Jumat, Desember 4, 2020

Duet Prabowo-Salim Segaf Al-Jufri Masih Perlu Sosialisasi Extra

Pak Mumud dan Imaji Purwakarta

Oleh : Widdy Apriandi(Penulis adalah pegiat kopi tanah air sekaligus founder kedai kopi "Bandit" Purwakarta)Hampir pasti, saat ini anda tidak kenal dengan sosok Pak...

Relasi Historis Jawa, Majapahit dan Republik

Pada suatu malam yang mendung, secangkir kopi panas, dan alunan simphoni dari rintik hujan yang menyerbu bumi. Balutan sarung melilit tubuh menambah hangat malam...

Ketika Seorang Kristen Memandang dan Merayakan Idul Fitri

“Aku tidak akan berbicara untung-rugi kalau sudah berurusan dengan ldul Fitri”, ungkap salah satu teman saya. Ia menjawab dengan lugas sebuah pertanyaan sederhana yang...

Dependent Personality Disorder

Sering melihat orang yang tidak bisa sendiri? Dia selalu membutuhkan teman atau pasangannya untuk melakukan sesuatu? Atau jangan jangan kita sendiri yang mengalaminya? Hati-hati,...
Fakhru Amrullah
Pemerhati Dinamika Pemerintahan dan Sospol.

Hasil Ijtima’ Ulama dan Tokoh Nasional Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) merekomendasikan dua nama untuk mendampingi Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto pada Pilpres 2019 (29/7/18). Dua nama tersebut adalah Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Salim Segaf Al-Jufri dan Ustad Abdul Somad.

Berselang beberapa jam setelah pengumuman rekomedasi tersebut keluar. UAS melalui akun media sosialnya “menolak” secara halus dengan mendukung duet Prabowo – Salim Segaf Al-Jufri. Lalu siapakah Salim Segaf Al-Jufri tersebut?

Dilansir dari medan.tribun.com (29/7/18) Salim Segaf Al-Jufri pernah menjabat sebagai menteri sosial pada Kabinet Indonesia Bersatu II masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Sebelumnya ia adalah Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi dan Kesultanan Oman.

Dalam pendidikan, Salim sudah menyelesaikan hingga S3. Riwayat pendidikan dari S1 sampai S3 yang seluruhnya ditempuh di Universitas Islam Madinah, Arab Saudi. Untuk pendidikan S1 (1976), S2 (1980) dan S3 (1986) untuk bidang Syariah. Salim juga tercatat mengajar sebagai dosen di beberapa tempat. Misalnya, dia mengajar dosen pasca sarjana UIN Syarif Hidayatullah. Salim juga pernah menjabat dosen Fakultas Syariah Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA).

Nah, dengan biografi singkat Salim Segaf Al-Jufri diatas, apakah bisa dikatakan merupakan seorang cawapres yang ideal Prabowo untuk meghadapi Jokowi? Prabowo sampai saat ini membutuhkan cawapres yang mampu mendongkrak elektabilitasnya. Karena dari beberapa survey elektabilitas Prabowo masih tertinggal jauh dari Jokowi.

Survei terbaru Indikator Politik Indonesia merilis hasil survei terhadap elektabilitas bakal calon presiden 2019. Dalam survei yang dilakukan pada 25-31 Maret 2018 itu elektabilitas Jokowi berada di angka 51,9 persen, sedangkan Prabowo di urutan kedua dengan 19,2 persen, detik.com (04/5/18).

Sementara itu nama Salim Segaf Al-Jufri masih jarang didengar oleh masyarakat. Nama beliau baru mencuat dan ramai diperbincangkan pasca pengumuman rekomendasi Hasil Ijtima’ Ulama dan Tokoh GNPF (29/7/18).

Jadi melihat analisis diatas maka dapat disimpulkan Duet Prabowo – Salim Segaf Al-Jufri, Masih Perlu Sosialisasi Extra. Koalisi dan tim sukses pasangan ini harus bekerja keras dalam mensosialisasikan pasangan ini untuk mengejar ketertinggalan elektabilitas yang cukup jauh dibandingkan Jokowi.

Fakhru Amrullah
Pemerhati Dinamika Pemerintahan dan Sospol.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Meneguhkan Keindonesiaan di Tengah Pandemi

Sejak diumumkannya kasus pertama covid 19 di Indonesia pada bulan Maret 2019 silam, perjalanan kasus ini tidak pernah surut. Memasuki bulan Oktober 2020 justru...

Upah Minimum atau Upah Maksimum?

Belakangan ini demo buruh tentang upah minimum mulai sering terdengar. Kenaikan upah minimum memang selalu menjadi topik panas di akhir tahun. Kini menjadi semakin...

Menjatuhkan Ganjar-Jokowi dengan Satu Batu

Saya sebenarnya kasihan dengan Jokowi. Sejak beberapa hari yang lalu organ di bawahnya terlihat tidak bisa kerja. Misalnya soal kasus teroris di Sigi, tim...

Mengapa RUU Minol Harus Disahkan

Pada zaman yang serba modern seperti sekarang ini apa saja dapat dilakukan dan didapatkan dengan mudah karena teknologi sudah semakin canggih. Dahulu untuk mendapatkan...

Pay It Forward Merespon Dampak Pandemi Covid-19

Sinopsis Film Pay It Forward Pay It Forward merupakan sebuah film asal Amerika Serikat yang sarat pesan moral. Film ini dirilis pada tahun 2000, yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

“Pilkada Pandemi” dan Pertanyaan Soal Substansi Demokrasi

Pilkada sebagai sebuah proses politik di negara demokrasi adalah salah satu wujud terpenuhinya hak politik warga negara, selain terjadinya sirkulasi elite penguasa. Namun di...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.