Rabu, Oktober 28, 2020

Evaluasi 3 tahun Jokowi-JK di hari sumpah pemuda

Generasi Netflix dan Politik Orang Tua

“Gue suka banget series baru di Netflix, lo harus nonton!” Ini pesan dari teman saya yang lagi suka-sukanya nonton series di Netflix. Dia kemudian cerita...

Pancasila dan Petaka Toleransi Neoliberal

Salah satu tema yang diperdebatkan dalam forum debat pilpres 2019 sesi ke-empat adalah ideologi. Berbicara seputar ideologi pada umumnya merujuk pada pembicaraan seputar pancasila....

Jurnalisme Data, Tebar Ancaman Atau Manfaat?

Baru-baru ini ada satu kanal berita nasional yang memangkas karyawannya. Kebanyakan posisi yang kena dampak dari kebijakan itu adalah reporter (penulis) dan fotografer. Konon, hal...

Ayat-Ayat yang Tak Dapat Dipercaya

Ada banyak hal yang bisa dibincang dari film Ayat-Ayat Cinta 2 yang telah tayang di bioskop Indonesia sejak tanggal 21 Desember 2017 kemarin dan...
Paisal Anwari
Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Suryakanacana Himpunan Mahasiswa Islam

 Sumpah Pemuda adalah satu tonggak utama dalam Sejarah pergerakan Kemerdekaan Indonesia. Ikrar ini dianggap sebagai semangat untuk menegaskan cita-cita berdirinya negara Indonesia serta merupakan suatu pengakuan dari Pemuda-Pemudi Indonesia yang mengikrarkan, satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa, tepat pada tanggal 28 Oktober 1928. Sumpah Pemuda bertujuan untuk mengobarkan semangat persatuan baik di tubuh pemuda serta rakyat Indonesia untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dari cengkraman serta dorongan baik dari luar maupun dari dalam negara. Semangat persatuan itulah yang menjadi dasar untuk Sila Ketiga dalam Pancasila menurut Paisal Anwari, Ketua bidang Pembinaan Aparatur Organisasi (PAO) HMI Cabang Cianjur.

“Sila ketiga; Persatuan Indonesia, ditunjukkan dengan semangat persatuan dan kesatuan dalam melawan penjajah. Sebelum era kebangkitan nasional, Negara Indonesia terdiri dari kerajaan-kerajaan yang memiliki kekuasaan masing-masing dan kedaulatan yang terpisah. Oleh karena itu, pada zaman kerajaan dulu, Indonesia mudah dimasuki dan diduduki oleh kaum imperialis yang mencari daerah jajahan. Setelah sekian lama berada dibawah kekuasaan penjajah, semangat persatuan dan kesatuan serta semangat sebangsa dan setanah air, mulai tumbuh di hati bangsa Indonesia. Karena adanya rasa senasib dan sepenanggungan dan kesamaan tujuan untuk melawan penjajah, akhirnya rasa persatuan dan kesatuan itu muncul dan tumbuh dalam diri bangsa Indonesia yang ditandai dengan lahirnya Budi Utomo dan Sumpah pemuda.” Ungkap Paisal 

Namun disaayangkan, tepat pada peringatan Hari Sumpah Pemuda yang ke-89 tanggal 28 Oktober 2017 ini, kondisi rakyat Indonesia masih saja belum menikmati kemerdekaan untuk berdaulat dan mandiri menentukan nasibnya sendiri.

Ardiansyah, Ketua Bidang Perguruan Tinggi Kemahasiswaan dan Pemuda (PTKP) HMI Cabang Cianjur, mengungkapkan Kemerdekaan Indonesia yang menjadi jembatan emas menuju kesejahteraan rakyat hingga saat ini masih belum tercapai, bahkan Pemerintah Indonesia Jokowi-JK yang genap berusia 3 tahun pada tanggal 20 Oktober 2017 belum bisa menunjukan sepenuhnya visi-misi yang tertuang didalam Nawacita yang menjadi sebuah harapan untuk dapat mewujudkan kesejahteraan rakyat Indonesia.

“Revolusi mental yang sasarannya adalah reformasi birokrasi baru terjadi dilapisan atas dan belum sampai kelevel bawah, masih banyak birokrat dan politik uang yang sangat masif. Pancasila sangat baik akan tetapi adanya pecah kondisi antara Pancasila dan prilaku politik tidak berjalan semestinya. Pembangunan infrastruktur gencar dilakukan walaupun dengan berutang, tapi itu perlu dipertanyakan, untuk rakyat atau untuk pemodal?”. Ada pembangunan bandara, pembangkit listrik dan jalan tol mengubah tanah petani, dan ini adalah suatu pengabaian pada masyarakat kecil.

HMI Cabang Cianjur menuturkan Beberapa bukti kinerja aparat penegak hukum belum optimal selama tiga tahun pemerintahan Jokowi-JK dan mengharapkan semua hal tersebut menjadi suatu evaluasi bagi Pemerintahan Jokowi-JK yang genap berusia 3 tahun di Hari Sumpah Pemuda.

“Pemerintah di era saat ini buta terhadap kepentingan sosial, terutama rakyat kecil, ketimpangan sosialpun terasa sangat tinggi, apalagi pembangunan yang dilakukan Pemerintah ini lebih condong ke Asing dan masyarakat menengah ke atas bukan kaum kecil, misalnya pembangunan kereta cepat, itu tidak penting, tapi malah dibuat, bahkan harganyapun tidak murah dan itu menimbulkan proyek-proyek lain yang menjepit masyarakat kecil. Selain itu ada pula pada keterbukaan hukum. Banyak pejabat-pejabat dari partai politik yang kebal akan hukum, bahkan setelah ditetapkan sebagai tersangkapun masih bisa melenggang bebas dan lepas dari jeratan hukum yaitu ketua DPR, Setya Novanto.” Tutup Ardiansyah.(O

Paisal Anwari
Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Suryakanacana Himpunan Mahasiswa Islam
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

KDRT Saat Pandemi

Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) atau yang lebih dikenal dengan nama COVID-19 adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini...

Politik dan Monopoli Media Sosial

Saat ini, kita hidup di era cyberspace (dunia maya). Era yang pertama kali diperkenalkan oleh William Gibson dalam buku Neuromancer itu, dimaknai sebagai suatu...

Candu Media Sosial, Kajian Filosofis dan Psikologis

Bermain ria di “alam medsos” terkadang meng-asyikkan. Tapi akhirnya menganggap dunia nyata jadi tak menarik untuk bersosialisasi dan mengemban hidup secara hakiki. Untuk melihat...

Membendung Hegemoni China di Asia Tenggara

Lima hari sudah Menteri Luar Negeri (Menlu) China Wang Yi berkunjung ke empat negara di Asia Tenggara (15-18 Oktober 2020). Dalam kunjungan ke Kamboja,...

Reformasi Kewenangan Legislasi DPD

Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebagai anak kandung reformasi telah berusia 16 tahun. Lembaga negara buah amandemen ketiga UUD 1945 mengalami banyak goncangan. Isu pembubaran...

ARTIKEL TERPOPULER

Pemuda Pancasila Selalu Ada Karena Banyak yang Memeliharanya

Mengapa organisasi ini masih boleh terus memakai nama Pancasila? Inikah tingkah laku yang dicerminkan oleh nama yang diusungnya itu? Itulah pertanyaan saya ketika membaca...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Tamansiswa, Ki Hadjar Dewantara, dan Sistem Pendidikan Kolonial

Setiap 2 Mei kita dihadapkan pada kesibukan rutin memperingati Hari Pendidikan Nasional. 2 Mei itu merupakan tanggal kelahiran tokoh pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara,...

“Islam Kaffah” yang Bagaimana?

Sebuah buletin baru “Buletin Dakwah Kaffah” terbit pada 18 Dzulqa’dah 1438 H/11 Agustus 2017. Judul “Islam Kaffah” mengingatkan kita kembali slogan Hizbut Tahrir Indonesia...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.