Sabtu, Januari 16, 2021

Dosa Berduka Cita, Dosa Bermedia Sosial

Jangan Terlalu Cepat Menghakimi

Sampai sekarang kepolisian belum bisa menetapkan siapa tersangka dalam kasus PT IBU (Indo Beras Unggul), supplier beras merk Maknyus dan Ayam Jago. Meskipun telah...

Antara Politik Islam dan Islam Politik

Sebuah bangsa dibangun dengan hati penyair.Namun hancur di tangan politikus (Dr. Mohammad Iqbal). Dalam petikan sajak Iqbal, filsuf-penyair India tersebut menyelipkan pesan sini terhadap politik...

Gerakan Sastra dan Lahirnya Lacikata

Dewasa ini, anggapan bahwa karya sastra hanyalah hasil khayalan pengarang semata perlu ditolak karena pada kenyataannya tidak sesederhana itu. Begitu pun anggapan bahwa karya...

Nasib Pengangguran Berseragam

Menjadi pegawai negeri adalah gengsi tersendiri bagi sebagian besar masyarakat di daerah saya Kabupaten Sinjai. Masyarakat yang mengenakan pakaian dinas akan mendapatkan perlakuan dan...
Najmul Ula
Penderita rabun politik

Belum lama ini Indonesia sedang dirundung pilu. Dalang kenamaan cum Bupati Tegal (nonaktif karena mencalonkan diri lagi) Ki Enthus Susmono meninggal dunia, demikian pula pelawak Srimulat dengan jambul khas, Gogon. Kita belum memasukkan kericuhan di Mako Brimob Jakarta, rentetan bom bunuh diri di Surabaya, yang diikuti penyerangan di Pekanbaru. Kita semua berduka, kehilangan sosok panutan dan turut merasa insecure setelah eskalasi teror di penjuru negeri.

Alkisah, Narbi ialah seorang mahasiswa yang Tegalese tulen. Ketika ia menerima kabar dari unggahan teman berupa foto jasad membujur Ki Enthus Susmono, hatinya merasa berduka. Ia mengunduh foto kematian terssebut, untuk kemudian mengunggahnya sendiri di berbagai media sosial kepunyaannya: Whatsapp, Instagram, serta Facebook.

Tentu saja unggahan tersebut ia lengkapi dengan puja-puji tentang idolanya tersebut. Bukan apa-apa, baru dua bulan lalu sang Bupati berkunjung ke kampusnya, menyapa mahasiswa dan menerima penghargaan abadi. Narbi menyaksikannya secara langsung saat itu, tapi kini merasa hampa sang idola sudah tiada.

Esok harinya, Narbi, yang merupakan aktivis kampus dengan berbagai jabatan di organisasi kemahasiswaan, menjalani rutinitas seperti biasa. Ia mendatangi kegiatan organisasinya, bercengkerama dengan teman sebaya. Hari itu ia bahagia, bertemu orang-orang inspiratif yang menjadi role model di kalangan teman-temannya.

Tidak lupa ia memotret momen-momen yang membuatnya tersenyum lebar itu. Setelahnya, ia memutuskan untuk membaginya ke berbagai media sosial kepunyaannya: Whatsapp, Instagram, serta Facebook. Masalahnya, unggahan duka cita-nya kemarin sore masih tertempel dan ia merasa itu akan mengurangi nilai estetis momen saat ini. Gampang, ia menghapusnya begitu saja, dan bergembira melanjutkan hari.

Dalam kajian media, Bill Kovach dan Tom Rosenstiel (2015) mengatakan bahwa di era ultra-informatif saat ini, yakni saat setiap orang dengan mudah menemukan informasi, bahkan memproduksi informasi sendiri, peran jurnalisme sebagai “pelapor” sudah tak lagi relevan. Jurnalisme akan memiliki nilai lebih bila mampu memberikan pemahaman komprehensif kepada pembacanya, dan bukan sekadar mengabarkan sebuah peristiwa (tidak lagi menganut pakem 5W+1H). Misi jurnalisme seperti ini yang disebut “penuntun akal”.

Berkelindan dengan anggapan itu, Shanto Iyengar (1991) membagi pembingkaian sebuah berita menjadi dua jenis, yaitu episodic framing dan thematic framing. Pembingkaian episodic framing menganggap liku hidup, jalan cerita, atau narasi peristiwa, adalah lintasan episode yang tak saling berhubungan. Kejadian A (dianggap) berbeda dengan Kejadian B sehingga menutup kemungkinan segala bentuk relasi antara keduanya. Ini berbeda dengan thematic framing.

Pembingkaian model ini mempercayai setiap kondisi tercipta sebagai akibat dari sebuah “sebab”, dan oleh karenanya memilih membedah konteks suatu peristiwa secara mendalam, termasuk membuka kemungkinan peristiwa tersebut menjadi “sebab” peristiwa mendatang yang lebih besar.

Muhamad Heychael (2018) menggunakan uraian di atas sebagai pisau analisis untuk menyoroti pemberitaan mengenai kesejahteraan pengemudi Gojek di media massa. Ia mengkritik beberapa media yang menyuguhkan informasi secara berserak sehingga gagal memberi pemahaman yang utuh atas peristiwa, dalam hal ini ialah kontradiksi antara pemberitaan “riset yang menyimpulkan kepuasan pengemudi Gojek” dan “ribuan pengemudi ojek daring yang berdemonstrasi menuntut kenaikan tariff.”

Heychael menyayangkan absennya rasa tanggung jawab media kepada khalayak dengan begitu saja menukil dan menyiarkan informasi tanpa menguji benang merah sesungguhnya.

Dalam konteks yang berbeda, Narbi dan kita semua telah melakukan “dosa” yang sama. Dengan mengunggah ungkapan duka cita pasca momen terror pada jam sekian dan membagikan foto dinner bersama teman sepermainan di jam berikutnya, kita telah menjadi “pelapor” sebuah peristiwa tanpa memperhatikan kekontrasan dua momen itu. Satunya momen kelabu, lainnya lakon ceria.

Jika media dituntut untuk “menuntun akal” pembacanya, maka akal manakah yang mengizinkan penyaji informasi bermuka dua: sedih dan bahagia dalam waktu (hampir) bersamaan?

Kita telah melakukan episodic framing terhadap diri sendiri dan parahnya, mengizinkan khalayak mengetahuinya melalui berbagai unggahan (status di Whatsapp atau Facebook, story di Instagram atau Facebook, tweet di Twitter, dan sejenisnya) yang kita hidangkan di media sosial.

Kita telah membelah lajur kehidupan sendiri menjadi beberapa potongan berbeda, yang satu sama lain tidak saling melengkapi. Media sosial mengambil peran besar dalam mempertontonkan inkonsistensi sikap hidup kita tersebut. Dengan sikap seperti itu, sebuah unggahan muram di malam hari yang seharusnya merepresentasikan suasana berkabung tidak mampu mencegah sikap ingin pamer keriaan pada keesokan harinya.

Memang kita bukan media massa sebagaimana arah kritikan Heychael di atas, tetapi setidaknya kita mempunyai khalayak pengikut, teman, atau viewer yang menyaksikan setiap unggahan di media sosial.

Unggahan tentang Ki Enthus misalkan, yang secara virtual menciptakan keterikatan antara kita sebagai pemberi kabar dan “Ki Enthus” sebagai yang dikabarkan,, serta “khalayak” sebagai penerima kabar. Tidakkah kita memikirkan tanggung jawab moral kepada Ki Enthus dan khalayak bila memajang dua hal yang bertolak belakang di media sosial?

Sekarang mari kita berandai-andai pada skenario terburuk: Anda adalah salah seorang korban pengeboman dengan luka ringan, menyaksikan sendiri keberingansan para penebar teror. Hampir semua orang yang mengenal Anda turut bersimpati di media sosial mereka, di antaranya dengan memasang banner senada “Kami tidak takut”, atau sejenisnya.

Usaha paling minimal dari kawan untuk menunjukkan kekhawatiran tersebut tentu membuat Anda terenyuh. Akan tetapi, berapa lama kemudian Anda melongok linimasa kembali, hanya untuk mendapati unggahan terbaru kawan-kawan yang baru saja datang menjenguk berupa: tangkapan gambar obrolan mesra dengan pacar, lawatan ke mal terbesar di kota, jepretan tiket bioskop teranyar, dan kronik foya-foya lainnya.

Bila media massa berkewajiban meminimalisir kebingungan khalayak dengan sebisa mungkin menyajikan produk jurnalistik yang koheren dan mempraktikkan pengabaran dengan penuh tanggung jawab, kita pun seharusnya demikian. Kita seharusnya tercecar rasa malu saat: mengutarakan kesedihan tetapi kemudian mendemonstrasikan gerakan ajaib di Tik Tok, atau mengungkapkan bela sungkawa tetapi sejenak kemudian unjuk hedonisme.

Eh, masih mending, sih. Lebih kurang ajar kelakuan Narbi.

Najmul Ula
Penderita rabun politik
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

Fisika dan Kemajuan Teknologi Bidang Transportasi

Era globalisasi telah mengubah kehidupan manusia di muka bumi ini akibat dari Revolusi Industri 4.0 yang ditandai dengan penemuan internet pada akhir–akhir Revolusi Industri...

Menilik Proses Pembentukan Hukum Adat

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dikaruniai Tuhan Yang Maha Kuasa kekayaan yang begitu melimpah di segala bidang. Segala jenis tumbuhan maupun binatang...

Milenial Menjawab Tantangan Wajah Baru Jatim

Tahun berganti arah berubah harapan baru muncul. Awal tahun masehi ke-2021 terlihat penuh tantangan berkelanjutan bagi Jawa Timur setelah setahun penuh berhadapan dengan Covid-19...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bagaimana Menjadi Muslim Moderat

Pada tahun 2017 saya pernah mengikuti Halaqah Ulama ASEAN yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Kampanye yang digaungkan Kemenag masih seputar moderasi beragama. Dalam sebuah diskusi...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda”

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda” Oleh Ali Romdhoni   “…’Dari Sabang sampai Merauke’, empat perkataan ini bukanlah sekedar satu...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.