Selasa, Maret 9, 2021

Facebook dan Martabat Manusia

Bahagia Lewat Kemenangan-kemenangan Kecil

Tidak mudah menjadi seperti Muhammad Ali. Juara dunia tinju yang legendaris asal Amerika Serikat itu menjadi tokoh inspiratif di level global berkat kepalan tinjunya....

Nasib Eks ISIS dan Presiden Jokowi

Kontroversi di ruang publik tentang pemulangan warga Indonesia (eks ISIS) di luar negeri sudah menemui hasilnya. Pemerintah dengan tegas menolak dan menutup pintu kedatangan...

Langkah Mundur Kampanye Pilpres 2019

Tabuh kontestasi pemilu presiden (pilpres) 2019 masih terus berlangsung dengan berbagai dinamika. Masing-masing pasangan calon (paslon), baik nomor urut 01 dan nomor urut 02...

Profesor Nurdin Abdullah, Pahlawan di Balik Kemajuan Bantaeng

10 November, sejarah ini ditulis dan hingga kini terus diperingati sebagai hari pahlawan nasional. Kita yang biasa membuka-buka buku sejarah sudah tentu tahu: sebuah...
BoneZanda
Pendidik SMA Katolik Regina Pacis Bajawa-Flores-NTT

Tak dapat dimungkiri, bahwa facebook (FB) adalah salah satu media sosial (medsos) yang sangat digemari manusia. Baik bagi masyarakat perkotaan, pedesaan hingga dunia anak. FB sungguh telah mencandui perut, pikiran dan hati manusia. Seharian rela tak makan—asalkan bermain FB.

Alhasil, FB menjadi lebih penting dari makanan dan minuman. Hanya dalam hitungan detik orang bisa mengakses aneka informasi lalu meng-update status dan mem-posting apa saja yang diinginkan.

Setiap momen penting yang dialami, baik personal maupun komunal, tampil  secara lugas dan diabadikan dalam kata dan foto bahkan video. Lazimnya, apa yang di-posting pada dinding dunia maya, entah dalam bentuk frase, gambar ataupun video merupakan bentuk ekspresi emosi yang sedang dialami seseorang. Sekaligus mau menyiratkan pesan-pesan informatif kepada publik mengenai situasi perasaanya saat itu. Mungkinkah lagi marah atau lagi bergembira. Entalah.

Lucunya lagi, orang akan merasa puas dan bahkan bangga ketika  berbagai pengalamanya, juga apa yang dirasakan sudah dibagikan kepada orang lain melalui dinding FB. Hati pun akan berbunga-bunga lantaran status mendapat komentar dan like dari ribuan orang. Amat lucu sih. Tapi itulah realitas yang besembunyi dibalik argumen kebebasan dan hak otonom manusia itu sendiri.

Sebab, dalam konteks berbagi, FB telah dijadikan sebagai wadah yang amat primadona untuk semua kalangan warganet. Bahkan ditengah kesibukan dengan pekerjaan masing-masing para warganet takkan pernah melewatkan waktu begitu saja tanpa mem-posting sesuatu pada dinding FB-nya.

Sehingga tak perlu heranlah jika para warganet selalu menyempatkan diri untuk meng update status lewat beragam formulasi yang menarik walau pun dalam situasi yang sangat sibuk sekali pun.

Oleh karena itu, tak perlu kaget. Apalagi sok, ketika kita menyaksikan semakin banyak warganet yang memaknai kebebasan itu secara salah. Bahkan jangan pandai mengutuk ketika pemaknaan terhadap kebebasan secara salah pun terus dipraktekan.

Substansi dasar kehadiran media seharusnya untuk membantu manusia dalam menyebarkan nilai-nilai, justru telah terjadi sebaliknya. Di sana-sini  makin banyak terjadi degradasi nilai-nilai kemanusiaan yang amat masif.

Selain itu, kita juga sering diperhadapkan dengan berbagai  postingan foto-foto atau video para korban kecelakaan atau kasus pembunuhan. Dan pada saat yang sama, sebenarnya para pemosting sedang melakukan proses viktimisasi korban dan menambah rasa sakit serta luka di atas balutan duka dan kesedihan keluarga.

Dalih-dalih menjadikan diri sebagai warganet yang berempati, tetapi tanpa sadar justru telah merendahkan martabat manusia itu sendiri. Padahal, mendoakan dalam hati jauh lebih bermartabat ketimbang memposting para korban di FB. Tapi itulah realitas. Seringkali warganet memposting korban dengan sederetan kalimat kudus, supaya dianggap baik dan sok peduli gitu. Pencitraan yang serentah semakin membunuh korban kian sakit.

Sering pula kita menjumpai status cemoohan, gosip, sindiran berbau sarah dan agama, hingga penggunaan kata-kata kotor yang amat jorok. Apalagi kalau akun FB dihack, kehilangan barang tertentu atau ada rasa tidak puas terheadap seseorang, itu kata-katanya seperti rudal yang menghancurkan kota Nagasakti dan Hiroshima.

Sehingga, tak heran jikalau kebanyakan warganet akan merasa puas, jikalau berbagai perasaan kebencian, iri hati bahkan masalah dalam keluarga sekali pun sudah diposting di FB. Padahal medsos bukanlah wadah yang tepat untuk menyelesaikan beragam persoalan hidup manusia itu sendiri.

Ingat FB bukanlah wadah yang menawarkan solusi yang humanis. Justru sabaliknya akan semakin mengarahkan diri manusia ke jurang kematian harga diri, sesama dan lingkungan sosial.

Itu berarti, media sosial hanyalah sekadar menjdi obat bius sesaat dan sesat untuk menghilangkan berbagai persoalan yang menderah diri kita. Dan pada akhirnya kita sendirilah yang menghempaskan diri kita ke dalam sampah yang amat menjijikan.

Diakhir tulisan ini saya coba menawarkan 3 solusi yang kiranya dapat menjadi pegangan kita semua dalam memaknai hidup ini secara bijaksana. Pertama, menjadikan FB sebagai ruang kebebasan individu yang didasari oleh semangat sosialis. Itu berarti kebebasan individu harus dimakanai secara luas.

Bahwa sebagai makhluk sosial, perwujudan kebebasan individu, kebutuhan dan kemampuan untuk berkomunikasi serta mengekspresikan setiap pengalaman dan perasaan kita haruslah disalurkan secara human dan etis.

Kedua, kode etik bermedia harus berpegang pada prinsip-prinsip nilai dan norma. Setiap persoalan hidup haruslah diselesaikan dengan mengandalkan peran-peran sesama secara langsung dan bukanya mengandalkan peran medsos.

Sebab, setiap luka hidup hanya bisa disembuhkan, kalau manusia selalu mengandalkan peran-peran sesamanya secara langsung lewat berbagai pendekatan yang humanis. Sebaliknya, luka itu akan menjadi sumber nanah yang mampu meracuni martabat manusia hingga mati, jika manusia terus menyambah FB seperti Tuhan

Oleh karena itu, kebebasan dalam bentuk apa pun haruslah mampu membebaskan diri, sesama dan lingkungan sosial. Mampu melahirkan rasa nyaman, memiliki daya positif bagi sesama. Bahkan harus mampu untuk mempertinggi martabat manusia itu sendiri secara berkelanjutan.

Ketiga, budayakan kebiasaan refleksi sebelum istirahat malam. Manusia adalah makhluk pencipta sekaligus penghisap kisah-kisah hidup. Jika hari yang telah lalu, saya pernah menyakiti sesama lewat FB segeralah bertobat.

Pada saat-saat seperti itu, refleksi menjadi amat urgen. Lewat refleksi, sebenarnya kita sedang berbincang-bincang dengan Tuhan. Darinya, kita dituntun oleh Roh Kudus uantuk mengetahui berbagai kelemahan yang telah kita buat sembari menyadarinya dengan sungguh.

Penyadaran itu pun harus diwujudkan dalam tindakan konkret. Sederhananya begini. Berpikir dahulu sebelum berbuat. Tak sulit bukan. Ini menjadi amat penting untuk membangun komitmen yang berkelanjutan tanpa henti. Bahwa saya, Anda dan kita sekalian tidak pernah boleh lagi untuk selalu jatuh pada lubang yang sama.

Kita harus bangkit untuk menunjukan diri kita masing-masing sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna dan mampu menempatkan diri pada tempat dan waktu yang tepat, ya.

BoneZanda
Pendidik SMA Katolik Regina Pacis Bajawa-Flores-NTT
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Harap-Harap Cemas Putusan MK pengujian Perubahan UU KPK

Sudah setahun lebih setelah UU No. 19 Tahun 2019 (perubahan UU KPK) disahkan dan bentuk penolakan pun masih senantiasa digulirkan. Salah satu bentuk penolakan...

Mereformulasi Pengaturan Hukum Mitigasi Bencana

Bencana alam seringkali tidak dapat diprediksikan. Dimana jenis bencana alam yang terjadi tersebut turut menimbulkan korban jiwa, kerugian materil ataupun kerugian imateril kepada masyarakat...

Apresiasi dan Masalah Tersisa Pencabutan Perpres Miras

Kita patut memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas tindakan berani dan jujur Presiden Jokowi untuk mencabut lampiran Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2021 tentang Investasi...

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

Dialektika Hukum Kepemiluan

Dalam penyelenggaraan suatu pemerintahan, hukum dan politik merupakan dua hal yang memiliki keterikatan secara timbal balik. Hubungan timbal balik antara hukum dan politik tersebut...

ARTIKEL TERPOPULER

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Euforia Bahasa Arab

(Ilustrasi) Pameran busana tradisional Arab dalam Pekan Kebudayaan Saudi Arabia di Jakarta, Minggu (27/3). ANTARA FOTO/Rosa Panggabean. Entah apa yang ada di dalam pikiran sejumlah...

Madinah, Tinjauan Historis

Yatsrib atau yang sekarang dikenal dengan nama Madinah merupakan salah satu daerah yang subur di Jazirah Arab pada masa itu. Penduduk Madinah sebelum Islam...

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.