Banner Uhamka
Rabu, September 30, 2020
Banner Uhamka

Fahri Hamzah Adalah Kebanggaan Indonesia

Ramadhan, Momentum Persaudaraan di Tengah Pandemi

Dunia sedang dilanda pandemi, oleh virus yang berawal dari negeri Cina. Corona namanya, si virus baru yang belum banyak diketahui sebelumnya. Seluruh dunia dibuatnya...

Manusia Dibakar Hidup-Hidup dan Keislaman Kita

Pernah suatu ketika Nabi Muhammad SAW pergi ke masjid, selalu mendapatkan hinaan, cacian bahkan sering dilempar kotoran. Apa yang dilakukan oleh orang lain kepadanya...

Berlari di Atas Kursi Beroda

Bulan Karunia Rudianti, bocah 10 tahun dari Pekanbaru, terlahir untuk berlari dengan kata-kata, tidak dengan kedua kaki. Ibu Bulan terinfeksi toksoplasma saat mengandung, jadi...

Corona dan Nasionalisme Kita

Berbagai penyakit menular pada manusia yang bersumber dari hewan telah banyak mewabah di dunia, mulai dari pandemi influenza, ebola, flu burung, sars, mers dan...
Muhammad Nuruddin
Mahasiswa Dept. Akidah Filsafat, Universitas al-Azhar Kairo, Mesir | Alumnus Pondok Pesantren Babus Salam Tangerang | Peminat Kajian Sufisme, Filsafat dan Keislaman.

Beberapa waktu yang lalu jagat twitter diramaikan dengan twitwar yang melibatkan antara politisi muda berbakat bernama Tsamara Amany dan Wakil Ketua DPR Indonesia bernama Fahri Hamzah.

Setelah membaca percakapan mereka berdua, saya cukup kagum dengan Tsamara. Politis muda ini sudah cantik, cerdas, pemberani pula. Memang benar kata salah seorang netizen, Tsamara adalah perempuan langka. Bahkan, menurut syaa, mahasiswi Paramadina ini lebih memukau dari Afi Nihaya Faradisa. Beruntunglah sudah laki-laki yang mampu mendaratkan belahan hatinya di belahan dada Tsamara (jangan ngeres loh ya!)

Meski tak kenal secara pribadi, saya turut mendukung sekaligus berharap kelak Indonesia disesaki oleh orang-orang seperti Tsamara. Indonesia tak hanya membutuhkan orang-orang pintar bergelar sarjana, tapi yang paling dibutuhkan oleh Indonesia adalah manusia-manusia bermental baja yang jujur dan penuh dedikasi kepada negerinya. Dan setidaknya saya melihat itu dalam diri Tsamara.

Saya sendiri tidak setuju—untuk tidak berkata kesal dan mual—dengan jawaban-jawaban yang disampaikan oleh Fahri Hamzah dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan Tsamara. Masa kemampuan KPK dalam meringkus ratusan koruptor dijadikan indikator ketidaksuksesan kinerja yang menjadi agenda utama mereka? Ya, bagi sebagian orang, termasuk Tsamara, tentu ini menyakitkan dan membakar ubun-ubun kepala.

Tapi ada satu hal yang Tsamara dan netizen lupakan, yaitu sisi lain dari sosok Fahri Hamzah.
Jika Anda pernah belajar Bahasa Arab, saya yakin Anda bisa menerjemahkan nama yang disandang oleh yang mulia bapak Wakil Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia itu. Kata fahri, jika menggunakan huruf kha (fakhri) terambil dari kata fakhr, yang kalau diterjemhkan kedalam bahasa Indonesia berarti kebanggaan. Dengan dinisbatkan kepada huruf ya, maka kata fakhri itu memiliki makna “kebanggaan saya”.

Oh my God, betapa mulianya nama beliau ini. Besar kemungkinan, dulu orang tuanya menamai beliau dengan nama fakhri karena berharap agar ia mampu menjadi kebanggaan orang tuanya. Selain menjadi kebanggaan orang tua, Fahri juga pasti diharapkan agar mampu menjadi kebanggaan negeri serta agama yang dipeluknya.

Sekarang impian orang tua Fahri tersebut saya kira sudah hampir terwujud (aku bilang hampir loh ya). Dia diamanti oleh rakyat Indonesia sebagai Wakil Ketua DPR RI yang memiliki peran besar dalam menentukan kebijakan-kebijakan negara. Luar biasa, bukan?

Andai kata Fahri jujur dengan amanat yang diembannya, saya yakin ia bisa menjadi kebanggaan rakyat Indonesia. Bukan saja dibanggakan, ia juga pasti akan dihormati, dieluk-elukkan, dipuja, kemana-mana orang minta selfi, minta foto bareng, terus mereka upolad foto mereka di facebook, twitter, instagram, sambil bilang: “Bersama yang terhormat bapak Fahri Hamzah, Wakil DPR Indonesia. Sehat terus ya pak. I Lop yu”

Itu kan yang sering kita lihat kalau ada orang yang foto bareng sama pak Jokowi, pak Ahok dan orang-orang jujur lainnya di Indonesia? Sejak dulu memang begitulah balasan bagi orang-orang yang tulus mengabdi kepada kepada sesama manusia. Seseorang itu dihormati bukan hanya karena Agama, jabatan, gelar akademik apalagi tumpukan harta yang dimilikinya. Tapi ia akan dihormati dengan akhlak dan kepribadian yang baik yang mampu ia terjemahkan dalam perkataan, tindakan dan perbuatan sehari-harinya.

Saya sangat berharap jika di kemudian hari bapak yang mulia Fahri Hamzah mampu menjadi kebanggaan Indonesia, seperti doa yang tercantum dalam namanya. Tapi, melihat dialog yang berlangsung antara dia dengan Tsamara kemarin, saya jadi ragu. Bahkan, keraguan saya memuncak ketika banyak netizen yang menghujat dan menyudutkannya.

Ini kira-kira netizennya yang sudah sesat pikir atau justru pak Fahri Hamzahnya yang (isi sendiri, saya tidak tega)? Saya berharap yang mulia bapak KH Fahri Hamzah membaca tulisan saya ini. Di tengah hujatan yang diterimanya, melalui tulisan ini, saya berdoa dan berharap agar kelak beliau mampu menjadi kebanggan rakyat Indonesia.

Amanat yang diembannya kini sangat besar. Ia menjadi perwakilan rakyat dari negeri dengan penduduk Muslim terbesar di dunia yang setiap hari berharap agar negeri mereka bebas dari keculasan para koruptor yang merusak dan menghambat kemajuan negara.
Wahai yang mulia bapak Fahri Hamzah, tegakah engkau membuat hati kami kecewa dengan jawaban yang engkau sampaikan tempo hari kepada Tsamara dan dilihat oleh ribuan orang Indonesia?

Selama ini bapak digaji oleh uang rakyat untuk mewujudkan aspirasi mereka dalam memberangus para koruptor durjana yang menghitamkan wajah negara kita.
Lalu, layakkah engkau yang dipercayai sebagai wakil rakyat itu meruntuhkan kredebilitas KPK ketika mereka mampu membuktikan dan menjalankan tugas utamanya di negeri kita?

Wahai bapak Fahri Hamzah yang mulia, engkau adalah kebanggaan Indonesia. Bahkan, aku berharap kelak bapak bisa mengharumkan nama negeri kita di atas panggung dunia.
Engkau adalah orang baik nan berhati mulia. Kopiah yang mendarat di kepala bapak adalah buktinya. Saya yakin bapak rajin salat dan berderma kepada orang-orang miskin papa. Saya yakin orang seperti bapak dan Fadli Zon punya iktikad baik dalam membangun Indonesia. Tapi mohon, tidak begini caranya.

Membangun Indonesia tidak harus dengan merendahkan harkat, derajat dan martabat KPK yang—seperti dikatakan oleh Tsamara—dipercayai oleh sekitar 64,4 persen rakyat Indonesia. Mungkin kita semua sudah gila dengan mendukung KPK. Karena, seperti yang bapak sampaikan dan dikutip Tsamara, penangkapan yang mereka lakukan hanyalah bisnis belaka.

Ya. Kita sudah gila. Kita, pak Jokowi, pak Ahok, yang kini mendekap dalam penjara, dan mayoritas rakyat Indonesia ini memang sudah sinting dan gila dalam menggelorakan semangat membersihkan negeri kita dari para koruptor durjana. Saya yakin bapak bukan bagian dari mereka. Karena itu, saya berharap bapak bisa mewujudkan aspirasi kami dengan mendukung apa yang sudah diperjuangkan oleh KPK.

Karena bapak sesungguhnya adalah kebanggaan Indonesia (fakhr Andunisiya). Nama bapak adalah nama yang mulia. Dan kita semua, termasuk orang tua bapak, sangat berharap agar kelak bapak benar-benar menjadi orang yang mulia.

Nah, salah satu langkah untuk merengkuh kemuliaan itu, bapak, ialah dengan menjadi wakil rakyat yang adil, bertanggungjawab, amanah, dan bijaksana. Dan yang lebih penting lagi tentunya mencarikan wanita yang kecerdasan, kecantikan dan keberaniannya seperti Tsamara untuk saya. Hahahaha.

Saya tunggu loh pak. Semoga bapak tetap amanah dalam menjalankan tugas bapak. Jika bapak salah saya berdoa agar Tuhan mengampuni dosa bapak dan membuat bapak lebih sadar akan beratnya tugas yang bapak terima. Tapi jika saya yang salah, saya hanya meminta kepada bapak untuk bersungguh-sungguh mencarikan wanita secerdas dan seberani Tsamara. Karena saya yakin bahwa orang seperti Tsmara itulah yang pantas menjadi wakil rakyat Republik Indonesia, bukan saya, juga bukan bapak.

Salam dari bumi para Anbiya.
Kairo, Saqar Quraish, 9 Juli 2017

Muhammad Nuruddin
Mahasiswa Dept. Akidah Filsafat, Universitas al-Azhar Kairo, Mesir | Alumnus Pondok Pesantren Babus Salam Tangerang | Peminat Kajian Sufisme, Filsafat dan Keislaman.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pengkhianatan Cinta

''Pernahkah Anda melihat orang yang berbuat jahat terhadap orang yang amat dicintainya?'' seseorang bertanya pada Abu Dzar al-Ghiffari, sahabat Rasulullah SAW. ''Pernah, bahkan sering,''...

Minang, Tan Malaka dan Dialektikanya

Minang kembali diperbincangkan di panggung politik nasional. Kali ini bukan karena tokoh dan pemikirannya, melainkan karena ucapan “Semoga Sumatera Barat mendukung Pancasila.” Tulisan ini tidak...

Optimasi Peran Wakil Rakyat di Tengah Pandemi

Mengutip pendapat Cicero dalam Phoebe E. Arde-Acquah (2015), terdapat sebuah adagium hukum yang menyatakan bahwa keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi. Secara konstitusional, adagium hukum...

Miskonsepsi Seks dengan Persetujuan

Pada 13 September 2020 lalu, terunggah sebuah kiriman di Instagram yang berjudul “Kupas Tuntas Pakta Integritas UI dan Pendidikan Sex dengan Persetujuan” yang di...

Jika Cantik Hanya Mengikuti Standar Industri

Belakangan ini perbincangan mengenai bagaimana diri kita maupun bagaimana industri mendefinisikan standart kecantikan kembali ramai diperdebatkan. Mulai dari gerakan perempuan dukung perempuan yang dianggap...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.