Banner Uhamka
Kamis, Oktober 1, 2020
Banner Uhamka

Dua warisan terbesar Sokrates terhadap dunia politik

Mengamati Shalat Ied Muslim Syiah di Jakarta

Mazhab Syiah adalah salah satu mazhab yang ada di dalam Islam. Menurut data Pew Research pada 2009 diperkirakan 10-13% muslim di dunia adalah penganut...

Jilbab dan Kehormatan Perempuan

Wacana jilbab kembali mengemuka belakangan pasca wawancara Ibu Dr Sinta Nuriyah bersama Deddy Corbuzier di channel Youtube-nya. Pernyataan ibu Sinta tentang jilbab kemudian menjadi...

Menenun Kebangsaan, Memahami Kebhinekaan

Tulisan singkat ini diinspirasi oleh hasil diskusi saya dengan mahasiswa dari berbagai jurusan. Segala isi kepala, mulai eksakta, teknik hingga humaniora saya kuliti, dan...

Indonesia dan Pembangunan, Wasiat Orde Baru

Sudah empat puluh tahun kata pembangunan (development) tercetuskan dan digunakan hampir di seluruh belahan dunia. Pasca perang dunia kedua, juga dibentuk salah satu organisasi...
Sardjito Ibnuqoyyim
Penulis Misantropis

Warisan pastilah berkaitan kepada sesuatu yang luhur, yang berhubungan dengan keluarga turun temurun. Ada yang mengatakan warisan itu berkaitan dengan materi, atau bahkan yang non materi. Warisan materi misalnya dapat dilihat seperti harta, emas, bahkan rumah, sedangkan yang non materi adalah sesuatu yang tak dapat dilihat namun dapat dirasa. Hal itu dapat diungkapkan misalnya seperti sifat, pemikiran, atau bahkan kekhasan tertentu yang dimiliki oleh suatu keluarga.

Sokrates sudah pasti merupakan manusia. Namun, bukan sembarangan manusia. Banyak membenci beliau karena dirinya yang sering mengoceh dan selalu bertanya pada masanya. Bahkan sekarang pun beliau juga dapat dipastikan banyak yang membencinya. Itu disebabkan tidak lain kaitannya dengan dunia filsafat. Pembenci filsafat saat ini sudah dapat terbilang tidak sedikit. Alasannya pun beragam. Ada yang mengatakan kalau filsafat itu merusak pikiran, ada bahkan yang mengatakan para peminat filsafat itu sendiri orangnya tak beragama. Kita tentunya tak dapat menyalahkan mereka dengan tuduhan yang mereka miliki tapi kita patut membenarkan jika alasan itu tak berdasar.

Filsafat itu sendiri sering didapati susah, bukan dikarenakan oleh tokoh-tokoh yang sering membawakan apa yang dimaksud filsafat, akan tetapi kebanyakan dari kita tak mengerti secara garis besar, dan lebih condong menuduh bahkan menilai filsafat itu buruk. Sebelum mempelajari filsafat, ada baiknya kita melihatnya melalui arti. Tapi sebaiknya kita tak terlalu membahasnya lebih jauh karena inti dari filsafat adalah kebijaksanaan. Dalam mencari kebijaksanaan itu sendiri, ada tiga cara. Pertama, melalui keberadaan atau dalam istilah canggihnya, ontologis. Kedua, berkaitan dengan nalar kita dalam peraturan-peraturan yang ada, atau aksiologi. Yang terakhir, berkaitan dengan keilmuan itu sendiri atau epistemologi. Kebanyakan orang mengutuk filsafat karena alasannya sudah sangat jelas, mereka tak belajar dengan mengenal ketiga ruang lingkup filsafat tersebut, dan selalu saja melihatnya dari epistemologi. Sudah jelas, kalau memulai dari epistemologi sudah pasti menemukan banyak kesulitan.

Namun, apakah pengantar di atas ada kaitannya dengan topik yang tertera?

Sokrates sendiri bisa dikatakan sebagai salah satu tokoh terbesar dalam dunia filsafat Yunani. Walaupun beliau memiliki wajah yang tak terlalu menarik perhatian, namun tindakan-tindakannya terekam di banyak tulisan-tulisan muridnya, Plato. Warisannya sudah dapat ditentukan dengan adanya karya-karya muridnya.

Di masa sokrates hidup sendiri, beliau banyak mengalami kesulitan. Kekhasan filsafatnya sendiri selalu saja dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan mengandung kebijaksanaan, sedangkan orang-orang di masanya tak dapat memahaminya, bahkan mengatakan beliau sebagai orang yang tak waras. Kegiatan beliau pun pada akhirnya menjadi alasan mengapa ia harus mati.

Namun, kematian beliau sendiri terkait erat dengan keadaan sosio-politik yang ada pada saat itu. Atas kemenangan Sparta, yang sebelumnya bukan dari Sparta, keadaan sosio-politik di Athena semakin memburuk dan dikenal sebagai pemerintahan Tiga Puluh Tiran. Dengan keadaan yang seperti itu, sokrates yang dulunya sudah dibenci, pada saat usianya memasuki lebih tujuh puluh tahun, dia harus merasakan takdir yang pahit.

Sokrates sendiri awalnya diberi opsi. Ada yang mengatakan beliau hanya disuruh membayar uang sebesar tiga puluh minae. Namun, para hakim berubah pikiran, karena opsi tersebut terlalu ringan. Ada juga yang mengatakan bahwa Sokrates diberi opsi untuk pergi meninggalkan Athena, tapi jawaban beliau tetap menolak. Bahkan pada malam hari sebelum waktu eksekusi, muridnya ingin membantu beliau untuk melarikan diri, tapi pada akhirnya beliau tetap pada pendiriannya.

Warisan Sokrates pada umumnya dapat dilihat dari murid-muridnya. Namun, ada dua kata yang tepat dalam memahami warisannya tersebut apa lagi dalam dunia politik. Itu tak lain Stoikisme dan Sinisme.

Kedua –isme tersebut sangat berpengaruh dalam dunia politik. Stoikisme adalah cara hidup yang menekankan dimensi internal manusia, seorang Stoik dapat hidup bahagia ketika ia tidak terpengaruh oleh hal-hal di luar dirinya. Di mata kaum Stoa, Logos Universal (Sang Ilahi) adalah yang menata alam semesta ini dengan rasional, senegatif apa pun kejadian yang menimpa, seorang Stoa yang bijak akan melihat kejadian tersebut sebagai bagian dari tenunan indah iahi atau Logos. Ia akan menyesuaikan kodrat rasional dirinya sebagai manusia dengan hukum alam (hukum sebab akibat) dari Alam Semesta.

Ada dua kata yang bisa didapatkan dari Stoikisme, yakni kebijaksanaan dan rasional. Kebijaksanaan itu sendiri adalah sesuatu yang bersifat internal, dan bagi kaum Stoa, itu merupakan sesuatu yang sulit untuk diganggugugat. Karena itu sesuatu yang niscaya di dalam diri kita, baik itu berdasarkan dari sesuatu yang kita alami maupun yang kita saksikan dari pelajaran-pelajaran hidup kita. Sedangkan rasional sendiri bersesuaian dengan nalar kita. Namun penulis merasa bahwa rasional di sini lebih tepatnya merupakan ungkapan “menempatkan sesuatu pada tempatnya.”

Di dalam dunia politik sendiri, mazhab atau pemikiran ini terbagi atas dua bagian, ada yang setuju dan ada juga yang tidak setuju. Bagi yang menjauhi dunia politik, alasan mereka adalah karena muak dengan perilaku elit politik, dan meyakini bahwa hukum yang patut ditaati bukanlah hukum negara, melainkan hukum alam yang diatur oleh sang ilahi. Selain itu, mereka masih sangat dipengaruhi oleh aliran Sinisisme yang mengecam keras pemerintahan tiran kala itu. Sedangkan yang memilih terlibat dan berkarier dalam dunia politik, Cicero misalnya, mengatakan bahwa tugas politik terdapat tugas suci yang dibebankan oleh Tuhan kepada manusia, ganjarannya adalah surga. Dalam relasi dengan manusia lain, kita tak butuh hukum politik, namun harus hidup dalam persahabatan dan kekeluargaan dengan semua makhluk…

Sardjito Ibnuqoyyim
Penulis Misantropis
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pancasila dan Demokrasi Kita Hari Ini

Perjalanan demokrasi di Indonesia tidak selamanya sejalan dengan ideologi negara kita, Pancasila. Legitimasi Pancasila secara tegas tercermin dalam Undang-Undang Dasar 1945, dan difungsikan sebagai...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Dua Perwira di Bawah Pohon Pisang (Kenangan Kekejaman PKI di Yogya)

Yogya menangis. Langit di atas Kentungan muram. Nyanyian burung kutilang di sepanjang selokan Mataram terdengar sedih. What's wrong? Ono opo kui? Rakyat Ngayogyakarta risau, karena sudah...

Pilkada dan Pergulatan Idealisme

Invasi Covid-19 memang tak henti-hentinya memborbardir aspek kehidupan manusia secara komprehensif. Belum usai kegamangan pemerintah terkait preferensi mitigasi utama yang harus didahulukan antara keselamatan...

Menimbang Demokrasi di Tengah Pandemi

Dibukanya pendaftaran peserta pilkada dari tanggal 4 – 6 September lalu diwarnai oleh pelbagai pelanggaran yang dilakukan oleh bakal calon peserta pilkada. Pelanggaran yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Lebih Baik Dituduh PKI daripada PKS

Ini sebenarnya pilihan yang konyol. Tetapi, ketika harus memilih antara dituduh sebagai (kader, pendukung/simpatisan) Partai Komunis Indonesia (PKI) atau Partai Keadilan Sejahtera (PKS), maka...

Narasi – Narasi Seputar G-30S 1965

Hingga hari ini, masih banyak masyarakat awam yang percaya bahwa dalang utama dibalik peristiwa G30S adalah PKI. Kepercayaan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kampanye...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.