OUR NETWORK

Fenomena Keberagamaan Masyarakat Kota

“Kesadaran keberagamaan seseorang ditentukan oleh realitas dimana dia hidup”, ungkapan ini bisa digunakan untuk melihat kehidupan beragama masyarakat kota di Indonesia.

Secara sosiologis, agama tidak lahir secara tiba-tiba melainkan melalui kesadaran keberagamaan. Kesadaran keberagamaan manusia mengalami perkembangan alamiah dan dinamis, dimulai dari sesuatu yang sederhana berupa megic meningkat pada kepercayaan, dan meningkat lagi pada kesadaran yang lebih tinggi, yakni agama, kendati perkembangan tersebut tidak berjalan secara linier.

Kesadaran keagamaan ini dinilai akan sirna bersamaan dengan semakin meningkatnya daya nalar manusia yang kemudian melahirkan kesadaran sains dan teknologi. Hal ini terkonfirmasi ketika sekilas melihat masyarakat kota yang bergelut dengan dunia materi menempatkan agama pada posisi sekunder, jika tidak dikatakan meninggalkan agama sama sekali.

Tuhan tidak dipertimbangkan sebagai pegangan dan tujuan akhir hidup manusia, sehingga perilaku manusia tidak lagi mencerminkan ajaran Tuhan yang religius dan manusiawi. Namun pesimisme itu nampaknya perlu ditinjau kembali jika di sisi lain kita lihat fenomena pengajian keagamaan yang lagi ngetrend akhir-akhir ini yang dipertontonkan di pelbagai televisi swasta yang sangat mengagumkan sekaligus menggelitik.

Ada pengajian yang berbentuk dzikir yang membuat jama’ahnya menangis tersedu-sedu, ada pula pengajian kolektif yang diisi oleh serombongan ustadz dalam satu panggung. Selain ada yang berbobot, tidak jarang di antara mereka hanya mengandalkan retorika. Bahkan beberapa hari terakhir, ada seorang ustadzah yang salah menulis ayat al-Qur’an. Jama’ah mereka pada umumnya adalah masyarakat kota, sehingga berbagai survei di perkotaan bahkan di sekolah umum menunjukkan betapa mereka menfigurkan tokoh-tokoh ustadz artis-televisi tersebut.

Masalahnya adalah, apakah fenomena keberagamaan masyarakat kota itu berangkat dari kesadaran keberagamaan murni atau agama sebagai pelarian? Pertanyaan tersebut bertujuan untuk melihat lebih jauh fenomena keberagamaan masyarakat kota tersebut dengan melihatnya dari sudut pandang sosio-geografis masyarakat Indonesia.

Secara sosio-geografis, masyarakat Indonesia terbagi menjadi dua kategori: masyarakat desa dan masyarakat kota. Masyarakat desa lebih banyak jumlahnya ketimbangkan masyarakat kota. Masyarakat desa hidup berhadapan dengan realitas alam yang mati. Alam yang mati itu mereka jadikan sumber penghidupannya, baik melalui pertanian, perkebunan bahkan juga nelayan.

Sebaliknya, masyarakat kota pada umumnya berhadapan dengan realitas manusia yang hidup. Perdagangan dan perindustrian merupakan sumber penghasilan masyarakat kota. Realitas yang dihadapi masyarakat tentu saja mempengaruhi cara mereka berfikir. Karena yang dihadapi masyarakat desa adalah realitas yang mati, cara mereka berfikir juga pasif dan irrasional.

Agar hasilnya baik, para petani desa merawat pertaniannya secara baik dengan memberi pupuk secara rutin disertai berdo’a kepada Allah agar pertaniannya berkah. Namun, mereka tidak bisa mengharap banyak dari kerja kerasnya merawat pertaniannya, karena hasil dan waktunya sudah bisa diprediksi. Hasilnya adalah sebagaimana yang sudah berlalu, yakni cukup membayar hutang dan memenuhi kebutuhan hidupnya selama beberapa bulan ke depan.

Begitu juga waktu yang dibutuhkannya. Tiga bulan merupakan waktu yang umum panen pertanian. Karena itu, pola pikir dan kerja keras tidak begitu menentukan hasil dan waku panen. Yang bisa mereka lakukan hanya menunggu hasil panen, paling tidak membuahkan hasil yang sama dengan panen sebelumnya, sembari menunggu berkah dari Tuhan. Karena realitas yang dihadapi masyarakat kota adalah realitas yang hidup, mereka cendrung berfikir kreatif dan rasional.

Dalam berdagang dan berindustri, mereka berfikir secara rasional tentang untung dan rugi. Sebentar saja seseorang berhenti berfikir rasional dan bekerja keras, kereta ekonomi akan berlalu meninggalkannya. Hanya dengan berfikir rasional dan kerja keras, mereka bisa memprediksi hasil dan waktunya. Hasil perdagangan tidak ditentukan oleh alam sebagaimana pertanian yang dikelola masyarakat desa, melainkan oleh kreasi berpikir dan kerja keras.

Kebiasaan berfikir dalam menghadapi realitas juga mempengaruhi pemahaman dan sikap masyarakat terhadap agama. Karena terbiasa berfikir pasif, masyarakat desa memahami dan memperlakukan agama secara tradisional. Dalam rangka mempelajari dan mendalami agama, mereka menitipkan anaknya ke lembaga pendidikan tradisional seperti pondok pesantren, sementara bagi orang tua yang menetap di rumah mengikuti pengajian umum untuk mendapat siraman ruhani yang acapkali diadakan organisasi keagamaan.

Di samping itu, masyarakat desa cenderung menjadikan agama sebagai way of life, pandangan hidup sehari-hari, dan bahkan acapkali mendasari seluruh kegiatan keduniaan mereka. Mereka biasa mengadakan acara selamatan untuk meminta restu pada Tuhan dalam melakukan suatu pekerjaan.

Sebaliknya, masyarakat kota yang terbiasa berfikir kreatif dan rasional pada umumnya mengarahkan kerja rasionalnya pada kepentingan duniawi, sementara agama dianggap urusan ukhrawi dan ibadah mahdah belaka. Mereka pun menyekolahkan anak-anaknya ke perguruan tinggi umum agar begitu lulus lansung mendapatkan pekerjaan yang layak dan menjanjikan masa depan yang cerah.

Sementara untuk memenuhi kebutuhan keagamaan anak-anaknya, mereka mengundang seorang ustadz ke rumahnya untuk mengajarinya secara privat. Itu berarti, mereka menjadikan agama sebagai sesuatu yang bersifat sekunder, bukan sebagai way of life sebagaimana masyarakat desa. Sebagai sesuatu yang sekunder, agama dibutuhkan pada saat masyarakat kota (modern) mengalami alienasi.

Pada saat tertentu, mereka akan mengalami alienasi dari kemanusiaannya ketika mereka memprioritaskan kebutuhan duniawinya sebagai wujud pemenuhan kebutuhan fisik. Yang ada dalam dirinya hanya bagaimana mendapatkan “untung” yang banyak, kendati tidak menikmati “proses” pekerjaannya. Lama kelamaan, dia merasa terasing dari dirinya, dan dia seolah “menjadi tamu di rumah sendiri”.

Pada saat itulah, dia membutuhkan hal lain yang membuatnya “menjadi tuan di rumah sendiri”. Agama dianggap salah satu alternatif menemukan pegangan hidup tersebut, setelah tidak menemukan kebahagiaan sejati pada materi. Majlis pengajian, majlis dzikir, dan majlis keagamaan lainnya tumbuh subur di kalangan masyarakat kota.

Di sana, mereka mencari kebahagiaan batin. Dengan demikian, tren keberagamaan masyarakat kota yang disemarakkan dengan pelbagai pengajian akhir-akhir ini lebih didorong oleh kesadaran alinasinya, daripada kesadaran keberagamaannya secara murni.

Dengan kata lain, bukan kesadaran keagamaannya yang membuat mereka sadar dan aktif dalam kegiatan keagamaan, melainkan kegagalannya mencari kebahagiaan batin dari materi duniawi yang melimpah. Tentu saja analisis ini tidak bersifat general dan pasti, melainkan bersifat kasuistis dan analitis.

Direktur Pascasarjana IAIN Ponorogo

TINGGALKAN KOMENTAR

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.