Banner Uhamka
Minggu, September 20, 2020
Banner Uhamka

Fenomena Belajar Agama di Internet

Onani Saat Puasa, Bagaimana Menurut Fikih?

Persoalan onani tidak membatalkan puasa menjadi polemik dan diskursus yang tidak berkesudahan. Menurut jumhur ulama, di dalam banyak kitab klasik, onani membatalkan puasa. Menurut KBBI...

Facebook sebagai Media Literasi

Sebentar lagi kita memperingati Hari Aksara Internasional ke-53. Yang jatuh pada tanggal 8 September 2017. Persoalan aksara dalam hal ini budaya baca-tulis seakan tak...

Kembali ke Diri, Menuju Cita-cita (Sebuah Roman Kebangsaan)

Berhari-hari ia terus merenung. Yang ada dalam pikirannya hanya satu; nasib bangsanya. Baginya tiada hari tanpa berpikir keras dan berdoa hingga tandas. Dikumpulkannya seluruh catatan...

Evaluasi Menuju Pemilu 2019

Pemilu Kepala Daerah (Pilkada) serentak tahun 2018 baru saja dilaksanakan. Tepat pada 27 Juni 2018 lalu sebanyak  171 daerah, yang terbagi menjadi 17 Provinsi...
Rohmatul Izad
Alumni Pascasarjana Ilmu Filsafat Universitas Gadjah Mada.

Ada apa dengan cara beragama kita  hari ini, mengapa begitu marak orang-orang yang belajar agama di internet. Padahal, umumnya internet dianggap sumber yang kurang begitu otoritatif dalam hal pembelajaran agama.

Memang, internet menyuguhkan segudang informasi dan pengetahuan yang begitu lengkap, tetapi belajar agama tanpa berguru langsung kepada ahlinya, bukanlah cara yang bijak dan tak bisa disebut belajar secara otodidak.

Agama bukanlah sepaket keilmuan teknis yang selalu bisa dipelajari sendiri. Berbeda dengan otomotif dan pengetahuan umum lainnya, orang bisa belajar secara otodidak dan hanya butuh belajar dan kerja keras untuk menggapai ilmu dan keahlian itu. Belajar agama, selalu butuh seorang figur, guru dan mereka yang umumnya sudah dianggap sangat kredibel dengan keilmuan agamanya.

Internet sebenarnya bukan media yang kurang lengkap perihal penyedia bidang keilmuan agama, apapun bisa diperoleh dari sana, mulai dari kitab suci sampai karya-karya para ahli agama yang sudah sangat lengkap. Tetapi kita tak boleh menganggap internet sebagai satu-satunya media untuk menggali pemahaman agama.

Kita memang butuh internet, sebab setiap kebutuhan informasi dan ilmu pengetahuan selalu tersedia. Tetapi, setelah memperoleh pengetahuan agama yang dicari dan mempelajarinya, maka ia harus mengkonfirmasi kepada orang yang mumpuni perihal agama. Lebih-lebih harus mengkonfirmasi kepada ahli agama yang tepat dan tak bertentangan dengan paham maenstrim.

Seturut dengan kolom Kalis Mardiasih tentang ‘Jihad dan Wajah Muslim di Internet’ di kolom detik (1/6/2018), banyak orang gagal paham dengan term-term agama yang umumnya dipelajari dari internet. Katakanlah term ‘jihad’, istilah ini bukan hanya banyak disalah pahami oleh kelompok non-Muslim, justru banyak dari kelompok Muslim yang salah paham dengan istilah ini. Akibatnya, banyak umat Islam yang keliru memahami agamanya dan mudah terbahwa oleh ajaran-ajaran yang mengarah pada kekerasan.

Boleh jadi, kita tak sepakat jika para pelaku teror itu menggunakan term ‘jihad’ untuk melegitimasi aksi-aksinya. Sebagaimana terkonfirmasi dari Buletin Al-Fatihin, bahkan jika kita menganggap mereka gagal paham tentang makna jihad, kita menyebut istilah jihad saja, mereka sudah sangat bangga dan malah menamakan dirinya sendiri sebagai para Mujahidin.

Pemahaman semacam ini bukan hanya keliru, tetapi juga mengancam eksistensi umat Islam dan membuat non-Muslim bisa jadi salah memahami Islam. Seorang Mujahid, haruslah memiliki kriteria yang cukup lengkap dalam hal agama, ia harus betul-betul paham kitab suci dan umumnya harus memiliki pandangan agama yang searah dengan para ulama atau ahli agama. Dan, ia tak boleh berbeda pendapat secara berlebih-lebihan, apalagi sampai menghujat pemerintah dan kepada meraka yang tak sepaham.

Jelas, pandangan para pelaku teror tentang term-term agama sudah sangat keliru dan sama sekali tidak mengambarkan agama yang mereka yakini. Jika mereka menganggap gerakan mereka adalah ide jihad yang terkomfirmasi oleh kitab suci, maka sudah jelas hal itu keliru sebab Islam, dan agama apapun di bumi ini, tak pernah mengajarkan kekerasan ketika keberagaman dan berbedaan di masyarakat dapat hidup harmonis dan berdampingan.

Lagi-lagi, kesalahan dalam memahami term agama, umumnya dipelajari dari internet. Para kawula muda dan generasi milenial, biasanya adalah kalangan yang paling banyak mengkonsumsi keilmuan agama di internet. Sebab, maraknya media sosial juga sangat mempengaruhi bagimana orang-orang belajar agama. Boleh jadi, ada kelompok tertentu yang secara sengaja menggiring untuk belajar agama di internet.

Bisa disaksikan misalnya, kelompok-kelompok yang anti-maenstim, mereka menggunakan internet sebagai media dakwah. Melalui situs-situs Islam, youtube, dan media sosial, mereka begitu gencar menyebar paham yang umumnya tidak diterima oleh pandangan mayoritas. Sehingga disamping bijak, penggunaan internet juga harus lebih hati-hati dan memilah-milah yang dipelajari darinya.

Kesalahan orang dalam mempelajari agama, seringkali bukan disebabkan orang itu malas dan tidak serius mempelajari agamanya. Tetapi justru kesalahan itu berangkat dari cara-cara yang tidak tepat ketika belajar agama. Seperti belajar melalui internet yang entah sanat keilmuannya dari mana, sering diamini sebagai wawasan agama yang benar. Padahal, seorang pembelajar agama, sekurang-kurangnya, butuh seorang ahli yang benar-benar kredibel dibidangnya.

Kita sah-sah saja belajar agama dari sumber mana pun, termasuk dari internet, dari media sosial atau youtube, yang notabennya kita tak berjumpa secara langsung dengan guru atau penceramahnya. Tetapi sangat perlu untuk ditekankan, kelompok anti-maenstrim, radikal atau ekstremis, seringkali memanfaatkan internet lebih banyak daripada paham maenstrem yang sudah jelas-jelas kredibel. Sehingga sikap hati-hati dan kritis sangat perlu ditekankan.

Mengingat, maraknya paham radikal yang sering terjerumus pada tindakan terorisme, kelompok mereka memiliki jaringan yang luas dan umumnya internet menjadi media yang sangat ampuh dalam membangun koneksi antar anggotanya. Maka sudah sepatutnya kita dan generasi milenial, lebih waspada dan dianjurkan untuk ikut arus utama dalam beragama. Tujuannya jelas, agar siapapun tak mudah terjebak pada paham yang salah dan bertentangan

Saat ini, ada banyak media-media online yang menyediakan informasi dan pengetahuan tentang agama. Karakternya sangat beragam, maka pilihlah media-media yang lebih santun, berwawasan keindonesiaan, mengedukasi dan selalu mengedepankan dakwah yang damai dan sejuk. Bukan media-media yang provokatif, suka menyalahkan kelompok-kelompok yang berbeda, atau malah hobbynya menyebarkan hoax yang sama sekali tak dapat dipertanggungjawabkan.

Rohmatul Izad
Alumni Pascasarjana Ilmu Filsafat Universitas Gadjah Mada.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Madilog Sekali Lagi

Gerakan modernisasi dan perkembangan teknologi terjadi begitu cepatnya saat ini, memunculkan berbagai dampak, baik positif maupun yang negatif, mulai dari dampak yang terlihat maupun...

Harmonisasi Agama, Negara dan Dakwah (I)

Agama (Islam) mengakui eksistensi ‘kabilah’, kaum, suku dan bangsa untuk saling mengenal dan bekerjasama demi kemanusiaan dan peradaban (surah al-Hujurat 9:13). Islam menekankan pentingnya semangat/cinta...

Solusi Bersama untuk PJJ

Gebrakan dari Mas Manteri Nadiem Makarim di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dalam memerdekan pendidikan di Indonesia patut diacungkan jempol. Berbagai konsep pendidikan seperti...

Kita Lengah Karena Syariatisasi Ternyata Masih Berjalan

Kebijakan Bupati Gowa yang akan memecat ASN (Aparatus Sipil Negara) yang bekerja di lingkungannya yang buta aksara al-Qur’an membuat kita sadar jika syariatisasi di...

Sepak Bola, Cara Gus Dur Menyederhanakan Politik

Tahun 1998 adalah masa pertama penulis mulai gemar menonton sepak bola. Kala itu, bersamaan dengan momentum Piala Dunia (World Cup) di Prancis. Ketika opening...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.