Rabu, April 14, 2021

Fenomena Long Tail Atta dan Ricis

Konflik Yaman dan Kesepakatan Damai Israel-UEA

Kesepakatan damai Israel-UEA (Uni Emirat Arab), disusul Bahrain dan kemungkinan negara Arab lainnya, menandai babak baru geopolitik Timur Tengah. Sejauh ini, pihak yang paling...

Etos Sosial Landasan Gerakan Muhammadiyah: Refleksi Milad ke 106

Etos, menurut pengertian sosiologis tertentu, adalah “sekumpulan ciri-ciri budaya, yang dengannya suatu kelompok membedakan dirinya dan menunjukan jati dirinya yang berbeda dengan kelompok-kelompok lain”. Definisi...

NKK/BKK Zaman Now

Menurut kamus politik, Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan atau yang disingkat dengan NKK/BKK, adalah sebuah penataan organisasi kemahasiswaan, dengan cara menghapus organisasi kemahasiswaan yang...

Pemilu 2019: Bukti Kegagalan Kaderisasi Partai Politik

Tulisan ini berawal dari kegelisahan penulis menyikapi fenomena “absurd” perpolitikan  dan pemerintahan yang sedang kita alami sekarang, menjelang pemilhan umum tahun 2019 yang akan...
Agus Buchori
Saya seorang arsiparis juga pengajar yang menyukai dunia tulis menulis, berasal dari kampung nelayan di pesisir utara Kabupaten Lamongan tepatnya Desa Paciran

Tahun 2004 Chris Anderson mengutarakan istilah ini pertama kali. Long tail ( buntut panjang). Saya lebih suka menyebut buntut dari pada ekor karena lebih presisi untuk mengulas fenomena Long tail. Ya, kehadiran istilah long tail ini tak bisa dilepaskan dengan apa yang kita jalani dan lakukan, internet.

Penjelasan sederhananya akan fenomena “buntut panjang” ini adalah bahwa permintaan akan produk-produk dagangan baik jasa maupun barang tidak lagi menjadi monopoli dari penyedia utama, besar dan konvensional. Ambil contoh misalnya video dulu hanya bisa dibuat lewat rumah produksi dan dijajakan di gerai pemilik modal besar dan konvensional yang tidak semua orang bisa punya akses ke sana misalnya, Televisi atau Film.

Kini orang butuh video bisa dari siapa saja tidak harus dari rumah produksi bonafit atau populer karena cukup dengan surfing di youtube orang bisa memilih dan memilah video mana yang ia harapkan. Dengan memanfaatkan keadaan ini dibidang apapun kita bisa menjadi produser.

Produk-produk yang kita buat bisa kita tawarkan melalui pasar maya yang tak berbatas ruang dan waktu. Meski kita tidak berada pada posisi di muka atau atau yang utama dalam bisnis tertentu dan meski kita berada pada posisi buntut pun produk kita masih beresiko diketahui oleh konsumen. Banyak produk produk kreatif lainnya yang bisa kita mainkan dan kita tempatkan pada buntut yang sangat panjang ini.

Apakah kita suka menulis, menggambar, bermusik dll. Kita sudah berartisipasi dalam pasar buntut panjang bila kita sudah berkarya dan kita sosialisasikan lewat internet. Apa yang dicapai oleh Muhammad Attamimi Halilintar (Atta) dan Ria Ricis (Ricis) dua youtuber yang berhasil menembus di atas 10 juta Subscriber adalah hasil dari betapa efektifnya internet menyajikan mata rantai bisnis dalam banyak pilihan.

Apa yang telah ditunjukkan oleh Atta dan Ricis adalah kegigihan dua orang netizen yang berusaha berkarya dan berpartisipasi untuk masyarakat. Mereka hanya menyajikan apa apa yang dibutuhkan masyarakat dan sepenuhnya menyerahkan dari buntut panjang ekonomi ini.

Mereka sudah mengira bahwa di luar sana ada banyak jutaan netizen yang membutuhkan saluran alternatif yang dirasa sesuai dengan karakter mereka. Dua youtuber ini menyerahkan apa yang mereka hasilkan sepenuhnya kepada  pasar buntut panjang ini. Dengan satu keyakinan pasti ada konsumen yang menemukannya karena pintu yang ditawarkan pasar buntut panjang ini.

Buntut panjang ini telah melahirkan banyak pilihan bagi penjual maupun pembeli. Bagi penjual. mereka memanfaat kebutuhan orang yang begitu banyak macamnya serta beraneka pula karakternya. Mereka akan datang dari berbagai macam latar belakang suku, ras, dan usia. Dan yang pasti ada selera laten yang tidak dibayangkan seperti apa.Inilah kejutan dari fenomena buntut panjang.

Di sisi konsumen mereka akan mempunyai banyak pilihan dari sesuatu yang mereka butuhkan tanpa harus dikooptasi oleh penjual arus utama. Mereka akan mencari sesuatu yang sesuai dengan karakter mereka yang dirasakannya sangat gue banget. Inilah hal hal yang tak bisa mereka dapatkan dari penjual besar.

Kegiatan perekonomian semisal jual beli sudah tidak lagi membutuhkan (Ruang) yang disebut pasar. Pasar sekarang sudah ada di mana-mana dengan semakin berkembangnya internet.

Ruang virtual telah menggantikan pasar yang sesungguhnya. Para pedagang kaki lima di era internet yang diakses dengan mudah dan murah ini tidak lagi membutuhkan trotoar jalan untuk menjajakan dagangannya. Beberapa situs belanja online bertebaran di dunia maya. Dari yang menjajakan Buku, mesin, alat kecantikan dan barang keperluan lainnya ada lapaknya di dunia maya. Toko toko virtual itu berlomba-lomba menawarkan dagangan di dunia maya. Mulai dari perang harga sampai adu cepat pengiriman barang mereka tawarkan ke konsumennya.

Bukankah dulu, sangat sedikit kesempatan orang untuk bisa mengetahui karya kita karena kita tidak bisa masuk ke pasar utama. Mereka,  pelaku pasar utama ini, mendominasi semua akses pemasaran. Mustahil yang tidak bermodal besar bisa berpartisipasi untuk meriuhkan pasar. Kini dengan adanya internet muncullah pasar berbuntut panjang ini. Anda bisa menempel di ujungnya meski yang paling buncit pun masih beresiko untuk laku dan ditemukan oleh konsumen.

Konsumen sekarang pun sudah tak melulu memfavoritkan pasar arus utama karena mereka menyadari ada produk lain di luar pasar utama yang bisa mereka gunakan juga. Garis lurusnya adalah kualitas produk yang ditawarkan. Produk produk berkualitas masih akan ada peminatnya karena pasar sudah mempunyai buntut sangat panjang.

Bagaimana kita, netizen, memanfaatkan fenomena buntut panjang ini adalah dengan mengubah pola pikir kita bahwa kita semua mampu terlibat bahkan terpaksa harus terlibat dalam percaturan ekonomi karena pasar sekarang bukanlah monopoli para pemodal besar, populer, dan ngetren. Akhirnya perlu kita sadari bahwa semua yang terlibat dalam internet bisa menjadi hits. Bagaimana? Anda mau.

Agus Buchori
Saya seorang arsiparis juga pengajar yang menyukai dunia tulis menulis, berasal dari kampung nelayan di pesisir utara Kabupaten Lamongan tepatnya Desa Paciran
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menolak lupa: Seputar Perjalanan Covid-19 di Indonesia

Tidak terasa kasus pandemi Covid-19 di Indonesia hampir berusia 1 tahun. Apabila kita ibaratkan sebagai manusia, tentu pada usia tersebut belum bisa berbuat banyak,...

Eren Yeager, Kesadaran dan Kebebasan

Pemberitahuan: esai ini terdapat cuplikan cerita Attack on Titan (AoT) episode 73. Pada musim akhir seri AoT, Eren Yeager tampil dengan kondisi mental yang jauh lebih...

Dibalik Kunjungan Paus Fransiskus ke Timur Tengah

  Tak dapat disangkal kekristenan bertumbuh dan berkembang dari Timur Tengah. Sebut saja, antara abad 1-3 masehi, kekristenan praktisnya berkembang pesat di sekitar wilayah Asia...

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

ARTIKEL TERPOPULER

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Peranan Terbesar Manajemen Dalam Bisnis Perhotelan

Melihat fenomena sekarang ini mengenai bisnis pariwisata di Indonesia yang terus tumbuh sesuai dengan anggapan positif dunia atas stabilnya keamanan di Indonesia mendorong tumbuhnya...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.