Senin, November 30, 2020

Fenomena Hijrah dan Nikah Muda

Subsidi Gaji Karyawan di Bawah Lima Juta?

Penyebaran wabah virus corona telah berdampak pada perekonomian nasional, khususnya pada pendapatan masyarakat. Pendapatan masyarakat Indonesia yang menurun, memaksa pemerintah mengambil berbagai program bantuan...

Kebencian Terstuktur, Sistematis, Masif Hingga di MK

Semua yang dipersoalkan kubu Prabowo-Sandi dalam sidang Gugatan di Mahkamah Konstitusi. Dianggap hanyalah sebuah propaganda belaka. Begitu, tanggapan kuasa hukum pasangan Joko Widodo-Kiai Ma'ruf...

Menjaga Kesehatan Tubuh dari Covid-19

Menjaga kesehatan menjadi hal yang penting dilakukan semua kalangan. Apalagi dengan kondisi alam yang semakin merabahnya virus covid 19. Terkadang hal sederhana yang rutin...

Ketika Jurnalis Dimabuk “Alkohol”

Hal ajaib yang bisa dilakukan oleh para jurnalis adalah menciptakan opini publik yang sangat heboh. Entah mukjizat apa yang diberikan oleh Tuhan kepada para...
Muh Imam Rosyadi
Penulis lepas - Tim Redaksi Visionergroup.id

Akhir-akhir ini banyak fenomena yang sebenarnya menuju ke arah positif namun dalam benak pribadi saya menimbulkan tanda tanya. Saya tidak berburuk sangka kepada lakon dari fenomena ini.

Fenomena yang dimaksud adalah hijrahnya para artis dan pesohor di dunia pertelevisian yang dulu dikenal bebas tiba-tiba mengurangi jadwal di televisi dan mulai berubah dalam segi penampilan seperti menumbuhkan jenggot dan berpakaian serba putih nan panjang. Ini merupakan hal positif yang bisa memperkuat agama. Namun, apakah dasar perubahan mereka didasari atas niat murni taubat nasuha atau hanya ingin meraih simpati dari para penggemarnya? Entah, hati orang siapa yang tahu.

Fenomena yang terjadi lagi adalah merebaknya dan menjamurnya agamawan-agamawan muda yang ngehits di kalangan remaja dan menjadi idola serta panutan mereka. Kita sebagai saudara seiman harus bangga karena para generasi muda ikut berpartisipasi menguatkan agama dengan ikut tausiyah dan kegiatan positif seputar agama. Namun, apakah ustadz-ustadz muda yang ngehits ini memang benar-benar bisa dipegang pesan kebaikannya?

Bermacam aliran yang ada di Indonesia membuat beraneka ragam pula cara penyampaian dakwah oleh ustadz-ustadz. Ada yang menganggap dirinya sudah sangat berilmu hingga dengan ringannya menuduh orang lain kafir karena berbeda pandangan, mudah melabel ini bid’ah, haram, musyrik terhadap hal yang selama ini dianggap lazim di Indonesia. Inilah yang menyebabkan maraknya tuduhan wahabi kepada ustadz yang radikal dan bahkan tuduhan kafir bahkan dicap sebagai PKI karena bersebrangan ideologi.

Inilah yang membuat negara beberapa bulan ini merasa kurang nyaman dan aman. Ini yang terjadi jika belajar agama dan sejarah hanya dari sumber yang setengah matang dan tanpa adanya referensi yang kuat. Maraknya artis-artis yang berhijrah menjadikan penggemar mereka termotivasi untuk melakukan hal yang serupa.

Lagi-lagi ini merupakan hal yang positif. Namun, apakah niat perubahan mereka didasari atas niat yang murni atau hanya “ikut-ikutan”? Semoga hijrah yang sudah dilaksanakan atas dasar niat karena Allah dan bukan karena artis idola mereka.

Beberapa hari yang lalu kaum santri dihebohkan dengan tausiyah yang dianggap provokatif dari salah satu ustadz yang rutin memberikan ceramahnya melalui media sosial dan sempat beberapa kali diusir dari pengajian yang diadakan. Rangkuman ceramah yang diberikan ustadz tersebut adalah tidak boleh berebut minuman dari seorang kyai dan menganggapnya itu tidak berkah. Hal inilah yang memicu kemarahan kaum santri.

Fenomena yang terjadi lagi adalah maraknya akun-akun di instagram yang bergitu indah menggambarkan enaknya pacaran setelah menikah. Akun-akun yang secara harfiah tertulis dakwah islam itu malah didominasi oleh postingan pasangan muda-mudi yang umbar kemesraan dan hal yang dianggap cinta-cintaan itu dirasa kurang nyaman dipandang oleh followers mereka yang berkomentar “Postingannya kok cinta-cintaan terus?” tulis salah satu akun.

Salah satu akun facebook menuliskan sebuah postingan yang bertajuk “Dakwah menye-menye”. Di sana dituliskan bahwa akun-akun pegiat dakwah kampus justru mabuk dengan segala hal yang berbau pernikahan, yang dibaca buku soal pernikahan, yang diobrolkan soal pasangan hidup dan yang diadakan seputar kajian pra nikah. Yang menjadi problem adalah mampukah pegiat kampus tadi berdakwah kepada mahasiswa yang dalam rutinitasnya membaca buku-buku dari Karl Marx, Lenin, dan tokoh-tokoh lain?

Memang alangkah lebih baik jika tidak kuat menahan nafsu maka diperkenankan untuk menikah.Namun, menikah bukan hanya melampiaskan nafsu dan pamer kemesraan di media sosial, kesiapan lahir batin juga perlu dipertimbangkan. Nikah muda yang marak terjadi pun harus ada kesiapan sikap dan sifat dari masing-masing pihak. Sifat kekanakan dan labil yang masih lekat dalam diri pemuda pun dikhawatirkan malah membuat pernikahan yang sudah terjadi menjadi tidak terurus dan saling menyalahkan satu dengan yang lain.

Saya setuju dengan adanya gerakan “Jomblo Sampai Halal” karena saya pandang ini bisa dijadikan sebuah wadah persiapan untuk mempersiapkan diri untuk menikah dan tidak menikah karena obsesi atau melihat anaknya ustadz yang nikah muda atau ingin menikah karena tayangan-tayangan di televisi, ini sungguh kenafsuan yang sedang melanda diri.

Semua perubahan ke arah yang baik adalah baik. Namun, ada kalanya seseorang di sekitar seringkali mengomentari tentang perubahan yang ada pada diri kita. Penulis percaya bahwa tidak ada perubahan tanpa komentar, memang dasarnya manusia itu tidak ada perasaan puas.

Fenomena-fenomena yang terjadi akhir-akhir ini tentang hijrah ataupun nikah muda memang ada yang berkomentar positif dan negatif, tergantung kita yang mantap akan mau berubah atau menunggu berubah di saat yang tepat. Penulis memandang bahwa perubahan kalangan artis menjadi lebih agamis itu sangat baik, apalagi mampu membawa dampak yang baik juga kepada penggemarnya untuk juga ikut memperbaiki diri juga.

Namun, tentang nikah muda perlu dikaji lagi dan dipertimbangkan jika pembaca memang ingin melakukan hal ini. Perlu adanya kesiapan mental lahir batin jika insan yang masih muda menunaikan ibadah yang dilakukan sepanjang masa ini. Perlu juga kedewasaan dalam menghadapi masalah yang mungkin nantinya menerpa rumah tangga.

Menurut saya akun-akun yang menyuarakan hijrah dan nikah muda lebih giat lagi dalam menyampaikan apa yang menjadi misinya. Namun, bukan hanya tentang enaknya saja yang ditawarkan tetapi efek buruk yang kemungkinan terjadi beserta cara penanggulangannya juga disosialisasikan, agar pasangan yang nikah muda tidak buru-buru berkata cerai jika ada masalah karena kita tahu sendiri bahwa masa muda adalah masa di mana emosi sedang meledak-ledak dan berapi-api.

Segala bentuk perubahan ke arah baik itu didambakan Tuhan dan semoga kita mampu menghargai sesama dengan perasaan yang lebih baik lagi.

Muh Imam Rosyadi
Penulis lepas - Tim Redaksi Visionergroup.id
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Nostalgia Dinasti Politik Pemimpin Negara

Pasca bergulirnya reformasi 1998, khususnya dengan terbitmya UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah dan Pemerintahan Daerah serta peraturan-peraturan pemerintah yang...

Tebet, Megamendung, dan Petamburan

Pandemi corona makin liar. Jika sebelumnya cluster penyebaran corona menyeruak di rumah sakit, perkantoran, sekolah, pesantren, perumahan, restoran, dan RT/RW -- kini tengah ramai...

Messi Adalah Nabi dan Maradona Adalah Tuhan

Paus Francis tersenyum. Ia juga berasal dari Argentina. Saat itu Ia mengunjungi klub sepokbola di Buienes Aires, Argentina: the Sportivo Pereyra de Barracas FC. Di...

Pentingnya Vitamin bagi Tubuh Di Era New Normal

Daya tahan tubuh atau imunitas menjadi benteng untuk mencegah virus masuk dan menyerang tubuh kamu. Dengan dimulainya aktivitas di luar rumah lagi di masa...

Saatnya Mempertanyakan Amatiran Politik Sumatera Barat

..."Kami simpulkan sedikit inti tulisan sebelumnya. Menurut data BPS, Sumatera Barat hari ini memiliki kue ekonomi kecil, produktivitasnya rendah, dan kesejahteraannya yang tidak sedang...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Bukankah Allah Menegaskan Dunia Ini Tak Akan Pernah Sama?

Kenapa ada orang yang bersikeras mengharuskan umat manusia berada di bawah satu panji atau berprilaku dengan satu cara (manhaj). Apakah demikian yang diajarkan Al-Quran?...

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.