Selasa, Maret 2, 2021

Ditagih Mengembalikan BMN, Roy Suryo Memalukan?

B.M. Diah Penyelamat Tulisan Tangan Naskah Proklamasi

Entah apa jadinya jika Burhanuddin Muhammad Diah tak memungut kertas yang dibuang oleh Sayuti Melik ketika ia telah selesai menyalin tulisan tangan itu ke...

Toilet dan Pandangan Ideologi Masyarakat

Tulisan ini adalah hasil dari melihat salah satu video interview Slavoj Zizek. Filsuf kontemporer yang kadar intelektualnya disegani di dunia. Dalam salah satu bagian...

Malaysia punya Proton, Indonesia Punya Apa?

Sekelompok anak muda skeptis mencibir Indonesia yang belum mampu membuat produk motor dan mobil sendiri. Kelompok anak muda skeptis ini mencibir Indonesia punya apa, sambil...

Bunuh Diri, Bermula dari Kematian Sosial

Bunuh diri tidak pandang bulu dan mungkin akan selalu ada di kolom berita seperti menu wajib yang mustahil ditinggalkan. Jika datang di momen yang...
Wawan Kuswandi
Pemerhati komunikasi massa, founder blog INDONESIAComment, mantan editor Newsnet Asia (NNA) Jepang dan penyuka sambal

Beredarnya surat tagihan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) di jagat sosial media yang ditujukan kepada mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Roy Suryo agar segera mengembalikan barang milik negara (BMN) yang masih dikuasainya, menuai kehebohan publik.

Kalau memang benar isi surat tersebut, maka kelakuan Roy Suryo sungguh-sungguh memalukan! Pertama kali dalam sejarah di Indonesia, seorang mantan menteri yang dengan nyantainya masih menahan dan menguasai BMN yang bukan lagi menjadi hak pakai bagi dirinya.

Seperti diketahui Kemenpora telah melayangkan surat nomor 523/SET.BII/V/2018 tanggal 1 Mei 2018 lalu yang isinya meminta Roy Suryo untuk mengembalikan BMN yang masih dikuasainya sejak tahun 2016 silam. Surat itu merupakan respon dari hasil pemeriksaan BPK, soal temuan 3.226 BMN yang belum dikembalikan Roy Suryo. Surat itu ditandatangani Sekretaris Kemenpora Gatot S Dewa Broto.

Sebenarnya, surat ini bukanlah kali pertama Kemenpora meminta Roy mengembalikan BMN. Pada tahun 2016 silam, surat tagihan serupa juga sudah pernah dikirimkan Kemenpora ke Roy Suryo. Namun, ketika itu Roy menjawab bahwa seluruh BMN yang ditagih telah dikembalikan.

Menanggapi surat kedua yang dilayangkan Kemenpora, Roy Suryo membantah bahwa dia dituding belum mengembalikan BMN, “Saya duga dengan keras bahwa ini adalah fitnah untuk menjatuhkan martabat dan nama baik saya di tahun politik ini,” katanya melalui pesan Whatsapp seperti dikutip Tempo.co.id, Rabu, 5 September 2018.

Bila benar mantan Menpora ini belum mengembalikan BMN, maka sikap dan perilaku Roy Suryo menjadi salah satu contoh terburuk dari seorang mantan menteri di republik ini. Dalam tataran etika sosial, perbuatan Roy Suryo secara tegas mencerminkan bahwa dirinya masuk dalam golongan mantan menteri yang tidak tahu diri dan tidak tahu malu. Kelakuan Roy Suryo jelas-jelas sudah melampaui batas. Negara harus mengambil tindakan tegas. Bila perlu, aparat hukum segera melakukan penyitaan secara paksa dan Roy Suryo layak dikenakan sanksi hukum.

Sebagai mantan menteri, Saya yakin Roy Suryo paham betul bahwa BMN yang pernah dipakainya ketika menjabat menteri dibeli dengan uang rakyat, maka otomatis BMN itu milik rakyat yang dalam pengelolaannya dilakukan oleh negara. Bila Roy Suryo masih juga belum mau atau menolak mengembalikan BMN, maka patut diduga kuat Roy Suryo berniat melakukan ‘pencurian’ terhadap BMN. Sampai di sini, saya berharap Roy Suryo sadar diri bahwa posisinya bukan lagi seorang menteri.

SBY dan Demokrat Tercemar

Tidak diketahui secara pasti apa motif yang melatarbelakangi Roy Suryo sehingga dia belum mengembalikan BMN. Selain buruknya etika sosial yang dipertontonkan Roy Suryo, tampaknya mantan Menpora ini tidak menyadari bahwa akibat dari perbuatannya juga bisa berdampak secara politis bagi parpol Demokrat. Adapun dampak politis itu diantaranya ialah:

Pertama, sebagai Wakil Ketua Umum (Waketum) parpol Demokrat, Roy Suryo telah mencoreng namanya sendiri di jajaran para elit politik nasional. Seharusnya, Roy Suryo memberi teladan yang baik bagi kader-kader parpol Demokrat dan kalangan politisi secara umum.

Kedua, kelakuan Roy Suryo secara langsung maupun tak langsung, telah membuat nama baik Ketua Umum parpol Demokrat, Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) tercemar. Secara hirarkis antara Ketum dan Waketum mempunyai hubungan psikologis, terutama dalam menjaga nama baik SBY yang identik dengan parpol Demokrat.

Ketiga, Roy Suryo bisa menjadi salah satu icon parpol Demokrat yang akan dikenang oleh rakyat dan kader parpol Demokrat sebagai satu-satunya mantan menteri yang masih menguasai BMN yang bukan haknya.

Keempat, seperti diketahui dalam satu tahun terakhir ini, Roy Suryo getol mengeritik pemerintah. Namun Roy sendiri tidak menunjukkan seorang politisi yang memiliki karakter mental dan moral yang baik, khususnya terhadap kasus ini, akibatnya parpol demokrat akan ikut kecipratan image buruk Roy Suryo.

Kelima, motif Roy Suryo untuk menahan dan menguasai BMN patut diselidiki oleh negara, terutama oleh pihak yang terkait dengan urusan inventaris BMN. Tujuan penyelidikan ini ialah untuk mengetahui apakah BMN yang belum dikembalikan ini dipakai untuk kepentingan pribadi Roy Suryo atau tidak.

Sebagai elit parpol, saya percaya Roy Suryo pasti dipantau oleh rakyat, media massa dan menjadi panutan kader-kader Demokrat. Di sisi lain, para petinggi parpol Demokrat, tampak terkesan menutup-nutupi kelakukan buruk Roy Suryo, bahkan mereka kompak tutup mulut. Padahal, semestinya sesama rekan politisi dalam satu parpol, mereka harusnya mengingatkan Roy Suryo untuk segera mengembalikan BMN.

SBY sebagai Ketua Umum Demokrat juga belum berkomentar dan tidak bercuit di twitter terhadap kelakuan buruk Roy Suryo. Saya menduga, jangan-jangan seluruh politisi parpol Demokrat memang sengaja memainkan skenario pura-pura tidak tahu terhadap ulah memalukan yang dilakoni Roy Suryo. Sebagai penutup tulisan ini izinkan saya berdoa, ‘semoga Roy Suryo kembali ke jalan yang lurus’ Aamiin..

Wawan Kuswandi
Pemerhati komunikasi massa, founder blog INDONESIAComment, mantan editor Newsnet Asia (NNA) Jepang dan penyuka sambal
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Artijo dan Nurhadi di Mahkamah Agung

In Memoriam Artijo Alkostar Di Mahkamah Agung (MA) ada dua tokoh terkenal. Artijo Alkostar, Hakim Agung di Kamar Pidana dan Nurhadi, Sekjen MA. Dua tokoh MA...

Gangguan Jiwa Skizofrenia

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan social sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri. Dapat mengatasi tekanan,...

Mencermati Inflasi Menjelang Ramadhan

Beberapa pekan lagi, Bulan Ramadhan akan tiba. Bulan yang ditunggu-tunggu sebagian umat muslim ini adalah bulan yang istimewa karena masyarakat muslim berusaha berlomba-lomba dalam...

Kasus Khashoggi Makin Mendunia

Hari ini, 1 Maret 2021, Biden mau umumkan resmi di Washington keterlibatan MBS dalam pembunuhan Kashoggi. Menarik. KAS pasti meradang. Ini konflik pertama, yg sulit...

Jujur Itu Hebat, Artidjo Personifikasi dari Semua Itu

Satu demi satu orang tumbang dibekap covid, penyakit lain atau karena usia. Pagi ini saya kembali dikejutkan oleh berpulangnya Artidjo Alkostar, kawan lama yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.