Kamis, Januari 21, 2021

Fanatisme Politik dan Kebiadaban terhadap Pers

Lantunan Ayat Suci Al-Quran; Taman Sribaduga

Geus jadi kabiasaan kuring, terutama di poé salasa, rébo jeung Juma’ah, sarengse na sholat shubuh jeung giat ritual anu sejen na, kuring siap-siap ganti...

Perang dan Cerita

Demonstrasi tolak RUU Cipta Kerja terjadi pada 8 Oktober 2020. Seperti aksi-aksi lainnya, kita barangkali bisa mulai menebak, bahwa sepulangnya nanti, hal-hal yang menarik...

Kedaulatan Rakyat atau Kedaulatan Tuhan

“Pancasila yang hanya dimuliakan dengan kata, tetapi dikhianati dalam laku, hanyalah akan memperpanjang derita bangsa ini, sementara tujuan kemerdekaan berupa tegaknya sebuah masyarakat adil dan makmur akan...

Duhai Elite Politik, Adakah Kami dalam Pelobian Kalian?

2018 adalah tahun yang ramai, tahun yang sangat sibuk bagi negeri ini. Setelah disibukkan dengan hiruk pikuk dan keramaian ibukota dari berbagai media serta...
Ilham Akbar
Mahasiswa yang sangat mencintai Batagor dan hobi membaca buku. Director Film Today is Ended. Link Film: https://youtu.be/bKDMqolO4fI

Tidak berbeda dengan masa lampau, pada saat ini juga masyarakat melihat atau bahkan mengalami di mana pers sudah benar-benar dialihfungsikan sebagai media yang selalu menjadi subjek untuk diperkosa ramai-ramai bagi kepentingan politik yang paripurna. Memang sangat begitu sulit untuk memberikan gambaran betapa nahasnya nasib pers tersebut.

Dalam setiap tahunnya, tidak sedikit juga beberapa institusi media yang terus mengalami intervensi dari kepentingan politik, misalnya setiap diadakan pilkada ataupun pilpres, kita bisa melihat mana media yang menjadi pendukung calon A, dan media yang menjadi pendukung calon B atau seterusnya. Ketika kita kembali ke masa lampau, perjuangan pers untuk menjadi independen memang benar-benar harus diberikan predikat sempurna.

Misalnya di orde baru, fenomena jurnalisme cenderung mengarah kepada pencitraan pemerintah. Ketika ada beberapa media yang ingin mengritik Soeharto, atau bahkan sudah mengritiknya, media tersebut selalu di tegur dan diberikan agitasi agar selalu membela Soeharto, sehingga pada akhirnya pers pun memberontak, dan menjadi pers yang independen pada masa reformasi.

Tidak selesai sampai di situ saja, pada saat era reformasi di mulai, pers memang sudah menemukan jati dirinya sendiri untuk menyebarkan informasi kepada khalayak umum. Kebebasan yang sangat liberal pun diberikan kepada pers, dan bahkan karena kebebasan yang diberikan terlalu berlebihan, beberapa media terkadang justru tidak meperhatikan etika jurnalistik yang baik.

Misalnya pada saat itu beberapa media cenderung menerapkan jurnalisme lher, yang di mana jurnalisme tersebut selalu menampilkan bagian-bagian sensitif dari wanita, dan selalu mengarahkan masyarakat untuk mempunyai gairah seks yang luar biasa. Jadi pada intinya fenomena kebebasan pers dari masa lampau sampai saat ini selalu terdistorsi dengan berbagai macam kepentingan, sehingga masyarakat pun sangat sulit untuk menemukan media yang benar-benar netral dalam menyebarkan informasi.

Tetapi sangat tidak adil jika menyalahkan medianya saja, karena dibalik informasi yang disebarkan oleh media, ada fanatisme politik yang menjadi dalang dari berbagai permasalahan independensi media.

Pers Sebagai Korban Fanatisme Politik

Fanatisme politik adalah suatu pandangan ataupun keyakinan yang dijiwai oleh sekelompok orang secara berlebihan. Jika seseorang mengakui bahwa partai politiknya merupakan partai yang paling benar, dan menganggap partai yang lain adalah partai yang selalu salah, maka orang tersebut sangat fanatik.

Memang tidak ada masalah jika mempunyai dedikasi terhadap partainya, tetapi yang sangat disayangkan bila fanatisme tersebut justru merambah kepada beberapa institusi media. Karena dengan adanya bantuan dari media untuk menyebarkan informasi, pada akhirnya fanatisme politik juga menjadi propaganda bagi masyarakat dengan selalu mengatasnamakan fanatisme sebagai upaya untuk mencerdaskan bangsa.

Pada saat ini pers memang sudah menjadi korban fanatisme politik yang sangat sulit untuk dibendung. Tidak hanya dalam motif mencerdaskan bangsa saja, tetapi motif untu menghacurkan elektabilitas partai lain juga seringkali dilakukan oleh beberapa institusi media.

Tetapi seiring berjalannya waktu, justru pada saat ini fanatisme politik juga seringkali tidak terima dengan pemberitaan yang beredar di media massa, fanatisme politik pada saat ini cenderung buta dan tuli, sehingga terkadang sangat sulit untuk menerima fakta yang diberitakan oleh media.

Misalnya saja kemarin, pada tanggal 30 Mei 2018 pemberontakan beberapa kader PDIP kepada media Radar Bogor merupakan bukti bahwa pers pada saat ini sudah menjadi korban kebiadaban fanatisme politik yang tidak jelas arahnya. Padahal PDIP saat ini merupakan partai yang selalu lihai dalam berkonsolidasi dengan beberapa partai lainnya, tetapi sangat disayangkan pada akhirnya tindakan tersebut justru bisa merusak reputasi PDIP sebagai partai yang sangat menyukai pluralisme.

Sangat disayangkan memang, ketika hari lahir pancasila menjadi tranding topic di media sosial twitter, justru pada saat yang sama, ada pelanggaran yang dilakukan oleh salah satu kader partai politik yang merusak nila-nilai pancasila. Hal itu dikarenakan fanatisme politik yang terlalu berlebihan sehingga mengakibatkan tindakan yang sangat biadab terhadap pers.

Oleh karenanya, jika kita ingin menjadi masyarakat yang mencintai dan menjiwai nilai-nilai pancasila, kita harus menghilangkan fanatisme yang tidak jelas, dengan mengutamakan kepentingan bersama, dan tidak bertendensi terhadap kepentingan politik yang merusak intelektual bangsa.

Ilham Akbar
Mahasiswa yang sangat mencintai Batagor dan hobi membaca buku. Director Film Today is Ended. Link Film: https://youtu.be/bKDMqolO4fI
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Proyeksi OPEC, Konsumsi Migas Dunia akan Meningkat

Senin (18/1) penulis berkesempatan untuk memberikan kuliah umum secara daring dengan adik-adik di Politeknik Akamigas Cepu, Jawa Tengah. Maraknya pemberitaan mengenai kendaraan listrik dan...

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

Apa Itu Teo Demokrasi dan Nasionalisme?

Apa itu Konsep Teo Demokrasi? Teo demokrasi terdiri dari gabungan kata yaitu teologi yang berarti agama dan demokrasi yang terdiri dari kata demos berarti rakyat dan...

Menilik Superioritas Ras dalam Film Imperium

Film Imperium yang ditulis dan disutradarai oleh Daniel Ragussis adalah sebuah film thriller yang menampilkan usaha seorang karakter utama yang mencoba untuk “masuk” ke...

ARTIKEL TERPOPULER

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.