Minggu, Desember 6, 2020

Entitas “New Normal” sebagai New Culture Masyarakat

Ketidakpastian Hukum Menjadikan Kekerasan Seksual Marak Terjadi

Apa yang ada dibenak kita ketika mendengar kata kekerasan, tentu akan berfikiran mengenai sesuatu tindakan yang melanggar norma dan juga bersifat merugikan bagi korbannya....

Pernikahan Anak, Sampai Kapan Terus Terjadi di Indonesia?

Beberapa tahun yang lalu, penulis pernah mengikuti acara Bakti Sosial di sebuah perkampungan nelayan yang hanya memakan waktu kurang lebih dua jam dari Jakarta....

Puisi Sukmawati: Sastra sebagai Media Penghinaan?

Sastra sampai saat ini masih dijadikan media paling tepat dalam mengungkapkan ekspresi penulisnya. Menjadi media paling halus untuk berkomunikasi, mengkritik, dan menyampaikan hikmah-hikmah terhadap...

Ijtihad Politik Kiai Afifuddin Muhajir

Secara mengejutkan, KH. Afifuddin Muhajir, wakil Pengasuh PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo belakangan terlibat aktif dalam dunia perpolitikan. Sebenarnya jika mengikuti dan membaca karya-karya Kiai...
Isna Maulida
Mahasiswi Antropologi Sosial, Universitas Diponegoro. menyukai isu-isu kebudayaan, dan seorang pembelajar yang cepat.

Sudah empat bulan lamanya tatanan hidup masyarakat dunia termasuk Indonesia terasa diobrak-abrik akibat adanya pandemi covid-19. Menurut webinar yang dilakukan oleh lembaga riset Smeru, kondisi ini tidak hanya merupakan krisis kesehatan, tetapi juga krisis sosial, budaya, dan ekonomi.

Fenomena budaya yang tidak pernah terjadi sebelumnya, mengharuskan masyarakat mampu untuk beradaptasi. Pandemi ini tentunya memiliki dampak positif dan negatif. Dalam hal positif, ternyata terdapat beberapa aktivitas  yang tidak perlu dikerjakan dengan cara work from out cukup dengan work from home melalui media online dapat dilakukan dengan baik, walaupun tidak semua kegiatan dapat berjalan semulus itu.

Bagi dunia pendidikan, khusunya mahasiswa merasa diuntungkan dan dirugikan. Menguntungkan karena dapat mengikuti banyak event seperti seminar gratis dengan pembicara hebat, jika event itu dilakukan secara offline harga tiket akan sangat mahal, sudah pasti kantong anak kos akan menjerit. Sedangkan yang merugikan, mulai dari sistem kuliah online dengan segudang permasalahan, belum lagi event-event organisasi kampus yang sudah disusun sejak awal tahun tidak terlaksana. Belum lagi permasalahan sosial, budaya dan ekonomi.

Akhir-akhir ini juga muncul istilah asing yang sedang ramai diperbincangkan oleh masyarakat Indonesia, yaitu new normal. Kemunculanya cukup membuat kita terkejut, karena angka positif covid yang belum turun, sedangkan pemerintah dengan segala pertimbanganya memberikan kebijakan new normal.

New normal diartikan sebagai skenario untuk mempercepat penanganan COVID-19 dalam aspek kesehatan dan sosial-ekonomi. Pemerintah Indonesia telah mengumumkan rencana untuk mengimplementasikan skenario new normal dengan mempertimbangkan studi epidemiologis dan kesiapan regional (Detik.news, 16/06/2020)

Dalam fase new normal ini, masyarakat dapat melakukan kembali aktivitasnya di luar rumah setelah berbulan-bulan harus poduktif melalui rumah masing-masing. Tentunya tidak hanya sekadar pergi dengan bebas, namun harus sesuai dengan protokol kesehatan seperti menggunakan masker, melakukan social distancing, selalu mencuci tangan, dan lain sebagainya.

Sejak munculnya covid-19 sampai diputuskanya kebijakan new normal di beberapa wilayah tertentu, merupakan fenomena perubahan sosial budaya. Perubahan ini tampak nyata dan dirasakan kehadiranya di tengah-tengah masyarakat, bahkan diri kita sebagai individu. Yang menjadi pertanyaan saya adalah sampai kapan perubahan ini terjadi? apakah ini adalah budaya baru dalam masyarakat Indonesia?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, dapat ditinjau menggunakan aspek antropologis yang tidak asing dengan adanya teori ekologi budaya oleh Steward. Teorinya cukup relevan untuk menjawab kondisi budaya yang terjadi saat ini.

Steward mengatakan “Tidak ada kebudayaan yang terbentuk secara linier dan mengikuti model umum kebudayaan yang berlaku di setiap masyarakat “ (Nasdian Ft:2015).  Yang berarti kebudayaan masyarakat dapat berubah-ubah tidak selalu berdasarkan warisan nenek moyang, namun dapat juga sebagai  hasil penyesuaian terhadap kondisi lingkungan masyarakat pada saat itu.

Dalam konteks new normal, manusia saat ini sedang melakukan upaya penyesuaian diri terhadap lingkungan supaya dapat bertahan, namun tidak hanya sekadar bertahan, tetapi juga mampu memenuhi kebutuhan hidupnya berdasarkan kondisi budaya.

Menurut Meggers ( dalam Keesing, R:2014) Analoginya manusia adalah hewan, dan seperti semua hewan-hewan lain, harus menjalankan satu hubungan adaptif dengan lingkungannya dalam rangka untuk tetap dapat hidup. Meskipun manusia dapat melakukan adaptasi ini secara prinsipil melalui alat budaya, namun prosesnya dipandu oleh aturan-aturan seleksi alam seperti yang mengatur adaptasi biologis.

Perubahan budaya merupakan jawaban untuk menyelesaikan tantangan yang ada. Mulai dari keputusan diberlakukanya social distancing, psbb, hingga new normal merupakan bentuk kebijakan pemerintah yang lambat laun akan membentuk suatu kebudayaan baru. Dalam hal ini, terbentuknya kebudayaan berasal dari pola kebiasaan yang dijalankan dan dipatuhi oleh masyarakat secara terus menerus.  Perubahan budaya tersebut diibaratkan seperti bentuk adaptasi yang memiliki maksud sama dengan seleksi alam.

Fakta di lapangan menunjukkan, bahwa masyarakat sedang berada pada kondisi budaya baru yang sebelumnya tidak pernah terjadi. Berbagai kebijakan pemerintah dapat mengkonstruksi budaya baru. Dalam hal ini pemerintah berperan sebagai aktor dalam menciptakan kebudayaan tersebut.

Dengan berbagai perubahan yang terjadi, tentunya pemerintah sebagai pemegang kekuasaan memiliki wewenang penuh untuk merumuskan kebijakan yang tepat dalam menghadapi pandemi. Karena otoritas merupakan implementasi kekuasaan dari pemegang kekuasaan. Seperti yang dikatakan Levi Strauss  (dalam Rahmawati, Isnaini:2018) bahwa manusia dalam melakukan aktivitasnya ditentukan oleh struktur dan aturan.

Jika dalam beberapa pengetahuan mengatakan bahwa budaya itu dikonstruksi. Sedangkan Levi Strauss mengatakan budaya itu given. Masyarakat hanya objek yang bergerak sesuai dengan sistem yang telah ditetapkan. Individu yang bergerak di luar sistem ini akan dianggap menyimpang.

Sebagai contoh pemerintah telah menetapkan bahwa dengan adanya pandemi, masyarakat diharuskan berpergian menggunakan protokol kesehatan. Keputusan ini telah disepakati dan dianggap benar, sehingga ketika ada masyarakat yang tidak patuh terhadap keputusan yang disepakati tadi, secara jelas akan dikatakan menyimpang.

Lantas jika new normal merupakan budaya baru Bangsa Indonesia, maka apa yang akan terjadi dengan budaya-budaya sebelumnya. Budaya masyarakat Indonesia yang gemar sekali berkumpul akan dibenturkan dengan budaya new normal yang memberikan jarak pada interaksi sosial. Budaya bersalaman tidak diperbolehkan selama adanya pandemi. Artinya budaya kolektif masyarakat lndonesia sementara waktu akan tergantikan dengan budaya invidual.

Substansi adanya perubahan budaya ini adalah bagaimana setelah pandemi aktvitas budaya masyarakat Indonesia dapat kembali lagi. Hal ini akan menjadi parameter seberapa kuatkah budaya Indonesia bertahan.

Isna Maulida
Mahasiswi Antropologi Sosial, Universitas Diponegoro. menyukai isu-isu kebudayaan, dan seorang pembelajar yang cepat.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Nasib Petani Sawit Kalau Premium Dihapus

What? Chaos macam apa lagi ini? Itu pikiran saya saat beberapa bulan lalu terdengar kabar dari radio bahwa ada rencana pemerintah untuk menghapus bahan bakar...

Islam Kosmopolitan

Diskursus tentang keislaman tidak akan pernah berhenti untuk dikaji dan habis untuk digali. Kendati demikian, bukan berarti tidak ada titik terang. Justru, keterkaitan Islam...

Kerusakan Lingkungan Kita yang Mencemaskan

Menurut data dari BPS, pada tahun 2018 jumlah kendaraan bermotor di Indonesia mencapai 146.858.759 unit, jumlah tersebut meliputi mobil pribadi, mobil barang, bis dan...

Pilkada yang Demokratis

Tidak terasa pergelaran pemilihan kepada daerah yang akan dilaksankan pada 9 Desember mendatang sebentar lagi akan dijalankan. Pilkada serentak dilaksanakan di 270 daerah di...

DPRD DKI; Kembalilah Menjadi Wakil Rakyat!

Saya terhenyak ketika mendapat informasi perihal naiknya pendapatan langsung dan tidak langsung anggota DPRD DKI Jakarta tahun anggaran 2021. Berdasarkan dokumen Rencana Kerja Tahunan...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Nasib Petani Sawit Kalau Premium Dihapus

What? Chaos macam apa lagi ini? Itu pikiran saya saat beberapa bulan lalu terdengar kabar dari radio bahwa ada rencana pemerintah untuk menghapus bahan bakar...

Yesus, Tuhan Kaum Muslim Juga? [Refleksi Natal dari Seorang Mukmin]

Setiap menjelang perayaan Natal, fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang boleh tidaknya kaum Muslim mengucapkan selamat Natal menjadi perbincangan. Baru-baru ini MUI kembali menambah...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.