Minggu, Oktober 25, 2020

Dwi Hartanto, Egy Maulana Vikri, dan Media di Indonesia

Selamat Hari Pers Nasional, Masih Adakah Idealisme Wartawan?

Selamat hari Pers Nasional 9 Februari 2018, masih adakah idealisme wartawan? Pertanyaan ini sungguh menohok. Apa itu idealisme wartawan? Jawaban gampangnya ialah seorang wartawan...

Menjaga Magnet Pesta Demokrasi

Tahapan formal Pemilu yakni kampanye telah ditunaikan. Meski tapal awal baru dikayuh, namun suasana kampanye terasa cukup riuh bahkan semakin gaduh. Terutama di jagad...

Memaknai Pancasila, Mendidik Elite Bangsa

Lahir dari rahim ibu pertiwi, Pancasila, diperkenalkan pertama kalinya oleh Soekarno pada sidang Dokuritsu Junbi Cosakai atau BPUPKI. Tepat tanggal 1 juni 1945, pidato...

Egoisme Pemerintah dalam Penegakan Hukum Lingkungan

Permasalahan lingkungan selalu menjadi persoalan yang sangat dinamis dan rumit. Bagaimana tidak, permasalahan lingkungan bukan hanya disebabkan oleh perubahan iklim secara alami. Banyak hal yang...
Mohd. Yunus
Calon peneliti yang meminati sejarah, politik, dan ekologi

Pagi ini – seperti biasanya – laptop, kopi, dan beberapa makanan ringan setia mendampingi. Beberapa laporan harus dieksekusi secepatnya, tentu dengan kualitas yang tetap harus terjaga. Mau tidak mau harus rela merenung dan memikirkan substansi laporan tersebut. Tiba-tiba teman sebelah saya membuka bicara

“Ada berita mengenai Dwi Hartanto nich, heboh di internet” ujarnya tanpa mengharapkan respon, karena dia sadar bahwa aku sedang fokus berintim dengan laptopku. Tetapi karena perkataannya yang menyangkut nama orang, aku menjadi tertarik juga, karena nama itu terdengar familiar, sedikit membayang.

“Tentang apa beritanya tu bang?” aku menjawab agak terlambat

“Itu, tentang mahasiswa Indonesia yang berprestasi di Belanda, sempat digadang-gadang menjadi penerus Habibie. Ternyata prestasinya itu bohong belaka. Malu lah Indonesia” jawab teman ku itu.

“Mak, ngeri kali tu berbohongnya” aku menjawab sedikit kaget.

Tanpa berpikir panjang, aku langsung me-minimize laporan yang aku ketik, langsung aku arahkan kursor membuka browser, mencari berita yang dimaksud. Benar saja, hampir semua situs berita memuat hal tersebut, tentu saja dengan narasi-narasi yang menggelitik, mudah membuat orang salah tafsir, jika hanya berpedoman pada judul beritanya.

Salah satu sumber internet yang aku duga terjamin validitasnya, memuat berita dengan lampiran surat dari Dwi Hartanto. Langsung aku download surat tersebut, meninggalkan situs-situs berita lain yang seakan tidak menarik lagi. Surat itu berisi klarifikasi dan permohonan maaf dari yang bersangkutan terhadap semua hal yang menyangkut dirinya, karena ini tidak saja membawa namanya, tetapi juga Indonesia, dalam status dia sebagai mahasiswa asing di Belanda.

Aku tidak mengetahui asal muasal munculnya surat klarifikasi dari yang bersangkutan, tetapi memang nama ini cukup populer seiring dengan program Visiting World Class Professor yang ditaja oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi beberapa waktu yang lalu. Program ini menghadirkan orang-orang Indonesia yang hebat dan sudah malang melintang di dunia penelitian internasional, tujuannya untuk meningkatkan produktivitas riset akademis di Perguruan Tinggi, peningkatan publikasi di jurnal bereputasi, peningkatan peringkat Perguruan Tinggi Indonesia, dan meningkatkan proses interaksi akademik global antara sesama Dosen baik di dalam maupun di luar negeri. Dwi Hartanto sempat diundang sebagai peserta Visiting World Class Professor pada tahun 2016.

Peristiwa kebohongan Dwi Hartanto ini kembali mengusik nalar kemanusiaan kita, bukan tidak mungkin akan banyak orang yang mengutuk Dwi Hartanto sebagai pembohong yang memalukan Indonesia, setidaknya teman ku itu salah satu tersangkanya. Tetapi menurut saya, euforia terhadap prestasi-prestasi Dwi Hartanto yang pernah menghiasi media massa beberapa waktu yang lalu lah yang membuat keterkejutan besar, respon terhadap berita kebohongan ini. Kita harus mengakui bahwa minimnya ahli-ahli dari Indonesia yang mendunia, menyebabkan kita sangat rindu akan sosok-sosok seperti Habibie. Sedikit saja berita mengenai prestasi orang Indonesia yang berkiprah di luar negeri, maka akan direspon dengan ekspetasi yang terkadang tertumpah ruah.

Peristiwa yang menimpa Dwi Hartanto ini menurut saya merupakan perpaduan antara kerinduan akan prestasi itu dengan sikap ingin dihargai dari individu yang bersangkutan. Kita juga terkadang terlalu mudah memberikan predikat dan label kepada seseorang. Contoh teranyar adalah mengenai sosok yang membuat heboh Indoesia belakangan ini, yaitu Egy Maulana Vikri, pesepakbola lincah nan berkharisma. Setelah berjuang di ajang Piala AFF U-18, ramai isu bermunculan tentang anak ini, bahkan banyak pengamat yang menyejajarkan Egy dengan Lionel Messi. Disamping banyak juga yang memberikan respon agar Egy tidak seperti beberapa para pendahulu-nya yang muncul di awal, tenggelam tak timbul sama sekali akhirnya.

Lalu, mengapa kita terlalu mudah, kagum, dan memvonis seseorang? Hal ini sebenarnya ekspresi yang manusiawi, sebagai tanda bahwa kita adalah makhluk hidup. Tetapi dengan maraknya corong-corong ekspresi yang ditampung oleh berbagai sosial media dan media alternatif, ekspresi ini terkadang tidak terbendung dengan baik. Jadilah sebuah ladang yang penuh dengan buah-buah opini, tentu tidak semuanya bisa dimakan. Pada akhirnya, masing-masing kita kembali harus bertanya “Sudahkah kita memiliki pagar-pagar untuk membatasi diri kita kebebasan yang bisa saja membinasakan ini?”  

Mohd. Yunus
Calon peneliti yang meminati sejarah, politik, dan ekologi
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Refleksi Bulan Bahasa: Apa Kabar Perpres 63/2019?

Oktober adalah bulan yang sangat bersejarah dalam kehidupan bangsa Indonesia. Pada bulan inilah, 92 tahun silam terjadi peristiwa Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak lahirnya...

Berlindung di Balik Topeng Kaca, Public Figure juga Manusia

Ketika Candil lewat Grup Band Seurieus, salah satu Band Rock Kenamaan tahun 2000-an awal ini menyuarakan pendapatnya lewat lagu Rocker juga Manusia, saya seratus...

Lelaki Dilarang Pakai Skin Care, Kata Siapa?

Kamu tahu penyakit lelaki: mau menunjukkan kegagahan! (Ayu Utami, Maya) Sering kali, drama dari negeri ginseng menampilkan para aktor maskulin dengan wajah glowing (bersinar) yang menggunakan skin care (perawatan kulit...

Digitalisasi Bisnis Saat Pandemi

Pandemi Covid-19 telah mengubah secara drastis dunia usaha. Dari pasar, proses bisnis, sumber pendanaan, konsumen, tenaga kerja, tempat kerja, hingga cara bekerja, semuanya berubah...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Sektor Bisnis di Indonesia

Sejak COVID-19 memasuki wilayah Indonesia pada Maret 2020, pemerintah mencanangkan regulasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) alih-alih menerapkan lockdown. PSBB itu sendiri berlangsung selama...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Memperkuat Peran Politik Masyarakat

Salah satu kegagalan konsolidasi demokrasi elektoral adalah tidak terwujudnya pemilih yang cerdas dalam membuat keputusan di hari pemilihan. Menghasilkan pemilih cerdas dalam pemilu tentu...

10 Profesi Keren di Sektor Pertanian

Saudara saya tinggal di sebuah desa lereng Gunung Sindoro. Dari hasil pertanian, dia sukses menyekolahkan salah satu anaknya hingga lulus paska-sarjana (S2) dalam bidang...

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.