Selasa, Oktober 20, 2020

Duet Rhoma Irama-Via Vallen: Kekuasaan Meredup Perlawanan Menuai Titik Terang

Generasi Baper

Generasi milenial memiliki proses berfikir yang luar biasa berbeda dari generasi sebelum-sebelumnya. Perbedaan pandangan ini menjadikan generasi ini trus di-spotlight sekaligus dicibir. Cemoohan-cemoohan yang dilontarkan...

Menghidupkan Spirit Lebaran

Sebagaimana hari-hari besar Islam lainnya, Idul Fitri juga mengalami pendistorsian makna. Spirit agung yang dibawanya banyak dilupakan umat Islam. Akibatnya, lebaran hanyalah seremonial belaka. Kedatangan...

Ridwan Kamil dan Konsekuensi Mendukung Jokowi

“Prabowo..Prabowo..Prabowo..” Teriakan bentuk dukungan pada salah satu calon presiden tersebut bergema di Tribun Barat Stadion Si Jalak Harupat saat jeda babak pertama pertandingan Persib...

Belajar Kebijaksanaan Dari Zaman Aksial

Kita kini hidup dalam masa genius ilmiah dan teknologi, tapi untuk pendidikan spiritual, kita jauh tertinggal dibanding orang-orang bijak zaman Aksial. Kepada merekalah kita...
Michael HB Raditya
Peneliti, kritikus, penulis yang bergiat dalam ranah seni pertunjukan, musik populer, tari kontemporer, dan budaya. Lulus dari UGM, baik strata satu dari Antropologi Budaya, dan strata dua dari Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa. Bekerja di Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa. Juga menjadi editor Jurnal Kajian Seni UGM. Menerbitkan buku kritik yang bertajuk Merangkai Ingatan Mencipta Peristiwa: Sejumlah Tulisan Seni Pertunjukan (2018).

Harapan tinggi dialamatkan kepada Via Vallen untuk ‘mengangkat’ citra dangdut koplo di belantika musik tanah air. Pasalnya dangdut koplo mengalami ‘kesialan’ berlipat, yakni dianggap tak patuh dalam aturan dunia musik arus utama: dapat dilihat dari sistem produksi hingga distribusi (baca: bajakan); dan diasingkan oleh beberapa kalangan di dunia dangdut: raja dangdut, Rhoma Irama dan PAMMI—Persatuan Artis Musik Melayu Indonesia—bersikukuh tidak menerima koplo sebagai bagian dari dangdut. Baik dengan alasan joget, strategi musikal, hingga lirik yang tak senafas.

Runcingnya persoalan tampak pada kontestasi Rhoma Irama dan Inul Daratista pada tahun 2003 silam. Dampak dari hal tersebut adalah terpinggirkannya dangdut koplo dalam lanskap musik dangdut Indonesia.

Namun keadaan berangsur berubah, dangdut koplo mulai digemari oleh pendengar musik tanah air, terlebih akhir-akhir ini dengan kemunculan biduanita, seperti: Via Vallen, Nella Kharisma, Jihan Audy, Tasya Rosmala, dan sebagainya yang membawa penampilan lebih ‘segar’. Singkat kata, Dangdut Koplo ‘mencuri’ pasar musik dangdut Indonesia.

Lantas ‘kerajaan’ dangdut Rhoma Irama tidak dapat berkutik. Kegemilangan pada biduanita memaksa rezim dangdut Rhoma yang tak acuh sebelumnya pada dangdut koplo harus mulai putar otak dan memberikan perhatian lebih. Puncaknya adalah duet di perayaan ulang tahun yang ke-24 dari salah satu saluran televisi swasta, Indosiar, pada Jumat malam (11/1/2019).

Untuk pertama kalinya, Rhoma Irama, sang raja dangdut tampil sepanggung dengan salah seorang biduanita dangdut koplo, Via Vallen. Hal yang niscaya muskil terjadi pada biduanita dangdut koplo terdahulu. Kendati duet ini dilandasi permintaan masyarakat (baca: pasar) semata, namun ada hal yang lebih mendalam, yakni ruang ‘dialog’ dangdut koplo dan dangdut. Dengan harapan dangdut koplo ‘diterima’ dalam percaturan musik dangdut Indonesia.

Negosiasi Koplo dalam Kekuasaan Dangdut 

Acara ulang tahun Indosiar, “Konser Raya 24 Indonesia Luar Biasa” menampilkan sang Raja Dangdut Rhoma Irama hingga biduanita dangdut koplo, Nella Kharisma dan Via Vallen. Dari seluruh penampil, duet Rhoma Irama dan Via Vallen paling menyita perhatian. Pasalnya duet ini bukanlah sebagai kolaborasi dari dua musisi biasa, melainkan pertemuan antar dua generasi dan varian dangdut yang berbeda, dangdut dan dangdut koplo. Secara perlahan, kerasnya hati Rhoma Irama untuk memusuhi dangdut koplo dipaksa melunak.

Alih-alih hanya menjadi gimmick semata, pentas kolaborasi ini menjadi bukti akan negosiasi dangdut koplo terhadap rezim dangdut Rhoma. Pasalnya terjadi beberapa hal yang menarik di atas panggung duet tersebut, yakni: pertama, Rhoma Irama menyanyikan setengah bait lagu Via Vallen yang bertajuk Sayang—walau Via mengawali duet dengan menyanyikan setengah bait sebelumnya. Kendati hanya menyanyikan satu bait saja, namun hal tersebut cukup penting sebagai bukti negosiasi dangdut akan kehadiran dangdut koplo. Terlebih itu kali pertama Rhoma Irama menyanyikan lagu dangdut koplo dan berbahasa Jawa.

Kedua, kendati Rhoma tidak mengenal lagu dangdut koplo dengan baik, namun oleh permintaan pasar Rhoma ‘tunduk’ dan menyanyikannya. Hal ini ditandai dengan suara Rhoma Irama yang terasa asing ketika menyanyikan lagu tersebut. Selain menyematkan cengkok dangdut ke dalam lagu Sayang, pitch dari Rhoma Irama terasa meleset. Pun hal ini diklarifikasi Rhoma bahwa dirinya keliru dalam nada.

Sebagai ‘balasan’, Rhoma berupaya menyanyikannya kembali dengan nada yang semestinya—walau tidak jauh berbeda. Upaya mengulang lagu hingga dua kali merupakan upaya Rhoma membenturkan teknik yang ia punya dan materi lagu yang dinyanyikan. Baik secara sadar ataupun tidak, Rhoma menerima lagu tersebut.

Ketiga, Rhoma bersikap ambivalen akan status Via. Rhoma memang tidak mengakui bahwa Via Vallen berasal dari dangdut koplo. Pada sesi percakapan, mereka saling melempar pujian. Balasan Rhoma atas pujian Via pun cukup ambigu, di mana ia menyatakan bahwa merasa beruntung dapat satu panggung dengan generasi milenial yang fenomenal.

Dari sini kita dapat melihat, bahwa mau tidak mau, Rhoma Irama dan dangdut ciptaannya harus melirik dangdut koplo sebagai ‘peluang’ sekaligus ‘ancaman’. Di mana Rhoma seakan terasa mengamini kehadiran Via, tapi dengan sengaja tidak mengakui bahwa ia berasal dari dangdut koplo.

Keempat, afirmasi Via Vallen bahwa dirinya penggemar Rhoma Irama sebagai bentuk negosiasi. Via menyatakan kekagumannya kepada Rhoma sejak masa kanak-kanak. Bahkan ia juga mengungkapkan bahwa ayahnya adalah penggemar berat Rhoma Irama yang selalu menonton tur dari sang Raja Dangdut.

Puncak dari hal tersebut adalah pemberian gitar akustik kepada sang raja dangdut. Mendapat hadiah tersebut, Rhoma menerimanya dengan tangan terbuka. Hal ini dapat menunjukkan bahwa perlawanan tidak bisa dilangsungkan secara kaku, melainkan dilakukan secara cair dan perlahan.

Kelima, Via ikut menyanyikan lagu karya Rhoma Irama dalam duet. Alih-alih duet Rhoma dan Via melanjutkan menyanyikan lagu Sayang ataupun repertoar dangdut koplo lainnya, duet justru dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Rhoma yang bertajuk

Pertemuan. Terlebih Via berperan seolah-olah sebagai penyanyi dangdut lazimnya, dengan ikut mengupayakan cengkok melayu di dalam lagu tersebut dengan persis seperti penyanyi pendahulunya. Via sebenarnya mempunyai kesempatan untuk menunjukkan diri dengan karakter yang tumbuh dari ekosistem dangdut koplo.

Namun yang menarik, Via menunjukkan kesanggupannya menyanyikan lagu dangdut tersebut. Hal ini tidak dapat dilihat sebagai ketertudundukan semata, melainkan menyiratkan kesadaran bahwa kekuasaan tidak bisa dilawan secara mutlak. Melawan kekuasaan yang masif tanpa pertimbangan justru akan membuat perlawanan sebelumnya sia-sia.

Koplo yang Perlahan Tapi Pasti

Sebenarnya, menanggapi duet Rhoma Irama dan Via Vallen sebagai sebuah pertunjukan yang biasa-biasa saja mungkin dapat diupayakan, namun kiranya langkah tersebut tidak tepat dilakukan. Pasalnya kita perlu menilik kembali bagaimana kontestasi yang dilakukan dangdut terhadap dangdut koplo terdahulu. Hal ini kiranya perlu dilakukan agar konteks atas alasan duet begitu penting tidak tercerabut begitu saja.

Maka duet Rhoma dan Via mempunyai makna yang lebih, ketimbang praktik kolaborasi semata. Tarik ulur di dalam duet tersebut merupakan langkah negosiasi yang jitu. Dari duet tersebut, secara perlahan Dangdut Koplo mulai merongrong kekuasaan tunggal dangdut ala Rhoma, sedangkan dangdut ala Rhoma dipaksa berpikir ulang untuk mulai menerima mereka, sebagai bagian dari dunia dangdut Indonesia. Dengan setia Dangdut Koplo melawan secara perlahan, dan bukan tidak mungkin jika kekuasaan dangdut akan beralih secara utuh kelak, baik cepat ataupun lambat.[]

Michael HB Raditya
Peneliti, kritikus, penulis yang bergiat dalam ranah seni pertunjukan, musik populer, tari kontemporer, dan budaya. Lulus dari UGM, baik strata satu dari Antropologi Budaya, dan strata dua dari Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa. Bekerja di Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa. Juga menjadi editor Jurnal Kajian Seni UGM. Menerbitkan buku kritik yang bertajuk Merangkai Ingatan Mencipta Peristiwa: Sejumlah Tulisan Seni Pertunjukan (2018).
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

K-Pop dalam Bingkai Industri Budaya

Budaya musik Korea atau yang biasa kita sebut K-Pop selalu punya sisi menarik di setiap pembahasannya. Banyak stigma beredar di masyarakat kita yang menyebut...

Hitam Putih Gemerlap Media Sosial

“Komunikasi adalah inti dari masyarakat kita. Itulah yang menjadikan kita manusia.” Setidaknya begitulah yang dikatakan Jan Koum, pendiri aplikasi Whatsapp yang kini telah mencapai...

Mahasiswa Dibutakan Doktrin Aktivisme Semu?

Aktivisme di satu sisi merupakan “alat” yang bisa digunakan oleh sekelompok orang untuk melakukan reformasi atau perbaikan ke arah baru dan mengganti gagasan lama...

Prekariatisasi Global dan Omnibus Law

"Setuju", dengan intonasi panjang penuh kebahagiaan peserta sidang secara serentak merespons pimpinan demi ketukan palu UU Cipta Kerja atau akrab dikenal sebagai Omnibus Law. Tok,...

Perang dan Cerita

Demonstrasi tolak RUU Cipta Kerja terjadi pada 8 Oktober 2020. Seperti aksi-aksi lainnya, kita barangkali bisa mulai menebak, bahwa sepulangnya nanti, hal-hal yang menarik...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Legacy Jokowi, UU Cipta Kerja dan Middle Income Trap

“Contohlah Jokowi. Lihatlah determinasinya. Visinya. Ketegasannya ketika berkehendak menerapkan UU Cipta Kerja. Ia tak goyah walau UU itu ditentang banyak pihak. Ia jalan terus...

Hakikat Demokrasi

Demokrasi bagi bangsa Indonesia sendiri adalah istilah baru yang dikenal pada paruh abad ke-20. Dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat, demokrasi dalam bentuknya yang modern...

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.