OUR NETWORK

Dolar, Minyak, dan Fatamorgana

Julukan macan asia pada Indonesia ternyata bukan sekedar cerita yang dikarang.

Banyak orang yang berpandangan bahwa orde baru mengantarkan Indonesia menjadi Macan Asia. Bahkan, dunia luar menjuluki Indonesia sebagai Miracle of Asia karena pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi.

Tak hanya itu, Indonesia menjadi negara yang memiliki pengaruh besar pada organisasi negara-negara pengekspor minyak (OPEC) kala itu. Data BP World Statistic mencatat, produksi minyak bumi Indonesia pernah mencapai 1,65 juta barrel per hari pada 1977. Dari segi pendapatan negara, riset Reforminer Institute menyatakan bahwa selang 1970-1990 sektor migas memberikan sumbangan lebih dari 60 persen terhadap penerimaan negara. Nilai ekspor migas pun mencapai 20,66 Milliar USD.

Pada masa tersebut, 1 USD pernah dihargai hanya dengan 350 rupiah. Kondisi ini menyebabkan barang-barang impor menjadi lebih murah. Tidak bisa dipungkiri, di era ini, nilai tukar rupiah sempat mencapai puncak kejayaan di mana pelemahan nilai tukar dapat dikendalikan pemerintah dengan sangat baik.

Hal ini disebabkan, saat itu nilai tukar rupiah tidak dilepas begitu saja pada mekanisme pasar terbuka, pemerintah mengontrol nilai tukar sesuai nilai fundamentalnya dengan mengandalkan devisa yang utamanya diperoleh dari ekspor migas. Sehingga, pada saat harga minyak dunia melonjak tinggi, nilai tukar rupiah menguat dan stabil.

Sebuah Fatamorgana

Julukan Macan Asia pada Indonesia ternyata bukan sekedar cerita yang dikarang. Banyak masyarakat yang masih berfatamorgana pada masa lalu, yang mengagung-agungkan keberhasilan orde baru mengatasi hiperinflasi yang mencapai 650 persen pada tahun 1966. Tak hanya itu, harga BBM dalam negeri dinilai sangat terjangkau bagi masyarakat umum.

Namun, prestasi terbaik bukan hanya diraih sektor migas, keberhasilan Indonesia di sektor pertanian dirasa justru lebih berdampak kepada perekonomian masyarakat menengah ke bawah. Pada tahun 1980-an, Indonesia menjadi negara pengekspor beras terbesar di dunia dan mencapai swasembada pangan. Tak heran, harga sembako di dalam negeri sangat terjangkau kala itu.

Kemajuan ekonomi yang pesat dapat dicapai pemerintah orde baru melalui komitmen yang besar terhadap pertumbuhan ekonomi, sebagai salah satu aktualisasi dari legitimasi politik dihadapan rakyatnya. Melalui Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) I, pelaksanaan revolusi agraria sebagai upaya peningkatan produksi pangan berhasil mengubah Indonesia dari negara importir beras menjadi negara eksportir.

Selain itu, pembangunan infrastruktur dinilai sangat pesat kala itu, terutama di Pulau Jawa. Kemajuan ini tak lepas dari naiknya harga minyak dunia pada era 1980-an yang menyebabkan cadangan devisa Indonesia terus meningkat seiring bertambahnya pendapatan negara sehingga pemerintah mampu melaksanakan kebijakan-kebijakan yang berdampak pada meningkatnya pertumbuhan ekonomi.

Runtuhnya Raja Minyak

Struktur APBN Indonesia pada sektor penerimaan negara sangat bertumpu pada PNBP migas. Tidak heran, karena kala itu Indonesia merupakan negara eksportir minyak terbesar. Penerimaan negara di sektor pajak tidak digenjot secara serius karena memiliki pengaruh yang tidak cukup besar.

Ketergantungan Indonesia terhadap minyak yang sangat tinggi ini yang juga membuat Indonesia jatuh ke dalam pusaran krisis ekonomi. Pada medio 1980-an harga minyak dunia terus mengalami penurunan, bahkan sempat jatuh pada level di bawah 10USD per barel. Kondisi ini membuat pendapatan negara turun drastis yang menyebabkan tekanan besar terhadap neraca pembayaran.

Hal ini membuat pemerintah mengambil keputusan untuk merevaluasi nilai rupiah dan restrukturisasi perekonomian. Indonesia tak lagi mengandalkan pemasukkan dari minyak bumi, melainkan berfokus kepada sektor pajak dan industri manufaktur. Adanya restrukturisasi ekonomi tersebut, perekonomian Indonesia bertumpu pada industri manufaktur yang padat karya pada era 1990-an. Upah murah menjadi daya tarik utama para investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia.

Tingginya geliat industri manufaktur ini juga diiringi dengan meningkatnya utang luar negeri dari sektor swasta dan pemerintah dalam bentuk valas. Pada tahun 1997, nilai tukar rupiah kembali jatuh yang menyebabkan defisit transaksi berjalan. Utang luar negeri menjadi membengkak.

Kondisi politik dalam negeri yang tidak stabil menambah sulitnya pemerintah dalam mengatasi pelemahan nilai tukar rupiah. Bahkan, nilai tukar rupiah terus mengalami penurunan hingga mencapai puncaknya yaitu 16.800 per 1 USD pada tahun 1998 sekaligus mengakhiri era orde baru.

Sebuah Refleksi

Masa keemasan Indonesia yang bertumpu pada sektor migas menjadi catatan sejarah tersendiri. Bahwa kekayaan sumber daya memang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat jika digunakan dengan bijak.

Masalah utama runtuhnya hegemoni minyak di Indonesia adalah terlalu percaya diri dengan kondisi yang ada. Padahal, harga minyak sangat tergantung dengan permintaan minyak dunia, produksi minyak, dan fluktuasi dolar terhadap mata uang negara-negara di dunia.

Sejarah mengajarkan kita untuk lebih bijak menggunakan sumber daya yang ada. Saat ini, Indonesia merupakan negara importir minyak. Hal ini disebabkan produksi minyak dalam negeri yang tak lagi mencukupi sehingga mengimpor minyak untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Kini, pemerintah dan rakyat Indonesia tak lagi bahagia apabila harga minyak dunia terus melonjak. Masyarakat harus ikut menanggung dengan membayar BBM lebih mahal apabila harga minyak dunia tidak bersahabat. Di saat itu pula, masyarakat berfatamorgana, benarkah kita dahulu jaya karena minyak?

Staf Seksi Integrasi Pengolahan dan Diseminasi Statistik pada Badan Pusat Statistik Kabupaten Alor

TINGGALKAN KOMENTAR

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…