Senin, Januari 18, 2021

Fenomena Pernikahan Dini di Tengah Pandemi

Inisiasi Nasionalisme dalam MPLS Peserta Didik Baru

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) kembali menyita perhatian publik, melalui rencana menggandeng Tentara Nsional Indonesia (TNI) dalam pembinaan pada masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS). Digandengnya...

Pemilu 2019: Suatu Pertentangan Antar Faksi Borjuis

Laporan investigasi majalah Tempo, edisi 08/06, beberapa waktu lalu, membuka tabir politik yang selama ini mengendap. Laporan tersebut menyadarkan kita kalau lebih dari dua...

PSSI Menyoal Kebebasan Pemain Berlaga di Liga Asing

Polemik mengenai transfer Evan Dimas dan Ilham Udin beberapa hari terakhir menjadi berita yang hangat. Pasalnya perpindahan mereka menuju liga Malaysia terancam akan batal....

Jogja Darurat Vandalisme

Jogja Istimewa, hampir setiap orang yang pernah berkunjung maupun yang menetap di kota ini pasti akan sepakat berkata bahwa Yogyakarta memang daerah yang istimewa....
Tika Puspa Asih
Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Maraknya pernikahan dini menjadi fenomena baru di masa pandemi Covid-19. Berdasarkan catatan Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama, teradapat sebanyak 34.000 permohonan dispensasi perkawinan yang diajukan sejak bulan Januari sampai Juli 2020. Dari data tersebut, 60% diantaranya adalah anak di bawah usia 18 tahun. Lalu apa yang menjadi penyebabnya?

Seperti yang kita ketahui bahwa pandemi Covid-19 menyebabkan aktivitas masyarakat menjadi terbatas akibat dari adanya kebijakan-kebijakan yang diberlakukan oleh pemerintah sebagai upaya memutus rantai penyebaran Covid-19. Salah satu kebijakan tersebut adalah diterapkannya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar).

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2020 Pasal 4 ayat (1) bahwa Pembatasan Sosial Berskala Besar paling sedikit meliputi, peliburan sekolah dan tempat kerja, pembatasan kegiatan keagamaan, dan pembatasan kegiatan di tempat atau fasilitas umum.

Peliburan sekolah dan tempat kerja tentunya mendorong adanya perubahan dalam tatanan kehidupan masyarakat. Mereka yang bersekolah atau bekerja tidak perlu lagi datang ke sekolah atau tempat kerjanya. Cukup di rumah saja dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi saat ini.

Namun, tidak semua tempat kerja masih beroperasi selama pandemi Covid-19. Data Kementerian Ketenagakerjaan per 20 April 2020 mencatat terdapat sebanyak 2.084.593 pekerja dari 116.370 perusahaan dirumahkan dan terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Hal ini terjadi karena beberapa perusahaan mengalami penurunan produksi bahkan berhenti berproduksi akibat pandemi Covid-19.

Kondisi tersebut (pemutusan hubungan kerja) membuat beberapa orang tua mengalami kesulitan dalam menafkahi keluarganya. Oleh karena itu, beberapa orang tua beranggapan bahwa menikahkan anak mereka merupakan cara yang tepat untuk mengatasi permasalahan ekonomi. Dengan begitu, orang tua tidak perlu lagi membiayai kebutuhan sehari-hari anak mereka.

“Para pekerja yang juga orang tua tersebut seringkali mengambil alternatif jalan pintas dengan menikahkan anaknya pada usia dini karena dianggap dapat meringankan beban keluarga,” ungkap Dr. Susilowati Suparto, M.H., seperti dikutip dari website resmi Universitas Padjajaran.

Tingginya angka pernikahan dini di masa pandemi Covid-19 sangat memprihatinkan. Pasalnya, pernikahan di usia dini dapat berisiko terhadap kesehatan khususnya bagi perempuan. Seperti yang dilansir dalam laporan “Pencegahan Perkawinan Anak: Percepatan yang Tidak Bisa Ditunda” yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistika (BPS) bekerja sama dengan Bappenas, UNICEF, dan PUSKAPA menyatakan bahwa kehamilan pada usia kurang dari 17 tahun meningkatkan risiko komplikasi medis, baik pada ibu maupun pada anak.

Disebutkan bahwa anak perempuan berusia 10-14 tahun berisiko lima kali lipat meninggal saat hamil maupun bersalin dibandingkan kelompok usia 20-24 tahun, sementara risiko ini meningkat dua kali lipat pada kelompok usia 15-19 tahun.

Dalam laporan tersebut juga dijelaskan bahwa komplikasi terjadi karena anatomi tubuh anak belum siap untuk proses mengandung maupun melahirkan. Selain itu, dijelaskan pula bahwa kehamilan pada usia perempuan yang masih sangat muda berisiko pada kematian ibu dan bayi, kelainan pada bayi atau cacat bawaan lahir, tekanan darah tinggi dan bayi lahir prematur, bayi lahir dengan berat badan di bawah normal, penyakit menular seksual, dan depresi pasca-melahirkan.

Pernikahan dini dapat menjadi masalah besar jika tidak ditangani dan dicegah dengan baik. Pemberian edukasi mengenai pengetahuan sistem reproduksi di kalangan remaja maupun orang tua dapat menjadi upaya yang efektif dalam meminimalisir angka pernikahan dini.

Dengan dibekali pengetahuan tersebut, remaja dapat mengetahui dampak negatif dari pernikahan dini dan juga dapat meyakinkan dirinya sendiri untuk menikah di usia yang tepat. Selain itu, orang tua pun dapat mempertimbangkan untuk menikahkan anaknya di usia dini.

Tika Puspa Asih
Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

China-Indonesia, Lahir dari Rahim Bulutangkis

Olahraga bukan sekedar cara untuk menjaga kesehatan, juga bukan sebagai hobi yang dinikmati dan sebuah kewajiban rutinitas untuk mencegah berbagai penyakit. Lebih dari itu,...

Penguatan Kebijakan Pelaksanaan Akreditasi RS di Masa Covid-19

Kasus Pandemik Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) kian meningkat dan telah memengaruhi berbagai aspek kesehatan termasuk memengaruhi upaya dalam meningkatkan kualitas layanan fasilitas kesehatan....

Memaknai Syair Lagu Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada

Lagu yang diciptakan oleh musisi terkenal di Indonesia yaitu Ahmad Dhani, melahirkan Sebuah mahakarya lagu yang begitu indah dan memiliki makna yang dalam. Lagu...

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.