OUR NETWORK

Dokter Reisa dan Gugus Tugas Covid-19

Kehadirannya sebagai pendamping Juru Bicara virus korona membawa angin segar. Sejauh mana efektivitas kerjanya untuk tim? 
Foto dari penulis

Semenjak bergabungnya dokter Reisa di tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Percepatan Penangangan Covid-19 untuk mendampingi dokter Achmad Yurianto, mulai 8 Juni 2020, kehadirannya membuat publik seakan menghirup angin segar kala menatap layar kaca, atau kala publik mengikuti perkembangan media sosial Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Hal itu dijadikan sebuah landasan, manakala tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 kerap meng-update perkembangan wabah virus korona di Indonesia. 

Elektabilitasnya di hadapan publik, dapat dibuktikan melalui salah satu perbandingan. Yakni, sebuah postingan yang memperlihatkan antara dokter Reisa dan dokter Yurianto saat menyampaikan perkembangan tersebut. Melihat akun Twitter BNPB, dokter Reisa kerap mendapatkan jumlah retweet yang lebih unggul dibandingkan dokter Yurianto.

Bila dikalkulasikan per-bulan Juni 2020. Retweet postingan BNPB saat dokter Yurianto menyampaikan perkembangan. Biasanya hanya berkisar di bawah angka 20. Namun, semenjak masuknya dokter Reisa. Retweet postingan BPNB, ternyata mampu menjangkau angka sebesar 131 retweet. Wah, betapa dahsyatnya lonjakan angkatersebut, bukan?

Kejutan itu, sebelumnya sempat menuai pro-kontra. Tepat 2 hari pasca kehadiran dokter Reisa. Politikus Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Tsamara Amany. Membuka suara terkait keberadaan dokter Reisa sebagai pendamping dokter Yurianto. Melalui cuitan di akun Twitternya ia mengatakan.

“Dokter Reisa bicara tentang pakai masker, cuci tangan, dan berbagai hal yang perlu dilakukan untuk cegah Covid-19. Sebagai netizen lebih memilih fokus dengan wajah dan penampilannya. Nasib perempuan di ranah publik. Substansi selalu dinomorduakan.” ucapnya

Akan tetapi, kinerjanya memang patut diberikan penghargaan, dan dikaji lebih mendalam. Terutama, tentang gaya komunikasinya saat berhadapan dengan media, dan ketika dirinya menyampaikan pesan edukasi kepada masyarakat awam.

Namun, tunggu sebentar. Sebelum kita lebih jauh membahas tentang dokter Reisa. Mari kita telusuri terlebih dahulu tentang kiprahnya di Indonesia.

Kiprah Dokter Reisa

Wanita yang berusia 34 tahun ini, memiliki nama asli Reisa Kartikasari. Namun, setelah dirinya menikah dengan Pangeran Keraton Kasunanan Surakarta, yakni Kanjeng Tedjodiningrat Broto Asmoro pada tahun 2012, masyarakat lebih mengenalnya dengan nama Reisa Broto Asmoro. Bila mengulas balik, ia pernah mengikuti ajang Puteri Indonesia pada tahun 2010, dengan menjadi wakil dari provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Walaupun saat itu ia tidak memperoleh juara pertama. Dokter Reisa berhasil menjadi runner-up, dan diberikan gelar Puteri Indonesia Lingkungan pada tahun 2010. Setahun berlalu, tepat pada tahun 2011, ia mewakili Indonesia dalam ajang Miss International yang diadakandi kota Chendu, Tiongkok. Dalam ajang tersebut, dokter Reisa mengusung isu perdamaian dunia, serta kebudayaan Indonesia.

Kemudian, semenjak duduk di bangku SMA. Dokter Reisa sudah memulai karirnya untuk mengikuti ajang Gadis Sampul, dan dirinya masuk menjadi salah satu model di Look Models Agency (LMA), serta membintangi beberapa iklan di Indonesia dan Asia.

Selanjutnya, Reisa menyelesaikan studi Pendidikan Kedokteran di Universitas Pelita Harapan pada tahun 2014. Setelah lulus kuliah, ia sempat menekuni dunia forensik, dan bekerja sama dengan RS Polri Raden Said Soekanto, Kramat Jati. Dirinya juga pernah bergabung sebagai anggota Disaster Victim Identification (DVI),  dan terlibat dalam proses investigasi korban jatuhnya pesawat sukhoi dan korban aksi terorisme di Jakarta.

Wanita kelahiran kota Malang, Jawa Timur pada tanggal 28 Desember 1985 ini. Juga sempat tersohor karena membawakan sebuah acara di program kesehatan dokter Oz Indonesia pada tahun 2013, yang sempat tayang di Trans TV.

Kiprahnya di Indonesia memang patut dipertimbangkan. Dan mungkin, kiprahnya juga yang dijadikan alasan, mengapa dirinya direkrut oleh tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19.

Merepresentasikan Presiden Jokowi

Setelah sedikit mengenal dokter Reisa. Mari kita lanjut tentang kiprahnya yang beberapa kali terekam oleh para awak media. Saat  ia kerap muncul di kanal televisi. Masyarakat sempat bertanya-tanya tentang kehadirannya. Terutama, tentang kemunculannya di mimbar yang biasa di tempati oleh dokter Yurianto.

Masyarakat, selaku stakeholder yang memiliki peranan penting dalam terbentuknya sebuah opini publik. Teramat perlu diperhatikan, supaya tidak terjadinya penafsiran yang keliru, salah kaprah, atau berakhir dengan sebuah penolakan terhadap suatu kebijakan.

Dengan meminjam definisi opini publik. Menurut Iswandi Syahputra dalam Opini Publik: Konsep, Pembentukan dan Pengukuran (2018:6). Ia mendefinisikan opini publik secara ringkas.

“Dalam penggunaan kontemporer, opini publik adalah keseluruhan sikap individu atau kepercayaan yang dianut oleh populasi (misalnya kota atau negara)”. tulisnya

Maka dari itu, sebagai tim Komunikasi Publik yang memberikan perkembangan, sekaligus mengedukasi masyarakat. Seorang komunikator perlu memahami strategi komunikasi yang tepat, kontekstual, tidak berbelit-belit, dan tidak bertele-tele ketika menyampaikan informasi tersebut kepada komunikan (publik). Karena, tujuan utamanya sudah jelas. Agar masyarakat mengerti, memahami, dan melakukan apa yang sudah dianjurkan oleh si komunikator.

Saya biasa dipanggil Aan. Salah satu mahasiswa dari Fakultas Ilmu Komunikasi, Program Studi Jurnalistik, di Universitas Mpu Tantular. Memiliki kebiasaan menikmati kepulan asap imajinasi dengan secangkir kopi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.