Rabu, Januari 20, 2021

Elektabilitas Partai dan Figur Kader

Kisah Chelsea “Si Penentu Juara”

Chelsea Football Club merupakan pemenang 6 kali Liga Inggris, dengan rincian 1 kali Juara Divisi Satu Inggris pada musim 1954-1955, dan 5 kali Juara...

Kriminal dalam Dunia Digital

Hampir setiap saat kejahatan terjadi dan menghantui bumi pertiwi. Para presenter di layar televisi pun tak pernah lelah memberi informasi dari berbagai penjuru negeri....

Sepi dan Tekanan Hidup

Bagi Alexandra, pekerjaannya sebagai Relationship Manager di Border Bank, salah satu bank multinasional di Jakarta sudah sangat menjanjikan kehidupan yang baik. Gaji yang besar,...

[Masih Soal] Perppu Ormas dan Tantangan Demokrasi

Sebagaimana yang dipaparkan pada tulisan saya sebelumnya mengenai Perppu Ormas, bahwa Perppu ini memiliki masalah tersendiri terkait ambisi kepentingan yang hendak ia capai: bahwa...
Aming Soedrajat
Pegiat Media Sosial

Kalau kita dengarkan mereka yang ngobrol di warung kopi, kepercayaan masyarakat kepada partai sebenarnya sangat kecil. Mungkin kasarnya, masyarakat sudah tidak percaya terhadap Partai Politik.

Ketidak percayaan masyarakat kepada parpol dipicu oleh kader-kader partai itu sendiri.

Seketika kader-kadernya di percaya masyarakat untuk mewakilinya di Parlemen atau menjadi pejabat publik, alih-alih menjembatani untuk menyalurkan aspirasinya, tetapi mereka malahan sibuk mencari kekayaan pribadi.

Dampaknya, tidak sedikit pejabat publik dari kader-kader Partai terkena kasus korupsi dan tindak pidana lainnya, baik tindak pidana khusus maupun tindak pidan umum.

Saat kepercayaan masyarakat kepada Partai merosot, Partai politik juga tidak memiliki figur-figur kuat yang dapat mengembalikan citra partai. Pertama, karena para elit partai gagal melakukan kaderisasi terhadap generasi yang lebih muda.

Kedua, ketika ada kader yang berprestasi meningkatkan elektabilitas dan kepercayaan publik terhadap partai. anehnya, mereka itu di anggap berbahaya oleh para petingginya.

Kalau kita lihat sejarah pergerakan Partai Politik di negeri ini, sebelum kemerdekaan sejarah mencatat ada Partai Nasional Indonesia (PNI). Dalam waktu singkat, PNI bisa menjadi Partai besar dan digandrungi masyarakat.

Ketika kita berbicara PNI, maka kita tidak akan bisa lepas dari sosok besar yang juga ketua Partai tersebut, yakni Ir. Soekarno.

Karena Soekarno memiliki tempat khusus di hati rakyat, maka dengan mudah bisa mencari simpati masyarakat.

Begitu pula dengan PDI Perjuangan. Kepercayaan masyarakat terhadap PDIP begitu besar, dari berbagai riset dan survei, PDIP menjadi urutan pertama.

Kepercayaan masyarakat tersebut jelas di Pengaruhi oleh kinerja Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo. Dimasa periode pertama mengalami kepuasan dengan kinerjanya. otomatis, kepercayaan public pun meningkat terhadap PDIP.

Sosok seperti Jokowi inilah yang tidak dimiliki oleh Partai-partai lain. Apalagi, untuk membantu jalannya pemerintahan dan memenangkan simpati pada masyarakat.

Bisa di lihat bagaimana karir politik Pakde Jokowi saat menjadi Walikota, Gubernur DKI Jakarta hingga menjadi Presiden. PDIP konsisten tetap setia menemani Jokowi. mungkin PDIP tau betul, partai harus memiliki figur dan symbol yang menjadi icon.

Lain PNI lain pula PDIP. Saat Partai lain mengalami peningkatan, sementara Partai Golkar mengalami kemerosotan kepercayaan karena kader-kadernya terkena kasus besar seperti Korupsi maupun narkoba.

Selain itu, Golkar juga tidak memiliki sosok seperti Jokowi, tapi Golkar memiliki sosok Dedi Mulyadi yang di sebut-sebut ada kesamaan seperti Jokowi.

Saat di berbagai wilayah Partai Golkar mengalami kemerosotan kepercayaan, di Jawa Barat justru berbanding terbalik.

Golkar Jawa Barat mengalami trend positif yang mengalami peningkatan mengalahkan PDIP. Peningkatan kepercayaan masyarakat terhadap Golkar Jawa Barat, jelas bukanlah hasil dari kerja keras dari orang-orang yang tinggal di Jakarta maupun di Yogyakarta, melainkan hasil dari kerja keras kader-kader akar rumput partai Golkar Jawa Barat.

Saat para elit berbicara Golkar harus solid, maka di Jawa Barat, Pohon beringin berdiri kokoh dan solid hingga akar-akarnya hingga sulit untuk di tebang dan dibelah.

Dedi Mulyadi menjadi symbol baru dalam memimpin Golkar Jawa Barat. Golkar yang di anggap partai tua, tidak berlaku lagi di Jawa Barat, Karena kedekatan dan kepemimpian Dedi Mulyadi menyentuh semua lapisan serta semua jaman.

Seharusnya, elit Golkar mengakui dengan Kontribusi Dedi Mulyadi bagaimana dia memperkokoh partai sampai keakar-akarnya.

Masa depan dan citra partai jelas berada di pundak Dedi yang merupakan generasi muda saat generasi tua sudah melambat dalam memimpin partai.

Sayangnya, Golkar tidak melihat itu. Golkar tidak melihat dinamika dan kebutuhan pasar yang berkembang. Golkar tidak belajar dari PNI dan PDIP bagaimana caranya mendesign Partai Modern.

Meninggalkan Dedi Mulyadi sama saja memecah Partai. Karena, Dedi bukan lagi Ketua Partai Jawa Barat, melainkan adalah symbol masyarakat Jawa Barat.

Aming Soedrajat
Pegiat Media Sosial
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Revolusi Mental Saat Pandemi

Vaksin Sinovac memang belum banyak terbukti secara klinis efektifitas dan efek sampingnya. Tercatat baru dua negara yang telah melakukan uji klinis vaksin ini, yakni...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

Tanpa Fatwa Halal, Pak Jokowi Tetap Harus Menjalankan Vaksinasi

Akhirnya MUI mengatakan jika vaksin Sinovac suci dan tayyib pada tanggal 8 Januari 2021. Pak Jokowi sendiri sudah divaksin sejak Rabu, 13 Januari 2021,...

Dilema Vaksinasi dalam Menghadapi Masa Transisi

Pandemi covid-19 telah membawa perubahan kebiasaan yang fundamental dalam kehidupan bermasyarakat. Selama masa pandemi, kebiasaan-kebiasaan di luar normal dilakukan dalam berbagai sektor, mulai dari...

Wacana sebagai Represifitas Tersembunyi

Dewasa ini, lumrah dipahami bahwa represifitas diartikan sebagai tindakan kekerasan yang berorientasi pada tindakan fisik. Represifitas juga acap kali dikaitkan sebagai konflik antara aparatus...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

Apa Itu Tasalsul? Mengapa Tasalsul Mustahil?

Berbeda halnya dengan para teolog (al-Mutakallimun) yang bersandar pada dalil al-Huduts (dalam kebaruan alam), para filsuf Muslim pada umumnya menggunakan dalil al-Imkan (dalil kemungkinan...

Bagaimana Masa Depan Islam Mazhab Ciputat?

Sejak tahun 80-an Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jakarta dikenal "angker" oleh sebagian masyarakat, pasalnya mereka menduga IAIN Jakarta adalah sarangnya orang-orang Islam liberal,...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.