Jumat, Januari 22, 2021

Fenomena Tsunami Langka di Selat Sunda

Pendidikan Anak Masa Covid: Dilema New Normal

Dalam situasi covid ini, rasa-rasanya setiap orang punya dilema besarnya masing-masing. Tak terkecuali saya. Tahun ini sebenarnya saya berencana untuk memasukkan anak saya ke...

Memerangi COVID-19 dengan Ashobiyah Ibnu Khaldun

Ibnu Khaldun merupakan salah satu filsuf Islam, mempunyai konsep kajian sosiologi tentang solidaritas dalam magnum opusnya, Muqaddimah. Salah satu sumbangan orisinal karya Khaldun adalah...

Cara Praktis Agar Mencintai Dunia Baca Tulis

Mungkin satu tahun belakangan ini adalah momen yang paling saya syukuri selama menempuh studi di bumi para nabi. Pasalnya, ada satu perasaan yang sebelumnya...

Hilangnya Idealisme, Polemik Gagalnya Menjadi Manusia Baru

Satu artikel menarik diterbitkan oleh Geotimes.co.id pada Jum’at, 21 Agustus 2020 kemarin, masih sangat segar. Membahas tentang pembentukan ‘manusia baru’ ala Hok Gie-an yang...
Burhanudin Faturahman
Burhanudin Mukhamad Faturahman. Pemerhati Politik dan Kebijakan dalam negeri. Dapat dihubungi melalui burhanmfatur@gmail.com dan burhanudin.faturahman@dpr.go.id

Hiruk-pikuk kegiatan akhir tahun yang seharusnya penuh rasa bahagia justru menjadi kisah memilukan bagi kita. Baru-baru ini peristiwa bencana alam tsunami terjadi di perairan selat sunda yang menerjang pesisir banten dan lampung pada sabtu tanggal 22 Desember 2018. Yang mengherankan, semua pihak terkejut karena tsunami datang secara tiba-tiba tanpa didahului gempa.

Sehingga masyarakat yang beraktivitas di sekitar pesisir tetap “enjoy” menjalani aktivitas tanpa rasa khawatir sedikitpun. Lantas yang menjadi pertanyaan mengapa masyarakat tetap beraktivitas di pesisir saat tsunami tiba? Bukankah jika tsunami datang, kita lari menghindar untuk menyelamatkan diri. Pertanyaan yang mengusik selanjutnya yaitu apakah sistem peringatan dini tsunami tidak berjalan?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, diperlukan analogi terhadap kewaspadaan masyarakat dan sistem peringatan dini tsunami. Kedua pertanyaan tersebut saling terkait karena argumen yang dibangun merujuk pada kewaspadaan masyarakat terhadap tsunami meningkat karena berjalannya sistem peringatan dini tsunami.

Hal ini sudah lazim terjadi karena pada umumnya bencana alam tsunami pasti didahului oleh gempa, gempa yang dimaksud adalah gempa tektonik sekurang-kurangnya 6,5 SR. Fenomena tsunami tanpa didahului gempa inilah yang tidak pernah dialami oleh masyarakat dan pemerintah di sekitaran selat sunda.

Maka sudah bisa dipastikan fenomena tsunami langka ini membuat sistem peringatan dini tsunami tersebut tidak ada dan ketiadaan peringatan dini tersebut membuat masyarakat tetap enjoy beraktivitas di wilayah pesisir yang akhirnya memakan korban jiwa.

Tsunami langka ini menurut BNPB tidak disebabkan gempa bumi, melainkan dipicu aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau. Sedangkan peringatan dini tsunami di selat sunda tidak ada karena alat yang dimiliki oleh BMKG saat ini hanya untuk melaporkan peringatan dini alias early warning system untuk tsunami yang diakibatkan gempa tektonik saja.

Tsunami di Banten dan Lampung diakibatkan oleh longsoran erupsi gunung krakatau dan saat ini belum ada alatnya. Sebenarnya, aktivitas vulkanik di gunung krakatau mengalami erupsi pada hari jumatnya berpotensi menimbulkan gelombang tinggi di sekitaran perairan sunda telah diumumkan melalui pers oleh BMKG.

Nah, bukankah peringatan dari BMKG tersebut merupakan salah satu peringatan dini jika bencana akan terjadi? Terdapat semacam insting yang perlu dibangun bahwa letusan gunung berapi di laut sarat dengan tsunami.

Tapi nampaknya kita semua abai. Tafsiran ini tergantung masing-masing individu memaknai sikap waspada terhadap bencana alam. Terlebih lagi kita tak pantas menyalahkan tsunami yang menelan korban jiwa tapi kita malah membangun peradaban di wilayah rawan bencana.

Paradoks ini hendaknya dimaknai sebagai pembangunan masyarakat yang tangguh bencana dibarengi dengan kebijakan yang bersinergi dengan penanggulangan bencana alam. Sudah umum kita temui bahwa industrialisasi kawasan pesisir justru meniadakan program penanggulangan bencana.

Dalam hal ini kita lebih mensetujui penanggulangan bencana alam berfokus pada aspek mitigasi dan kesiapsiagaan bencana. Aspek tersebut termasuk tindakan pra bencana yang telah diatur dalam UU 24 Tahun 2007 tentang penanggulangan bencana alam. Pasca tsunami Aceh tahun 2004 silam paradigma penanggulangan bencana di Indonesia menekankan pada aspek mitigasi yaitu pengurangan resiko bencana. Namun sampai saat ini, nuansa kebijakan menanggapi bencana alam masih dipandang sebagai accident saja.

Tragedi tsunami banten dan lampung telah mengajarkan bahwa tsunami terjadi bisa dari erupsi gunung berapi di laut. Selain perbaikan kebijakan pengadaan alat pendeteksi yang sifatnya teknis, diperlukan grand desain program penanggulangan bencana alam antar pemerintah daerah kawasan gunung krakatau di sekitaran perairan sunda.

Kerjasama antar pemerintah daerah harus benar-benar memandang (mindset) bahwa kawasan gunung berapi krakatau sangat rawan bencana mulai dari gempa erupsi, gempa tektonik pada umumnya, awan panas akibat letusan gunung berapi dan tsunami. Mengapa yang pertama kali harus membangun mindset? Mindset ini membentuk sebuah konstruksi sosial (Smith dan Larimer, 2010) yang diharapkan mampu mengisi setiap agenda kebijakan, perumusan kebijakan dan pengambilan keputusan kebijakan.

Pada tataran empiris, penerapan sinergitas kebijakan ini diwujudkan dengan menentukan zonasi rawan bencana tsunami. Zonasi ini diperuntukkan bagi penanaman vegetasi alami dan struktur bangunan untuk mengurangi resiko tsunami. Maka konsekuensi logisnya zonasi tersebut khusus diperuntukkan dan difasilitasi melalui anggaran secara proporsional. Terlebih diperlukan tempat relokasi untuk para pengungsi. Hal ini berkaitan dengan kesiapsiagaan bencana. Implementasi ini serasa sulit jika tidak ada political will pada agenda kebijakan.

Berbagai pihak nampaknya ragu ketika pembangunan berbasis pada kebencanaan akan memberikan manfaat. Berbagai rencana pembangunan di tingkat daerah lebih memprioritaskan agenda ekonomi daripada agenda kebencanaan. Ekonomi dipandang lebih penting dari pada sekedar semisal membangun tanggul atau kanal tsunami.

Sehingga mindset yang tertanam program antisipasi bencana tersebut adalah nilai ekonomisnya bukan pada manfaat pelayanan dan perlindungan kepada masyarakat jika terjadi bencana alam. Alhasil industrilasisasi di kawasan rawan bencana lebih menggiurkan semata-mata demi peningkatan Pendapatan Asli Daerah daripada mitigasi bencana yang bersifat preventif-reduktif. Padahal jika tejadi bencana alam tsunami di pesisir toh yang dirugikan juga masyarakat.

Betapa sulitnya mewujudkan sikap pro penanggulangan bencana dari level pemerintah hingga level masyarakat jika kondisi sekarang memang begitu adanya. Sebagai orang yang mampu menggunakan rasio maka kesiapan dan kesadaran tersebut mutlak diciptakan mulai dari diri sendiri. Apakah kita harus menunggu negara kita porak-poranda akibat bencana alam kemudian kita baru sadar bahwa kebijakan penanggulangan bencana alam memang penting? Kita jelas tidak mengharapkan kondisi tersebut bukan?

Sumber Bacaan

Smith, K., B & Larimer, C.,W. 2010. The public policy theory primer.US, Westview Press

Kronologi Tsunami di Selat Sunda Versi BMKG. http://bangka.tribunnews.com/2018/12/23/kronologi-tsunami-di-selat-sunda-versi-bmkg

BNPB: Tsunami di Selat Sunda fenomena langka. https://www.bbc.com/indonesia/media-46666729

Burhanudin Faturahman
Burhanudin Mukhamad Faturahman. Pemerhati Politik dan Kebijakan dalam negeri. Dapat dihubungi melalui burhanmfatur@gmail.com dan burhanudin.faturahman@dpr.go.id
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pelantikan Joe Biden dan Pembangkangan Trump

Pelajaran Demokrasi untuk Dunia yang Terus Berubah Washington tegang menjelang pelantikan Presiden Joe Biden dan Kemala Harris, 20 Januari 2021. Kondisi ini terbentuk akibat pembangkangan...

Proyeksi OPEC, Konsumsi Migas Dunia akan Meningkat

Senin (18/1) penulis berkesempatan untuk memberikan kuliah umum secara daring dengan adik-adik di Politeknik Akamigas Cepu, Jawa Tengah. Maraknya pemberitaan mengenai kendaraan listrik dan...

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

Apa Itu Teo Demokrasi dan Nasionalisme?

Apa itu Konsep Teo Demokrasi? Teo demokrasi terdiri dari gabungan kata yaitu teologi yang berarti agama dan demokrasi yang terdiri dari kata demos berarti rakyat dan...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.