Banner Uhamka
Rabu, September 30, 2020
Banner Uhamka

Disribusi Kekuasaan dan Moralitas Elite

Facebook dan Martabat Manusia

Tak dapat dimungkiri, bahwa facebook (FB) adalah salah satu media sosial (medsos) yang sangat digemari manusia. Baik bagi masyarakat perkotaan, pedesaan hingga dunia anak....

Islam Masalahnya?

Pernahkah anda mempertanyakan kenapa islam selalu menjadi “subjek” ketika terjadi suatu pertentangan atau perdebatan baik dari gejala-gejala yang baru terjadi akhir-akhir ini maupun dari...

Gajah Mada: Si Dewa Mabuk?

Dari namanya saja Gajah Mada bisa diartikan sebagai seorang yang jagoan minum-minuman keras. Mada dalam  bahasa Jawa Kuno berarti mabuk.  Gajah Mada karena itu...

Organisasi di Desa Saya Sekaligus Budayanya

Organisasi di dalam masyarakat merupakan suatu keniscayaan. Keluarga, dikenal sebagai bentuk organisasi terkecil yang pernah ada di bumi ini. Karena di dalam keluarga, kita...
Ryan Sara
Penulis adalah mahasiswa Fakultas Peternakan, Universitas Nusa Cendana dan Pengurus pers dan penerbitan PMKRI Kupang.

Menjadi seorang politikus rasanya sungguh menggiurkan. Profesi ini telah merebut hati banyak orang. Mulai dari orang-orang biasa saja, para investor, sampai akademisi pun tak luput dari jerat jaringnya.

Maka tak heran, ketika demokrasi menjadi “panglima” dalam kehidupan bernegara akhir-akhir ini, maka politikus menjadi euphoria massa. Ketika konstitusi memberi peluang bagi berkembangnya demokrasi, dan pesta demokrasi menjadi ajang kontestasi meraih kekuasaan, maka menjadi politikus adalah sebuah keniscayaan.

Boleh jadi, menjadi seorang politikus merupakan pekerjaan yang sesungguhnya mulia. Politikus bisa menjadi apa saja, presiden/wakil presiden, menteri, anggota dewan, gubernur, bupati, walikota, bahkan hakim Mahkama Agung sekalipun. Yang artinya, seorang politikus bisa mengangkangi eksekutif, legislatif, maupun yudikatif. Luar biasa penetrasinya!

Kehidupan politikus, tentu akan senantiasa dikaitkan dengan perilaku politik yang dilakukannya dalam mengemban tugas sebagai amanah rakyat. Kerap kali, panggung politik yang diperankan oleh para politikus membuat jemu masyarakat. Mengapa?

Perilaku politik yang diusung para politikus seringkali justeru melukai hati konstituennya. Disamping janji-janji yang pernah ditepati, perilaku hedonis dan pragmatis tiba-tiba menyeruak ke permukaan tanpa ada rasa malu. Para politikus yang tak meraih kekuasaan lewat hajatan demokrasi itu mempertontonkan kehidupan serba mewah dan berkelas. Sementara, amat kontras dengan kehidupan para jelata yang untuk urusan primer saja tidak mampu untuk memenuhi.

Tidak begitu nyaman dewasa ini, ketika berbicara tentang politik sebagai sebuah medan pengabdian. Berbagai tindakan tidak “senonoh” yang dipertontonkan oleh elit politik menjadi cemooh tersendiri bagi dunia politik.

Perlombaan untuk mendahulukan kepentingan pribadi atau golongan dengan mengabaikan kepentingan umum atau kepentingan bersama, korupsi yang menggerogoti hampir semua elemen politik, serta berbagai perilaku tidak pantas lainnya yang didukung oleh kekuasaan politik tidak jarang mengundang sinisme yang pada gilirannya akan membuat citra politisi dipandang rendah, seakan-akan hanya layak bagi manusia yang tidak bermoral. Berbagai perilaku tidak pantas itu seakan menjadi antiklimaks moralitas politik yang ditanamkan oleh para pendiri bangsa (Politik Katolik Politik Kebaikan Bersama : Andre Ata Udjan, 2008).

Setiap politikus sebagai elite partai, wakil rakyat, pejabat, dan pemangku kebijakan publik lainnya harus menjalankan politik yang santun, beretika, dan berintegritas. Dalam bukunya, Magnis Suseno (Etika Politik, 1987 :13) menyatakan bahwa etika berkaitan dengan refleksi moralitas yang berisi sekumpulan norma sebagai pegangan suatu komunitas atau masyarakat sehingga seluruh hidup dan laku tingkah laku manusia tidak merugikan satu sama lain.

Oleh karena itu, etika adalah kumpulan nilai-nilai atau asas yang memungkinkan seseorang mengaktualisasikan diri sebagai manusia yang bermartabat dan beradab.

Dengan demikian, perilaku politik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara adalah perilaku yang menampilkan kegiatan pelibatan dan keterlibatan dalam proses pengambilan keputusan yang dibuat (oleh dan) bagi kehidupan bangsa dan negara. Terdapat pula pandangan bahwa perilaku politik adalah perilaku yang terdapat pada apa yang kita rumus artikan sebagai dunia politik dengan  segala tingkah dan polah yang terjadi didalamnya.

Distribusi Kekuasaan 

Akhir-akhir ini, kita dipertontonkan dengan berbagai pertunjukan dan manuver elit penguasa. Sebagai bagian dari membangun komunikasi politik yang elegan tentu dimungkinkan bagi setiap petinggi partai politik. Oleh karena, politik adalah menasbihkan yang namanya power sharing. Dan koalisi menjadi wahana untuk menentukan sikap dan komitemn, apakah akan bersama-sama dalam satu “perahu” atau akan beralih pada “sampan” yang lain.

Dan rasanya, gula kekuasaan tetap menjadi rebutan. Elit partai politik  saling berhasrat untuk berada dalam lingkaran kekuasaan, sebab menjadi bagian dari pemangku kebijakan adalah kesenangan dan kebanggaan dari sebuah partai politik. Sehingga pada akhirnya, koalisi tak lagi menjadi bagian dari tanggungjawab mereka untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang menghadang didepan mata, akan tetapi hanya menjadi ajang pembagian “kue kekuasaan”.

Agregasi dan artikulasi kepentingan kian kuat dipertontonkan. Manuver untuk membentuk “poros” kekuatan tertentu menjadi bagian dari sebuah bargaining power. Kita tidak lagi melihat drama politik yang konstruktif guna memikirkan bagaimana Negara ini akan dibangun demi terciptanya bonum comune dizaman yang semakin edan. Akan tetapi, politik diumbar hanya sebagai bentuk “dagang sapi”.

Kekuasaan didistribusikan oleh kedaulatan rakyat yang memilih elit politik untuk diberih amanah memimpin dan mengelola kekayaan Negara. Namun kemudian, jika nafsu berkecamuk dan dahaga kekuasaan dipertontonkan melalui sekat-sekat primordialisme, maka jangan harap rakyat dapat memperoleh mimpinya: kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia! Distribusi kekuasaan semestinya bersandar pada komitmen kebangsaan dan kesejahteraan diatas segalanya. Kesatuan dan persatuan janganlah hanya menjadi slogan yang hampa.

Walau pada dasarnya demokrasi membuka ruang untuk distribusi kekuasaan, tetapi kekuasaan itu sendiri akan cenderung terus bergerak ke arah konsentrasi kekuasaan. Dinamika capaian, dan masa depan distribusi kekuasaan sangatlah tergantung dari sejumlah faktor. Sebagaimana yang disampaikan oleh Antonius Doni Dihen mantan Ketua Presidium Pengurus Pusat PMKRI (Perhimpunan Mahasiswa Katolik Repulik Indonesia) ketika gagasan dari pembuatan artikel ini penulis coba mendiskusikan dengan-Nya.

Dari hasil diskusi tersebut, ada beberapa point penting yang disampaikan oleh Pak Anton Doni terkait pendistribusian kekuasaan, namun hal itu terjadi harus berlandaskan beberapa faktor, diantaranya: Faktor pertama, adalah kekuatan civil society, yang tetap menjaga kekuatan, independensi, dan kemampuan kontrol kritisnya terhadap jalannya kekuasaan. Jika pilar-pilar civil society mampu menahan diri dari godaan kekuasaan jangka pendek, maka kita dapat melihat ada prospek distribusi kekuasaan.

Faktor kedua, adalah aktivis dan politisi idealis, yang mengambil realistik masuk ke dalam kekuasaan, tetapi tidak membiarkan diri laut dan terhanyut dalam dinamika politik pragmatis. Faktor ini sangat riskan, tetapi harapan kesana tentu saja perlu terus dihidupkan.

Dan faktor ketiga, adalah perkembangan kesadaran etis dari kalangan terbatas dilingkungan elit kekuasaan, yang membatasi orientasi kekuasaan dan kapitalistiknya untuk tujuan-tujuan kemanuniasaan dan kesejahteraan banyak orang. Ending dari diskusi yang berfaedah ini, Pak Anton menambahkan, bahwa distribusi kekuasaan bukan sesuatu yang niscaya dalam sistem politik demokrasi. Dia membutuhkan kerja-kerja penyadaran dan advokasi yang sangat serius.

Oleh karena itu, didalam situasi politik yang tengah “galau” saat ini, kita harus menyelamatkan jantung demokrasi yang sedang sekarat. penulis menaruh harapan, bahwa ada rakyat sebagai maniifestasi suara Tuhan untuk tidak terjabak dalam permainan pat gulipat aktor politik.

Ryan Sara
Penulis adalah mahasiswa Fakultas Peternakan, Universitas Nusa Cendana dan Pengurus pers dan penerbitan PMKRI Kupang.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pengkhianatan Cinta

''Pernahkah Anda melihat orang yang berbuat jahat terhadap orang yang amat dicintainya?'' seseorang bertanya pada Abu Dzar al-Ghiffari, sahabat Rasulullah SAW. ''Pernah, bahkan sering,''...

Minang, Tan Malaka dan Dialektikanya

Minang kembali diperbincangkan di panggung politik nasional. Kali ini bukan karena tokoh dan pemikirannya, melainkan karena ucapan “Semoga Sumatera Barat mendukung Pancasila.” Tulisan ini tidak...

Optimasi Peran Wakil Rakyat di Tengah Pandemi

Mengutip pendapat Cicero dalam Phoebe E. Arde-Acquah (2015), terdapat sebuah adagium hukum yang menyatakan bahwa keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi. Secara konstitusional, adagium hukum...

Miskonsepsi Seks dengan Persetujuan

Pada 13 September 2020 lalu, terunggah sebuah kiriman di Instagram yang berjudul “Kupas Tuntas Pakta Integritas UI dan Pendidikan Sex dengan Persetujuan” yang di...

Jika Cantik Hanya Mengikuti Standar Industri

Belakangan ini perbincangan mengenai bagaimana diri kita maupun bagaimana industri mendefinisikan standart kecantikan kembali ramai diperdebatkan. Mulai dari gerakan perempuan dukung perempuan yang dianggap...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.