikahan terindah pada dasarnya terjadi jika kita menikahi orang yang kita cintai. Tak ada satu pun orang yang ingin menikah dengan orang dia tidak cintai. Tapi terkadang dalam urusan menikah pun, intervensi dari pihak luar menjadi salah satu sebab seseorang itu menikah. Perjodohan adalah salah satu alasan mengapa dalam urusan privat semacam pernikahan, pihak luar seringkali ikut campur untuk itu.

Perjodohan adalah satu tradisi dalam masyarakat Indonesia. Perjodohan biasanya berkaitan dengan tahta dan harta. Feodalisme menjadi sebab mengapa perjodohan seringkali terjadi dalam masyarakat Indonesia. Feodalisme adalah sistem sosial yang mengagung-agungkan jabatan atau pangkat dan bukan mengagung-agungkan prestasi kerja

Kisah-kisah novel terkenal sudah cukup banyak menulis tentang perjodohan yang selalu berkaitan erat dengan sistem feodalisme. Salah satu yang cukup terkenal adalah Novel Gadis Pantai karya Pramoedia Ananta Tour, atau yang sangat terkenal adalah kisah Siti Nurbaya dan Datuk Maringgih.

Tapi cerita perjodohan bukan hanya hidup dalam dunia fiksi, dalam banyak kisah nyata, perjodohan seringkali melahirkan kisah unik, entah itu membahagiakan atau bahkan menyedihkah. Para pendiri bangsa termasuk manusia yang tak dapat lepas dari masalah perjodohan. Setidaknya ada 2 tokoh besar yang merasakan pahir getirnya perjodohan, mereka adalah Tan Malaka dan Raden Ajeng Kartini.

Tokoh pertama yaitu Tan Malaka adalah salah satu tokoh besar yang menjadi korban “cinta” dari tradisi perjodohan. Bukan sebagai tokoh yang dijodohkan, tapi menjadi korban tradisi itu. Kegagalan mendapatkan Syarifah Nawawi, gadis teman sekelas saat belajar adalah karena adanya perjodohan Syarifah Nawawi dengan Bupati Cianjur RAA Wiranatakusumah yang telah beristri dua.

Tradisi feodal yang masih kuat pada zaman itu, mungkin menjadi salah penyebab Syarifah Nawawi tidak dapat menolak perjodohan itu. Mungkin juga karena itu, Tan Malaka sangat membenci budaya feodalisme yang ada di masyarakat Sumatera.

Kisah lain dari korban perjodohan adalah kisah Raden Ajeng Kartini. Jika sebelumnya Tan Malaka menjadi korban perjodohan, karena gadis yang dicintainya dijodohkan dengan pejabat pada saat itu. Maka dalam kasus RA Kartini, beliau sendiri yang dijodohkan dengan Bupati Rembang bernama Adipati Djojoadiningrat. Sama seperti Syarifah Nawawi, RA Kartini jugam menjadi istri muda dari sang Bupati.

Kisah perjodohan yang melibatkan 2 tokoh besar tadi terjadi pada medio awal abad 20-an. Kala budaya feodal masih sangat kuat. Pertanyaan untuk kondisi sekarang, apakah budaya feodalmasih ada ? Lalu apakah budaya perjodohan masih hidup?

Jika ada pertanyaan apakah budaya feodal sudah mati? Jawaban untuk pertanyaan tadi adalah masih hidup. Budaya feodal masih hidup, salah satunya dalam dunia politik Indonesia. Hal ini dapat dilihat dalam organisasi partai politik. Pada 10 partai politik yang menguasai DPR, sosok “Raja” dan “Ratu” masih hidup.

Budaya feodal yang masih hidup ini, pada akhirnya melahirkan budaya perjodohan. Siapa yang dapat menyangkal pernikahan “EBY” putra salah ketua partai dengan “SRAR” putri mantan ketua Partai Islam adalah salah satu bukti masih kuatnya budaya feodal mempengaruhi pada masalah privat seperti pernikahan.

Akhir kata, perjodohan adalah anak kandung dari budaya feodal. Jika masih ada perjodohan, maka itu tanda masih ada budaya feodal dalam masyarakat. Jika terjadi pada kita, bagaimana menyikapinya?

Totoh Wildan
Pembelajar Hukum Lingkungan Hidup, Hak Asasi Manusia dan Tata Kelola Negara
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

The Social Dilemma: Logika Eksploitatif Media Sosial

Seorang teman baru bebas dari dunia gelap. Mengkonsumsi narkoba menjadi gaya hidupnya. Padalah kehidupannya tak terlalu suram bagi ukuran kelas menengah. Tapi kehidupannya itu...

Upaya Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan

Kasus KDRT khususnya terhadap perempuan masih banyak terdengar di wilayah Indonesia. Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (6/03/20) juga meluncurkan catatan tahunan (CATAHU) yang...

Capitol, Trump, dan Biden

Menjelang pelantikan Joe Biden sebagai Presiden AS, 20 Januari ini (Rabu malam waktu Indonesia), Washington kembali tegang. Penyerbuan gedung Capitol, Washington -- simbol demokrasi...

Pelantikan Joe Biden dan Pembangkangan Trump

Pelajaran Demokrasi untuk Dunia yang Terus Berubah Washington tegang menjelang pelantikan Presiden Joe Biden dan Kemala Harris, 20 Januari 2021. Kondisi ini terbentuk akibat pembangkangan...

Proyeksi OPEC, Konsumsi Migas Dunia akan Meningkat

Senin (18/1) penulis berkesempatan untuk memberikan kuliah umum secara daring dengan adik-adik di Politeknik Akamigas Cepu, Jawa Tengah. Maraknya pemberitaan mengenai kendaraan listrik dan...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

The Social Dilemma: Logika Eksploitatif Media Sosial

Seorang teman baru bebas dari dunia gelap. Mengkonsumsi narkoba menjadi gaya hidupnya. Padalah kehidupannya tak terlalu suram bagi ukuran kelas menengah. Tapi kehidupannya itu...

Menilik Pencekalan Panglima Gatot

Insiden diplomatik antara Amerika Serikat dan Indonesia terjadi hari Sabtu lalu, (21/10/2017) di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Kejadiannya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dicekal untuk...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.